
"Apa yang terjadi padamu?" tanya El dengan ekspresi penuh pertanyaan.
"Gara-gara Maya," dengus Freya.
El mengernyit heran, memandang wajah Freya dengan sedikit bertanya-tanya. "Apa maksudmu Fe?"
"Tadinya, aku ingin memberi gadis kampungan itu pelajaran, tapi sial malah aku yang terkena getahnya," jawab Freya berekspresi kaku.
Elano berseringai kecil, memandang wajah Freya dengan sedikit senyuman meremehkan.
"Aku tidak bisa memisahkan mereka, El."
Kedua mata Elano membola penuh, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Dengar El, jika aku tidak bisa memiliki Sam. Maka gadis manapun tidak akan pernah memilikinya," Freya menjeda sebentar kalimatnya.
"Bukankah kamu juga mempunyai pemikiran yang sama? Apa kamu rela jika Maya dimiliki pria lain, hah...?!" lanjut Freya, mata lentik itu memandangi Elano dengan ekspresi culas.
Tentu saja Elano tidak rela jika Samuel rivalnya, berhasil memenangkan seutuhnya hati Maya. Namun ia tidak pernah berniat menyakiti gadis itu seperti yang Freya maksudkan.
"Elano...!!"
Lengkingan suara Freya membuat Elano mendecih pelan. Kembali fokus memandang gadis cantik dengan wajah bengis di hadapannya.
"Jadi apa rencana kamu untuk memisahkan mereka, hhmm...?"
"Entahlah Fe, nanti akan aku coba pikirkan lagi. Sekarang kamu mau pulang atau masih ingin di sini, hah?" tanya Elano datar, pria itu dengan begitu saja berjalan meninggalkan Freya yang masih duduk di tepi ranjang rumah sakit.
Freya mendecih pelan, membulatkan bola mata lentiknya kesal melihat kelakuan Elano yang berlalu begitu saja tanpa mempedulikan keadaannya.
"Elano....!! tunggu....!!" teriak Freya, berjalan dengan sedikit tergopoh menahan kakinya yang masih terasa sakit untuk ia gerakan.
"Sial!! gak Sam gak Elano kenapa mereka jahat banget sama gue...!" gerutu gadis cantik itu.
Dengan menahan rasa nyeri di kakinya, Freya mencoba mengikuti langkah panjang Elano. "El.....!! tunggu...!! dasar cowo sialan!!" umpat Freya.
.....
Pintu ruangan Maya diketuk oleh seseorang, membuatnya sejenak menghentikan pekerjaan tentang pemasaran salah satu ruko-ruko besar perusahaan property milik El dan juga Sam.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Samuel yang masuk dan langsung memeluknya.
"Samuel...!" ucap Maya setengah menjerit mendapati bahwa tubuh tinggi dan kokoh itu terasa hangat.
"Kamu demam?"
Sam tidak menjawab, dia hanya membenamkan wajahnya pada pundak Maya. Wangi tubuh gadis itu selalu bisa membuat Sam sedikit tenang. "Biarkan aku seperti ini sebentar lagi."
"Tidak," Maya melepaskan pelukan Samuel dan menyeret sang CEO ke sofa putih yang ada di ujung ruangannya. "Kamu, istirahatlah."
Sam menurut saja ketika Maya menumpuk beberapa bantal kecil dan menidurkannya di sana. Rasa hangat memenuhi dada Sam ketika dilihatnya Maya sibuk menelpon OB untuk mengambilkan kompres hangat dan memesan bubur untuk Sam makan. Bukan pertama kalinya dia sakit, namun ini pertama kali ada orang yang begitu telaten merawatnya selain si bibik tentunya.
Maya memancarkan kekhawatiran yang tulus ketika dirinya tidak berdaya. Seulas senyum Sam muncul ketika Maya meraba dahinya dengan tangan, mencoba mengukur suhu tubuh.
"Aneh, padahal tadi pagi kamu baik-baik saja, Sam." Alis Maya berkerut sambil merapikan rambut Sam yang kusut.
Kembali terdengar ketukan pada pintu. Maya segera membuka dan menerima pesanannya dari OB. Segera ia tempelkan handuk hangat di kening Sam, sementara Samuel tersenyum tipis menerima semua perhatian. Sam melihat Maya membuka bungkusan bubur dan meniup-niupnya pelan agar cepat dingin. CEO itu tidak ingat kapan pastinya ia menerima perlakuan manis seperti ini.
Dulu sekali saat masih kanak-kanak, Anita yang belum terlalu sibuk dengan segala bisnis dan urusan yayasan, selalu memperlakukan Samuel kecil seperti yang Maya lakukan saat ini. Hingga bertahun-tahun kemudian tugas tersebut diambil alih oleh si bibik. Sedangkan Freya atau gadis-gadis lainnya di masa lalu Sam, hanya bisa bersenang-senang memanfaatkan segala yang CEO itu miliki. Bahkan dulu di saat pria itu membutuhkan seseorang untuk sekedar bersandar berbagi masalah, teman-teman kencannya tidak ada yang peduli. Mereka hanya bersikap sok peduli ketika CEO itu mengadakan party atau membelikan mereka hadiah-hadiah mahal.
"Buka mulutmu," ucap Maya dengan sendok terulur membuat Sam terkesikap, namun kemudian hatinya kembali menghangat.
Rasanya aneh membiarkan seseorang menyuapi dirinya. tapi Sam memilih diam dan menikmati moment yang ada, membiarkan dirinya dimanja. Maya memastikan lidah Sam tidak terbakar dengan meniupi bubur putih dengan kaldu ayam agar lebih dingin.
"Maaf, sayang...." ucap Sam, sambil asik mengamati wajah Maya dari dekat.
"Maaf untuk apa Sam? kamu kan gak salah, kenapa minta maaf?" tanya Maya heran, sesekali ia mengusap sisa bubur yang tersisa dan menempel di ujung bibir Sam.
Maya tersenyum sebentar, lalu kembali menyuapkan beberapa sendok bubur ayam ke mulut Samuel.
"Ini kan sudah menjadi tugasku Sam." Maya memberi jarak pada ucapannya, mengusap kembali sisa bubur yang menempel di sudut bibir Sam.
"Selama ini kamu yang selalu menjagaku. Dulu waktu aku sakit pun kamu yang merawat aku bukan?" lanjut Maya, mengusap lembut kening Samuel dan membenarkan posisi handuk hangat di kening Sam.
"Sekarang gantian aku yang melakukannya." lanjut Maya lagi.
Kembali melakukan suapan demi suapan ke mulut Sam, hingga makanan itu tandas. Sam tersenyum lembut. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika waktu seperti ini terus berlanjut.
Maya kembali membaringkan tubuh kekar Sam pada sofa putih, mengambil blezer kerja miliknya untuk menutupi sebagian tubuh kekar Samuel agar lebih terasa hangat. Maya mengatur tingkat kedinginan AC ruangan di suhu yang agak hangat. Tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas agar pria itu bisa beristirahat dengan nyaman.
"Sekarang kamu istirahatlah, atau kamu mau pulang Sam? biar aku yang mengantar."
Sam menggeleng pelan, mengeratkan blezer milik Maya yang menyelimuti batas dadanya.
"Biarkan aku tiduran sebentar, nanti juga akan membaik," jawab Samuel.
Maya tersenyum pelan menanggapi, mulai membereskan perlengkapan makan tadi. Membuat Sam membayangkan, jika gadis itu nantinya akan selalu menyediakan sarapan dan menyambut indra penciumannya dengan wangi makanan. Mungkin Sam akan memeluk pinggang ramping itu dari belakang, menganggunya memasak lalu menghabiskan petang mereka hanya berdua saja setelah penat bekerja. Duduk bersandar pada sofa empuk dengan saling memeluk sambil menonton acara televisi yang menjadi favorit mereka. Sam bahkan tidak mempermasalahkan jika nanti Maya akan menguasai seluruh acara televisi, dengan senang hati Sam akan selalu berada di dekat Maya dan memeluknya erat.
Rasa hangat kembali memenuhi benak Sam, hingga sebuah senyum muncul di wajah Samuel. Ia hanya ingin menikmati saat-saat bersama Maya. Sesederhana itu keinginannya.
"Bagaimana dengan demam ka....mu...." Tiba-tiba Sam meraih tubuh Maya yang mendekatinya.
"Sam.....!" Terdengar jeritan kecil keluar dari bibir berlipstick peach muda ketika Sam menarik tubuhnya dan membawanya kedalam pelukan tubuh kekar itu.
"Aku membutuhkanmu, sayang," bisik Sam ketika kepala Maya bersandar pada dada bidang Sam.
Jantung Maya seolah berlompatan ketika merasakan otot lengan kekar Sam mendekapnya erat. Jantung Maya masih selalu berdegup kencang walau ini bukan pertama kalinya gadis itu berada dalam pelukan Samuel, Maya selalu merasakan getaran hangat ketika mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.
Wangi musk yang menggoda, membuat imajinasi Maya melanglang. Namun kemudian deru napas Sam kembali teratur. Matanya terpejam rapat tanda dia terlelap. Maya mencoba untuk melepaskan diri tapi pelukan Sam malah semakin erat. Sambil berharap agar tidak ada seorang pun yang memergoki mereka.
Maya membuat dirinya nyaman dalam pelukan Samuel dan merasakan detak jantung Sam memberikan rasa aman. Yang akhirnya menjadi pengantarnya ke alam mimpi.
.....
"Morning, sweetheart." Suara bariton Sam menyapanya, menggoda karena jelas ini masih siang. Jantung Maya seketika seolah kembali melonjak, nyaris keluar dari dada.
Maya masih berusaha mengumpulkan semua nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul. Wangi Sam dan hangat pelukannya seakan membuatnya enggan untuk bangun.
Sudah berapa lama dia tertidur? pikir Maya.
Maya mendongak dan menyadari jika posisi tubuhnya kini masih begitu dekat dengan Sam, bahkan tubuh mereka masih saling erat berpeluk tanpa jarak. Maya bisa merasakan lembutnya bibir tebal Sam yang membelai pipinya.
Demi Tuhan, ini masih jam kantor, batin Maya.
Gadis itu seketika berdiri melonjak, membebaskan diri dari dekapan Samuel.
"Sam...! bagaimana keadaan kamu? sudah mendingan? atau masih merasa tidak enak badan?" Maya bersikap salah tingkah, rona merah pipi chubbynya terlihat jelas. Membuat Samuel tersenyum geli melihat ekspresi salah tingkah gadisnya.
"Lebih baik, tapi aku masih ingin berada di sini bersama kamu, sayang." Sam merajuk kali ini, persis seperti anak kecil.
"Hhmmm... kamu istirahatlah. Aku masih ada sedikit kerjaan, bolehkan aku menyelesaikannya terlebih dulu?" Maya kini duduk di tepian sofa, mengelus lembut rahang kotak Samuel.
"Of course, hunny.... lanjutkan saja pekerjaan kamu. Aku janji gak akan ganggu kamu," jawab Sam dengan senyuman mengembang.
"Aku akan jadi bayi besar yang penurut," lanjut Sam lagi. Membuat Maya tertawa kecil, pukulan lembut Maya mendarat di pundak Sam. "Hhmm, kamu memang seperti bayi besar yang manja, Sam." Maya mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat ke arah Samuel.
"Tapi kamu bayi yang sangatlah manis, Samuel Perdana..." Maya mengecup lembut kening Samuel, membelai tangan pria itu sebentar sebelum akhirnya Maya berdiri dan berjalan kembali ke arah meja kerjanya.
Samuel merasakan kembali kehangatan itu, menyeruak memenuhi rongga dadanya. Mengeratkan blezer milik Maya yang masih erat menutupi batas dada dan kembali memejamkan mata coklatnya.
Ia merasa pria paling beruntung saat ini.
to be continue...