MySam

MySam
Gaun Pengantin



Sam membukakan pintu mobil untuk Maya, menggandeng nya begitu Maya keluar. Wajah lega terlihat jelas dari mereka, karena saat ini tidak ada lagi masalah yang akan mengganggu hubungan mereka, tapi benarkah? Bukankah sebuah hubungan akan selalu terdapat duri ataupun krikil tajam yang mewarnai? Namun bagi Sam dan Maya, asalkan mereka bersama, dunia akan mereka hadapi berdua.


Sam dan Maya memasuki pintu utama boutique dengan nuansa alami hutan tropis, banyak tumbuhan hijau menghiasi, mulai dari sulur yang tumbuh menjulur dan melilit pada pilar bangunan hingga tumbuhan hijau menjulang dalam pot-pot besar. Sungguh terkesan sejuk dan menenangkan.


Mereka disambut oleh beberapa karyawan boutique, sampai seorang pria setengah matang berpakaian rapi menghampiri keduanya. "Sam..... ih eike seneng deh ketemu yei...." sang pria setengah matang itu langsung memeluk tubuh Sam dan melakukan cipika cipiki di pipi Sam. Membuat Maya tersenyum geli melihatnya, sedangkan Sam hanya membolakan kedua netra coklatnya ke arah Maya, seolah pura-pura marah saat tunangannya itu menertawainya. Sam sudah terbiasa menerima pelukan dan gelayutan manja dari Vivian yang mempunyai nama asli Vino Alfian. Mengingat designer yang sebenarnya memiliki wajah tampan dan postur tubuh kekar namun berkelakuan sangat kemayu itu sudah menjadi designer langganan keluarga Sam sejak lama.


"Gue mau gaun pengantin terbaik buat tunangan gue, Lo ada kan Vi?" tanya Sam, Ia kini meraih tubuh Maya, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Maya.


"Iiihhh..... apose yang gak ada buat yei, Sam.... my hunny bunny...." pria setengah matang itu langsung meraih tubuh Maya dari rangkulan Sam, memutar tubuh gadis itu pelan. Memandang dari ujung rambut hingga kaki, memutarnya lagi hingga membuat Maya kembali terkekeh ke arah Sam.


"Hhmm.... syantik... tubuhnya juga oke.... eike punya gaun yang cucok buat yei cans(cantik)...." lanjut Vivian lagi.


"Meriii...... kesindang(kesini)....!!" teriak Vivian kepada salah satu pegawainya dengan suara melengking khas pria kemayu itu.


"Iya, madam?"


"Lo orang, ambil gaun pengantin yang ada di lemari kaca di ruang kerja eike...." perintahnya.


"Siap madam..." gadis pegawai boutique langsung saja mengangguk dan berjalan menuju ruang kerja sang bos.


"Jangan lambreta(lama) deh Mer....!!! awas jangan sampai rusak tuh gaun ya Mer...." pekiknya lagi.


"Yei berdua duduk dulang(dulu) deh, yei mau minum apose(apa)? teh? kopi? latte?" tawar Vivian.


"Kamu mau minum apa, dear?" tanya Sam ke arah Maya.


"Air mineral aja." Maya menjawab tawaran Sam.


"Tolong deh air mineral sama latte satu," jawab Sam ke Vivian.


"Aurel.....!!" teriak Vivian lagi, kembali memanggil salah satu pegawai lainnya, hingga seorang gadis cantik bersurai panjang sedikit berlari mendekati Vivian.


"Ya Madam?"


"Ambilkan air mineral dindong(dingin) satu dan buatin special latte buat si cakrabirawa(cakep) eike, Samuel. Cepetan...." pekik Vivian. Kembali sang pegawai mengangguk patuh dan berlalu dari sana.


"Vi, Lo tu kebiasaan suka perintah-perintah sembarangan karyawan Lo, kasian tuh anak orang main Lo perintah aja," ucap Samuel yang kini duduk di sofa panjang berwarna matcha, sedang Maya di samping Sam terlihat membolak-balik majalah fashion yang tersedia di sana.


"Apose(apaan sih) Lo ini, Akika(aku) kan bos yang baik hati, Samuel my hunny bunny." Vivian menjawab manja.


"Madam, gaun yang ini?" tanya Meri si pegawai boutique, menunjukkan gaun megah bak putri kerajaan yang sudah Meri pasang ke tubuh mannequin.


Netra Maya spontan membola penuh, melihat gaun berwana broken white ala putri kerajaan di cerita negeri dongeng.



"Gimana Sam? cucok kan buat tunangan yei?"


"Hhmmm..... not bad." Sam menjawab singkat.


"What.....? not bad? Sam.... ini tuh amazing.... tau gak sih Lo? kezel deh ih......" jawab Vivian mendecih. Sam tertawa sebentar.


"Sam ih.... " Vivian merajuk manja. Sedang Maya hanya tersenyum kecil menanggapi pria setengah matang itu yang bersikap manja di hadapan Samuel.


"Kamu mau coba sekarang, sayang?" tawar Sam.


Berfikir sejenak, lalu dengan tiba-tiba Maya menggeleng, "Nanti aja, Sam." Maya berfikir, biarlah menjadi kejutan buat Sam di hari pernikahan mereka nanti.


"Aku fitting gaun pengantinnya sendiri aja ya Sam, biar jadi kejutan buat kamu nanti." Maya melanjutkan ucapannya, menatap sebentar ke arah Sam dan berharap pria itu memahami maksud yang ia utarakan barusan.


"Terserah kamu aja, sayang." Sam tersenyum, menyelipkan ke belakang telinga, anak rambut Maya yang sebagian menutupi wajah cantiknya.


"Nanti biar Mama atau Martha yang akan menemani kamu fitting gaun." Sam melanjutkan.


"Iihh.... kalian berdua bikin eike ngiri deh..... so sweet bingits sih..." pekik Vivian manja.


"Ya udah Vi, gue balik dulu. Gue ambil gaun yang itu kalo bisa Lo sempurnakan lagi gaun itu."


Vivian mengangguk girang. "Of course, handsome.... apose yang gak buat yei...." balas Vivian kemayu.


Pria setengah matang itu kembali memeluk manja tubuh Sam, lalu cipika cipiki bersama Samuel dan juga Maya. "Next time mainlah kesini Maya, Akika siap buatin yei gaun yang mewah cetar membahana badai...." ucap Vivian lagi, yang dibalas oleh senyuman kecil dan anggukan kepala dari Maya. "Iya kak Vivian, kapan-kapan aku mampir ke boutique kakak." Vivian kembali merengkuh tubuh Maya dan mendaratkan cipika cipiki nya ke pipi chubby Maya.


....


Maya dan Sam keluar dari pintu utama boutique, senyuman geli gadis itu masih saja tertarik di kedua sudut bibirnya. Membuat Sam terheran melihat sikap dan ekspresi gadis itu.


"Kenapa sih, sayang? ada yang lucu?"


"Aku bingung aja melihat kak Vivian bergelayut manja sama kamu, apa aku harus cemburu atau malah ketawa melihatnya, hehehehe" Maya terkekeh geli.


"Kamu..... ngeledek ya?"


"Bukan gitu, Sam....." Maya terkekeh sebentar dan semakin membuat Sam ikut tertawa, sesekali gelitikan gemas Sam mendarat di pinggang Maya.


"Sam..... ih geli tau." pekik Maya setengah memohon untuk Sam menghentikan gelitikannya.


"Vivian tuh emang gitu, kamu tau sendiri kan cowo setengah matang kayak gimana. Aku sama dia berteman udah lama. Mama juga udah lama jadi pelanggan gaun-gaun yang Vivian buat," terang Sam.


"Hhmm..... Aku tau, sayang." Maya mengangguk, kembali menggelayut manja di lengan Sam saat mereka berjalan di parkiran menuju ke sedan hitam mereka.


"Pernikahan kita dua minggu lagi, sayang." Ucap Sam begitu mereka memasuki sedan hitam itu. Sam melirik ke arah Maya, memandang gadis itu lembut.


"Semua persiapan sudah matang, segalanya pun sudah siap. Apa kamu sudah yakin dan siap menjadi nyonya Samuel nanti?" tanya Sam.


Maya mengangguk mantap, memandang ke arah Sam, membalas tatapan lembut Sam. "Hhmm.... aku siap Sam. Aku bahagia menjadi bagian dari hidup kamu. Bukan karena apa yang kamu miliki tapi karena aku benar-benar mencintai kamu, Samuel Perdana," lirih Maya. Meraih rahang kotak Sam dan mengelusnya lembut.


Samuel tersenyum, "I know, baby..." balas Sam.


Mereka masih saling bercanda, bercerita hingga sedan hitam itu perlahan menjauh dari boutique milik Vivian.


to be continue....