
Langkah Maya semakin menggebu, ia bahkan tidak peduli akan kondisinya pasca operasi caesar.
Yang ada dalam benaknya saat ini hanya ingin segera bertemu dengan Sam. Bahkan Samudra yang berjalan bersamanya pun terlihat begitu bersemangat ketika mengetahui akan bertemu dengan ayah sambungnya itu.
Sementara Anita dan juga Permana pun mengikutinya bersama.
Dan dua orang babysitter bersama bayi mungil dalam gendongan pun mengikuti langkah mereka.
Maya berhenti pada sebuah kamar bernomor lima, kali ini dadanya kembali berdegup kencang membayangkan akan bertemu Samuel.
Oh semoga Sam kali ini tidak lagi marah padaku.... Batin Maya.
Perlahan ia membuka knop pintu ruang Bougenvile nomor lima. Netranya meremang tatkala melihat Samuel yang tiba-tiba terbangun oleh suara knop pintu yang terbuka dan menoleh ke arahnya.
Senyuman Sam mengembang penuh begitu melihatnya.
Dada Maya semakin bergemuruh tak karuan, melihat sosok pria yang selama ini ia rindukan dan kali ini tidak ada tatapan dingin dari Samuel yang membuat Maya sedikit bernapas lega.
Sam membentangkan kedua lengannya ke arah Maya dan juga Samudra, seolah mengisyaratkan agar keduanya mendekat dan berlari kedalam pelukan dada bidang pria itu.
"Kemarilah, sayang..... aku merindukanmu...." ucap Samuel lemah.
Membuat Maya begitu saja berlari berhambur ke pelukan Samuel yang masih terbaring lemah di atas brankar.
"Maafkan aku tidak bisa memelukmu dengan benar," bisik Samuel dengan sedikit tersenyum kecil.
Tangis Maya semakin pecah, dia bahkan tidak peduli jika saat ini Sam hanya bisa memeluknya sambil berbaring lemah.
Yang Maya inginkan saat ini hanya ingin terus berada dalam posisi seperti ini, berada dalam dekapan suaminya kembali.
"Mommy.... Am juga pengen peluk Daddy...." rengek Samudra.
Spontan saja membuat Maya dan juga Sam tertawa kecil. Maya merenggangkan pelukannya dan kembali berdiri tegak. Ia memandang ke arah Samudra dan membawa tubuh mungil itu mendekat ke arah Samuel.
"Halo jagoannya Daddy....."
Sam mengelus lembut puncak kepala Samudra. Tubuh Am yang masih kecil dan kondisinya yang belum boleh banyak bergerak pun menyulitkan Sam yang mencoba untuk menciumnya.
"Sini Opah bantu Am, biar bisa cium Daddy...."
Tiba-tiba saja Permana menggendong tubuh Samudra dan mendekatkannya ke arah Samuel.
Dalam sekejap pun Sam dengan lelusa menciumi wajah dan juga kening Samudra.
Tawa kecil dari Samudra pun terdengar ketika merasakan geli akan serbuan kecupan-kecupan dari Sam.
"Geli, Daddy......" cicit Samudra lucu.
Membuat semua orang yang berada di sana tertawa haru dan bahagia.
Tangis bahagia pun tercipta dari wajah Anita. Berkali-kali ia berusaha menyeka air mata yang terus menerus keluar.
Anita begitu bahagia melihat satu putranya yang kembali setelah hampir dua minggu mengalami koma.
"Ma....." lirih Samuel pelan.
"Samuel sayang....." Anita kini memeluk haru anaknya yang masih terlihat lemah.
"Maafin Sam, Ma..."
"Maaf untuk apa, Nak? Kamu gak ada salah sama Mama....." tangis Anita semakin pecah.
Permana berusaha menenangkan istrinya, memeluknya dengan erat ketika wanita itu terlihat terus menangis karena bahagia.
"Sam, Papa bersyukur Tuhan memberikan keajaiban yang kedua kalinya untuk kamu. Papa bahagia kamu kembali lagi bersama kami...." ucap Permana sembari terus memeluk pundak Anita di sampingnya.
"Makasih, Pa...." Samuel tersenyum sembari menggenggam erat punggung tangan Maya yang saat ini duduk di sisi kanan tubuh Samuel.
Keduanya kini saling berpandang lembut. Sam bahkan terus menatap wajah Maya, seolah sudah berpuluh-puluh tahun ia tidak melihat wajah istrinya.
Sam begitu merindukan nya, merindukan ingin memeluk dan mendekap erat istrinya seperti saat-saat sebelum kecelakaan itu.
"Anak kita.....?" tanya Sam begitu ia teringat akan kedua anaknya yang baru beberapa hari ini dilahirkan.
Maya pun kembali mengusap jejak air matanya dan menoleh ke arah dua babysitter di belakang mereka.
Maya meraih satu bayi dari tangan sang babysitter dan mendekatkannya ke tubuh Samuel.
"Ini Benua, anak laki-laki kita, Sam...." ucap Maya.
Netra Samuel membola takjub ketika melihat sosok bayi mungil nan tampan. Wajah putranya itu bahkan begitu mirip dengan Maya. Mata hitam serta rambut hitam legam dan juga hidung mancung dan wajah bulat dengan kedua pipi menyembul merah, begitu mirip dengan istrinya.
"Dia sangat mirip sama kamu, dear..." ucap Samuel sembari tersenyum haru.
Berkali-kali Sam mendaratkan kecupan-kecupan lembutnya ke wajah bayi mungil itu. Tangannya pun membelai lembut bayi yang begitu gembul meski baru beberapa hari ia dilahirkan.
"Hello Benua.... kamu akan menjadi anak laki-laki Daddy yang kuat dan pintar nantinya." Sam berbisik lembut di telinga mungil bayinya.
Anita dan juga Permana pun tersenyum haru melihatnya.
"Lalu Samantha.....?" tanya Sam sembari memandang wajah Maya.
"Oh iya...."
Maya pun kembali berjalan ke arah babysitter yang satunya lagi. Dan meraih bayi mungil perempuan.
Kali ini Maya membawa bayi perempuan itu ke sisi tubuh Sam yang satunya lagi.
Kembali kedua netra Samuel membola, memandangi wajah cantik putri kecilnya. Seolah Samuel seperti sedang berkaca saat memandangi wajah Samantha.
Mirip sekali dengan yang ia jumpai dalam mimpi. Rambut ikal bergelombang yang nampak kemerahan serta iris coklat bening serta bentuk bibir yang hampir menyerupai dengan bibirnya.
Sam pun menarik senyuman penuh kekaguman. Bayi laki-laki nya yang begitu mirip dengan Maya dan bayi perempuan yang mirip dengannya.
Samuel menangis haru, menciumi wajah kedua bayi kecilnya yang saat ini dalam dekapan kedua lengannya.
"Daddy sayang kalian, Nak...." bisik Samuel lembut.
....
Sam memperbaiki posisi tubuhnya menjadi lebih nyaman untuk dapat memeluk tubuh Maya yang saat ini berbaring di sampingnya.
Sementara dua bayi mungil, Benua dan Samantha pulas tertidur dalam box bayi rumah sakit Centra Medika atas permintaan dari Anita.
Kebetulan Theresia lah yang mengurusi segala permintaan khusus Anita. Dengan sabar dan juga sikap yang tulus, Theresia menyiapkan box bayi untuk kedua bayi Maya dan Samuel.
Sam membelai lembut puncak kepala Maya yang berhambur di atas dadanya. Meski ada sedikit tekanan dari tubuh istrinya, namun Sam tidak merasakannya.
Mungkin rasa kangen Samuel lebih kuat jika dibandingkan dengan sakit yang sedikit ia rasakan saat beban Maya bertumpu pada lengannya.
Berkali-kali Samuel menciumi puncak kepala Maya, aroma kiwi segar yang menguar keluar dari rambut hitam perempuan itu bagai candu tersendiri buat Sam.
Ia sungguh merindukan aroma tubuh istrinya.
"Maafkan aku, Sam...." cicit Maya pelan.
Jemari lentiknya pun kini bermain di atas dada Samuel yang terbebas dari beberapa kancing piyama rumah sakit yang ia kenakan saat ini.
"Gak, sayang.... kamu gak salah. Justru aku yang salah."
Sam terus saja membelai dan memainkan ujung rambut Maya.
"Tapi kalo aku gak merahasiakan maksud aku menemui Daniel pasti kamu gak se-marah kemarin dan kecelakaan itu gak akan terjadi, Sam...." cicit Maya menyesali semuanya.
Sam tersenyum kecil sembari mengeratkan pelukannya pada pundak Maya.
"Gak ada yang patut disalahkan, sayang.... semua ini mungkin udah takdir dari Allah dan aku malah harusnya berterima kasih dan minta maaf ke kamu."
"Maksudnya?"
Alis Maya mengernyit heran.
"Hm, aku dan Daniel berterima kasih karena kalo bukan karena kamu, kami gak akan pernah bertemu lagi. Terutama mama.... beliau yang benar-benar bahagia telah menemukan kembali putranya yang hilang." Sam menjeda sejenak kalimatnya, kembali ia mengelus lembut puncak kepala Maya dan lalu menciumnya untuk kesekian kali.
"Dan aku minta maaf karena tidak ada di samping kamu saat melahirkan anak kita," ucap Sam lagi. Kali ini ia memandang lekat-lekat wajah Maya yang sedikit mendongak ke arahnya.
"Maafkan aku, sayang...." Sam mengulang lagi ucapannya.
Maya hanya bisa mengangguk pelan.
Darahnya berdesir hebat tatkala Samuel mendekatkan bibir tebalnya dan menciumnya perlahan.
Maya kembali merasakan degup jantungnya yang berpacu hebat.
Bibir keduanya kini pun menyatu dan saling bercumbu mesra. Mereka bahkan melupakan jika saat ini keduanya berada dalam ruangan rumah sakit.
"Jangan pergi lagi Sam, please...." bisik Maya lembut.
Samuel mengangguk pelan. "Never, baby...." balas Sam lembut.
Lalu, sedetik kemudian Sam kembali menempelkan bibirnya dan melakukan kembali pergerakan mendominasi bibir peach milik Maya.
Sam melepaskan perlahan kecupannya dan kembali memandang lekat wajah Maya.
"Thanks for being my true love, honey.... " Sam kembali berbisik.
"And thank you for your sincere love, my lovely Sam...." jawab Maya yang juga setengah berbisik.
Samuel semakin mengeratkan pelukannya, keduanya masih berbaring dengan saling memeluk erat.
Rasa rindu yang selama ini terpatri membuat baik Samuel dan Maya saling melepaskan kerinduan yang memuncak itu.
Sesekali suara tawa kecil terdengar dari bibir Maya ketika tangan Sam mulai melakukan pergerakan nakalnya.
"Sam..... geli ih....." kekeh Maya gemas.
...----------------...
Di dalam ruangan kerjanya, Daniel terus saja memandangi layar ponsel dan berulang kali membaca kembali teks yang tertulis di dalam layar panjang tersebut.
Sebuah pesan singkat dari seorang perempuan bernama Theresia. Perempuan yang mampu menggeser perempuan-perempuan lain yang mencoba memenangkan hatinya.
Terlebih lagi, dia adalah perempuan yang mampu membuat darah Daniel berdesir hebat tatkala ia berada di dekatnya.
Perempuan kedua setelah Maya. Tentu saja saat ini Daniel mencoba berdamai dengan perasaannya terhadap Maya.
Daniel tahu jika sampai kapanpun, Maya bukanlah takdirnya.
Namun bagi Daniel saat ini, Theresia adalah perempuan pertama yang ingin ia jadikan sebagai rumah. Tempat ia akan menetap selamanya.
to be continue....