MySam

MySam
The Truly El



Freya menaikkan kaki jenjangnya ke samping ranjang, yang berselimut dark brown.


"Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap El sembari menyibak selimut yang tadi menyelimuti tubuh kokohnya dan kini ia sedikit memiringkan tubuh menghadap gadis itu. Membelai ujung rambut dan memainkannya. Tubuh polos Freya yang hanya berbalut selimut tebal seolah enggan mengizinkan Elano untuk beranjak dari sisinya.


"Sangat penting ya, pekerjaan itu?" lirih Freya, jemari lentiknya kini menyusuri tiap jengkal dada bidang milik Elano, meninggalkan jejak-jejak kecupan di dada bidang hingga turun ke perut sixpack pria itu.


"Sebentar aja, sayang." Elano mencoba meyakinkan gadis itu, mendaratkan ciuman kecil di puncak kepala Freya.


Freya akhirnya mengangguk pelan. Dia bergeming, begitu pula dengan Elano. Pria itu menatap jendela kaca di apartemennya. Hujan di luar sana seperti tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Tatapan mata itu dalam dan menerawang. Entah apa yang dipikirkan Elano.


Dalam diam, Freya mengamati wajah El. Entah ini hanya pikiran anehnya atau memang kenyataannya begitu. Wajah El terlihat mirip Zayn Malik, salah satu personil One Direction.


Freya tersenyum sendiri, masih mengamati wajah kekasihnya yang masih sibuk dengan pengamatannya tentang hujan malam itu. Atau ada sesuatu yang El sembunyikan darinya?


Entahlah....


Sesaat khayalan Freya terusik, melihat kekasihnya seperti berfikir tentang sesuatu yang lain.


Elano beranjak dari jendela apartemen menuju sofa yang berada di bawah jendela kaca tadi. Ia duduk di sofa beludru berwarna maroon, sofa itu tanpa sandaran sehingga siapapun yang duduk di sofa itu dapat langsung melihat apa yang terjadi di luar sana melalui jendela kaca.


Hanya ada satu sandaran di sisi kiri sofa, yang kini tempat punggung kokoh El bersandar dengan posisi terlentang dengan laptop di pangkuannya.


Freya menyibak selimut tebal yang tadinya menutup sebagian tubuh molek bak model itu, meraih selimut yang lebih tipis untuk menutupi tubuh polosnya. Berjalan menghampiri Elano, kembali menempatkan tubuhnya dekat-dekat dengan Elano. Freya meraih laptop tipis itu dan meletakkannya di atas nakas kecil. Kembali duduk di pangkuan Elano dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu.


"Ada kah pekerjaan yang lebih penting dari aku, honey?" bisik Freya, sedikit menjilati cuping telinga El dan mendekatkan wajahnya, sehingga napas hangat mereka saling beradu satu sama lain.


Elano memeluk pinggang Freya. Hembusan napasnya yang beraturan terdengar dekat di telinga Freya.


Freya menggenggam jemari Elano yang berada di atas perutnya yang hanya berjarak selimut tipis berwarna putih bersih.


Hangat. Freya memejamkan mata, mencoba meresapi setiap kenikmatan saat berada dalam pelukan Elano. "Apakah selama kamu di sini pernah memikirkan tentang aku, El?"


Elano, memandang wajah Freya lalu sedetik kemudian merotasikan netra coklatnya ke arah lain. Mengambil kembali napas berat lalu menghembuskan perlahan.


"Tentu aku memikirkan kamu, Fe."


"Gak bohong?" kali ini iris jernih Freya lekat mengarah padanya.


"Gak ada untungnya aku bohong." kilah Elano, kembali ia memainkan ujung rambut Freya.


"Sekarang, tolong kamu jangan ganggu aku dulu ya sayang. Aku masih banyak pekerjaan saat ini."


Freya sedikit mengerucut kesal, dan lagi-lagi sebuah ciuman lembut di pipi gadis itu yang telah meluluhkannya.


"Besok aku mau ikut ke perusahaan kamu," ucap Freya sebelum beranjak dari pangkuan Elano.


Hanya keheningan, pria itu memandangi tubuh Freya yang kini menuju tepi ranjang dan kembali merebahkan tubuh moleknya yang berselimut.


 ---


Samuel mencium kening Maya, sedan hitamnya berhenti tepat di depan kantor perusahaan property miliknya dan Elano. Harusnya nama perusahaan itu berubah nama, bukan lagi Wijaya Property karena lima puluh persen sahamnya adalah milik Samuel.


"Kamu gak ngantor ke perusahaan property, Sam?"


"Aku masih sibuk dengan kantor advertising, nanti deh kalau urusan di perusahaan advertising udah clear, aku pasti hadir disini." jawab Sam, tersenyum sebentar dan memandangi wajah Maya.


"Kenapa? kamu kangen ya gak bisa liat aku?" goda Sam, cubitan kecil mendarat di pinggang pria itu membuat Sam terkekeh kecil.


"Ya udah, aku masuk dulu ya," pamit Maya, dibalas dengan anggukan kepala Sam.


"Hati-hati sayang, nanti sore aku jemput kamu."


Maya mengangguk, hampir saja Sam hendak membukakan pintu buat Maya namun dengan cepat Maya menahan tangan Samuel. "Aku bisa keluar sendiri kok. Kamu hati-hati di jalan ya," ucap Maya kemudian.


Membuat Samuel mengangguk dan kembali tersenyum. sedetik kemudian pria itu memacu sedan mengkilapnya menjauh dari perusahaan Wijaya Property.


Maya melangkah memasuki pintu utama Wijaya Property, terlihat menyapa ramah ke beberapa pegawai yang lain, berjalan kecil menuju pintu lift. Senyuman masih terkembang di kedua sudut bibir peach Maya, ia masih merasakan kebahagiaan bersama Samuel. Kembali mengusap cincin pertunangan di jari manisnya, memandangi cincin itu sebentar sebelum ia memasuki pintu lift.


"Maya...!"


Sebuah suara memanggil-manggil namanya, gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Elano...


CEO itu terlihat berlari kecil ke arah Maya.


"Hey, tumben kamu sepagi ini."


Elano tertawa kecil, pagi ini ia memang sengaja datang lebih awal ke kantor. Tentu saja disaat Freya masih terlelap, Elano tidak ingin gadis itu menganggu dia.


Mungkin lebih tepatnya, El tidak mau Freya nantinya akan bertemu Maya. Mengetahui masih ada perasaan yang tersisa untuk gadis itu.


"Seorang pemilik perusahaan harus memberikan contoh yang baik bukan?" jawab Elano dengan wajah penuh senyum.


"Kamu tadi berangkat bareng Samuel?" tanya El di sela-sela langkah kaki mereka, Maya mengangguk membenarkan.


"Kenapa dia jarang kemari? kalau seperti ini terus kelakuan dia, hanya akan memberi contoh buruk buat karyawan perusahaan lainnya," nyinyir El.


Maya hanya diam.


"Nanti pulang, aku anterin ya May?"


"Gak usah, aku dijemput Sam."


Pintu lift berdenting tanda mereka telah sampai pada lantai yang mereka tuju, keduanya kini saling melangkahkan kaki keluar. "May...."


Elano meraih lengan Maya, namun dengan cepat gadis itu melepaskan tangan El. "Maaf El aku harus ke ruanganku."


Maya kembali menolak halus kehadiran Elano. Meninggalkan pria itu yang masih berdiri mematung.


Kembali mendengus kesal dengan penolakan Maya, entah kenapa seluruh pikiran Elano kini masih saja berkutat tentang Maya. Sosok Freya pun seolah tidak mampu membuat El tenang.


Penolakan Maya justru semakin membuat Elano penasaran. Pria itu seperti mendapat tantangan, mengingatkan saat pertama kali mengenal Maya sewaktu Sma. Mati-matian ia mengejar Maya, meluluhkan hati gadis itu dengan kesederhanaan sehingga membuat dirinya menjadi orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.


Dan sekarang, inilah dirinya yang sebenarnya. Seorang yang menghalalkan segala cara, seorang casanova dan menganggap menaklukkan seorang wanita dingin adalah kesenangan terbesarnya.


Project kali ini adalah, Maya.


Elano melangkah santai menuju ruang kerjanya, memasukkan satu telapak tangan di saku celana panjang, yang terlihat sempurna melekat di tubuh tinggi atletis El. Menarik seringai kecil dari sudut bibir tipisnya, aura licik namun terbungkus wajah malaikat itu kini terus tersenyum smirk. "Lo lihat aja May, lo akan kembali bertekuk lutut di kaki gue," Batinnya.


 ………


Freya menapaki lorong-lorong kantor dengan anggun, rambut ikal kemerahan miliknya kini ia sanggul ke atas, terlihat simple namun tetap manis dan elegan. Menyisakan beberapa anak rambut yang menjuntai di sisi kanan kiri telinganya. Heels dusty pink menjadi pelengkap penampilan Freya yang kali itu memakai dress chifon selutut berwarna senada dengan heels yang ia pakai.


Mengetukkan heels itu perlahan, sorot mata coklat jernihnya seolah mampu menghipnotis semua pegawai pria yang saat itu memfokuskan perhatiannya ke arah gadis bertubuh semampai itu.


Freya tersenyum kecil, tak dapat dipungkiri jika ia sangat senang menjadi pusat perhatian semua orang.


"Elano... kenapa kamu ninggalin aku di apartemen kamu? udah aku bilang kan aku mau ke kantor kamu hari ini."


Menutup pintu ruangan kerja Elano dengan memasang wajah cemberutnya.


"Aku buru-buru tadi," jawab Elano tanpa melihat paras gadis itu.


Masih tidak bergeming dari duduk dan perhatiannya, kedua mata pria itu tetap fokus pada layar laptop.


Freya mencebikkan bibir kesal. "El, kalau aku lagi ngomong, kamu lihat aku dong."


Mengambil napas panjang sebentar, kini perhatiannya terarah lurus ke gadis itu.


"Iya maaf, sayang. Lagian disini gak ada yang menarik, yang ada hanya masalah kerjaan," jawab El.


"Justru itu aku pengen lihat kerjaan kamu," berhenti bicara sebentar. Freya kini duduk di sofa kantor El dan memainkan ponsel pipihnya.


"Oh ya El, kamu kan bos nya di sini, gimana kalau aku kerja di sini aja? jadi sekretaris kamu atau asisten kamu?"


"Apa aja deh, yang penting aku ada kesibukan selama di Jakarta. Gimana? boleh ya?"


Gadis itu merajuk, menggelayut pundak Elano manja.


"Tapi Fe,"


"Please, boleh ya sayang...?" Freya memasang wajah memelas andalannya, membuat Elano sangat sulit untuk membantah.


"Ya udah, aku lihat nanti deh. Posisi apa yang cocok buat kamu."


"Nah gitu dong, thanks honey." Freya mengecup pipi Elano, kemudian kembali duduk di sudut sofa dengan senyuman merekah sempurna. Memainkan ponsel pipihnya dan kini terlihat sibuk bermain dengan benda tipis itu.


 ____


"El, gadis tadi siapa?"


"Gadis yang kamu sapa waktu di kantin tadi siang," lanjut Freya.


"Oh, itu manager marketing di sini," jawab Elano ringan. Tanpa kegugupan sedikit pun.


"Namanya?" Freya memasang wajah ingin tahunya.


"Maya."


"Hah... Maya. Ex kamu itu?" kembali pertanyaan Freya dengan nada ingin tahu.


"Iya, kenapa? kamu cemburu?" goda El membuat bibir gadis itu mengerucut.


"Kamu jangan khawatir sayang, kita kerja profesional."


Khawatir? wajar saja jika Freya merasa takut kehilangan El, ia merasa benar-benar jatuh hati pada CEO muda itu.


Elano dan Freya masih menapaki lantai demi lantai, hingga mereka sampai pada lobi kantor. Kembali melangkah berdua menuju ke tempat parkir. Netra El tertuju pada sosok Maya yang memasuki sedan hitam milik Samuel. Ada perasaan kesal yang membuncah di hati El.


Tatapan tajam dan sinis El kini mendominasi wajah tampan pria itu.


Sejurus dengan El, Freya mengikuti arah netra Elano. Sedan hitam mengkilat berhenti di ujung jalan, sepintas dengan samar Freya melihat pengendara sedan mewah itu. Kening gadis itu sedikit berkerut.


Gak mungkin kan itu dia....?? bisik hati Freya tak percaya.


to be continue....