
Dada Maya terasa sesak, mengingat kisah ibunya. Seorang wanita yang terpaksa membesarkan anak gadisnya seorang diri hanya karena seorang pria yang tidak bisa menjaga kepercayaan dan kesetiaan. Dia tidak ingin merasakan hal yang sama, karena itu ia sangat menjaga diri, menyibukkan diri dengan bekerja dan membaca tumpukan novel romantis. Dan Sam.... dengan segala masa lalu yang pria itu punya, pernikahan Sam dan Martha serta kenyataan jika anak yang Martha kandung bukanlah darah daging Sam, membuat Maya seolah membentengi diri dari perasaan yang nantinya kembali membuatnya terluka.
Karena tidak menutup kemungkinan jika nantinya akan ada beberapa gadis dari masa lalu Sam kembali datang kedalam hubungan mereka.
Belum lagi restu dari Anita, Maya masih merasa trauma dengan pertemuan bersama Anita beberapa waktu silam. Tatapan tajam Anita seolah mata pedang yang terhunus tepat di jantungnya, menelanjangi dirinya dengan kedua iris mata yang memandangnya penuh kesinisan, mengedarkan pandangannya dari ujung kepala hingga kaki seolah berkata kamu tidak selevel dengan Samuel, anakku.
"Bersiaplah."
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel berlayar sentuh miliknya, melihat sekilas pun Maya sudah tahu siapa pengirimnya. Sam akan menjemputnya. Tanpa bisa dikendalikan debaran itu kembali datang.
Sambil menghela napas, Maya menyeret dirinya bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju nakas, membuka kotak persegi berpita pink.
___
"Kamu udah siap May?"
Tanya Sam, begitu gadis itu keluar dari balik pintu. Seketika netra Sam membola kagum melihat penampakan Maya petang itu. Memakai gaun yang dikirimkan olehnya melalui jasa pengiriman, rambut hitam sebahunya tersanggul elegan dan pulasan make up flawless yang menonjolkan bentuk wajah namun tetap natural. Bibir berwarna peach yang begitu nikmat untuk dikecup, serta iris mata hitam yang berkilau jernih.
Sam kehilangan napasnya.
Ketika pandangannya turun, leher jenjang Maya tidak terhalang apapun, membuat Sam ingin meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di sana. Gaun bruklat selutut berwarna hitam dengan potongan leher sweetheart yang menampakkan leher putih Maya terlihat begitu elegan, jauh dari kesan vulgar. Sam menarik senyuman ketika sebuah kalung dengan inisial MySam melingkar manis di leher putih Maya.
"Sam?" ucap Maya membangunkan lamunan Samuel. Sam berdehem untuk menyamarkan dirinya yang kali ini menelan saliva melihat pahatan ideal di hadapannya.
"Udah siap?" tanya Sam sekali lagi, Maya mengangguk pelan lalu dengan cepat Sam mengangkat lengan kirinya, mempersilahkan Maya menyelipkan tangannya di sana.
"Sudah pamit ke tante?" tanya Sam lembut, Maya hanya mengangguk dan mengeratkan lingkaran lengannya di lengan milik Sam.
Mereka memasuki sedan hitam mengkilat milik Sam, melaju bersama sedan itu menembus malam yang penuh dengan gemintang.
"Kita mau kemana?" sedikit menarik keningnya, Maya menoleh ke arah Samuel. "Pesta temen aku," jawab Samuel, melirik sebentar ke arah Maya lalu kembali berkonsentrasi dengan jalanan.
___
Di tengah lantai teratas sebuah gedung mewah yang disewa, Sam dapat merasakan pegangan Maya yang mengerat pada lengannya, menyadari rasa gugup yang dialami gadis itu. Ruangan yang didekorasi warna merah anggur dan warna emas, berisi para model dan juga petinggi perusahaan dari berbagai bidang bisnis. Sam sendiri bisa melihat wajah-wajah petinggi perusahaan yang menghiasi sampul majalah Forbes ataupun model-model cantik dan juga tampan yang selalu berseliweran di acara party ataupun menampangkan wajah mereka di majalah fashion ternama.
Wajar saja jika Maya merasa tidak nyaman, mengeratkan kembali genggaman tangannya di sela jemari Maya tanpa berniat melepasnya.
Mata kecoklatan Samuel menangkap sosok tuan rumah pesta yang sedang berbincang dengan seorang pemilik sebuah stasiun televisi nasional dan segera menyapa pria bertuxedo hitam, didampingi seorang wanita yang tetap cantik di usia yang menjelang lima puluh lima. Sam berbasa-basi sejenak sebelum ia mengambil minuman yang dari tadi dibawa oleh pelayan berkeliling ruangan.
Sam menyesap wine, sedang Maya hanya menikmati cocktail rasa buah yang diambilkan oleh Samuel.
Beberapa detik kemudian para pelayan menyingkirkan beberapa dekorasi dari tengah ruangan, memberi ruang lengang untuk para tamu berdansa dengan pasangan masing-masing.
Intro lagu Ed Sheeran melantun dan sang tuan rumah pesta yang pertama kali turun. Mereka berdansa layaknya pasangan yang pertama kali jatuh cinta. Senyum tak pernah lepas dari bibir mereka dan beberapa tamu memberikan tepuk tangan untuk keduanya.
Ada rasa iri menyusup dalam diri Sam, melihat pasangan yang tidak lagi muda masih saling mencintai, saling memberikan kehangatan dan rasa nyaman. Sam ingin suatu saat nanti ia dan Maya bisa merasakan hal yang sama, berdua setiap saat dalam cinta sejati bahkan hingga mereka tidak muda lagi. Sam kembali melihat cara mereka tertawa dan cara mereka memandang satu sama lain, rasa cinta dan kepercayaan untuk saling menjaga hati.
Tatapan Sam jatuh kepada wajah Maya yang sedang memperhatikan si pemilik pesta berdansa dan memeluk sang istri hangat dan terus melangkahkan kaki ala waltz. Wajah Maya yang melembut membuat Sam bertanya-tanya apakah gadis itu juga mempunyai pikiran yang sama dengannya, berharap memiliki pasangan yang menemani hingga usia senja.
"Shall we dance?" tanya Samuel menjulurkan tangannya ke arah Maya sambil tersenyum tipis. Lagu yang sama mengalun lembut ketika Maya menerima uluran tangan Sam. Rasa hangat kembali menyeruak dalam diri Sam ketika menyentuh tangan mungil Maya, menuntunnya berdansa di tengah lantai, dan tangan yang lain mengarah ke pinggang kecil Maya. Sam memulai dengan dansa Waltz sederhana, Maya ternyata bisa mengikuti gerakannya.
"Aku pernah belajar untuk prom night dulu," jawab Maya menunduk.
"Siapa?" tanya Sam, menekan nada tajam dalam nada bicaranya.
Membayangkan ada pria lain yang menyentuh Maya, seperti dirinya saat ini membuat rasa sakit menekan dalam dada Samuel.
"Mama." Maya masih menunduk dalam, tidak menyadari helaan napas yang keluar dari mulut Sam.
"Bukan El? bukankah ia teman Sma kamu?" tanya Sam lagi, kali ini sedikit menyelidik.
Maya menggeleng, lekat memandang iris kecoklatan Samuel. "Akhirnya aku gak bisa datang dalam pesta prom," lanjut Maya lagi, membuat Sam sedikit mengerutkan dahi saat mendengarnya.
"Mama malam itu mendadak sakit, dan aku harus menemani mama di rumah sakit." lanjut Maya, Sam membuang napas lega. Mengeratkan lagi lengannya di pinggang Maya, memutar tubuh Maya dengan tangan kanan sebelum kembali membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya lagi.
Dia dapat merasakan napas Maya yang menghembus lehernya, sementara ia menyukai aroma wangi tubuh gadis itu. Bagi Sam hanya ada mereka berdua di tempat itu, ditemani gemintang seperti beberapa saat lalu ketika pertama kalinya Sam membawa Maya ke Planetarium.
"You looks perfect tonight." bisik Samuel di telinga Maya.
"Thanks."
Senyuman tipis kembali menghias wajah Sam, menggunakan interlude lagu untuk mencuri kecupan di pipi Maya, kembali memutar tubuh gadis itu sebelum kembali berdansa waltz. Sebelum lagu berakhir, kembali Sam mendekatkan diri ke tubuh Maya. Menenggelamkan kepalanya di geraian rambut Maya, merasakan jantungnya berdetak keras bersahut-sahutan dengan detak jantung Maya.
Alunan musik berakhir, Maya menarik diri sedikit dari tubuh Sam, mengangkat wajahnya dan menatap dalam ke arah Samuel.
Sam mengecup lembut puncak kepala Maya, melawan dorongan untuk menahan mencium bibir peach Maya, setidaknya ia akan melakukannya nanti ketika hanya ada mereka berdua.
"Kamu lelah?" tanya Sam, khawatir dengan keadaan Maya, Membuatnya berdansa hingga hampir enam puluh menit dengannya sedikit menguras tenaga gadis itu. "Sedikit," jawab Maya dengan debaran yang masih ia rasakan.
"Pulang sekarang?" kembali Sam mengajukan pertanyaan yang kali ini dijawab anggukan kepala oleh Maya. Ia merasa ruang pesta malam itu terlalu riuh ramai dengan banyak aturan kesopanan yang Maya sendiri tidak terbiasa.
Sam membawa Maya keluar dari ruangan, melewati pintu lift hingga kembali ke lantai dasar ballroom hotel bintang lima itu.
Menggandeng tangan Maya ketika seorang vallet parkir membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Berganti Samuel menyodorkan selembar uang berwarna merah ke arah vallet parkir yang lalu dibalas oleh anggukan kepala sopan sang vallet.
Melajukan kembali sedan sport itu meninggalkan hotel berbintang, kembali membelah jalanan kota Metropolitan. "Weekend nanti mama ngundang kamu makan malam," ucap Sam lembut, menatap sebentar ke arah Maya.
Terlihat gugup dan keraguan dari sorot mata Maya, ini yang ia takutkan. Kembali bertemu Anita, menatap manik mata tajam wanita itu dan melihat keangkuhan di wajah elegant nya.
"Honey, are you ok?"
Maya mengangguk pelan, tersenyum sebentar menyembunyikan kegugupan di matanya. "Iya," hanya jawaban singkat Maya yang terlontar.
Sam meraih tangan Maya, mengecupnya perlahan sambil serius memperhatikan trafic light dan arus lalu lintas di depannya.
Sedang Maya, menyembunyikan kegelisahan dari Sam.
to be continue....