
Lima bulan sudah sejak kehamilan Maya, perutnya yang semakin membuncit dan juga badan yang terlihat lebih berisi tidak membuat cinta dan perhatian Samuel berkurang sedikit pun. Pria itu bahkan mencurahkan perhatiannya lebih ke istrinya tersebut, membuat Maya merasa sangat beruntung di masa kehamilan pertamanya. Namun disamping itu terkadang ia seperti seseorang yang dikekang, Sam bahkan tidak memperbolehkannya untuk sekedar memasak makanan dan membuat susu kehamilan sendiri. Meski Maya memahami apa yang suaminya itu maksudkan namun dalam hati kecilnya ia merasa ingin melakukan apa saja seperti dulu lagi.
Jika kemarin saat awal kehamilan, gadis itu terkesan sangat manja terhadap Sam. Kini ketika memasuki usia kehamilan lima bulan, Maya memperlihatkan kembali sifat aslinya. Sangat keras kepala dan mandiri, entah siklus apa yang sedang Maya alami. Membuat Samuel terkadang merasa khawatir dengan sifat keras kepala istri tercintanya itu.
"Sayang, udah deh kamu gak usah ke cafe dulu. Aku gak mau ya kamu nanti disana naik turun tangga buat ganti bola lampu yang mati," ucap Samuel suatu hari ketika ia mendapat telepon dari Martha tentang kelakuan istrinya. Pada saat itu salah satu lampu gantung hias di cafe milik Maya dan Martha tiba-tiba saja putus dan tanpa pikir panjang lagi, Maya berjalan menuju gudang dan mengangkat sendiri tangga lipat dan membawanya ke ruangan tengah cafe.
Tidak berhenti sampai disitu saja, Maya bahkan nekat menaiki tangga tersebut hanya untuk mengganti salah satu bola lampu gantung yang putus. Tanpa ragu-ragu gadis itu menapakkan kakinya satu demi satu pijakan tangga hingga sampai pada pijakan teratas.
"May! jangan gila deh kamu. Ayo turun, kamu lagi hamil Maya!" teriak Martha khawatir. Sementara pegawai cafe lainnya pun menatap penuh khawatir pada salah satu bos mereka. Dan bukan Maya namanya jika ia mengindahkan peringatan Martha. Gadis itu bahkan hanya terkekeh kecil dari atas tangga dan tanpa takut sedikit pun ia memasang bola lampu baru. Setelahnya, dengan santainya Maya kembali menuruni tangga dengan kekehan lucu saat menanggapi kekhawatiran Martha.
Bahkan perutnya yang semakin membuncit pun tak membuat Maya takut.
"Nah, selesai kan Tha. Apa yang mesti ditakutkan sih? orang cuma bentar aja ganti lampu nya."
"Iya tapi kamu lagi hamil, May. Aku khawatir sama kamu. Kalo tiba-tiba kamu kenapa-napa gimana? Sam juga pasti marah besar kalo kamu kenapa-napa," cerocos Martha kesal, sembari mengelus-elus perutnya sendiri yang juga kini semakin terlihat jelas kehamilannya.
Jarak kehamilan keduanya yang hanya terpaut dua bulan saja tak jarang membuat salah satu dari mereka sport jantung jika melihat hal-hal nekat yang salah satu dari keduanya lakukan.
Terlebih Martha yang sering kali merasa khawatir dengan kenekatan yang Maya lakukan selama gadis itu berada di cafe.
Seperti saat ini, Martha sangat khawatir melihat patner kerjanya kembali melakukan hal berbahaya, bayangkan saja bisa-bisanya Maya kembali menaiki tangga lipat hingga di pijakan tertinggi. Bukan untuk mengganti bola lampu seperti kemarin, tapi kali ini ia ingin me-ngecat ulang interior cafe. Membuat design ruangan menggambar dinding cafe dengan gambar-gambar aneka bunga dan buah. Warna cat temboknya pun ia pilih sendiri, kali ini ia banyak menggunakan warna kuning lemon dan hijau stabilo. Entahlah sejak kehamilan yang menginjak lima bulan ini, Maya paling suka warna-warna mencolok dan cerah.
"Kamu gak khawatir apa May?Kehamilan kamu udah semakin membesar dan kamu gak usah deh melakukan aktifitas berat kek gitu." cerocos Martha bernada khawatir.
"Tapi kenyataannya aku baik-baik aja kan Tha, hehehe...." kekeh Maya tanpa menghiraukan kekhawatiran sahabatnya.
"Kamu itu benar-benar ya.... Arrgghhh....!!" erang Martha kesal, ia mengacak-acak kesal rambutnya dan membuat kekehan Maya semakin menjadi.
"Emang kamu gak khawatir jika terjadi apa-apa sama kandungan kamu? Kehamilan kamu ini kan yang sudah kamu inginkan sejak pertama kalian menikah Maya." Martha kembali mengomel kesal, menatap tajam iris mata gadis bersurai lurus sebahu itu.
"Aku ingin anakku kelak menjadi anak yang kuat dan mandiri, Tha. Makanya aku latih dia sejak dalam kandungan." Maya menjeda kalimatnya sebentar.
"Apa aku salah? Kalo di rumah, Sam selalu melarang aku melakukan apa-apa sendirian. Aku gak bisa berdiam diri terus seperti itu Tha. Makanya saat di cafe aku mau melakukan apapun yang aku bisa. Supaya bayi dalam kandungan aku tau jika ia harus bisa lebih kuat dari mommy nya."
Martha hanya bisa tersenyum sekilas, tak lama kemudian ia menggenggam erat jemari Maya. "Yang terpenting kamu harus selalu hati-hati, May." Ucap Martha serius dan anggukan pelan Maya menjadi responnya.
"Kamu jangan kasih tau Sam soal ini ya, seperti saat itu," bujuk Maya pada Martha. Manik matanya menatap Martha dengan sedikit ia buat memohon.
"Iya.... iya.... aku gak akan ngomong sama suami kamu. Puas....??" cibir Martha lucu.
"Thankyou, bestie...." pelukan kecil Maya daratkan ke pundak Martha yang kemudian disambut pelukan balik dari gadis itu.
....
Jam tangan Rolex ditangan Martha menunjukkan pukul empat sore, dan Harris pun sudah menjemputnya sore itu. Nampak Harris sedang bercanda bersama Samudra yang kini sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan. Anak berusia sekitar empat tahunan itu terlihat sangat menikmati kebersamaan bersama sang ayah. Samudra duduk dalam pangkuan Harris bersama sebuah robot mainan favoritnya.
"Am, supel helo....! wuzz...wuz...!" seru Samudra dengan suara cadelnya, sembari memperagakan gerakan tangan seorang super hero idolanya, Spiderman.
"Yah... daddy kok ditembak, Am?" seru Harris tak kalah hebohnya.
"Dad, olang ja-at. Am supel helo... wuz...!" seru anak laki-laki itu. Bertubi-tubi Samudra kecil memperagakan bagaimana Spiderman melakukan gerakan andalannya yaitu mengeluarkan sarang laba-laba dari nadi tangannya. Sedang Harris dengan sikap kebapakan nya mengikuti segala permainan Samudra, tak segan-segan Harris bahkan berpura-pura tidak bergerak ketika tembakan jaring laba-laba dari tangan Samudra mengenainya.
"Super hero Am, udah dong.... kasian daddy diserang terus," ucap Martha yang kini mendekat ke arah keduanya.
"Mommy.... Am menang! dad a-lah.... yeay...!" teriak Samudra girang sembari memeluk sang mama yang saat itu berada didekat mereka.
"Yah.... daddy kalah sama super hero, Am." Harris pun kini memeluk Martha dan juga Samudra yang ada dalam gendongan istrinya.
"Sini, Am sama daddy aja. Kasian mommy keberatan gendong Am dan dedek baby..." Harris kini meraih tubuh mungil Samudra dari dekapan Martha. Sekali lagi mendaratkan ciuman mesra ke ujung bibir Martha yang tentu saja disambut oleh respon yang sama dari Martha.
"Kita pulang sekarang, baby?" tanya Harris, lalu anggukan kecil Martha menjadi responnya.
"May aku pulang duluan, kamu mau bareng?" tanya Martha.
"Ish, aku kan bawa mobil sendiri Tha. Tapi thanks deh tawarannya," jawab Maya yang kini memeluk tubuh Martha dan mendaratkan ciuman kecil di pipi Samudra dalam gendongan Harris yang kini anak itu bergelayut dan mencondongkan tubuhnya ke arah Maya.
"Bye bye.... jagoan Am. See you tomorrow....." seru Maya ke arah Samudra.
"Bye, onty Aya.... mmuacch....." balas anak kecil itu, kali ini sebuah kissbye jarak jauh ia tujukan ke arah Maya dengan ekspresi menggemaskan.
"Salam buat Samuel ya May," ucap Harris.
"Siap, Dok nanti aku sampaikan."
"Ya sudah aku pulang duluan ya. Kamu jangan sore-sore pulangnya," ucap Martha sekali lagi dan kembali pelukan kecil keduanya menandai perpisahan mereka.
Harris menggandeng tangan Martha sedangkan Samudra masih memperagakan gerakan Spiderman dalam gendongan Harris. Hingga bayangan ketiganya mulai terlihat menghilang di balik dinding cafe.
Maya tersenyum kecil melihat ketiganya hingga ia kembali ke ruang kerja guna mengambil blazer dan dompetnya.
Hari ini Samuel tidak bisa menjemputnya seperti biasa, ada rapat Direksi perusahaan Samuel yang mengharuskan ia pulang seorang diri dengan mengendarai sendiri sedan silvernya.
...
Dengan santainya Maya melangkah menuju sedan silver yang terparkir tak jauh dari cafe miliknya. Beberapa kali gadis itu menekan remote kunci mobil dari jarak jauh, hingga jaraknya kini hanya tersisa beberapa inci lagi dari sedan yang berbentuk futuristik tersebut.
Hingga tiba-tiba.....
Ciiiitttttt......!!! Brrrraaakkkk!!!
Suara decitan ban kendaraan roda empat terdengar sangat memekik yang lalu disusul oleh sebuah suara hantaman sebuah benda, hingga membuat perhatian dari beberapa orang di sekitar cafe dan yang sebagian berada di dalam cafe langsung saja menoleh ke sumber suara tersebut.
"Ya Allah.... bu Maya.....!!" teriak salah satu pegawai cafe panik. Tanpa menunggu lama lagi gadis pegawai cafe dan beberapa orang pria yang membantu langsung saja mengangkat tubuh Maya kembali ke dalam cafe.
Beberapa orang pegawai cafe membopong tubuh Maya dengan kepanikan di wajah mereka.
Salah satu pegawai cafe terlihat melakukan panggilan seluler.
"Hallo bapak Samuel....."
to be continue....