MySam

MySam
Ngidam



Maya terkesikap ketika Samuel mengusap bibirnya dengan ibu jari, kebiasaan Sam ketika melihatnya menggigit bibir. Samuel selalu menghentikannya dengan cara seperti ini, namun setelah mereka menikah, Sam lebih sering menghentikan kebiasaan itu dengan bibirnya sendiri.


"Waktunya tidur sayang."


Maya baru saja hendak menjawab namun tergantikan dengan pekikan kaget saat Sam menggendongnya dengan posisi Maya bergelayut di depan tubuh Samuel.


"Ih, aku bisa jalan sendiri."


Sam menggeleng, "Nanti kamu kelelahan."


"Nggak kok!"


Sam mengecup pipi Maya, "Menurutlah, sayang."


Maya lagi-lagi tak bersuara, bibirnya hanya mengerucut lucu. Sam yang melihat itu mati-matian berusaha menahan diri tak tergoda untuk melakukan hal yang lebih terhadap Maya. Hari ini cukup melelahkan dan Sam tidak ingin Maya semakin lelah karenanya.


Sam membaringkan tubuh Maya ke atas kasur lalu ia bergulir di sampingnya. Mendaratkan ciuman di kening Maya lalu beringsut turun ke perut Maya yang masih rata.


"Good night my sweetheart, be good dan sehat terus di dalam sana ya," ujarnya sembari mengelus dan mencium perut Maya.


Maya yang melihat pemandangan itu pun tersenyum. Satu tangannya terangkat membelai kepala Samuel, ia pun berharap hal yang sama dengan Sam. Tak sabar melihat perkembangannya, mulai dari perutnya yang akan semakin membuncit, merasakan gerakan bayinya didalam perut seperti yang dialami oleh kebanyakan wanita hamil lainnya.


Hingga anak mereka lahir dengan lucu lalu tumbuh besar yang dipenuhi dengan kasih sayang dari mereka dan orang-orang yang ada disekitarnya.


Maya menyampingkan tubuhnya saat Samuel menyelimutinya lalu ikut berbaring di samping Maya. Seperti biasa, Sam selalu menatap wajah Maya dan selalu memberikan lengannya sebagai bantalan istrinya. Sambil mendekap erat tubuh istrinya dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut di punggung Maya.


Maya lebih banyak menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sam, matanya terpejam menerima usapan lembut yang Sam berikan di punggung dan rambut hitam miliknya. Hal yang selalu bisa membuatnya tertidur pulas, terlebih aroma wangi tubuh Sam yang selalu menenangkan.


Maya hampir saja tertidur pulas, sebelum tangannya menyenggol otot-otot perut rata sixpack Sam yang berbentuk seperti roti bantal yang digoreng hingga menghasilkan luarannya yang renyah namun serasa lembut di dalamnya.


Mendadak Maya menjadi lapar, membayangkan dirinya memakan roti sobek berbentuk bantal seperti perut sixpack suaminya.


Maya menarik kepalanya dan memandang ke arah Samuel yang kembali membuka mata dan menyorotinya lembut.


"Kenapa?" tanya Sam seraya membelai anak rambut Maya yang sedikit menjuntai menghalangi pandangan mata hitamnya.


"Laper...."


Sebelah alis Sam sontak tertarik ke atas. Merasa heran karena baru satu jam yang lalu istrinya itu menghabiskan sepiring makan malamnya di tambah setengah lagi milik Sam yang Maya habiskan.


"Lagi?"


Maya mengangguk pelan, dengan bola mata menatap Sam memelas.


"Aku buatin omlet sama roti bakar?"


"Emang bisa?" tanya Maya heran.


"Dicoba dulu, sayang."


"Gak mau," Maya menggeleng seraya memanyunkan bibirnya beberapa senti.


"Terus kamu mau apa?"


"Roti sobek."


"Ini udah malam, mana ada yang jual."


"Aku maunya roti sobek...." rengek Maya.


"Ngidam?"


Maya mengangguk pelan sebagai responnya.


"Ya sudah aku cariin sebentar ya. Kamu gak apa-apa di rumah sendirian?"


Maya kembali mengangguk, "Kan ada bibik dan mbak Pur."


"Kamu di kamar aja, jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Kalo ada apa-apa telfon mbak Pur terus kamu kabari aku, oke?"


"Siap, boss...!" angguk Maya dengan telapak tangan yang ia tempel di pelipisnya, mirip ketika hormat upacara bendera.


Sam hanya terkekeh geli, mencium kening Maya lalu bangkit dari kasurnya dan mengganti celana boxer yang ia kenakan dengan celana panjang serta kaos putih polosnya.


Ia meraih jaket dan kunci mobil lalu melangkah keluar dari kamarnya.


....


Netra Maya membola dan tersenyum begitu melihat Sam kembali memasuki kamar mereka, dengan sebuah paperbag berwarna coklat di tangannya.


Meski ada perasaan kesal karena Sam pergi terlalu lama, namun perasaan itu tergantikan dengan senyum mengembang begitu ia mencium aroma manis dari roti sobek yang masih terbungkus di tangan Samuel.


Sam duduk di pinggiran ranjang, "Maaf lama, jam segini agak susah nyari toko roti yang masih buka," terang Samuel sembari membuka paperbag dan mengeluarkan roti sobek yang masih hangat dan terbungkus kotak mungil dengan gambar roti berbentuk bantal yang terlihat sangat empuk dan mengiurkan.


"Hhmm.... wanginya...." gumam Maya, sambil menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari roti sobek begitu Sam membuka pembungkusnya.


"Suka?"


"Hm..." Angguk Maya, membuat Sam tersenyum lega.


"Makanlah," ucap Sam lagi, ia kini melepas kembali celana panjang dan jaketnya lalu naik ke ranjang dan memasukkan badannya satu selimut dengan Maya.


"Suapin....." rengek gadis itu. Membuat Sam menggeleng pelan lalu tersenyum kecil ke arah istrinya yang memang sedang kolokan dan manja terhadapnya.


Sam menarik satu sobekan dari bagian roti hangat tersebut, lalu mengulurkan ke arah mulut Maya, "Buka mulut kamu, aaaa..." ucap Sam sembari memasukan satu sobekan roti dengan isi coklat ke arah mulut Maya yang membuka lebar.


"Enak?"


"Hhmm.... mau lagi...." rengek Maya dan lagi-lagi Sam menyobek satu lagi roti yang kali ini berisi selai tiramisu.


"Aaaa....." ucap Sam mengulurkan sobekan roti hangat ke mulut Maya.


"Pelan-pelan ngunyahnya," ucap Sam lagi, hanya anggukan kecil Maya yang menjadi responnya.


Senyum tipis kembali tertarik dari sudut bibirnya ketika melihat Maya makan dengan lahap. Rasa lelah setelah beberapa jam mencari toko roti yang masih buka di jam sepuluh malam, rasa lelah Sam kini mendadak hilang ketika dengan lahapnya Maya memakan roti sobek yang ia beli. Mengingat juga saat ini Maya yang tengah mengandung darah dagingnya.


Dan sepertinya untuk saat ini dan seterusnya, Sam harus selalu sigap setiap saat jika Maya tiba-tiba saja kembali menginginkan sesuatu secara mendadak seperti malam ini.


"Lagi?" Tanya Sam begitu Maya selesai mengunyah dan meminum botol air mineral di atas nakas samping ranjang.


"Udah, aku ngantuk...."


"Tidurlah." Sam kembali merebahkan perlahan tubuh Maya lalu menyelimutinya dengan rapat.


"Good night, baby," kecup Samuel di kening Maya.


Sam ikut berbaring di samping gadis itu dengan lengan yang masih melingkar sebagai bantalan kepala Maya.


....


Sam membuka perlahan netra kecoklatan miliknya, meraba merasakan ranjang di samping tubuhnya. Tak ada Maya di sana, hanya ada bekas aroma tubuh Maya dan juga selimut yang telah berantakan bekas dari tubuh istrinya.


Sam turun dari ranjang dengan setengah nyawa yang belum terkumpul semua, ia mengedarkan pandangannya menyapu ke semua sudut kamar luas mereka, dan hasilnya pun nihil, Maya tidak ada di sana.


Sam membuka kamar mandi dan hasilnya juga sama, dengan langkah gontai akhirnya Sam keluar dan menuruni anak tangga.


"Bibik...!"


"Iya, tuan muda?"


"Non Maya dimana?"


"Non Maya di dapur, sedang bikin sup ikan," jawab si bibik sembari menghentikan langkah kakinya yang hendak membersihkan ruangan di lantai dua rumah besar itu.


"Ow...." Sam mengangguk pelan lalu kembali berjalan menuruni anak tangga satu persatu.


"Samuel.....!!!" pekik Anita yang langsung saja keluar dari pintu pantry. Sungguh membuat telinga Samuel pengar dengan lengkingan suara sang mama.


"Apaan si Ma? Mama udah lama disini nya?"


"Kamu tu ya...! istri lagi hamil kamu biarin masak sendiri di dapur. Kalo Maya terluka gimana?" ucap Anita dengan menerocos mengingatkan Samuel.


"Maya kenapa Ma? dia gak kenapa-napa kan?" kali ini mendadak semua nyawa Samuel terkumpul, takut jika Maya kenapa-napa. Terluka kena pisau atau tersandung sesuatu atau kalau tidak terkena panci panas atau pun air panas yang melukai tangan atau anggota tubuh Maya lainnya.


"Aku gak papa kok, Sam."


Sam akhirnya bisa menghela napas lega begitu melihat sosok Maya keluar dari dapur dengan keadaan utuh.


Sambil memegang mangkuk sup ikan yang baru saja ia buat dengan Anita yang mengawasi semua gerak gerik Maya ketika memasak sup ikan.


"Untung mama yang mengawasi, kalo tidak, gimana jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan?" ucap Anita yang kini mendekat ke arah Maya dan membelai lembut puncak kepala menantu kesayangannya.


"Mama, May gak apa-apa kok masak sendirian," ujar Maya sembari duduk di kursi ruang makan dan meletakkan mangkuk berisi sup ikan.


"Sam, kamu mau?" tawar Maya ketika suaminya itu mendekat ke arah Maya untuk melihat hasil masakan yang Maya masak barusan.


Tiba-tiba saja perut Sam kembali mual, rasa pusingnya kini mendera ketika ia mengendus aroma sedikit amis dari sup ikan yang ada dalam mangkuk Maya.


"Huekk......!!!"


"Sam! kamu kenapa?!"


"Sam gak papa, sayang. Kamu makan aja, biar mama yang ngurus Samuel." Anita menahan Maya ketika menantunya itu hendak menyusul Sam ke kamar mandi di lantai bawah.


"Tapi, Ma---"


"Udah, kamu makan aja sup kamu." Anita tetap bersikeras menahan Maya, lalu wanita itu berjalan ke arah kamar mandi untuk menemui Samuel, anaknya.


"Sam..... are you okay?" ketuk Anita pelan.


"Sam, gak papa Mah," jawabnya saat ia keluar dengan tisue di tangannya.


Oh.... rasa mual itu kembali datang ketika Sam mencium aroma amis dari sup ikan yang Maya santap.


"Kamu ngidam?" tanya Anita dan dijawab dengan anggukan pelan oleh Samuel.


Sementara itu Anita hanya tertawa kecil melihat putra semata wayangnya dibuat kalang kabut dengan kehamilan istrinya.


"Kok Mama tersenyum sih?"


"Eh jangan salah, senyumnya mama ini, senyum bahagia tau gak?" kembali Anita terkekeh geli melihat ekspresi wajah anaknya.


"Mama ih...." cemberut Samuel.


to be continue...


♡♡♡♡