MySam

MySam
Jangan Anfal lagi Am....



Ddrrttt..... drrrttt..... drrrttt....!


Suara getar ponsel di atas nakas samping sisi ranjang berukuran kingsize itu bergetar dan diikuti oleh nada dering yang tidak terlalu nyaring.


Tubuh Samuel yang tadinya memeluk Maya dan membelakangi nakas itu lalu perlahan memutar menghadap nakas untuk meraih ponsel pipih berwarna hitam tersebut.


Sam melepas perlahan pelukannya di tubuh Maya yang masih terlelap seperti bayi, ia bahkan sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik yang ditimbulkan oleh ponsel pintar milik suaminya.


Sam dengan perlahan beranjak dari ranjang sebelum mengangkat panggilan dari ponsel miliknya.


Dahi Sam tiba-tiba berkerut saat melihat siapa yang menelponnya tengah malam begini.


"Selamat malam, iya dok?__ Oh baik-baik saya kesana sekarang__ Iya dok, terima kasih infonya__ Baik, selamat malam."


Klik.


Dengan wajah setengah panik, Sam mematikan sambungan seluler barusan. Dokter Frans, dokter spesialis yang menangani Samudra mendadak meneleponnya dan mengatakan jika keadaan Samudra kembali anfal.


Sam panik, melihat Maya yang masih tertidur-- Apakah dia harus membangunkan istrinya? Ah tidak-tidak....! Maya pasti akan sangat panik dan Sam tidak ingin mengganggu tidur Maya yang begitu nyenyak seperti bayi mungil. Sam tidak akan pernah setega itu--


Dengan hati-hati dan berusaha tidak membuat satu suara sedikit pun, Samuel berjalan ke arah almari pakaian dan mengambil celana jeans panjang serta hoodie abu-abu yang tertata rapi dari dalam almari pakaian tersebut.


Sam perlahan membuka knop pintu dan masih berusaha tidak membuat satu suara sedikitpun. Ia merasa lega ketika dilihatnya Maya yang masih terjaga dalam tidurnya.


Dengan perlahan pun, Samuel keluar dari kamar meninggalkan sementara istrinya.


....


Sam membangunkan bibik, mengetuk pelan pintu kamar bibik dan menunggu wanita setengah baya itu keluar dari dalam kamarnya.


"Eh-tuan muda--a-ada apa malam-malam begini membangunkan bibik?" tanya wanita tua dengan raut wajah mengantuknya. Karena sangat tidak biasa majikannya itu membangunkan dia, apalagi di tengah malam begini.


"Maaf aku ganggu bibik, tapi tolong nanti kalau non Maya bangun dan menanyakan saya, bibik tolong bilang kalau saya ada keperluan sebentar."


"Tapi tuanmuda mau kemana malam-malam begini?" tanya bibik yang heran, kali ini kesadarannya sudah sepenuhnya terkumpul.


"Samudra-- dia anfal lagi. Aku gak mau Maya panik. Dan tolong bibik jangan bilang dulu kalau aku ke rumah sakit. Dan jangan sampai bilang kalau Samudra anfal."


"Baik tuan, saya tidak akan bilang sama non Maya," angguk bibik.


"Ya udah, tolong bilang sama satpam suruh bukain gerbang ya bik."


"Baik, tuan muda."


Wanita setengah baya itu lalu berjalan tergopoh, meraih kunci pintu utama rumah lalu berjalan keluar dari mansion tersebut. Memberitahukan satu orang satpam yang berjaga di pos luar, jika majikannya hendak keluar dari rumah besar itu.


...


Samuel menghidupkan mesin sedan hitam mengkilapnya lalu keluar dari garasi yang telah dibukakan oleh bibik.


Selang beberapa menit kemudian sedan hitam itu telah keluar meninggalkan mansion mewahnya. Berkendara di sepanjang jalan masuk perumahan yang terlihat sunyi, hanya ada beberapa satpam yang selalu berpatroli guna menjaga keadaan sekitar perumahan elit tersebut.


...


Di sepanjang perjalanan pun, nampak sedikit lengang, arus lalu lintas tidak seramai seperti biasanya sehingga sangat memungkinkan buat Sam memacu sedan hitamnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sam tidak ingin terlambat tiba di rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan keadaan Samudra.


Dengan sangat apik Sam memacu sedan berkekuatan turbo itu, menekan gas dalam-dalam dan menghindari mobil-mobil lainnya yang melintas di depannya. Buat Samuel mengendarai kendaraan dengan kecepatan penuh seperti malam ini, bukanlah hal baru buatnya. Dulu Sam terbiasa memacu kendaraan roda empat maupun motor sportnya dengan cara seperti ini. Hanya setelah mengenal Maya, kebiasaan itu berubah. Tidak hanya kebut-kebutan di jalan raya, kebiasaan mabuk nya pun kini ia buang jauh-jauh.


Itu semua karena Maya-nya seorang.


......................


Samuel tidak bisa duduk tenang di dalam ruangan pribadi sang dokter. Poster soal info kesehatan banyak menempel di dinding bercat putih itu, dan juga aroma obat-obatan medis seolah menguar mengganggu indra penciuman Sam.


Setengah jam sudah ia menunggu dokter Frans memasuki ruang prakteknya. Hingga sosok pria berumur lebih dari setengah abad dengan kacamata tebal yang bertengger setia di hidung mancungnya memasuki ruangan dengan dominasi cat berwarna putih. Dokter berwajah oriental itu lalu duduk dan mempersilahkan Samuel untuk kembali duduk di kursinya.


"Silahkan duduk tuan Sam, jangan sungkan-sungkan," ucap dokter Frans.


Samuel mengangguk dan kembali duduk di kursi depan dokter spesialis itu.


"Apa yang terjadi dok?" tanya Sam panik.


Sang dokter pun mulai membuang napas berat lalu mengambil napas kembali secara perlahan. Membuat Samuel semakin merasa khawatir.


"Begini tuan Samuel--" dokter Frans kembali menjeda kalimatnya dan kembali membuang napas kasar.


"Keadaan Samudra secara tiba-tiba kembali mengkhawatirkan. Beberapa jam lalu anak itu mengerang kesakitan di kepalanya."


"Saya kira juga begitu, kemarin setelah operasi gegar otak, keadaan Samudra baik-baik saja. Semuanya normal tapi tiba-tiba saja malam ini dia mengalami sakit kepala yang sangat hebat."


"Lantas, sekarang bagaimana keadaan dia, dok?"


"Untuk sementara Samudra sudah saya beri obat penghilang nyeri. Dan untuk pemeriksaan lanjutan, kita lakukan besok pagi."


Sam mengusap wajahnya kasar, berkali-kali membuang napas berat lalu kembali fokus dengan apa yang dokter Frans ucapkan.


"Kira-kira-- Bagaimana keadaan Samudra, dok? Apakah sakit di kepalanya bisa sembuh total?"


"Kita lihat saja hasilnya besok."


Sam mengangguk pelan.


"Tapi untuk sementara waktu, kalian jangan dulu berbicara soal kecelakaan yang menimpa orangtuanya. Anak itu tidak boleh menerima segala hal yang bisa membuatnya berfikir terlalu berat," lanjut dokter Frans lagi.


"Baiklah dok," angguk Samuel.


"Sekarang-- apakah saya bisa melihat keadaan Samudra?"


"Boleh, tapi tolong anda tetap tenang dan jangan membuat suara sedikit pun."


"Baik, dok." Samuel menjawab sembari mengangguk pelan.


Pria itu pun keluar dari ruang praktek dokter Frans setelah ia bersalaman dengan dokter spesialis itu.


***


Sam memandangi wajah tampan itu, ia terlelap begitu damai. Sam lega, malam ini Samudra bisa kembali beristirahat. Ia berharap rasa sakit yang Samudra rasakan tidak lagi hadir menyiksa bocah itu lagi.


Sam menarik senyuman tipis ketika melihat wajah bak malaikat kecil itu. Bocah itu sungguh tampan, persis seperti almarhum ayah dan ibunya.


Dia memiliki kulit putih bersih, hidung mancung serta alis tebal melengkung mirip seperti Martha. Sementara bibir tipis merah muda yang terpahat sempurna dan juga wajah dengan rahang kotak, mewarisi dari Harris.


Anak itu benar-benar perpaduan dari kedua orangtuanya. Sam mengelus perlahan rambut hitam lurus legam Samudra.


Get well soon, my baby boy.... bisik Sam pelan.


Sam lalu mencium kening Samudra, lalu mengambil duduk di sofa yang berada di pojok kamar VVIP itu. Tubuhnya kemudian bersandar pada sandaran empuk sofa, tangannya ia lipat di atas dada lalu tanpa sadar kedua netranya mulai terpejam.


...****************...


Maya menggeliat kecil dari tidurnya, tangannya meraba ke arah sisi tubuhnya. Kosong-- di sana hanya ada dirinya yang masih terbaring di atas ranjangnya.


Maya mengucek perlahan netra yang masih terasa berat, jam weaker menunjukkan pukul lima pagi. Sedikit terlambat untuknya menjalankan ibadah sholat subuh. Biasanya Samuel yang membangunkannya kenapa sekarang Sam tidak membangunkannya untuk sholat berjamaah? batin Maya.


"Sam....." ucap Maya dengan langkah yang masih gontai.


Maya mencoba memeriksa kamar mandi dan ia tidak menemukan suaminya di dalam sana.


Mungkin Sam sudah di bawah. pikir Maya lagi. Ia pun lalu memasuki kamar mandi dan mengambil wudhu.


...


Beberapa saat kemudian, Maya keluar dari kamar, menuruni beberapa anak tangga dan berjalan menyusuri seluruh sudut ruangan di rumah besar itu.


"Sam.... kamu dimana?!" teriak Maya.


"Maaf non Maya, tuan muda-- ee-- tuan muda-- se-dang keluar sebentar," gagap bibik.


"Kemana bik?"


"Bibik tidak tau non."


"Udah lama keluarnya?" tanya Maya lagi.


"Ee--bee-luum terlalu lama si non," gagap bibik lagi.


"Non mau bibik siapin sarapan sekarang?" tanya wanita itu mencoba mengalihkan perhatian Maya dan berhenti menanyakan soal Samuel. Bibik tidak bisa lagi untuk berbohong, meski sedikit.


"Nanti aja bik, aku mau nunggu suamiku."


Bibik menarik napas panjang, merasa tidak enak telah berbohong pada nyonya mudanya.


Maya kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sedikit pikiran aneh kini terbersit di benaknya. Tidak biasanya Sam tiba-tiba pergi pagi-pagi buta seprti ini, batin Maya heran.


to be continue....