
Rahang Elano mengeras tiba-tiba ketika melihat dari kejauhan, sosok Maya berjalan berdampingan bersama Samuel. Memasuki pintu depan mobil sedan pria itu begitu Sam membukanya untuk Maya.
Telapak tangannya yang terkepal ia tahan kuat-kuat hingga menghantam bundaran kemudi mobil.
Batinnya berkata, tidak akan mengulur waktu lagi untuk rencana memiliki Maya, sebelum ia kembali kecolongan oleh CEO arogan itu.
...
Sam setengah tidak percaya, ketika menerima pesan singkat dari Maya. Gadis itu bersedia menerima ajakan makan malamnya.
Samuel tidak ingin menyiakan kesempatan yang bergulir padanya.
Ia akan kembali meraih kepercayaan dari Maya.
Walau kini Sam harus sedikit bersabar menghadapi kelakuan El yang selalu menempel erat seperti pagar kawat berduri di selusur pagar penjara. Membentengi Maya sepanjang jam kerja.
Bahkan sejak Maya keluar dari pintu rumah hingga masuk lagi sepulang kerja pada waktu petang hari, pria itu tetap mengekor setia. Sam sama sekali tidak bisa memperpendek jarak dengan Maya.
"Aku jemput kamu pukul tujuh malam." Sam menekan kegelisahan ketika akhirnya Maya mengangkat teleponnya.
"Baiklah, aku akan tunggu kamu. Semoga saja kamu menepatinya kali ini."
Telepon diputus Maya dengan menyisakan perasaan gundah dalam dada Sam. Ia harus bisa mengembalikan hubungan mereka seperti dulu lagi. Mengembalikan senyuman Maya hanya untuknya.
Sam mondar-mandir di kantor advertising miliknya. Memilih-milih restoran yang paling sesuai untuk mereka berbicara.
Apakah Sam harus menyiapkan hadiah?
Bunga? Cokelat? atau tas dan sepatu bermerk?
Tidak! Tidak! Maya bukanlah gadis yang bisa disogok dengan hadiah. Sam harus menunjukkan penyesalannya dan meminta maaf dengan tulus. Mungkin itu satu-satunya yang bisa membuka hati gadis itu.
Planetarium? ah tidak, Sam tidak mungkin membawa Maya ke tempat yang sama untuk ketiga kalinya.
Tiba-tiba Sam tersenyum kecil, seperti mendapat ide brilian untuk tempat pertemuannya dengan Maya sabtu malam nanti.
___
Akhirnya Sam dan Maya tiba di Wolfgang Steak House.
Sam menggandeng tangan Maya, dan pria itu bisa kembali bernapas lega karena tidak ada penolakan dari Maya.
Mereka melewati seluruh lorong ruangan yang dikelilingi oleh dinding berbahan kayu ek dengan aroma yang khas dengan dilengkapi kursi-kursi serta sofa kulit berwarna dark brown. Sangat elegan dan cocok dengan suasana interior restoran tersebut.
Sam dan Maya disambut oleh pelayan restoran yang kemudian membawa mereka masuk jauh ke dalam restoran. Menuju pada beberapa anak tangga melingkar. CEO tampan itu mengandeng tangan Maya erat, satu tangannya merangkul ke pinggang Maya. Seolah berusaha menutupi kaki jenjang Maya yang sedikit terlihat karena malam itu Maya mengenakan gaun berbahan chifon di atas lutut. Gaun yang sangat indah, sangat ringan dan mengikuti alur gerak tubuh Maya.
Sam selalu tidak rela jika ada mata pria lain yang dengan leluasa memandangi lekuk tubuh kekasihnya.
"Maaf, jika pakaianku tidak pantas," lirih Maya sedikit berbisik canggung, ekspresi gadis itu terlihat seperti seorang anak kecil yang takut terkena marah oleh Samuel.
Sam tersenyum kecil menanggapi sikap bersalah dari kekasihnya.
"You look so charming, dear. Aku hanya tidak rela jika pria-pria lain memandang nakal tubuh kamu." Sam semakin mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Maya.
Langkah mereka terhenti di salah satu kursi yang berada di atas rooftop restoran. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan Jakarta di malam hari. Lampu-lampu neon raksasa berkerlap-kerlip yang menghiasi gedung-gedung tinggi di sekitar mereka. Pemandangan yang sangat kontras dengan keadaan Jakarta saat siang hari.
Lampu-lampu yang seolah seperti gemerlap bintang, bercahaya secara bersamaan menghiasi kelam malam.
Maya membolakan matanya takjub, senyum nya tertarik serta iris hitam gadis itu bersinar seolah cahaya lampu di sekitar mereka beralih di kedua iris hitam Maya. Untuk kesekian kalinya Sam membawanya ke tempat yang sangat indah.
Sam menarik kursi yang sudah ia reservasi sebelumnya, mempersilahkan Maya untuk menempatinya. Kali ini mereka duduk bersebelahan. Sam sengaja melakukannya, ia ingin Maya dengan leluasa menikmati pemandangan malam Jakarta. Lampu-lampu dan juga gemintang yang malam ini bersinar bersama.
"Kamu mau makan apa?" Sam berbasa-basi.
"Aku pengennya makan siomay pedas, tapi..... pasti di sini tidak tersedia," jawab Maya dengan wajah kecewa.
Membuat Sam pun berekspresi menyesal telah membuat Maya menelan kekecewaan.
"Maaf, sayang." Sam memandangi wajah Maya sendu.
"Atau aku suruh pelayan di sini untuk mencarikannya?" lanjut Sam dengan ekspresi serius.
Ekspresi Maya mendadak berubah, tawa kecil menghiasi semua sudut bibirnya. Ia tidak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah pria di hadapannya itu terlihat bersalah.
"Sam... aku hanya becanda tadi, hehehehe...." tawa kecil Maya masih saja tergelak. Ada sedikit rasa bersalahnya ketika ia berhasil mengerjai CEO arogan itu.
"Maaf, Sam.... aku gak bermaksud mempermainkan kamu, hehehehe." Tawa kecil Maya kembali terkembang di sana.
Bukannya membuat Samuel marah, justru pria itu sangat bersyukur kekakuan antara mereka kini bisa sedikit mencair.
Senyuman gadis itu kembali lagi untuknya.
"Kamu gak marah kan?" pertanyaan Maya kini menyadarkan Sam.
"Bagaimana bisa aku marah sama kamu." Samuel menjawab pertanyaan Maya dengan lembut. Membuat Maya tersipu, lekat memandang iris coklat tunangannya.
Sekali lagi Sam melihat gemintang terpantul di kedua iris hitam Maya.
....
Pelayan menyajikan dua porsi steak daging dan juga dua orange juice ke meja mereka. Mempersilahkan keduanya untuk menikmati hidangan yang telah mereka pesan.
Maya dan Sam mengangguk kecil menjawab pelayan restoran saat menawarkan menu yang mereka hantarkan.
Di samping Maya, Sam bisa melihat sosok anggun gadis itu memotong daging menjadi bagian kecil, tak lupa mengoleskan pada saus sambal serta saus mayo kemudian memasukkan ke mulutnya.
Sam lagi-lagi tersenyum, melihat Maya kembali bersikap tanpa ada rasa canggung terhadapnya.
Tapi ucapan gadis itu tempo hari masih menyisakan rasa ingin tahu Samuel.
"May...." Sam memotong ucapannya, membuat Maya memandang ke arah Sam yang duduk di sampingnya.
"Ada apa?"
Maya menghentikan suapan potongan daging ke mulutnya. Kini ia fokus ke arah Samuel.
"Apa maksud kamu kemarin dengan memikirkan kembali hubungan kita? Kita baik-baik saja kan, sayang?" Wajah Sam terlihat sendu.
"Saat ini yang ada di kepalaku hanya kamu, Maya. Tidak ada siapapun." Sam mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Tell me. What should i do that will make you belive?"
Maya terdiam mendengar kata-kata Samuel. Pada dasarnya Maya bukan gadis posesif yang mengekang Samuel hanya untuknya seorang. Ia masih mengizinkan CEO tampan itu melakukan presentasi atau sekedar makan siang dengan klien meski klien tersebut adalah seorang perempuan yang sangat cantik.
Asalkan mereka tidak melakukan apapun sesudahnya. Hanya sebatas pekerjaan.
"I want your honesty."
Sam terkesikap.
"Aku ingin kejujuranmu atas apapun," Mata hitam Maya menusuk kuat.
"Tidak ada yang ditutupi lagi. Karena rahasia hanya akan membuat praduga. Dan praduga hanya membuat menderita." Maya menarik napas panjang.
"Do you understand what i want?"
Tatapan Sam melembut, senyum kelegaan tertarik di kedua sudut bibirnya.
"I do," jawab Sam yakin.
"Aku akan bicara terbuka padamu. Tapi aku mohon, jauhi Elano."
Maya kembali memandang manik coklat milik Samuel.
"Aku tidak ada apa-apa dengan dia. Jika aku terlihat selalu bersamanya itu karena dia yang terus mengikuti kemana aku pergi."
"El seperti sahabat buatku, ia sudah seperti kakak bagiku."
Samuel terdiam, mendengar itu rasanya akan sangat sulit bagi Maya untuk bisa bebas sepenuhnya dari Elano.
"Tapi dengan kamu beda Sam, kamu lebih dari itu," lanjut Maya lagi.
Samuel tersenyum, mencondongkan lebih dekat lagi tubuhnya ke arah Maya. Memiringkan sedikit kepalanya, dalam sekejap kedua bibir mereka saling menempel, saling berpaut mesra. Sam kembali merasakan bibir kenyal Maya, napas hangat gadis itu kembali membelai tiap sudut wajah Sam.
"I love you, my girl."
Bisik Samuel lembut, melepas sebentar pautan bibirnya. Hanya sebentar dan kemudian ia kembali membuat gerakan di bibir peach Maya.
to be continue....