
Samuel tak berhenti memainkan jemarinya, wajah tampan pria itu terlihat sedikit gelisah. Sebentar menoleh ke arah Anita kemudian Permana. Hanya senyuman kecil dari kedua orangtuanya yang kemudian menjawab kegelisahan pria itu.
Raut wajah berharap dan tegang, walau ia mungkin sudah tahu nanti apa jawaban Maya dan Siska. Jantung pria itu tetap saja merasa berdegup kencang saat ini.
"Kamu yang tenang, Sam." ucap Anita mencoba membuat perasaan Sam lebih baik.
"Maaf membuat nak sam dan juga nyonya Anita dan tuan Permana menunggu," ucap Siska begitu ia keluar dari bilik dalam rumah minimalis itu.
Anita dan juga Permana tersenyum kecil, "Tidak apa-apa, oh ya jeng Siska tidak perlu memanggil kami dengan sebutan tuan dan nyonya. Sebentar lagi kita kan menjadi keluarga." Anita tersenyum kecil, meraih tangan wanita yang mungkin seumuran walau dari luar nampak sedikit ada perbedaan penampilan antara keduanya.
"Maaf tante, apa Maya masih lama keluarnya?"
Ketiganya tersenyum mendengar pertanyaan dari Sam. Anita bahkan sedikit menggeleng pelan dan tersenyum melihat keresahan dan ketidak sabaran Samuel.
"Sebentar lagi keluar kok nak Sam," jawab Siska.
"Jadi bagaimana jawaban jeng Siska tentang lamaran Samuel anak saya?" tanya Permana kali ini. Wajah Samuel kembali terlihat tegang.
Siska tersenyum sebentar, menatap ke arah Samuel lalu berganti memandang Anita dan Permana.
"Kalau saya tergantung Maya, semuanya ada di Maya. Saya setuju saja dengan pilihan anak saya. Hanya saja..." Siska menghentikan sebentar ucapannya.
"Hanya saja apa jeng?" tanya Anita kini, wajah tegang pun terbersit juga di paras cantik wanita itu.
"Saya sangat berharap Maya bisa mendapat laki-laki yang se-iman," lanjut Siska lagi.
Sesaat ada keheningan di antara mereka.
"Saya bersedia mengikuti kepercayaan Maya, dan saya bersedia belajar menjadi seorang muslim," Samuel menghentikan sejenak ucapannya.
"Saya sangat mencintai anak tante," lanjut Sam.
Siska mengangguk dan tersenyum sebentar. "Saya percaya sama nak Samuel dan saya percayakan kebahagiaan Maya kepada nak Sam," balas Siska.
Ada ke-legaan di seluruh wajah ketiga orang tersebut. Anita meraih tubuh Siska dan memeluk wanita itu erat. Permana mendekat ke arah Samuel, menepuk pelan pundak pria itu. Tak lupa pelukan Permana, erat mendarat di tubuh kekar anaknya.
Kedua netra Samuel membola kagum begitu melihat sosok Maya yang keluar dan berdiri di ambang pintu ruangan ber-sekat. Mengenakan gaun berwarna lilac berbahan silky maksmara yang begitu lembut mengikuti gerak tubuh Maya. Rambut hitam sebahunya ia gerai, tanpa ada aksesori apapun namun tetap terlihat sangat menawan.
Anita berdiri dan memeluk Maya erat, membuat tubuh gadis itu meremang bahagia. "Kamu cantik sekali, sayang." Anita memuji Maya, membelai lembut surai lurus hitamnya.
"Makasih, tante."
"Jangan panggil tante, panggil saja mama. Dari dulu saya pengen banget punya anak perempuan dan saya berharap kamu mau menganggap saya seperti mama kamu sendiri." Ucap Anita lembut yang kemudian dijawab dengan senyuman manis serta anggukan kepala Maya.
____
Bibir Maya tersenyum tipis tatkala Sam mencium keningnya dan memberi seikat bunga daisy dan mengusap lembut pipi chubby itu. Gadis itu slalu saja menyukai kejutan yang selalu Samuel berikan, walau itu hanya sebuah kejutan kecil. Seikat bunga daisy yang saat ini Sam berikan, misalnya.
"Cantik sekali, Sam." Maya mencium dalam-dalam wangi bunga daisy dari Sam lalu tersenyum manis ke arah Sam.
"Kamu suka?"
"Hhhmm suka banget, Terima kasih," jawab Maya lembut.
"Aku masih punya kejutan lagi buat kamu," jawab Samuel.
Maya mengernyit heran, "Apa?"
Samuel mengeluarkan ponsel pipihnya dari saku celana jeans, membuka galeri foto dan menunjukkan sebuah vidio berdurasi dua puluh menit ke arah Maya.
Membuat gadis itu tersenyum bahagia, spontan memeluk Samuel. Cairan bening perlahan terasa hangat mengalir di kedua pipi chubby Maya.
"Terima kasih Sam," lirih Maya.
Samuel mengangguk, mempererat pelukan gadis itu dan mencium lembut surai hitam itu.
"Kamu bantu aku untuk menjadi muslim yang baik ya May, kamu mau kan?"
Sam mengusap cairan bening yang sedari tadi terus mengalir jatuh membasahi pipi Maya. Lidah Maya terasa kelu, ia hanya mengangguk berkali-kali menjawab ucapan Samuel.
Ia terlalu bahagia melihat vidio ketika Samuel mengucapkan dua kalimat Syahadat yang didampingi oleh seorang ustad dan disaksikan oleh kedua orangtua Sam.
Ini adalah kejutan terindah dari Sam. Bukan cincin berlian atau ribuan buket bunga.
Hari ini Maya bahagia, sangat bahagia.
"Aku membeli beberapa buku tentang Islam, tata cara sholat, berwudhu dan juga soal kewajiban seorang muslim," Samuel terdiam sesaat. Menatap Maya penuh cinta kemudian kembali merotasikan pandangannya ke arah lain.
"Aku mencintai kamu, sayang." Lanjut Samuel.
"Begitu juga aku, Sam. Aku juga sangat mencintai kamu." Suara Maya melembut, menatap manik mata coklat pria itu. Mencoba mencari ketulusan di sana. Dan Maya menemukannya.
____
Memulai sesuatu yang baru tentu tidak mudah, harus banyak penyesuaian dengan perubahan yang selama ini begitu asing.
Begitu pula Sam, menjalani kehidupan seorang mualaf tentu tidak semudah membalik sebuah telapak tangan. Masih berlajar sedikit demi sedikit melalui buku-buku agama dan juga aplikasi tentang bacaan dalam sholat dan juga gerakan-gerakan dalam sholat.
Tentu saja pria itu menyewa seorang ustad untuk mengajarkan tentang Islam secara utuh.
Beruntung, Samuel sedikit banyak sudah menghentikan kebiasaan minum minuman beralkohol, sebelum ia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf.
Dan itu karena Maya, hanya seorang Maya yang bisa membuat Samuel berubah menjadi lebih baik lagi.
"Sam, bentar lagi ada rapat direksi. Dan lo harus memimpinnya jangan sampai ada sesuatu yang akan menghalangi lo hadir." Bayu berdiri di ambang pintu ruangan Sam.
"Jam berapa?"
"Jam dua belas, siang ini," balas Bayu.
"Gue datang setelah jam dua belas."
"Lo ada urusan lagi? Gak enak Sam sama pemilik saham yang lain kalo lo telat lagi." Bayu kini mendengus kesal, duduk di kursi tepat di hadapan Samuel.
"Gue sholat dulu Bay, udah itu gue langsung ke ruang meeting." Jawab Sam, tanpa melihat ke arah Bayu, ia masih nampak sibuk dengan layar laptop di hadapannya.
Bayu menarik kening heran, "Lo... sejak kapan lo jadi..." tidak meneruskan ucapannya.
"Jadi mualaf maksud lo?" sambung Sam, membuat Bayu mengangguk ragu.
"Baru saja, dan lo yang udah muslim sejak lo lahir, gak pengen sholat bareng gue hah?" pertanyaan Sam membuat Bayu tersenyum kecil, menggaruk tengkuk yang tidak gatal tentunya.
"Gue ntar aja heeee, oke deh bro ntar jangan lupa hadir di rapat direksi. Awas kalo lo gak datang." Bayu melangkah keluar dari ruangan Sam. Meninggalkan Samuel yang tersenyum kecil melihat kelakuan Bayu.
………
Ruangan Kerja Maya
Mendapati ketukan pada pintu ruang kerjanya membuat Maya mengalihkan sejenak perhatiannya pada layar komputer di hadapannya. "Masuk." Titah Maya.
Freya tersenyum kecil, berjalan dengan sangat anggun mendekat ke arah Manager pemasaran Wijaya Property. "Hei, lo pasti Maya mantan El ya?" senyum yang ia buat-buat terlihat jelas di wajah cantik Freya. Memandangi lekat Maya, kemudian terlihat sedikit berdecih.
"Iya saya Maya, maaf kamu siapa ya?"
"Freya, kekasih Elano, CEO di sini."
Wajah sedikit culas ia perlihatkan membuat Maya hanya tersenyum tipis.
"Oh hai... silahkan duduk, kamu mau minum apa? biar saya pesankan ke OB di sini." Jawab Maya lembut, ia mempersilahkan gadis itu untuk duduk dan tersenyum manis ke arah Freya.
"Gak usah, gue gak lama. Cuma mau ingetin lo aja, jangan coba deketin El karena sekarang ia milik gue."
Maya tersenyum sebentar, gadis ini salah mengancam orang, batin Maya.
"Saya tidak ada urusan sama Elano, hubungan kami hanya sebatas rekan kerja. Lagipula saya sudah bertunangan dengan pria lain." Tersenyum kecil ke arah Freya, gadis itu terlihat tenang menghadapi sikap sinis Freya.
"Sekarang kalau anda tidak ada urusan lain, maaf saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Maya masih tersenyum kecil ke arah Freya, seolah me-masabodohkan sikap sinis Freya.
"Lo..."
Freya menghentak kaki kesal, telapak tangannya mengepal erat. Pandangan sinis gadis itu terarah ke wajah Maya.
Semenit kemudian melangkah keluar dengan wajah kesalnya, apa yang Maya ucapkan barusan membuatnya telak tidak berkutik.
"Sial! Penasaran, siapa sih tunangan dia!"
batin freya kesal.
Gadis itu kembali melangkahkan kakinya kesal, kerucutan kecil terlihat jelas di bibirnya. Semua sikap tenang Maya telah membuatnya mati gaya. Sial...! benar-benar sial! umpat Freya dalam hati.
to be continue....