
"Sam.... ini bagus banget...." gumam Maya takjub ketika melihat kamar bayi yang Samuel tunjukan.
Kamar bayi yang dulunya milik calon bakal bayi mereka yang telah diambil kembali sebelum ia dilahirkan.
Samuel mendekorasi ulang, memasang wallpaper bergambar langit dan sebagian lagi bergambar bunga bluebell . Entah kenapa Sam lebih memilih wallpaper bergambar bunga berbentuk lonceng kecil dengan warna biru memukau. Seolah langit biru berpadu bunga bluebell yang juga berwarna biru akan membawa rasa nyaman ketika memasuki kamar luas tersebut.
Maya mendekat ke arah dua box bayi. Kali ini Sam lebih memilih warna pink untuk calon bayi perempuan mereka dan tentu saja warna biru untuk bayi laki-laki mereka.
Box bayi dengan kerincingan penghantar tidur yang tergantung di atasnya, serta selimut hangat dan lembut yang menjadi alas.
Maya menyentuh perlahan, merasakan kelembutan disana. Kedua netranya meremang, senyuman bahagianya tak pernah memudar dari bibirnya.
"Ini indah banget, Sam."
Maya menatap Sam kali ini, berdiri berhadapan dengan suaminya dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Samuel.
"Kamu suka?"
"Hm-aku suka...."Maya menjeda kalimatnya.
"Makasih buat kejutannya ya suami."
Sam mengangguk. Ciuman kecilnya kini mendarat di kening Maya.
"Kalau kamu ingin mendesain lebih sempurna lagi kamar bayi kita, silahkan aja sayang."
"Beneran?"
"Iya," angguk Samuel.
"Nanti deh aku beli perlengkapannya," jawab Maya semangat.
"Tapi harus ada seseorang yang nemenin kamu beli itu semua."
"Hm, nanti aku minta tolong Airin untuk menemani," jawab Maya sembari sedikit mendongak ke arah Sam.
"Oke, terserah kamu."
Sam kembali mencium kening Maya dan memeluknya pelan, karena perut Maya yang semakin besar membuat Sam lebih berhati-hati saat memeluknya.
...
"Rin, makasih ya udah nemenin gue belanja keperluan baby. Padahal lo lagi sibuk sama persiapan pernikahan kalian," ucap Maya begitu mereka sampai di salah satu toko perlengkapan bayi yang ada di mall Jakarta.
"Iya May, it's ok... lagi pula gue gak terlalu sibuk saat ini, semua udah disiapin sama WO," jawab Airin tersenyum kecil.
"Sejauh apa persiapan kalian?"
"Eemm-hampir sembilan puluh sembilan persen sih May."
Maya tersenyum senang. "Oh ya?"
"Hm-beruntung kak Bayu siapin segalanya dari dulu."
Maya kembali tersenyum dan memandang ke arah Airin. Sembari keduanya memilih-milih beberapa pilihan warna dan motif pakaian bayi yang ada di toko besar itu.
"Iya, lo memang pantas dapat yang terbaik Rin."
"Thank's ya May."
"Hm-Gue yakin Bayu laki-laki yang baik. Sam pernah ceritain semua sifat dan pribadi Bayu ke gue."
"Benarkah?" tanya Airin penasaran.
"Iya, kalau Bayu gak baik-- mana mungin gue setuju lo sama dia. Lo kan sahabat gue dan gue pengen lo dapat laki-laki terbaik." Maya menjawab, sambil menimang salah satu baju bayi berwarna pink dan biru bergambar lebah dan madu.
"Rin, menurut lo baju yang ini bagus gak?" tanya Maya sembari memperlihatkan dua baju ke arah Airin.
"Bagus....."
"Serius?"
"Iya bagus," Airin mengangguk.
"Kalo gitu gue beli yang ini aja kali ya," gumam Maya sambil sedikit berfikir.
"Ya udah lo tunggu sini aja, biar gue yang ngomong sama mbak nya kalo lo pilih yang ini. Eh tapi lo butuh berapa piece?" tanya Airin yang bersiap-siap hendak menemui pelayan toko.
"Eemm---beli 50 piece aja deh. Tapi di bagi dua ya Rin, jadi 25 piece warna pink dan 25 piece lagi warna biru," jawab Maya yang kali ini mengambil duduk pada kursi yang sengaja disediakan oleh pihak toko.
"Oh-ya udah, lo duduk aja dulu biar gue yang nyamperin mbak nya."
"Thank's ya Rin."
"It's okay, no problem."
Airin berjalan ke arah pegawai toko dengan dua buah contoh baju di tangannya.
Sementara Maya duduk pada kursi empuk sembari mengelus-elus perutnya, sepasang mata lentiknya masih berotasi melihat barang-barang yang masih ia butuhkan untuk keperluan bayinya.
...
Dean tanpa sengaja melihat sosok yang selama ini mengganggu pikirannya. Sosok perempuan cantik, dengan rambut hitam yang begitu saja ia kuncir membentuk gelungan kecil dan meninggalkan beberapa anak rambut di sisi kanan-kiri wajahnya.
Perempuan yang tengah hamil besar, namun kehamilannya tidak pernah melunturkan kecantikan yang ia miliki.
Dean termenung untuk sepersekian detik, melihat sosok dengan wajah yang selalu berseri, dengan kedua netra bulat yang juga berwarna hitam.
Seolah seperti ada yang menggerakkan kedua kakinya, Dean berjalan memasuki toko perlengkapan bayi tersebut dan menghampiri perempuan itu.
"Hai...." sapa Dean
Maya mengangkat wajahnya dan memandang ke arah suara yang menyapanya barusan.
Seketika netra Maya membulat dengan bibir yang hampir saja mengangga lebar. Melihat Dean Sanjaya yang siang itu terlihat lebih cool dengan Tshirt lengan pendek berwarna maroon dan dipadukan celana hitam pendek casual, sepatu sneaker warna maroon pun melengkapi penampilan Dean. Tak dipungkiri miliuner itu terlihat lebih muda dari usianya.
Ini adalah kali pertama Maya melihat pria itu dalam outfit santai seperti hari ini. Karena beberapa kali sebelumnya Maya sering melihat Dean berpenampilan formal dengan setelan mahal dan rambut klimis ber-pomade.
"Oh-hai-eh-an-da--- juga ada disini?" Maya tergagap. Namun dengan cepat ia memposisikan dirinya agar bisa lebih tenang lagi.
"Oh-iya aku lagi jalan aja ke mall ini dan--- gak sengaja melihat kamu," jawab Dean canggung.
Semoga saja dia tidak berfikir aku membuntutinya, pikir Dean.
"Oh----"
"Lagi cari-cari perlengkapan bayi?" tanya Dean kik-kuk.
Maya sejenak tersenyum geli.
Membuat jantung Dean kembali serasa berhenti sebentar.
"Ya iya lah tuan Sanjaya, ini kan toko perlengkapan bayi---tentu saja saya kesini untuk membeli perlengkapan bayi- hehehe" tawa Maya lucu.
"Kamu benar, entah kenapa setiap aku deket sama kamu---otak ku tidak pernah bekerja dengan baik," ucap Dean dengan tangan kanannya yang masih menggaruk-garuk lucu tengkuknya.
Maya pun membalas senyuman Dean, hingga tiba-tiba manik hitam Maya menangkap satu pemandangan yang membuatnya seketika termangu, terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu sama siapa disini?" pertanyaan Dean tidak mendapat respon dari Maya untuk sesaat.
"Maya---" ucap Dean lagi.
"Eh-i-ya anda bilang apa tadi?" gagap Maya.
"Kamu kesini sama siapa? Sendirian?"
"Oh-enggak- ada kok sahabat aku yang nemenin, Airin..." kali ini Maya berusaha bersikap lebih rileks lagi.
"Oh-bagus kalau gitu. Bahaya kalo kamu jalan sendiri dengan kehamilan yang sudah sebesar ini."
Maya mengangguk, dalam ekspresi wajahnya seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dan Dean menyadari hal tersebut.
"Kamu baik-baik aja kan May?" tanya Dean memastikan.
"Oh-iya-eemm-ssaa-yya-- baik-baik saja kok-hehehe" Maya kembali tersenyum kecil menyembunyikan kegugupannya.
"Oh ya anda sendirian disini?"
"Iya saya sendirian, lagi suntuk aja sama kerjaan."
"Oh...." Maya membulatkan bibirnya menanggapi.
Lagi-lagi membuat Dean seperti susah bernapas, pikirannya kini entah kenapa selalu memikirkan hal-hal konyol tentang perempuan yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu---udah dapat belanjaannya?" tanya Dean dengan suara yang ia buat se-biasa mungkin. Menyembunyikan kegugupannya di hadapan Maya.
"Sudah kok, baru di proseskan sama Airin."
"Oh...." Dean manggut-manggut pelan dan berusaha merotasikan kedua netra berlensa kebiruannya.
"Mungkin kamu perlu barang lainnya May? Aku bisa memproseskan untuk kamu," tawar Dean tulus.
"Oh-gak--gak usah. Saya gak mau merepotkan anda- hehehe." Maya terkekeh kecil, sungguh merasa tidak enak hati dengan penawaran yang Dean ucapkan tadi.
"Gak merepotkan sama sekali." Dean merotasikan netranya ke seluruh tempat di toko itu. Hingga netra nya mendapati sepasang sepatu bayi mungil berwarna peach.
"Ini cantik deh kayaknya buat baby kamu," Dean memperlihatkan sepatu tersebut ke arah Maya dan langsung saja mendapatkan respon gelengan kepala dari Maya.
"Gak perlu repot-repot tuan Sanjaya. Sa-ya---"
"Berapa kali aku bilang jika aku gak merasa direpotkan, anggap saja ini hadiah dari aku."
"Tapi...."
"Oh-ya calon baby kamu perempuan bukan May?" Dean menjeda tolakan yang akan Maya ucapkan.
"Sebenarnya--- perempuan dan laki-laki." Maya tersenyum kecil. Lebih tepatnya terkekeh ketika mengatakan dua jenis kelamin bayi nya.
"Really....?" tanya Dean tidak percaya.
"Yes-hehehehe" kembali Maya terkekeh.
"Oh-i'm sorry, i don't know.... harusnya aku beli dua warna ya." Dean kembali merotasikan netranya mencari-cari kembali satu pasang sepatu dengan warna yang cocok untuk anak laki-laki.
"Oh....gak-gak... anda gak perlu repot-repot." Maya berusaha mencegah apa yang akan Dean lakukan.
"No-- it's ok. I don't mind doing it." Dean tetap bersikukuh. Hingga ia menangkap satu warna lain yang ia rasa cocok untuk bayi laki-laki.
"I think--- it's good for a young boy," ucap Dean akhirnya.
Dean memperlihatkan sepatu bayi dengan warna abu-abu.
"Biar aku bawa ke kasir."
"Tapi---" Maya mencoba menghentikannya.
Tentu saja usaha Maya sia-sia. Dean terlebih dahulu berjalan ke arah kasir dan melakukan pembayaran.
Terlihat Maya menghembuskan napas beratnya. Namun pikirannya kembali pada apa yang baru saja ia lihat. Dan itu membuatnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Bagaimanapun juga aku harus mencari tahu soal ini, batin Maya.
"May...."
Airin mengagetkan tiba-tiba.
"Airin.... ih lo ngagetin aja deh." Maya mendengus kecil.
"Sorry-- lo sih ngelamun aja. Kenapa sih? Mikirin apa?" tanya Airin sembari meletakkan paper bag warna dusty di atas meja toko.
"Gak--- gak ada," Maya mengelak.
"Nih baju baby nya, dan ini credit card lo." Airin menyodorkan kartu tipis keluaran bank ke arah Maya.
"Thank's ya Rin, sorry ngerepotin."
"Hm-no problem. Eh lo masih ada yang dibeli?"
"Eemm...."
Maya seperti sedang berfikir, hingga netranya menangkap sosok Dean yang berjalan ke arah dia dan Airin.
"This, a gift from me." Dean menyodorkan paper bag berwarna kuning matahari ke arah Maya.
Spontan saja netra Airin membola, melihat sosok pria tinggi dan tampan, tentu saja selain Samuel. Menghampiri Maya dengan sebuah paper bag di tangannya.
Keduanya pun terlihat saling mengenal, di mata Airin.
"Oh-Thanks. Harusnya anda tidak perlu seperti ini."
"this is not a big thing. Jadi tidak perlu sungkan," jawab Dean.
Maya menerima paper bag dari tangan Dean.
"Oh-ya kami harus pergi sekarang. Terima kasih atas hadiahnya tuan Sanjaya."
"Your welcome, Maya." Dean tersenyum kecil.
Airin yang melihatnya menjadi speech less.
Maya dengan cepat menggandeng tangan Airin meninggalkan toko tersebut. Sebelum pergi, Maya kembali melihat ke arah Dean. Mencoba memastikan jika apa yang dilihatnya tadi adalah sebuah pertanda.
to be continue....