
Malam itu Sam membawa Maya ke tepi pantai, menikmati suara ombak yang berdesir. keduanya tidak peduli dengan banyaknya pasir putih yang menempel di kedua pakaian masing-masing.
Sam dan Maya masih duduk bersanding menghadap ke arah pantai malam itu, Sam perlahan melepas cardigan nya lalu melilitkan ke tubuh Maya.
Sam tidak ingin Maya sakit gara-gara terkena angin pantai yang lumayan dingin malam ini.
"Harusnya kita ke pantai saat menjelang senja Sam." lirih Maya, gadis itu kini menenggelamkan kepalanya di bahu Sam.
Sam mencium kening Maya lembut lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah deburan ombak.
"Besok kita liat sunset, malam ini aku ingin melihat bintang bersama kamu May." lirih Sam.
Maya mengalihkan pandangannya ke arah Sam lalu tersenyum, beberapa detik kemudian kembali kepala gadis itu ia sandarkan ke bahu Sam.
Untuk sesaat mereka hanya diam menikmati suasana malam, hening... itu lah yang bisa digambarkan saat itu.
Baik Sam maupun Maya hanya menatap ombak pantai yang masih berlarian saling mengejar namun selalu terpisah ketika sudah di bibir pantai.
Sam merasa kini dirinya dan Maya hampir mirip ombak tersebut, saling berlari mengejar cinta mereka namun akhirnya sia-sia mereka tidak dapat saling berpeluk dalam akhir bahagia.
"Sam...."
Suara Maya membangunkan lamunan Samuel, iris kecoklatan itu kini beralih ke arah Maya.
"Hhmm...?"
"Aku gak mau kita seperti ombak itu." lirih Maya, sekilas Sam menyipitkan mata melihat Maya.
Seolah tahu apa yang gue pikirin, batin Sam.
"Kenapa?" kini Sam menatap Maya lekat.
"Sekeras apapun kita berjuang tapi ujungnya akan berpisah. Aku gak mau terpisah sama kamu." lirih Maya, kini kedua netra hitam gadis itu memandangi Sam lekat.
Sesaat kembali hening, tiba-tiba Sam menarik keluar sebuah kotak kecil dari dalam saku celana jeans nya.
Sebuah kotak segi empat berwarna hitam, Sam membuka kotak tersebut lalu memakaikan isi kotak tersebut ke leher Maya.
"Apa ini Sam?" cicit gadis itu, ia masih terlihat setengah kaget saat kedua lengan Sam melingkar di lehernya dan mengaitkan sebuah kalung berliontin 'MySam'
"Ini kejutan ku yang lain." bisik Samuel.
Kalung dengan liontin inisial 'MySam' khusus Samuel pesan buat Maya.
"MySam?" tanya Maya lirih.
Sam mengangguk dengan senyuman penuh di kedua sudut bibir tebal nya.
"Maya Samuel." balas Sam lembut, kini jemari cowo itu membelai lembut pipi chubby Maya.
"Kamu gak perlu kayak gini Sam, aku gak pernah mengharap hadiah mahal dari kamu kok."
"Aku tau sayang, kamu bukan gadis seperti itu. Aku hanya ingin kamu memakai kalung ini dan selalu ingat kalo aku sangat mencintai kamu meskipun nanti kita ada di jalan masing-masing."
Kini tatapan mata Samuel lekat memandangi wajah Maya.
"Maksud kamu?"
"Gak ada sayang, lupakan ucapan ku tadi." jawab Sam seolah menyembunyikan sesuatu.
"Kamu pakai terus kalung itu ya, itu akan mengingatkan kamu tentang kita May." lanjut Sam, kini Sam semakin mendekap pinggang kecil Maya, erat....
____
"Morning baby...."
Bisik Samuel lembut membuat Maya mengerjapkan matanya sebentar, kedua netra Maya kini sedikit memicing saat terkena sinar mentari yang mulai mengintip dari balik jendela kamarnya.
"Sam.....!!!" pekik Maya ketika sadar jika Samuel pagi itu sudah berbaring di tempat tidur Maya, Sam berbaring di samping Maya sambil terus lekat memandangi wajah gadis itu.
"Apa yang kamu lakukan? eh... kamu gak berbuat yang aneh-aneh kan Sam?!" pekik Maya.
Maya lalu membuka selimut tebal nya dan memeriksa keadaan tubuh nya di balik selimut.
Akhirnya gadis itu bernafas lega ketika dia lihat semua pakaian tidurnya semalam masih lengkap.
"Iya... maaf, soal nya aku takut kalo semalam kamu mabuk lagi dan khilaf." cicit Maya berasa bersalah.
Bagaimana pun Samuel tidak akan pernah bisa marah ke gadis itu, Sam tersenyum sekilas lalu kembali mencium lembut puncak kepala Maya.
"Aku bawain kamu sarapan, kamu makan terus mandi ya."
"Maaf ya Sam, harusnya aku yang bawain kamu sarapan." jawab Maya dengan penyesalan.
"It's ok baby... pokoknya saat ini kamu jadi bayi kecil ku yang akan aku jaga." balas Sam.
"Udah cepetan makan trus mandi, habis itu ada kejutan lain buat kamu." lanjut Sam, cowo itu kini bangkit dari tempat tidur Maya dan melangkah keluar dari kamar Maya.
"Kejutan apalagi sih Sam....?!!" tanya Maya sedikit berteriak karena Samuel sudah duluan keluar dari kamar.
"You'll see dear...!!" jawab Sam yang juga sedikit berteriak.
Sekilas senyuman kembali terkembang di sudut bibir Maya.
***
"Sudah siap?"
"Hhmm..."
Jawab Maya semangat, pagi itu Maya terlihat mengenakan celana jeans skinny fit yang berpadu dengan Tshirt putih polos, sepatu flat shoes merah maroon pun menambah kesan manis Maya.
Rupanya outfit mereka pagi itu bisa samaan. Sam juga memakai celana jeans pendek dengan kos putih plus sneakers hitam.
"Hari ini kita naik motor ya May, aku sudah sewa motor tadi."
Maya mengangguk semangat menanggapi ucapan Sam.
_____
Hari ini hari kedua Maya dan Sam berada di Bali, kali ini Samuel ingin membawa Maya ke tempat yang spesial, dan untuk mencapai tempat itu medan yang harus ditempuh lumayan sedikit berat, harus naik motor untuk sampai disana.
"Masih jauh Sam?" tanya Maya, gadis itu mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Samuel.
"Lumayan, kenapa? kamu capek?" tanya Sam sedikit berteriak, angin yang menderu di sekitar telinga mereka membuat Samuel sedikit berbicara dengan intonasi kencang ke Maya.
"Gak... aku gak capek kok." jawab Maya, kini gadis itu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Samuel. Kepala Maya ia rebah kan di punggung Sam.
Ahhh.... rasa nya sangat nyaman.
"Kita gak nyasar kan Sam?" tanya Maya lagi dan masih pelukan Maya masih erat di tubuh Sam.
"Enggak kok, ini bentar lagi juga sampai. May... kalo kamu udah liat tempatnya, kamu akan suka sekali tempat ini nanti." jelas Samuel, sebentar ia menoleh ke arah Maya dan tersenyum kecil.
_____
Samuel menghentikan motor nya di bibir pantai. "Sam... ini bagus banget...." pekik Maya senang.
Sam tersenyum sekilas, cowo itu senang melihat kebahagiaan di wajah Maya.
"Kamu semalam bilang pengen liat sunset kan? dan disini sunset nya yang paling indah."
Maya tanpa menunggu lebih lama lagi segera berlari ke arah pantai, kini ia bertelanjang kaki mengejar ombak yang seakan mengajak Maya bermain dan ingin dikejar oleh gadis itu.
Pasir putih yang sangat lembut, air laut berwarna biru kehijauan sangat berkilau saat mentari pagi itu menempa permukaan nya.
Sam duduk di ujung pantai melihat Maya yang masih terlihat bahagia bermain di dalam air. Sekilas senyuman Sam kembali terbentuk disana.
"Hati-hati sayang....!!" teriak Samuel.
"Sam... kenapa kamu duduk disitu, sini Sam.... air nya jernih banget...!!" balas Maya yang juga sedikit berteriak.
Beberapa detik kemudian Sam bangkit dari duduk nya dan mendekati Maya.
Beberapa cipratan air Sam berikan ke arah Maya membuat tawa gadis itu pecah di tengah kesunyian pantai pagi itu.
"I love you May..." bisik Sam.