MySam

MySam
Cinta Itu Masih Ada



JAKARTA


Langkah kaki Maya kini bergerak ragu, menapaki lantai demi lantai menuju ke ruangan CEO. Padahal baru beberapa minggu ia tidak menjejakkan kakinya di tempat itu namun rasanya seperti bertahun-tahun. Maya mengedarkan pandangannya, seorang gadis penjaga lobi nampak tersenyum manis ketika melihat Maya. "Pagi May, aku seneng kamu kerja di kantor ini lagi." Sapa si gadis penjaga lobi tersebut, Maya tersenyum kecil. "Aku cuma mau ambil beberapa barang yang ketinggalan aja kok." Senyuman kembali Maya tarik sempurna di kedua sudut bibirnya. Sang gadis manis penjaga lobi itu hanya ber-oh-ria lalu kembali tersenyum. Maya kembali menjejakkan kakinya, tanpa high heels. Hanya sepasang flat shoes berwarna coklat susu yang melekat indah pada kaki jenjang nya.


Maya menuju ke lantai empat tempat dimana dulu ia selalu bertemu dan menghabiskan waktu nya hingga sore hari bersama Samuel.


"Maya... lo balik lagi ke kantor?" Bayu mendekat ke arah Maya, tersenyum penuh sambil menyelipkan kedua tangan di saku celana panjangnya. "Gue cuma mau ambil barang-barang gue yang masih tertinggal disini." ucap Maya


"Tapi Samuel gak ada di kantor, Dia masih di Pra...ha..." Kini wajah Bayu merasa canggung, sedikit keceplosan tentang Samuel.


"Gue tau kok, makanya gue berani datang kesini. Habisnya cewe lo si Airin gak mau gue minta-in tolong." Jawab Maya dengan sedikit mengerucut kesal.


"Hahaha iya itu karena Sam gak kasih izin ke Airin."


Maya mengedikkan sedikit bahunya, "Kenapa?" tanya nya heran.


"Mungkin biar lo sendiri yang ambil, ya.... gak tau juga sih gue." Kini giliran Bayu yang mengedikkan bahu bidangnya.


"Ya udah gue masuk ke ruang kerja CEO dulu ya." Pamit Maya yang hendak menggerakkan kaki jenjangnya ke ruangan Samuel.


Bayu mengangguk pelan, "Iya, masuk aja gak ada orang juga kok." jawab Bayu.


Awalnya ragu-ragu, Maya melangkah memasuki ruangan Sam, membuka knop perlahan dan menjulurkan sedikit kepalanya kedalam. Kosong... tidak ada siapa pun, hanya ada meja beserta beberapa tumpukan map dan buku yang tertata rapi, sebuah sofa panjang yang selalu menjadi tempat favorit Sam di saat laki-laki itu merasa lelah.


Maya mengingat kembali kenangan itu, dulu Sam selalu merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut hanya untuk sekedar melepas penat, dan Maya selalu tersenyum memandang Sam tanpa ada niatan mengganggu CEO itu.


Perhatian Maya beralih ke arah meja kerja Samuel. Sebuah bingkai foto masih terpasang disana.


Menjulurkan tangannya, meraih bingkai foto berwarna peach. Ada gambar dirinya dan Samuel. Memeluk lengan Maya, dan mencium salah satu pipi chubby nya. Ia tersenyum menerima ciuman Sam di pipinya. Foto selfi yang mereka ambil ketika berada disalah satu tempat di Bali beberapa waktu silam.


Maya mengusap lembut foto itu, tersenyum sebentar lalu kembali meletakkan di atas meja Samuel.


Kini ia meraba kalung berliontin MySam yang melingkar di leher putihnya, mengelus perlahan lalu ia daratkan ciuman kecil di permukaan kalung tersebut.


Setelah perpisahan dirinya dengan Sam, sang CEO itu meninggalkan kalung tersebut di ujung pintu rumah Maya, berharap gadis itu mau kembali memakai kalung pemberiannya.


Kini Maya menuju ke meja kerja miliknya, oh lebih tepatnya bekas meja kerjanya. Meraih beberapa benda miliknya dan memasukkan ke dalam box besar. Beberapa buku materi kuliah, dan beberapa salinan data-data selama ia magang di tempat Samuel.


"May...."


Mendongak sebentar ke arah suara yang memanggilnya, Maya lalu tersenyum kecil sambil melanjutkan memilih benda apa saja yang akan ia bawa.


"Tadi Bayu yang bilang kalo lo kesini." terang Airin.


"Iya, gue cuma mau ngambil beberapa barang milik gue."


"Kenapa sih lo gak balik aja May? Oke lah kalo Sam udah nikah, tapi kan lo bisa bersikap profesional May."


Menghembuskan napas pelan lalu kembali menatap wajah Airin. "Gue gak bisa Rin," lirihnya.


"Gak bisa kenapa sih May?"


"Melihat Sam lagi, sama aja gue gak nepatin janji gue ke mamanya Sam."


Airin menyipitkan matanya, tidak mengerti dengan perkataan Maya.


"Gue udah janji buat melepas Samuel." lanjut Maya, kini ia bersiap untuk pergi. Membawa box berisi semua barang-barang miliknya. "Gue pergi dulu." ucap Maya pelan. Airin hanya mengangguk dan memeluk erat pundak sahabatnya.


Hari ini sudah hari ketujuh Samuel berada di Praha, kota romantis yang sangat unik terletak di wilayah Eropa timur, Ibu kota dan kota terbesar di Republik Ceko. Kota dengan kompleks castil terbesar di dunia. Jadi tak heran jika disana banyak bangunan kuno yang menjulang dan masih kokoh berdiri di tengah kota atau yang tersebar di pinggiran kota.


Harusnya Maya lah yang berada disana bersama Sam, menikmati pemandangan di Prague Castil dan juga memandangi sunset dari atas Jembatan Charles.


Sam lebih senang menikmati kesendiriannya di salah satu cafe yang ada di Praha, tanpa Martha.



Ia hanya duduk di salah satu sofa dekat dengan jendela besar cafe, memandangi layar ponsel untuk melepas kerinduannya akan sosok gadis yang selalu bermain dalam benaknya.


"I miss you May..." kini Sam bermonolog pelan. Kedua netranya masih erat memandangi beberapa foto Maya.


"Hey are you alone right now?" Sebuah suara lembut milik seorang gadis cantik bersurai coklat keemasan. Mendekati Sam lalu tersenyum sebentar kearah Samuel.


Sam menyembunyikan keterkejutan nya, memandang sebentar ke arah gadis cantik itu lalu membalas senyuman nya. "You see for yourself, I'm not with anyone." Jawab Sam akhirnya, mengangkat sedikit bahu kekarnya lalu kembali menyesap cangkir latte di hadapannya.


"May I sit here?"


Sesaat Sam terdiam, oh c'mon Sam calm your mind, batin Sam.


"May I?" ulang gadis bule itu lagi.


Sam mengangguk pelan, mempersilahkan gadis itu duduk disana, di hadapan Samuel.


"I am Tania." Gadis itu menjulurkan tangannya, tersenyum dan sedikit menyipitkan kedua netra birunya ketika tidak langsung mendapat respon dari Sam.


"Oh.... i am Samuel." Kini Sam meraih uluran tangan Tania.


"Are you already have a girlfriend?"


Pertanyaan Tania tadi langsung Sam jawab dengan anggukan kepala lalu tersenyum sejenak dan kembali menyesap cangkir nya.


"She's not with you right now?"


Sam menggeleng sebentar, meletakkan kembali cangkir latte itu. "She's in Jakarta right now..." jawab Sam. "Maya... her name is Maya." ucap Sam menegaskan.


"Oh... so bad **w**hereas I like you." gumam Tania sambil memamerkan senyuman manisnya. Sam hanya tertawa kecil mendengar godaan Tania.


"Sorry for disappointing you." jawab Sam dengan mengedikkan bahunya.


Tania tertawa kecil, menyesap segelas tequila yang ia bawa tadi.


"but she's not here now." lanjut Tania, kini gadis itu bergerak lebih dekat lagi dengan Sam.


"Sorry I love her, even though she is not here right now." Sam memandang tajam manik mata biru itu, menyingkirkan tangan putih itu yang kini berada di pundaknya.


Wajah Tania memerah, entah menahan malu atau amarah yang mendapat penolakan dari Samuel. Kini gadis itu menjauh dari Sam dan terlihat kembali bergabung bersama beberapa gadis lainnya.


Sam menyeringai kecil, menggeleng perlahan dan kembali menyesap cangkir latte di hadapannya. Ia masih mencintai Maya sampai kapanpun dan baginya tidak ada gadis lain yang bisa menggantikan Maya di hatinya.


Cinta itu akan selalu ada untuk Maya, batin Sam.


to be continue....