MySam

MySam
Bangun, Sam....



"Sam.... bangun... aku di sini, sayang..."


Suara itu hadir bersama sosok gadis bersurai hitam, mencondongkan wajahnya begitu dekat ke arah Sam yang terbaring di tengah padang savana. Anehnya ia tidak terlalu melihat dengan jelas wajah gadis pemilik suara itu. Seluruh tubuhnya begitu terang. Seperti dikelilingi oleh ribuan cahaya mentari pagi. Gaun selutut berwarna putih seolah begitu ringan melekat pada tubuh mungilnya.


"Siapa dia? Malaikat? Bidadari? Apa aku kini telah berada di surga?" batin Sam didalam waktu terjaganya.


Sam mengulurkan tangan, mencoba meraih tubuh mungil itu namun entah mengapa jarak yang seolah begitu dekat ternyata membentang jauh.


Sam mencoba mendekat ke arah cahaya yang dipancarkan oleh si empunya suara tadi. Bayangan itu berlari kecil seolah-olah ingin Sam mengejarnya dan mengikuti arah langkah kaki kecilnya. "Ayo Sam...."


Gaun putih selutut itu terus bergerak ringan bersama hembusan angin ketika gadis bersurai sebahu itu terus saja berlari di tengah padang savana, tersenyum mengembang. Seperti secercah mentari pagi, hangat dan sangat mempesona. "Ayo Sam, aku menunggumu di sana...." pemilik suara itu terus berlari kecil, rambut hitam sekelam malam melambai-lambai tertiup angin bersama rimbunnya padang savana. Rumput-rumput yang menjulang tinggi seolah tidak membuat gadis pemilik suara indah itu berhenti berlari. Ia terus berlari hingga ia berdiri tepat di depan sebuah jembatan yang terbuat dari kayu. "Pulanglah, Sam. Aku menunggumu di sana," setengah berbisik, gadis bak bidadari itu menunjukkan sebuah jalan terang untuk Sam. Seolah menyuruh Samuel melewati jalan cahaya tersebut. "Jangan takut, Sam... pergilah..." gadis itu tersenyum, sangat dekat jarak mereka, anehnya kini Sam bisa melihat jelas wajah itu, gadis itu tersenyum lembut.


Maya...?


....


Anita mempercepat langkah kakinya diikuti Maya, menyusuri lorong-lorong rumah sakit. "Maaf pasien atas nama Samuel Perdana berada di ruang apa ya, Suster?" Anita bertanya panik ke arah seorang suster yang duduk di meja ruang informasi.


"Sebentar ya nyonya, saya cek dulu." Anita mengangguk, menunggu beberapa saat dengan gelisah. Begitupun Maya, gadis itu mengeratkan hoodie putih milik Sam yang sedikit longgar melekat di tubuh kecilnya. Menyatukan kedua telapak tangannya, memainkan gugup seluruh jemari yang saling bertaut.


"Oh... pasien atas nama Samuel Perdana masih berada di ruang ICU. Maaf pasien masih belum sadar," jawab suster sopan.


"Silahkan anda menemui dokter spesialis dalam, Dokter Anwar yang menangani kasus putra anda," lanjut suster tadi.


Anita meremang, meraih jemari Maya untuk menguatkannya. Kedua perempuan itu sama-sama merasakan kekhawatiran yang memuncak. "Baiklah, terima kasih, Sust." Anita menggandeng Maya dan berjalan menuju ruang dokter Anwar seperti yang diarahkan oleh suster penjaga lobi tadi.


....


"Keluarga tuan Samuel?" salah seorang suster memanggil untuk memasuki ruang konsultasi.


Dokter spesialis datang menyambut hangat Anita juga Maya. Rambut sedikit beruban mungkin menandakan betapa lama dedikasinya dalam dunia kesehatan. Pria paruh baya tersebut mempersilahkan Anita dan Maya duduk.


"Bagaimana keadaan Samuel, anak saya, Dok?" langsung saja Anita bertanya khawatir, sangat terlihat jelas dari kedua netra coklat itu. Sedang Maya, masih merasa gelisah. Ingin rasanya ia meninggalkan ruangan itu dan berlari ke ruang ICU tempat dimana Sam mendapat perawatan.


"Tuan Samuel untuk saat ini belum sadar. Kami sudah melakukan penanganan untuk trauma luka tusukan di bagian perut beliau," jelas dokter Anwar. Dokter paruh baya itu menghentikan sejenak kalimatnya untuk memeriksa beberapa file riwayat pemeriksaan Samuel. Lebih mengeratkan lagi kaca mata baca setebal kira-kira sepuluh senti yang bertengger di hidung besar sang dokter. Seluruh ruangan serba putih itu untuk sesaat terasa begitu dingin.


"Saat dibawa kemari, tuan Samuel dalam keadaan tidak sadar karena banyaknya darah yang keluar sehingga kami langsung mengambil tindakan operasi. Beruntung persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah beliau dari pihak rumah sakit masih sangat cukup. Sehingga dengan cepat masa kritis tuan Samuel bisa kami atasi," lanjut sang dokter.


Anita hanya bisa mendengar penjelasan dokter dengan hati was-was. Permana, sang suami yang harus melakukan perjalanan ke luar negeri, secara terpaksa tidak dapat menemaninya melewati semua kejadian yang menimpa Samuel, anak mereka.


"Terus, bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Anita khawatir.


"Alhamdulillah dan puji Tuhan, masa kritis putra anda sudah lewat. Sekarang kita tunggu saja sampai dia sadar kembali." Sang dokter melanjutkan.


Anita menarik napas lega, begitupun dengan Maya. Senyuman mengembang tertarik penuh di semua sudut bibirnya.


"Boleh saya menemui Sam, Dok? saya mohon," pinta Maya memohon. Netra sayunya menjadi alasan dokter paruh baya itu sulit untuk menolaknya.


"Baiklah, tapi maaf hanya saya bolehkan satu orang penjenguk saja," jawab dokter kemudian.


Anita Memandang ke arah Maya dan mengangguk pelan. "Ya sudah, kamu saja yang masuk. Biar mama tunggu di ruang tunggu," kata Anita.


"Terima kasih, Ma..." Maya memeluk wanita itu, lalu bergegas meninggalkan ruang konsultasi.


Berjalan menyusuri lorong demi lorong, hingga netranya membola melihat tulisan besar ICU.


Maya masuk, mendekati pria itu. Seketika saja cairan hangat itu mengalir keluar tanpa henti. Suara mesin pengukur detak jantung dan beberapa mesin yang lain, entah mesin-mesin itu untuk apa kegunaannya, seolah tidak mengganggu tidur Samuel.


Maya terus saja menangis, duduk di sisi kanan Sam. "Bangun Sam, aku di sini," lirih Maya.


Mengusap lembut rambut ikal pria itu.


"Please, Sam... Kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku, bukan?" lanjutnya lagi dengan air mata berderai. Membasahi seluruh pipi chubbynya. Maya benar-benar tidak dapat mengendalikan emosinya.


"Kamu harus kuat Sam, aku membutuhkan kamu... Apa jadinya aku tanpa kamu, Sam..."


"Kumohon, kamu bangun.... Aku mencintai kamu, sayang."


Air mata masih saja deras mengalir keluar dari sudut mata hitam Maya, meraih lengan kekar yang saat ini terlihat sangat tidak berdaya. Mengguncang pelan lengan Sam, berharap pria itu mendengarnya dan membuka kelopak mata coklat itu.


Maya sungguh merindukan sorot mata itu, merindukan tawa kecil Samuel. Merindukan semua yang ada dalam diri pria yang saat ini terbaring tak bergerak.


Maya lebih mendekat ke arah Samuel, mencondongkan wajahnya. Mencium lembut pipi pria ber-rahang kotak tegas itu.


"Aku akan selalu mencintai kamu Sam. Aku mohon... kamu dengar aku." Tangis Maya menjadi, air mata kini mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. Jatuh membasahi pipi Samuel.


Maya masih menangis, ingin rasanya ia meraih tubuh Sam. Memeluknya erat agar ia terbangun.


"Maaf, nona. Waktu jenguk sudah usai," ucap suster, membuat wajah Maya mendongak sedikit ke arah suster tadi. Mengusap kasar air mata yang terus saja mengalir.


"Tolong sebentar lagi, Suster." Suara Maya begitu berat, memohon memandang sang suster.


"Maaf, ini perintah dokter Anwar. Tolong biarkan pasien istirahat. Anda boleh saja menunggu pasien di luar ruang ICU." Jawab suster bersikeras dengan peraturan yang ada.


Maya melemah, mengangguk pelan dan sekali lagi mengecup pipi Sam.


"Aku keluar dulu, sayang. Kamu jangan khawatir ya. Aku akan selalu di sini menemani kamu, Sam," bisik Maya di telinga Samuel. Menggenggam sebentar tangan Sam yang hangat.


"Maaf, nona. Anda harus segera keluar dari ruang ICU." Suster tadi kembali mengingatkan. Maya hanya mengangguk pelan. Dengan berat hati ia melangkah meninggalkan Samuel. Maya menoleh lagi, memastikan jika ada keajaiban untuk Sam. Namun semuanya kosong. Samuel masih terbaring di sana bersama dengan peralatan canggih rumah sakit.


"Mm..aa...yyaaa...."


Suara Sam.


Begitu pelan, namun jelas terdengar di telinga Maya.


Gadis itu kembali menoleh ke belakang. Netra itu berbinar melihat Samuel mulai membuka kedua kelopak matanya.


"Mmaa...yaaa...."


Kembali suara bariton itu menyebutkan namanya.


"Sam...." pekik Maya.


Maya setengah berlari mendekat. Memandang lekat wajah Sam, mencium lembut tangan pria itu.


"Aku di sini Sam, bersama kamu..."


to be continue....