
"Makasih ya Sam...."
"Hhmm...."
Samuel masih memandang lekat paras Maya, kini tangannya kembali mengelus lembut pipi gadis itu.
"Aku bahagia dengan perjalanan ini May, dan kamu gak perlu bilang makasih terus ke aku."
Sam kini beralih mencium kening Maya.
"Aku masuk dulu ya, kamu hati-hati pulangnya." balas Maya, tiba-tiba gadis itu mendekatkan parasnya ke arah Sam.
Sebuah ciuman dari Maya mendadak mendarat cepat di pipi Samuel. Sebentar mata Sam mengerjap, senyuman pun merekah di sudut bibir cowo itu.
"Kamu istirahat ya, aku pulang dulu." bisik Sam.
"Good night dear, i love you..." ucap Sam lagi, untuk kesekian kali nya ciuman Sam menempel di bibir peach Maya yang selalu menggoda di kedua mata Sam.
"I love you too my Sam."
balas Maya, ia membuka pintu mobil pelan lalu keluar dari sana.
Jendela mobil perlahan terbuka separuh, Sam menyembulkan kepalanya di ambang jendela mobil dan kembali tersenyum.
Maya melambaikan tangan sejenak ke arah Samuel sebelum ia memasuki pintu gerbang rumahnya.
Jendela gelap sedan hitam itu kembali tertutup. Kedua netra Sam masih lekat memandangi tubuh Maya yang perlahan memasuki pintu rumah.
Mendadak netra Samuel kembali berkaca-kaca di balik jendela gelap itu.
"Maaf den Sam, kita pulang sekarang atau ..." tanya sang supir hati-hati.
"Kita pulang sekarang pak." ucap Samuel memotong kalimat sang supir.
Laki-laki itu hanya mengangguk sebentar lalu dengan sigap menekan gas mobil dengan kecepatan sedang.
Perjalanan dari Bali memberikan moment spesial buat Sam, sangat sulit dia lupakan sampai kapanpun.
Hanya bersama Maya ia merasa bahagia, senyuman gadis itu yang selalu menenangkan namun kadang Sam juga dibuat tak bisa berkutik dengan sifat galak Maya.
****
Maya berulang kali memandangi sosok nya di pantulan cermin kamar, ia oles liquid lipstick warna peach. Tipis tidak terlalu tebal namun tetap memberi kesan manis di bibir Maya.
Ia tersenyum sebentar di depan cermin, hari ini Maya sudah tidak sabar ingin bertemu Sam.
"Perfect....." gumam gadis itu begitu merasa penampilan nya kini sudah sempurna.
Dengan cepat Maya keluar dari kamar, ia comot selembar roti selai yang sudah disediakan Siska.
"Ma... May berangkat dulu ya."
Gadis itu langsung mencium punggung tangan Siska begitu wanita itu keluar dari balik tirai dapur.
"Kamu gak makan nasi dulu?"
"Gak ma, May makan roti aja udah cukup kok. bye ma... Assalamualaikum..." cium Maya,tak lupa pelukan erat nya mendarat di tubuh ramping sang mama.
"Hati-hati bawa motornya ya sayang."
"Siap ma.... May berangkat dulu."
Dengan langkah cepat Maya berjalan keluar, menghidupkan mesin motor matic nya lalu tangan kanannya memutar gas motor pelan.
Hingga bayangan gadis itu kini mulai samar terlihat begitu keluar dari tikungan gang.
______
Kantor
"Makasih ya May.... ini bagus banget... gue suka." terlihat wajah girang Airin, berkali-kali ia tempelkan dress Bali tanpa lengan yang terlihat sangat elegan dengan bahan yang sangat lembut.
Maya mengangguk.
"Dari mana lo tau ukuran gue May?" kini Airin kembali memasukkan dress tadi ke dalam paperbag berwarna biru.
"Ukuran lo sama gue kan sama Rin, lagian gue tau selera lo kayak gimana." kini Maya memutar bola matanya dengan kerucutan bibir.
"Lo emang terbaik deh May... mmuachhh...." Kecup Airin di pipi Maya, membuat Maya spontan menghapus kasar jejak ciuman Airin di pipinya.
"Iihh... Airin.... gak gitu juga kali..." cemberut Maya lucu. Airin terkekeh melihat ekspresi sahabatnya.
"Hahaha tapi kalo Sam yang cium, pasti gak bakal lo hapus kan May." goda Airin.
Maya tersenyum sekilas. Tentu saja beda cerita jika Samuel yang mencium dirinya, batin Maya.
"Sam udah datang belum Rin?"
Kini kedua bola mata Maya berotasi.
"Kamu cari siapa dear?" tanya Sam seraya memeluk pinggang Maya, sembari melayangkan kecupan singkat pada pelipis gadis itu.
Maya menggeleng, kini kedua netra gadis itu kembali bersinar.
Ah.... ia benar-benar selalu merindukan sosok Samuel. Kini cowo itu bagaikan candu buat Maya.
Maya masih mematung memandangi Sam yang kini mulai menghilang di balik pintu lift.
"May.... udah sana cepetan susul si bos." suara Airin mengusik lamunan Maya, nampak gadis itu sedikit gugup.
"Eh sebentar May, lo tau gak kalo bos ada rencana mau ke Praha dalam bulan ini?" tanya Airin, Maya menggeleng pelan.
"Dia gak bilang apa-apa ke gue."
"Masak sih May? oh mungkin bos lupa kali May atau belum sempet." lanjut Airin menenangkan.
"Gue ke ruangan gue dulu ya Rin."
Airin mengangguk tersenyum, mereka saling cipika cipiki sebelum Maya mulai melangkah mendekati pintu lift.
_____
"Pagi Sam."
ucap Maya, ia letakkan tas kerjanya lalu mendekat kearah Samuel.
Sam tersenyum, ia raih lengan Maya. Hanya sebuah tarikan lengan putih Maya yang akhirnya membuat Maya duduk di atas pangkuan Sam dengan posisi menatap cowo itu menjadi responsnya.
Kedua lengan Sam melingkar di tubuh Maya. Bersandar dengan memeluk gadis itu erat dan manja.
"Ini masih terlalu pagi Sam, kamu gak takut kalo ada OB masuk dan melihat kita?" cibir Maya.
"Kenapa harus takut? aku pemilik perusahaan ini." balas Sam, ia masih saja memeluk tubuh Maya. Mencium aroma parfum gadis itu dalam-dalam, sungguh sangat memabukkan buat Sam.
Kedua tangan Maya membalas pelukan Sam, walau awalnya ragu.
Sam semakin menyembunyikan wajahnya pada tengkuk Maya, membuat gadis itu sedikit merasa geli. "Aku gak bisa jauh dari kamu sayang," bisik Sam.
"Sam, apa benar kamu mau pergi ke Praha?" tanya Maya kini.
Dengan menulikan pendengarannya, tanpa mempedulikan gerak gerik tidak nyaman, Sam kembali memeluk Maya. Kali ini lebih erat, seakan tidak ingin kehilangan gadis itu. "Urusan bisnis," gumam Sam pelan.
Kini cowo itu merasa sangat bersalah, berbohong pada gadis yang sangat ia cintai.
Maya hanya ber oh-ria.
"Berapa hari?"
"Belum tahu. Please baby gak usah bahas soal itu lagi ya." kini Sam merasa sangat tidak nyaman. Ia tidak ingin lagi berbohong terlalu jauh.
"Ya udah kamu kembali kerja ya, baju kamu kusut kan gara-gara memangku aku."
Maya kini bangkit dari pangkuan Sam.
Cowo itu hanya mengangguk pelan walau sebenarnya ia masih ingin lebih lama lagi memeluk tubuh Maya, mendekap nya erat dan menikmati setiap detik moment kebersamaan mereka.
"Mau aku buatin latte Sam?"
Samuel mengangguk, "Thanks baby..."
****
Flash back di mansion Sam
Hari ini Sam bersiap menuju kantor, sebuah senyuman pun merekah sempurna di kedua sudut bibirnya. Ia kenakan Cardigan abu tua di bahu bidangnya, sangat sempurna melekat di tubuh Sam.
"Sam.... mama tau kamu udah balik dari Bali bersama asisten kamu itu." ketus Anita yang tiba-tiba datang dari balik pintu kamar anaknya.
Dengusan kecil keluar dari hidung Sam. "Sejak kapan mama disini?" ketus Samuel.
"Gak penting mama disini sejak kapan, mama mau ingetin kamu lagi Sam. Pernikahan kamu tinggal beberapa hari lagi dan jangan kamu lupakan itu."
Dengusan kesal Sam kembali terdengar. "Sam ingat."
"Kenapa harus ke Praha sih Sam? kenapa gak ke Bali aja? lebih deket kan?"
"Lagian kenapa harus diam-diam kayak gitu? Mama gak enak jadinya sama orang tua Martha."
Anita kini terdengar sedikit kesal.
Masih sibuk merapikan kemeja nya, Sam tidak terlalu peduli dengan protes sang mama.
"Sam...." kini Anita sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Biar teman-teman Sam gak ada yang tahu kalo Sam nikah," jawabnya datar.
"Teman-teman kamu atau asisten kamu Sam?"
Samuel menghentikan sebentar kegiatannya, dialihkan pandangannya ke arah Anita. Sorot mata nya kini mulai sayu, "Namanya Maya mah, bisa gak mama panggil Maya dengan nama dia," ketus Sam.
Sam melangkah meninggalkan Anita dengan ekspresi kaku.
"Sam.... kamu mau kemana? mama belum selesai ngomong," pekik wanita itu. Tak ada respon dari Samuel, cowo itu tetap melangkah meninggalkan Anita yang masih berdiri di dalam mansion Samuel.
Berkali-kali Anita menggeleng, hembusan nafas kasar pun keluar dari mulutnya. "Andai saja kamu tahu mama melakukan ini demi kebaikan kamu nak," batin Anita dengan sorot mata sayu.
to be continue....