MySam

MySam
Surprise...



Maya tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Semua rasa seolah bercampur jadi satu. Ia ingin melonjak-lonjak saking gembiranya. Disisi lain, ada rasa ragu dan takut menyelimuti benak.


Gadis berparas cantik itu masih tidak percaya dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Segalanya berjalan begitu cepat. Mulai dari magang di perusahaan Advertising milik Samuel, berpacaran dengan pria itu disaat ia masih menjalin hubungan dengan Elano. Cinta itu datang dengan sendirinya, ia sama sekali tidak bermaksud berselingkuh dari Elano. Mungkin saat itu Semesta mengisyaratkan ia dan Elano tidak berjodoh, mungkin...


Hingga pernikahan Samuel dengan Martha yang akhirnya berujung dengan perceraian, serta fakta jika anak dalam kandungan Martha yang semula ia kira adalah anak Samuel, sampai terkuak fakta yang sesungguhnya jika itu hanyalah kebohongan Martha belaka.


Kadang Maya merasa takut, jika apa yang ia dapatkan dengan mudah akan menghilang dengan mudah pula. Ah tidak... bagi Maya perjalanan cintanya dengan Samuel tidak semudah itu, jangan lupakan jika mereka sempat hilang kontak kurang lebih hampir satu tahun. Rasa rindu yang sempat Maya tahan karena status Samuel, yaitu masih suami dari gadis lain.


Maya tidak ingin kehilangan apa yang ia miliki saat ini. Ia dan Sam berhak mendapatkan kesempatan untuk bahagia, merasakan manisnya cinta di kala susah maupun senang.


"Kenapa diam sayang? apa kamu ragu dengan lamaran ini?" tanya Samuel ketika melihat Maya melepaskan pelukannya dan terdiam cukup lama.


Maya menggeleng kuat-kuat lalu meremas jemari tangan Sam. " Aku takut kamu menyesal memilihku. Dibanding dengan Martha aku tidak secantik dan sekaya dia dan juga, jika dibanding dengan mantan kekasih kamu, jelas aku bukan siapa-siapa."


"Aku hanya gadis biasa, tidak cantik dan seksi."


Jawab Maya yang mencoba mengungkapkan isi hati yang menggelitik perasaannya, takut jika Samuel akan menyesal nantinya. Bagi Maya pernikahan itu sesuatu yang sakral dan terjadi sekali seumur hidup.


"Kamu salah, sayang. Aku tidak pernah menyesal memilih kamu. Kamu berbeda, kamu satu-satunya gadis yang tidak pernah menilaiku dari tampang dan juga uangku." Berhenti sejenak, Sam mengusap lembut pipi Maya, mengangkat sedikit wajah yang sedari tadi menunduk dalam remang cahaya.


"Kamu satu-satunya gadis galak yang berani menentang aku. Satu-satunya gadis yang bisa membuat hatiku bergetar setiap kali kita bertemu dan selalu membuatku merindu tiap kali kamu jauh dariku," lanjut Samuel.


Menatap penuh kelembutan iris hitam Maya, memastikan bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Lagi-lagi hati Maya membuncah, perasaan bahagia menyelimuti batinya. Ucapan Samuel sungguh membuat ia terbuai, tersenyum bahagia terkembang di bibirnya. Maya memeluk tubuh Sam, mendekap erat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Samuel.


____


Elano masih mencoba menetralisir keresahan hatinya, duduk berputar di atas kursi kerja miliknya dengan kedua telapak tangan yang saling ia pautkan. Mencoba berfikir cara apalagi yang bisa ia gunakan untuk menghambat rencana pernikahan Maya dan Samuel.


ceklek!!


Perlahan pintu ruangan El terbuka, kedua netra pria itu spontan membola penuh. Sosok gadis cantik bersurai ikal kemerahan dengan senyuman manis terkembang. Berdiri tepat di hadapan Elano.


Gadis dengan pakaian serba branded, berpenampilan seperti seorang model papan atas.


"Hey sayang..."


Elano terdiam, terkejut dengan sosok Freya yang tiba-tiba saja hadir tepat di depan matanya. Berdiri bak seorang goddess.


"Freya, kapan kamu datang?"


Sedikit terkejut, namun kini Elano berdiri dan mendekat ke arah gadis itu. Memeluk tubuh seksi yang sudah lama tidak ia peluk.


"I miss you, El."


Freya mengeratkan pelukan tubuh pria itu.


"Beberapa pekan ini kamu seolah menghilang, tidakkah kamu tahu kalau aku rindu sama kamu, El?"


Ucap Freya, merenggangkan sedikit pelukannya lalu dengan cepat ia tempelkan bibir pink nya ke bibir Elano. Mempautkan bibir itu erat, membuat Elano tidak bisa menolaknya.


"Sayang, kamu gak rindu sama aku heemm?" pertanyaan lirih Freya membuat Elano salah tingkah.


"Maaf Fe, aku akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan di sini." elak Elano, mencoba menyembunyikan keterkejutan beberapa detik lalu.


Freya berjalan menuju kursi kerja Elano, memutar-mutar kecil seolah seperti anak-anak yang mendapatkan mainan baru.


"Kamu senang kan aku kasih kejutan ini?"


"Tentu saja baby, aku senang sekali kamu ada di sini."


Memperlihatkan senyumannya kembali, kini Elano mendekat ke arah Freya. Mendekap erat punggung gadis itu, mencium dalam-dalam wangi aroma kiwi dari surai ikal bergelombang kemerahan milik Freya. Membuat Freya kembali menoleh ke arah Elano, mendekatkan bibirnya lagi dan kini mereka kembali saling berciuman, bahkan ada pertukaran saliva di sana.


"Aahh... eeuumm... kamu nakal ya sayang," melepas sebentar pautan bibirnya, kini jemari lentik Freya menyusuri wajah tampan Elano. Membuat getaran liar bergemuruh di dada Elano.


"Tunggu aku nanti malam di apartemen, sayang." Freya berbisik nakal, mencium bibir Elano dengan sedikit gigitan kecil di sana.


"Oke."


Membalas ciuman Freya, kini Elano bisa sedikit melupakan masalah Maya.


"Aku pulang dulu, nanti malam kita bertemu di apartemen kamu."


Elano mengangguk, kembali membalas ciuman kecil Freya dan hanya memandang tubuh indah gadis itu yang perlahan keluar dan menghilang dari balik pintu.


Untuk sementara waktu biarlah gue menghilang dari hubungan Maya dan Samuel, hingga gue menemukan cara untuk memisahkan mereka berdua, batin Elano.


Lagipula ada Freya saat ini, gadis itu kembali hadir di saat yang sangat tepat. Batinnya lagi, seringai kecil terkembang di sudut bibir Elano. Kali ini terlihat seringai yang menakutkan.


___


Apartemen Elano


Suara ketukan terdengar dari luar pintu. Dengan cepat Elano melangkah menuju ujung pintu apartemennya. Membuka knop pintu lalu tersenyum begitu melihat siapa yang berdiri di ujung pintu apartemen.


"Malam, baby..." sapa Freya, kembali memeluk tubuh Elano yang dibalas dengan pelukan pria itu.


"Aku membawa anggur spesial untuk pertemuan kita, sayang."


Freya meletakkan botol anggur di atas nakas dekat sofa. Elano berjalan dari arah pantry dengan membawa dua buah gelas. Menuang anggur tadi ke dalam gelas dan saling bersulang. "Cheers...." ucap keduanya, saling mendentingkan kedua gelas kaca dan kemudian menyesap isi didalam gelas tersebut.


"So... apa yang membuat kamu kembali ke Jakarta? tentu saja selain kamu merindukan aku."


Freya tersenyum sebentar, kembali menyesap anggur miliknya dan berjalan mendekat ke arah Elano.


"Maaf sayang, aku merasa bersalah saat menolak ajakan kamu untuk kembali ke Jakarta."


"Aku sadar kalau aku sangat kesepian tanpa ada kamu di Melbourne. I need you, baby."


Freya menyusuri wajah Elano, merasakan hangatnya hembusan napas Elano yang saat itu menerpa seluruh wajahnya.


Untuk kesekian kalinya Freya mencium bibir Elano, dari ciuman kecil hingga ciuman yang lebih berhasrat. Bahkan leguhan demi leguhan tercipta dari bibir Freya.


Elano membawa tubuh Freya yang saat itu duduk di sampingnya, membawanya ke dalam pangkuannya kini. Kembali saling membalas ciuman masing-masing.


El membelai rambut panjang bergelombang Freya, melingkarkan lengannya ke pinggang gadis yang saat itu berada dalam pangkuan Elano.


"I miss you too, baby..." bisik Elano, masih mencium lembut bibir Freya.


"Aahh... sshh... don't you want more, honey? eeuumm..." bisik Freya kali ini dengan suara mengoda.


Elano mengangkat tubuh gadis itu, menggendong ala bridal style, dengan bibir yang masih saling berpaut.


Melangkah menuju ranjang berukuran delux, menjatuhkan tubuh Freya di sana. Tatapan sayu gadis itu yang seolah menginginkan lebih, membuat gairah Elano memuncak.


Elano melepas kaos yang ia pakai hanya menyisakan boxer miliknya, beringsut mendekati tubuh gadis itu. Hingga saat ini posisi El berada di atas tubuh Freya.


Tangan El melepas kancing dress pendek Freya hanya menyisakan bra berenda yang terlihat manis membungkus buah dada gadis itu yang terlihat malu-malu menyembul sempurna.


Sebuah kecupan-kecupan kecil serta gigitan kecil El pada leher Freya membuat gadis itu mendongak sampai tangan kanannya meremas rambut Elano.


"El....."


Masih belum berhenti, Elano bahkan semakin gencar saat tak ada penolakan sama sekali dari Freya. Membuat sudut bibirnya terangkat, di sela-sela bibir keduanya yang sudah menyatu sejak tadi.


Leguhan yang lolos begitu saja dari bibir Freya membuat Elano mendapat lampu hijau. Kepala Elano beringsut, berada di tengah dua bukit kembar milik Freya sembari menggelengkan kepalanya. Menggoda dua pucuk kecoklatan untuk mengeras, dan itu berhasil.


Setelahnya Elano menjatuhkan kepalanya. Melihat raut wajah Freya, terlebih pada kedua mata sayu penuh gairah. Mata itu saling bertatap untuk sepersekian detik.


"Want to continue, baby?"


Tak ada alasan untuk Freya menolaknya. Ia juga menginginkan lebih dari Elano. Jadilah kepala itu mengangguk pasrah, Elano semakin menyusuri tubuh molek Freya, mendaratkan hisapan serta gigitan kecil pada leher dan kemudian turun di dua bukit kembar Freya, menggigit pelan hingga membuat gelenyar aneh di jantung gadis itu. "Aaahhh... eeuummm...." erang Freya.


Elano semakin menelusuri tubuh indah itu, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di sana. Hingga bibir Elano semakin beringsut turun, melakukan suatu pergerakan yang kembali membuat gadis itu terbang dan mengerang. Meremas kuat rambut Elano, menikmati setiap sentuhan yang pria itu berikan.


"I want more, baby... eeuum...." de-sah Freya.


to be continue....