
"Abis ini aku ikut kamu ke kantor ya? Bosen aku di rumah terus lagian Am tadi boleh ikut kamu ke kantor," ujar Maya saat pelayan datang membawakan dua buah mangkuk es cream miliknya dan Samudra. Pandangan Maya lalu beralih menatap pelayan wanita yang diam-diam melirik ke arah Samuel.
Melihat bagaimana dia memandangi wajah Samuel penuh kekaguman, rasanya Maya ingin melempar semua benda yang ada di sekitarnya ke wajah pelayan perempuan itu. Berani sekali menatap suaminya di hadapannya seperti ini.
Maya memutar netranya jengah, mengerucut sebal ke arah Samuel tanpa mempedulikan es cream strowbery favoritnya. Sikap kesal Maya kali ini berhasil membuat Samuel mengernyit heran.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Samuel sembari mengelus lembut jemari Maya. Sementara Samudra terlihat masih asik menikmati es cream vanila kesukaannya.
"Aku gak suka ya pelayan itu liatin kamu kayak gitu," manyun Maya sebal.
Samuel tersenyum dan menggeleng menatap Maya. Sikap posesif Maya padanya selalu dapat membuatnya gemas. Sam senang jika Maya begitu posesif terhadapnya karena itu menandakan jika istrinya tersebut begitu mencintai dia.
Sekali lagi Sam mengusap lembut wajah Maya dan menyorotnya teduh. "Kamu masih aja cemburu sama wanita lain, honey?"
"Tentu aku cemburu," manyun Maya lagi.
"Salah sendiri punya suami cakep paripurna kek gini," celoteh Samuel mencoba membuat Maya tersenyum.
"Ih narsis banget sih kamu."
"Hahaha bukan narsis, sayang tapi ini kenyataan," kekeh Samuel sembari mengacak-acak puncak kepala istrinya gemas.
Maya mengerucut lucu, akhirnya ia sendok es lumer manis miliknya lalu dimasukkan ke mulutnya. Sam hanya bisa tersenyum lembut melihat wajah cerah istrinya saat menikmati makanan manis, lumer dan dingin itu.
"Enak sayang?"
"Hm, enak."
"Es cream nya Am juga enak?" tanya Samuel, bocah kecil itu pun mengangguk pelan.
"Sayang, kamu mau?" tawar Maya.
"Aku gak suka es cream, kamu tau itu kan?"
"Sekali aja, Sam. Please...." pinta Maya dengan ekspresi memohon. Dan jika sudah seperti itu membuat Sam sangat sulit untuk menolaknya.
"Ya udah, sini coba dikit aja."
Sam lalu membuka mulutnya dan menerima satu suapan besar es lumer milik Maya. Sensasi rasa manis dan dingin dari es cream berwarna pink itu langsung saja memenuhi lidah dan mulut Samuel.
"Enak kan?" tanya Maya.
"Not bad..."
"Ish, Sam.... ini enak banget," kerucut Maya lalu kembali menikmati es lumernya hingga habis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Samuel menutup laptopnya lalu memeriksa arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Samuel bangkit dari kursinya dan berjalan memasuki ruangan khususnya, tempat dimana Maya dan juga Samudra lelap tertidur setelah kelelahan menemaninya di kantor. Ruangan yang hampir mirip dengan yang ada di perusahaan property miliknya di Jakarta. Ruang dengan nuansa serba warna peach dengan sebuah ranjang empuk berukuran kingsize, sebuah sofa panjang dan juga nakas yang melengkapi sudut ruang kosong di sana. Tak tertinggal, kulkas dua pintu dengan berbagai macam buah-buahan segar, aneka cemilan, air mineral dan juga susu kotak buat Samudra memenuhi seluruh ruang dalam kulkas tersebut.
Maya masih tertidur pulas dengan posisi tidur menyamping membelakanginya dengan Samudra yang juga berbaring tepat di samping Maya.
Samuel berjalan mendekati Maya, membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya secara perlahan agar tidak membangunkannya. Sam lalu mengangkat tubuh Maya. Sementara Samudra, Samuel sudah menyuruh salah satu anak buahnya untuk membantunya menggendong anak itu. Mereka pun kini melangkah keluar ruangan, berjalan ke arah lift dan menekan tombol lantai basemant tempat mobilnya parkir.
Samuel membuka pintu mobil, meletakkan tubuh Maya di samping kemudi dan menutup pintunya kembali secara perlahan. Dan Samudra pun sudah berada di kursi belakang dan masih tetap terlelap. "Grazie, ecco un po' di soldi per te." (Terima kasih, dan ini sedikit uang buat kamu) ucap Samuel dengan menyodorkan beberapa lembar uang Euro ke arah security yang tadi menggendong Samudra hingga ke mobilnya.
"Grazie, capo," (Terima kasih, bos) ucap security tadi girang.
Samuel mengangguk pelan lalu berjalan memutar dan masuk ke mobil. Mobil sport hitam itu tak lama kemudian mulai melaju meninggalkan basemant parkiran kantor.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit, mobil Samuel berhenti tepat di depan rumah. Samuel turun dari mobil, membuka pintu belakang lalu menggendong Samudra. Tanpa mematikan mesin mobil dengan Maya yang masih terlelap di dalamnya, Sam tidak ingin istrinya itu terbangun sebelum Sam membawanya masuk ke kediamannya.
Sam membuka knop pintu perlahan dan menaiki anak tangga dengan Samudra yang masih dalam gendongannya, Seperti inikah rasanya menggendong seorang anak saat ia terlelap? batin Sam.
Ia pandangi hangat wajah mungil Samudra, kedua netranya masih memejam damai, bibir mungil yang selalu berwarna merah muda seolah menarik senyuman dalam tidurnya. Mungkin Samudra merasakan rasa nyaman dalam gendongan Samuel, seperti yang ia rasakan saat Harris sang ayah yang juga selalu menggendongnya ketika ia tertidur setelah asik bermain di sofa besar rumah mereka.
Sam merebahkan tubuh mungil Samudra, menyelimutinya hingga batas dada dan mengelus lembut puncak kepala anak itu. "Sweet dream, baby boy...." bisik Samuel, bibir tebalnya melengkung senyuman tipis dan memandang wajah tampan Samudra.
...
Samuel kembali keluar rumah, melangkah menuju mobil dan membuka pintu kemudi. Ia lalu meraih tubuh Maya dan menggendongnya masuk ke dalam. Dalam gendongan Sam, tiba-tiba Maya menggeliat dan membuka kedua netranya sembari tersenyum kecil. "Kamu capek?" tanyanya. Sam menggeleng pelan lalu membalas senyuman sang istri. "Sam, biar aku jalan sendiri aja deh."
"Kenapa? Kamu gak mau lagi aku gendong, hm?"
Dengan cepat Maya menggeleng, melingkarkan kedua lengannya ke leher kokoh Samuel.
"Kasian kamu, udah capek kerja harus menggendong aku pula."
"Udah aku bilang kan, aku gak capek."
Samuel masih saja menggendong Maya hingga sampai di depan pintu kamar mereka. Sam membuka knop pintu perlahan dan memasukinya.
"Sekarang kamu lanjut tidur gih," ucap Samuel seraya membaringkan tubuh istrinya di atas kasur empuk mereka.
Sam membuka flatshoes yang Maya kenakan dan menarik selimut tebal hingga batas pinggang gadis itu.
"Kamu mau kemana?"
Sam menghentikan langkah sejenak dan kembali menoleh ke arah istrinya.
"Aku tutup pintu depan sebentar."
"Jangan lama-lama, aku takut sendirian."
"Iya." Sam berbalik dan mengangguk pelan. Ia tutup pintu kamar lalu kembali turun ke lantai dasar rumah mereka.
...
Ponsel Samuel tiba-tiba berdering saat ia hendak naik ke atas ranjang, sementara Maya sudah terlelap pulas. Sam meraih ponsel dari atas nakas samping ranjang mereka.
Samuel menerima panggilan dari seberang setelah mengetahui siapa pe-nelfon yang mengganggunya malam-malam begini.
Halo Ma, Ada apa?___ Maya dan Samudra baik-baik aja___ Iya masalah disini sudah Sam atasi___ Baiklah lusa kami pulang ke Indo___ Iya Ma, love you, bye....
Klik
Sam mematikan ponselnya lalu menaruhnya kembali ke atas nakas. Ia pun lalu berbalik menghadap Maya, memandangi wajah gadis itu lembut sembari merapihkan helaian rambut Maya yang menutupi sebagian wajahnya.
Hatinya kembali menghangat ketika melihat wajah istrinya. Rasa lelah yang menderanya seolah menghilang tiba-tiba ketika ia melihat wajah wanitanya. Seakan Maya adalah obat penawar dari kelelahan itu, Samuel kembali tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke pipi Maya. Kecupan lembut Samuel mendarat pelan di kedua pipi istrinya.
"Mimpi indah, sayang." Samuel berbisik lembut.
...****************...
to be continue....