MySam

MySam
I'll be Fine



Maya ingin sekali mengetahui permintaan apa disepanjang doa yang khusyuk Sam panjatkan setelah ibadah sholat maghrib mereka, Maya melihat suaminya lebih sering menunduk, menengadahkan kedua tangannya sambil kedua mata memejam rapat.


Ia tidak berani mengganggu Samuel, meskipun hanya sekedar menepuk pelan pundak pria itu. Disisi lain, Maya merasakan rasa haru yang menyelimuti seluruh sanubarinya. Melihat Samuel yang sekarang sangatlah jauh berbeda dengan Sam yang dulu.


Maya membulatkan seluruh mata hitamnya ketika melihat Samuel mulai bangkit dari doa dan sujudnya, pria itu kini melipat lengan baju koko sebatas siku, sambil berjalan ke arah Maya yang lekat memandangi nya dari arah teras balkon kamar resort mereka.


"Sudah selesai doa nya?" tanya Maya sembari menyodorkan secangkir teh hangat untuk Sam, jangan lupakan juga camilan biskuit kelapa kesukaan Sam.


Samuel mengangguk menjawab, meraih cangkir teh hangat yang istrinya sodorkan barusan. "Doa apa aja tadi? serius banget?" senyuman Maya sekilas terkembang di bibirnya, sambil menatap lekat wajah Sam yang tengah menyeruput teh hangat pemberiannya.


"Aku berdoa semoga kita selalu bisa bersama, May. Aku tidak mau Tuhan memisahkan kita." Sam menjeda sebentar ucapannya, kali ini ia berdiri di tepi balkon dan mengedarkan pandangannya ke arah ujung pantai yang bisa terlihat dari atas balkon kamar mereka.


"Aku takut kehilangan kamu, Maya," cicit Samuel pelan.


"Sam, maafkan aku soal ucapanku tadi." Maya mendekat, memeluk pinggang suaminya dari belakang, menghamburkan wajahnya pada punggung Samuel.


Benar, tidak ada hal yang bisa membuat Samuel ketakutan setengah mati kecuali itu soal dirinya. Samuel hanya lemah jika itu menyangkut tentang dirinya. Maya adalah kelemahan Sam.


Pria berhati dingin, yang dulunya tidak mempunyai kelemahan apapun, namun setelah Maya masuk ke dalam hidup Sam, semuanya membalikkan apapun, kini pria itu sangat takut kehilangan Maya.


Sifat Samuel yang jauh berubah dari Sam yanh dulu, dan hanya Maya lah gadis yang merubah semua sifat buruk itu.


"Ucapanku tadi jangan kamu pikirkan lagi ya, suami...." cicit Maya kali ini, masih saja salah satu pipinya menempel pada punggung hangat Samuel, Maya mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang pria itu. Rasanya sungguh menyenangkan, memeluk tubuh kekar suaminya seperti saat ini. Maya bahkan tidak ingin menukar moment ini dengan apapun.


"Aku masih disini bersama kamu dan selamanya akan tetap begitu, Sam." Ujar Maya menenangkan.


"Janji?" Samuel melepas pelukan Maya, memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Maya. Memandang lekat-lekat wajah istrinya, seolah Sam tidak ingin gadis itu jauh-jauh dari sisinya.


Maya mengangguk pelan, "Janji, sayang." Jawab Maya lembut, senyuman manisnya terkembang dengan begitu saja ketika iris hitamnya memandang wajah tampan suaminya.


Helaan napas panjang tercipta dari bibir Sam, ia sedikit lega dengan apa yang tadi diucapkan oleh Maya.


"Jadi... yang kamu bilang tadi gak serius kan, suami? Eum..... soal adopsi itu?"


"Aku serius, honey. Mending kita adopsi anak."


Maya cemberut menatap Sam. "Ih... Sam, gak seru ah! aku maunya punya anak sendiri dari rahim aku, anak kamu sayang. Darah daging kita."


"Sama aja, sama-sama anak." Sam masih bersikukuh dengan sikapnya.


"Ya beda dong, sayang."


"Emang apa bedanya?"


"Beda, Samuel...! kalo adopsi kan terima jadi, udah gede pula. Kalo anak sendiri, kita bener-bener jaga dia dari aku hamil sampai dia lahir." Maya menjeda sebentar, kembali mendekat ke arah Samuel dan kali ini melingkarkan kedua lengannya di leher Sam.


"Aku juga pengen ngerasain gimana rasanya hamil dan melahirkan. Jika wanita lain aja bisa, kenapa aku enggak?"


Kembali Maya menghentikan kalimatnya, kali ini ia memandang ke arah Sam. Melihat Sam yang terus saja terdiam, Maya menangkup wajah suaminya seraya mengusapnya lembut.


"Trust me, baby.... I'll be fine. Semua yang aku ucapkan tadi di pantai gak akan jadi kenyataan."


"Kamu percaya takdir kan, Sam? setelah apa yang kita lalui dulu, aku percaya jika takdir aku adalah kamu."


Samuel mengangguk pelan.


"Jangan bicara hal yang membuat aku takut lagi, May, aku serius."


"Iya, maaf."


Sam mendaratkan ciuman di kening istrinya, "Permintaan maaf di terima," ujar Samuel.


Maya pun tersenyum, dan kemudian ia memeluk erat tubuh suaminya. Mengikis jarak antara mereka, membiarkan bibir keduanya saling mendekat hingga akhirnya kecupan-kecupan kecil tercipta disana. Bibir keduanya saling berpaut lembut, Samuel semakin mendekap erat tubuh Maya.


....


Maya terbangun ketika merasakan kebas di tangan kanannya. Pandangan Maya langsung tertuju pada wajah tampan Samuel yang masih pulas tertidur, teringat jika semalam Sam tidur dengan selalu memeluk tubuhnya erat.


Diperhatikannya wajah Samuel lekat-lekat. Sudah beberapa tahun berlaku sejak pertemuan mereka untuk pertama kalinya. Tetap mata tajam dan rahang tegas itu tidak pernah hilang meskipun si pemilik sedang tertidur pulas. Maya bahkan melupakan rasa kebas di tangannya begitu memandang wajah yang terlelap bak seorang bayi besar.


Maya bergerak, mendekatkan wajahnya pada wajah Samuel sehingga dia dapat merasakan hangat dari hembusan napas Samuel. Tangannya terangkat untuk membelai wajah suaminya. Maya tersenyum, begitu tampannya pria di hadapannya saat ini sehingga tidak bisa membuatnya berpaling dari Samuel.


Bagaimana ia bisa jatuh cinta pada pria lain jika pria yang ada di hadapannya saat ini begitu sempurna?


Samuel selalu bisa membuatnya jatuh cinta disetiap detiknya.


"Aku lebih mencintai kamu, sayang."


Maya terkejut, mencoba menarik diri untuk melihat wajah Samuel, namun Sam justru semakin mengeratkan pelukannya. Tangan kanannya yang dijadikan bantalan kepala Maya tertekuk melingkari bahu gadis itu agar lebih menempel erat dengan tubuhnya.


Samuel mencium puncak kepala Maya kemudian menarik kepalanya untuk melihat wajah Maya.


"Good morning, honey...."


"M-morning, suami."


Melihat kegugupan Maya membuat Sam terkekeh geli. "Udah puas liatnya?" goda Samuel hingga menciptakan rona merah di wajah Maya.


Maya memanyunkan bibirnya. "Sejak kapan kamu bangun?"


"Sejak kamu liatin aku terus," jelas Samuel sambil merapikan helaian anak rambut Maya yang berantakan.


Maya mendengus, kebiasaan Sam yang bangun lebih awal setelahnya ia pura-pura tertidur untuk mengerjainya kemudian menangkap basah dirinya seperti sekarang ini.


"Hobi banget ngerjain, aku."


"Gak ngerjain. Sengaja biar dapat morning kiss dari kamu."


"Ih, kamu tuh ya..." cemberut Maya seraya mencubit gemas hidung mancung Samuel, sedangkan Sam hanya terkekeh geli.


"Sebel banget bangunnya keduluan kamu terus."


"Udah kebiasaan sayang," Sam tersenyum sebentar. "Kita sholat subuh sekarang, kamu belum sholat kan?" ucap Samuel.


Anggukan pelan Maya menjadi jawaban. Sam perlahan bangun setelah sekali lagi mendaratkan ciuman di kening Maya.


Ia berjalan dengan sedikit gontai menuju kamar mandi, mengusap wajahnya pelan kemudian terdengar suara gemericik air kran dari dalam kamar mandi.


.....


"Kamu masih mau ke pantai pagi ini?"


"Emang kita pulang jam berapa nanti?"


"Agak siangan kalau kamu masih pengen ke pantai dulu," ucap Samuel.


"Cafe kamu gak ada masalah kan?" tanya Samuel lagi.


"Gak kok, ada asisten aku yang disana," ujar Maya.


"Martha gak ke cafe ?"


"Sam, ini kan minggu. Martha pasti sama suami dan Samudra," jawab Maya lagi. Hanya ada jawaban oh dari Samuel, membuat Maya sedikit mengerucut lucu.


"So, kamu pengen ke pantai lagi gak? sebelum kita balik Jakarta?"


Maya mengangguk cepat, dengan senyuman mengembang penuh di bibirnya.


Dan Sam membalas senyum Maya, meraih hoodie putih dan dipakaikannya ke tubuh Maya. "Aku gak mau istriku kedinginan pagi ini," ujar Samuel begitu hoodie berwarna putih polos itu melekat di tubuh Maya.


"Terima kasih suami...." ucap Maya berekspresi manja.


"Ur welcome, baby..."


Lalu keduanya berjalan meninggalkan resort, menapakkan kaki yang beralas sendal jepit di atas hamparan pasir putih hingga mereka menemukan gulungan demi gulungan ombak yang disertai suara berisik ketika ombak tersebut pecah menghantam batu-batu karang dan lalu menghilang di bibir pantai.


Sunrise pagi itu terlihat sangat indah, Keduanya hening sesaat. Masih saling duduk bersanding di tepian pantai, di atas pasir putih dengan kaki yang mereka julurkan ke bibir pantai sehingga dengan mudahnya di sapa oleh riak kecil ombak yang berlarian ke tepi.


Pagi ini mereka hanya ingin merasakan kedamaian, menikmati mentari terbit dan memandang luas lautan yang entah kemana arah akhir tepinya.


"Aku gak mau kehilangan kamu, May. I love you."


"I love you more, Sam."


Maya mengecup lembut pipi Samuel hingga ciumannya semakin turun ke ujung bibir tebal Samuel.


Pagi itu mereka hanya ingin duduk menikmati suasana pantai dengan posisi seperti saat ini, saling memeluk erat.


to be continue.....