
Flashback sebelum Maya ke kantor
Samuel memijit pelipisnya yang berdenyut melihat dokumen-dokumen di hadapannya. Banyak sekali yang harus diurus dan setelah ini ia harus menemui klien besar di salah satu cafe di dekat kantornya.
Samuel meraih ponsel dan membuka kunci layar, senyumnya terbit tatkala melihat wallpaper ponselnya berupa foto Maya yang tengah tersenyum lebar ke arah kamera.
Baru beberapa jam meninggalkan Maya, ia sudah sangat merindukan istri tercintanya. Jemari Sam lalu bergerak mengusap layar, membuka galeri album. Foto-foto Maya langsung muncul berderet di layar ponselnya.
Samuel semakin mengulas senyumnya membuka satu persatu foto Maya dalam berbagai gaya. Ada juga foto-foto selfi mereka berdua ataupun foto full badan yang mereka ambil saat liburan maupun ketika sedang sekedar hangout di cafe. Sam tersenyum berkali-kali tatkala memandangi album galeri foto yang berisikan foto Maya dalam berbagai gaya ataupun tempat-tempat indah yang pernah mereka kunjungi, foto-foto yang menunjukkan senyuman penuh mengembang di semua sudut bibir istrinya.
Samuel senang melihat senyuman yang dari dulu telah menjadi candu buatnya, membuat rasa sakit di kepala Sam mendadak hilang setelah melihat senyuman itu.
Suara ketukan pintu terdengar, Sam menyuruhnya masuk tanpa mengalihkan pandangannya. Ia masih sibuk menggeser-geser foto Maya yang lebih menarik perhatiannya.
Freya berjalan memasuki ruangan dengan membawa dokumen-dokumen di tangannya.
"Ini dokumen kesepakatan kemarin, kesepakatannya sudah mereka ubah sesuai permintaan kamu." Freya meletakkan dokumen ke atas meja Samuel.
"Hm..."
Freya mengerutkan dahinya melihat Samuel senyum-senyum sendiri melihat layar ponsel.
"Lagi liat apa sih? sampai senyum-senyum gitu?"
"Kepo...!"
Samuel meletakkan ponselnya di atas meja kerja lalu memeriksa dokumen yang dibawa Freya. Selesai ia cek, Sam pun menandatangani dokumen tersebut dan menggesernya ke arah Freya.
Freya mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menatap Samuel. "Udah jam makan siang, kamu gak makan?"
"Nggak."
"Makan sama aku yuk di luar?" tanya Freya.
"Aku sibuk!"
Freya mendengus kesal melihat Samuel yang kembali bersikap dingin padanya, tetapi pria itu akan seratus delapan puluh derajat berubah jika sudah berhadapan dengan istrinya.
"Ayolah, Sam.... sebagai mantan, masa kamu tega liat aku hamil besar gini harus makan sendiri di luar sana."
"Kamu tau sendiri kan, kita hanya mantan dan gak lebih," jawab Samuel tanpa menatapnya.
"Kenapa kamu nerima aku bekerja di sini jika bukan karena kamu masih perhatian sama aku?"
"Kasihan."
"Apa?"
"Aku nerima kamu kerja di sini cuma karena kasihan gak lebih. Dan lagi bukan kemauan aku nerima kamu di sini, itu karena Maya yang meminta."
Kedua telapak tangan Freya mengepal di sisi tubuhnya. Freya menghela napas kasar.
"Oke kalau kamu cuma kasian, aku terima. Dan soal anak yang aku kandung ini, kenapa kamu gak kasian dengan dia Sam? Dia akan lahir tanpa seorang ayah."
Samuel kali ini menatap Freya dengan sebelah alis terangkat.
"Bukannya itu anak Elano? Dia ayahnya."
"El gak mau tanggung jawab."
"Itu urusan kamu Fe," ujar Samuel bersikap seolah tidak mau tahu, meski ada rasa kasihan darinya untuk gadis yang saat ini tengah mengandung tua.
Freya melangkah maju meraih tangan Samuel dan memegangnya. "Sam, please bantu aku. A-aku gak tau harus minta bantuan siapa lagi," bujuk Freya dengan tatapan mata berkaca-kaca.
Samuel dengan cepat menarik tangannya dan membuang napas berat. "Sorry, aku gak bisa bantu lebih jauh lagi," ucap Samuel lalu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu.
"Kalo aku bujuk Maya, apa dia bisa bantu aku?"
Samuel berhenti lalu menatap Freya tajam. "Jangan seret istriku ke dalam masalah kamu!"
Kini Freya bergerak menyusul arah Samuel berdiri. "Masalah aku? Sejak kamu memberi pekerjaan ke aku, ini sudah menjadi masalah kamu Sam."
"Lagipula bukankah Maya sudah keguguran? Dan akan sangat sulit untuk kembali hamil lagi?"
Sam menatap Freya nyalang. "Apa mau kamu?!"
"Nikahin aku, Sam."
Samuel sontak meninju dinding di samping wajah Freya, membuat gadis itu kaget.
"Aku gak peduli, bukankah pernah aku bilang kalo aku mau jadi yang kedua?"
"Mimpi aja sana...!" balas Samuel kesal.
"Sam...." Freya menghentikan ucapannya saat satu tangan Sam lainnya terjulur ke sisi tubuhnya dan mengurungnya di tembok. Freya merinding melihat raut kemarahan di wajah Sam saat ini.
"Berhenti memancing emosiku, jangan usik rumah tangga ku atau aku gak segan-segan pecat kamu dari perusahaan ini!"
Freya tersenyum simpul. "Mungkin bukan aku yang akan ganggu rumah tangga kamu, Sam..." jedanya. "Tapi dia," lanjut Freya berbisik.
"Dia siapa?! Apa maksud mu?!"
"Orang yang ada dibalik kecelakaannya Maya."
Dahi Sam berkerut heran. "Jadi kamu ada hubungannya dengan kecelakaan Maya kemarin hah...?!!" Lengan Samuel kembali mengungkung Freya, mengurungnya hingga gadis itu tidak bisa berkutik lagi.
"Bukan aku, Sam."
"Lalu siapa, hah...?!" bentak Samuel lagi.
"A-aku gak tau.... mungkin saingan bisnis kamu at-au..."
"Atau siapa...?!" tanya Samuel menjeda.
"Elano...."
Samuel kembali menatap nyalang Freya, mengunci gadis itu di tembok dengan kedua lengan kekarnya yang kini mengeras. Hingga saat itu tibalah Maya yang mendadak memasuki ruang kerja Samuel dan melihat keduanya dalam posisi seperti Samuel lah yang mendekati Freya.
....
Flashback off
Sam tidak bisa menceritakan masalah ini ke Maya, ia tidak ingin Maya kepikiran dan stress. Samuel tidak ingin terjadi sesuatu lagi dengan Maya. Perihal Freya yang melabrak Maya di toilet kemarin, sebenarnya Sam sudah lebih dulu memperingatkan Freya untuk tidak lagi melakukannya setelah Freya kembali dari toilet dan memasuki ruang kerjanya.
Saat mereka kembali dari rofftop dan Maya meminta izin ke toilet, Sam langsung memerintahkan salah satu pegawainya untuk mengawasi Maya, sementara Samuel kembali ke ruangannya guna menerima telfon dari Bayu soal tender kerja sama perusahaan dengan klien mereka dari London.
Dan pegawai yang ia perintahkan untuk menjaga Maya, langsung memberikan rekaman vidio perlakuan Freya terhadap Maya. Sam bahkan tidak menyangka jika Freya sangat kasar, terlebih lagi gadis itu saat ini tengah dalam keadaan hamil besar.
"Suami.... kenapa melamun?" tanya Maya yang kini sudah berada di sampingnya dengan dua box makanan yang ia letakkan di atas meja kerja.
Samuel tersadar dari lamunan, dia tersenyum kecil sambil berfikir kenapa istrinya itu selalu mampu membuatnya merasa jatuh cinta di setiap harinya.
"Suapin sayang..." rajuk Samuel.
"Ish, suami.... kamu kan udah gede."
"Lebih enak disuapin sama istri," jawab Samuel manja.
Maya berdecak, tapi tetap menuruti permintaan Sam. Satu tangan Sam meraih pinggang Maya dan membawanya kedalam pangkuannya.
"Sayang nanti kalo ada yang masuk gimana?"
"Biarin, sama istri sendiri ini."
"Nanti malah jadi gosip."
"Yang gosip-in kita berarti dia iri, sayang."
"Ish, bisa aja ngejawab terus," cibir Maya lucu. Maya memanyunkan bibirnya.
"Gak usah manyun gitu, jangan sampai aku serang bibir kamu sampai bengkak."
"Ih, Sam..."
"Apa sayang?"
"Kamu kok jadi mesum gini sih?"
Sam menerima suapan Maya. "Kenapa? mesum sama istri sendiri masa gak boleh?." Sam mengunyah makanan dengan santai, sementara tangan yang satunya sibuk mengusap perut rata Maya.
"Kamu gak makan?"
"Nanti aja, setelah aku nyuapin bayi besar aku," jawab Maya sembari menempelkan hidungnya ke ujung hidung mancung Samuel dan menggesekkan kedua ujung hidung itu perlahan.
Di sela-sela makan siang mereka, Sam tersenyum mendengar Maya yang dengan penuh semangat bercerita tentang jalan-jalannya bersama Samudra hari ini, mata yang selalu menjadi kesukaannya itu berbinar cerah.
to be continue....