MySam

MySam
Martha Hamil



'Sam, Papa sama Mama mau bicara serius sama kamu. Papa tunggu kedatangan kamu malam ini di rumah.'


Isi pesan singkat dari Permana sang ayah. Samuel termenung sejenak, menerka-nerka hal apa yang akan ayahnya bicarakan. Mengingat Permana adalah sosok ayah yang tidak mau ikut campur urusan pribadinya.


Masalah pekerjaan? Ah... Sam rasa tidak mungkin. Ayahnya tidak pernah membicarakan masalah bisnis atau yang menyangkut kerjaan apapun di rumah, apalagi dengan gaya bicara ayah nya dalam pesan singkat barusan.


Sam kembali terlihat sedikit berfikir, gak mungkin kan ini masalah pertunangan itu? Pikir Sam tiba-tiba.


Sepulang dari rumah Maya, Samuel memacu sedan sport nya dengan kecepatan tinggi, dia kemudikan mobil bertenaga turbo itu dengan sangat apik. Sesekali terlihat dia menghindari beberapa kendaraan lain yang ada di depannya, mencari celah yang pas agar mobil nya bisa melewati trafic jalanan Ibu Kota yang tidak pernah lengang.


Hingga tiba lah dia di depan mansion keluarganya. Sam tiba-tiba mendesis kesal saat melihat sebuah mobil VW berwarna kuning yang terparkir tepat di depan pintu utama mansion. "Ngapain cewe itu juga kesini!" Dengus Sam kesal.


Dengan malas Sam melangkah masuk, sapaan dari beberapa maid pun tidak terlalu dia hiraukan. "Mama sama Papa dimana bik?!"


"Tuan dan nyonya sudah menunggu tuan muda di ruang keluarga." Jawab salah satu maid sopan.


Sam kembali menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya dia melangkah kembali untuk menemui kedua orang tuanya.


"Sam... duduk sini." Titah Anita dengan nada lembut sementara Permana sang ayah hanya terdiam dengan raut wajah serius, tidak seperti biasanya.


Sam melihat Martha juga duduk di samping Anita tanpa banyak bicara dan dengan kepala setengah menunduk. "Ada apa ini Ma?" Tanya Samuel dengan sedikit ekspresi bingung.


"Sam... kamu harus menikahi Martha." Ucap Permana kali ini.


"Gak, Sam gak mau menikah sama Martha!" Bantah Sam dengan nada tinggi.


"Jadi Papa sama Mama nyuruh Sam kesini hanya mau bicara soal ini? Pa... bukannya selama ini Papa gak pernah mau ikut campur urusan pribadi Sam?"


"Tapi untuk kali ini Papa harus ikut campur Sam."


"Hanya Maya yang aku cintai dan gak akan pernah Sam menikah dengan Martha." Samuel kembali menandaskan ucapannya.


"Kamu harus menikahi Martha Sam, Martha hamil." Kali ini Anita ikut angkat bicara.


Samuel terdiam sebentar, seolah ada ribuan batu besar yang menindih tubuhnya. Dengan tanpa tenaga Sam mencoba mencari pegangan, apapun itu... sesuatu yang bisa menguatkan dia.


Samuel bersandar pada salah satu pilar besar mansion orang tuanya. Dia sandarkan punggung nya, dengan kedua tangan yang menyeka kasar rambut ikal panjang nya. Sungguh Samuel saat itu tidak sanggup berucap walau hanya sekedar membantah ucapan Anita barusan.


"Iya Sam, gue hamil dan itu anak lo..." Kali ini Martha memberanikan diri untuk ikut bicara. Dengan nada lemah dan air mata yang saat itu mengalir di kedua pipinya.


"Bullshit...!! gak mungkin itu anak gue, lo pasti boong kan Tha?!"


Bentak Sam. Bukannya membantah, Martha hanya menangis sesegukan dalam pelukan Anita.


"Samuel...!! jaga bicara kamu. Mama sama Papa gak pernah ngajarin kamu bersikap pengecut kayak gitu."


"Tapi Pah...."


"Cukup Sam!! apa lo gak ingat kejadian di club pada malam itu? dan juga saat lo ada di apartemen gue?" Kata Martha memotong ucapan Sam, gadis itu masih saja menangis tersedu di samping Anita.


"Nak, kamu coba ingat-ingat dulu saat kamu melakukan sama Martha. Papa tau kamu sangat mencintai Maya dan Papa juga sangat mendukung gadis pilihan kamu." Ucap Permana yang mendekati Samuel.


"Tapi untuk kali ini Papa setuju sama Mama kamu. Ingat laki-laki di keluarga kita tidak ada yang pengecut untuk memperbaiki kesalahannya." Lanjut Permana lagi.


"Sam waktu itu mabok Pah, entahlah Sam tidak mengingat apa-apa yang Sam tau paginya sudah ada Martha di samping Sam." Lirih Samuel.


Sungguh saat ini yang dia rasakan hanya penyesalan, kebiasaan buruknya dulu kini telah menjadi bumerang bagi hubungan dia dan Maya.


"Ini surat dari dokter yang menyatakan kalo aku hamil Sam, dan itu anak kamu." Terang Martha dengan menyodorkan secarik kertas ke arah Samuel.


Dengan kasar Sam menampik tangan Martha, bola matanya membola tajam dengan rahang yang kini mulai mengeras.


"Sam, semarah apapun kamu jangan pernah kasar sama perempuan." Permana mencoba mengingatkan anak laki-laki tunggal nya itu.


Bertanggung jawab atas perbuatannya? Benarkah kali ini kisah dia dan Maya memang harus sampai disini?


Lagi-lagi Sam meninjukan kepalan tangan ke dinding mansion keluarganya.


***


Sehari Sebelumnya


Hari ini Martha berniat menemui dokter Harris, teman dekat ayah gadis itu.


Martha kini berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan sebuah senyuman smirk di semua sudut bibir tipisnya.


Tok...tok..tok...


"Masuk..."


Martha membuka knop pintu perlahan ketika dia sudah mendapatkan izin untuk memasuki ruangan tersebut.


"Siang dokter Harris."


"Martha... tumben kamu kesini ada apa?" Tanya dokter yang mungkin seumuran dengan ayahnya.


"Aku mau minta tolong sama dokter."


Martha menjawab dengan ekspresi datar, gadis itu langsung duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja kerja dokter spesialis kandungan itu.


"Apa yang bisa saya bantu? orang tua kamu baik-baik saja kan?" Kali ini dokter Harris menanggapi dengan ekspresi sangat serius.


"Ini bukan tentang orang tua saya dok, ini tentang saya."


"Maksud kamu apa?"


"Saya mau dokter membuatkan surat keterangan kehamilan saya."


"Kamu hamil Tha?" Tanya dokter Harris terkejut.


"Belum, tapi sebentar lagi pasti saya akan hamil."


Jawaban Martha semakin membuat sang dokter kebingungan, perlahan dia menggelengkan kepala nya.


"Maksud kamu, kamu mau saya buatkan surat keterangan palsu? Tidak Tha .... itu ilegal dan saya bisa dipenjara nanti bahkan surat izin praktek saya bisa dicabut."


"Saya akan bayar dokter berapa pun dokter minta. Tolong lah dok."


Kali ini Martha semakin membujuk dokter Harris, ini jalan satu-satunya agar dia bisa mendapatkan apa yang jadi keinginan nya. Samuel... Apapun akan Martha lakukan demi mendapatkan cowo idaman nya sejak dulu.


Sejenak dokter setengah baya itu berfikir, mungkin tidak ada salahnya jika dia menuruti apa yang Martha minta, toh jika dia dan gadis itu tutup mulut tidak akan ada yang tahu kebusukan yang mereka lakukan.


"Gimana dok? saya bersedia memberikan berapa pun yang dokter minta." Ulang Martha lagi.


Kali ini sebuah senyuman smirk pun tertarik dari sudut bibir hitam dokter Harris. Wajah setengah keriput sang dokter pun kini penuh dengan ekspresi licik dan menjijikkan.


"Bagaimana jika kamu bayar dengan tubuh kamu hah?!" bisik dokter Harris tepat di telinga Martha.


Spontan gadis itu terkesikap dengan penuturan dokter setengah baya tersebut, Martha tahu memang sejak lama dokter Harris adalah laki-laki hidung belang dan dia juga tahu kalau Harris sudah sejak lama menaruh hati terhadap Martha namun gadis itu sungguh tidak habis fikir jika kini dirinya malah memberikan keuntungan buat dokter tersebut.


"Bagaimana? aku tidak butuh uang kamu sayang. Kamu tahu kan sejak lama aku menginginkan tubuh kamu hhmm...?" Kali ini sang dokter memberanikan diri mendekati Martha yang masih mematung, tangan sedikit keriput namun masih terlihat kekar itu kini membelai rambut Martha dan mendekatkan bibirnya ke leher gadis itu.


Martha mencoba menghindar dari gerakan dokter tua itu, kedua matanya membola kesal melihat kelakuan dokter yang pantas menjadi ayahnya.


"Tapi anda seumuran dengan ayah saya, bagaimana mungkin anda tega melakukan itu."


"Hahaha itu terserah kamu sekarang, kamu butuh surat palsu dari saya dan saya butuh kehangatan tubuh kamu." Kilah sang dokter.


"Damned... sekarang kenapa gue yang terpojok gini." batin Martha kesal, sejenak dia berfikir.


Gak ada salahnya dia menerima tawaran dokter bejad ini. Toh... hanya sekali dia melayani dokter sialan ini, pikir Martha.


"Oke, saya bersedia tapi hanya sekali aja."


Harris kembali tersenyum mengerikan, tentu saja dalam pikiran laki-laki tua itu dia menginginkan lebih dari sekali menguasai tubuh Martha, anak dari sahabatnya yang diam-diam dia cintai selama ini.


"Besok malam kita ketemu di hotel Sangrila, apa yang kamu minta tadi akan saya bawa."


Kembali Harris mendekati Martha yang saat itu berdiri dengan kedua tangan dia silangkan di dadanya, perlahan Harris mencoba memeluk tubuh indah Martha namun lagi-lagi gadis itu mencoba menghindar.


"Nanti saya beritahu kamar kita, yang penting nanti malam kamu harus pakai baju yang seksi sayang..." Bisik Harris lagi, Martha hanya mendengus dan cepat-cepat melangkahkan kaki keluar dari ruangan Harris.


Harris kembali tersenyum smirk, dia seperti mendapatkan durian runtuh. Gadis yang telah lama dia inginkan kini dengan mudahnya dia dapatkan.


"Kamu akan jadi milikku sayang...." guman nya pelan.


To be continue....