MySam

MySam
Kecemburuan Martha



Martha tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, mengingat sebentar lagi ia akan menikah dengan Sam. Walaupun ia merasa Sam tidak memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


Itu tak menjadi soal untuk Martha. Karena Sam adalah cinta pertama Martha, kata orang cinta pertama sangat susah buat dilupakan.


Dan itu benar saja, sejak keduanya berumur lima belas tahun gadis itu memang sudah mencintai Samuel.


Dari cinta monyet hingga berkembang menjadi cinta seorang gadis ke laki-laki. Namun sayangnya Sam tidak pernah menanggapi perasaan Martha.


Sam selalu dekat dengan gadis lain mulai dari Bella, Anna, Freya dan yang terakhir Maya.


Gadis kampungan menurut Martha. Karena hanya Maya gadis yang dekat dengan Sam dan memiliki status sosial berbeda.


Lalu om Harris... ah entah kenapa tiba-tiba sosok lelaki itu mengusik pikiran Martha.


Harris berbeda dengan Sam.


Martha memang sudah mengenal sosok Harris Pratama, bahkan sejak gadis itu masih sangat belia.


Saat Martha kecil ia selalu mendapat perlakuan khusus dari Harris, lelaki yang selalu membawa gadis kecil tersebut bermain di taman kota ketika kedua orang tuanya sedang sibuk dengan urusan pekerjaan mereka.


Harris juga yang selalu menenangkan tangis Martha ketika gadis kecil itu terjatuh pertama kalinya dari sepeda. Dengan lembut Harris muda memeluk tubuh mungil Martha. Meniup pelan luka yang menganga di lutut Martha.


Kejadian di hotel malam itu dan juga saat ia menginap di mansion Harris kini kembali mengusik pikiran Martha.


Pengakuan cinta Harris pun telah membuat Martha terkejut.


Perbedaan usia yang cukup jauh, walau dari tampang Harris terlihat tidak setua Baskoro ayah Martha.


Tubuh yang masih sangat atletis bahkan bisa dibilang sangat kekar untuk seusianya, rambut yang selalu tampil berpomade sehingga memperlihatkan wajah segar lelaki yang memiliki rahang kotak yang sangat tegas.


Dan lagi permainan liar Harris di ranjang memberikan sensasi tersendiri buat Martha.


"No... don't be stupid girl Tha, om Harris hanya sekedar permainan buat lo. Tujuan utama lo tetap Samuel." batin Martha kembali meyakinkan hati kecilnya.


Martha masih tidak bergeming dari tempat ia duduk, sebuah cafe di kawasan Mampang.


Hari ini ia ada janji dengan Amara sahabat gadis itu.


Berulang kali ia coba hubungi ponsel sahabatnya namun lagi-lagi panggilan selulernya selalu berakhir dengan nada tak terjawab. Ia mengaduk kembali latte hangat sebelum ia sesap perlahan.


"A surprise to meet you here, baby..."


Suara yang sangat Martha hafal.


Ciuman kecil tiba-tiba saja mendarat di puncak kepala nya kini.


"Om Harris..... gimana om juga bisa ada disini? om mata-mata in aku lagi ya?" kerucut Martha.


"Kebetulan aku juga nunggu temen di cafe ini sayang."


Harris duduk di salah satu kursi samping Martha.


"Kamu nunggu siapa? calon suami kamu?" kini ekspresi Harris sedikit menyelidik.


"Gue nunggu Amara. Udah deh om jauh-jauh dari Tha ntar orang-orang ngira Tha simpanan om om lagi." kerucut Martha, Harris terkekeh sebentar.


"Bukankah itu memang benar sayang?" bisik Harris, ia dekatkan bibirnya di telinga Martha. Oh sit... berhasil membuat libido gue memuncak, batin Martha.


Wajah Martha kini memerah dan Harris tahu apa yang kini gadis kecilnya itu pikirkan.


"Ntar malam aku tunggu di mansion ku sayang." bisik Harris lagi. Kembali wajah Martha semakin memerah, Harris semakin tersenyum geli melihat ekspresi gadis itu.


"Hey baby.... sorry lama nunggu."


Tiba-tiba saja seorang wanita cantik dengan pakaian sangat seksi mendekat ke arah Harris, tanpa malu-malu ia mencium sebentar ujung bibir Harris.


Iris Martha membola melihatnya. Ada desiran aneh di hati gadis itu, semacam rasa cemburu melihat Harris begitu saja di cium perempuan lain.


"Kita berangkat sekarang sayang?" tanya wanita itu. Lengannya kini menggelayut manja di pinggang Harris.


Martha mencibir kesal, kedua netranya ia rotasikan ke arah lain.


"Aku pergi dulu sayang, nanti malam aku menunggu mu hunny..." bisik Harris yang diikuti embusan napas kesal Martha.


Harris berjalan keluar dari cafe, bersama wanita muda yang sangat cantik itu. Martha sengaja masih memandang kepergian mereka. Terlihat salah satu tangan Harris bergerak ke pantat seksi wanita itu.


"Sialan... dia sengaja membuat gue cemburu?" batin Martha kesal.


"Om Harris ada bik?"


Tanya Martha langsung, ketika sang bibik membuka pintu besar mansion milik Harris.


"Ada non," jawab sang bibik.


Tanpa menunggu dipersilahkan, Martha langsung berjalan mengetukkan heels nya memasuki mansion Harris.


"Om Harris ada di kamarnya bik?" tanya gadis itu lagi.


"Iya non tuan ada di kamar." angguk sang bibik.


Tanpa menunggu lama lagi gadis itu lantas berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Harris, nampak wajah kebingungan si bibik yang melihat tamu sang tuan dengan seenaknya berjalan tanpa menunggu izin dari nya.


"Om Harris....." pekik Martha begitu gadis itu membuka pintu kamar Harris.


"Kamu udah datang sayang...."


Harris tersenyum mendekati gadis itu, ia lingkarkan lengannya di pinggang ramping Martha.


Kepala Harris sedikit ia dekatkan ke leher Martha, serbuan kecupan Harris kini merambah ke seluruh leher jenjang nan putih milik Martha.


"I miss you hunny.... aahhh sshhh...." desah Harris.


Martha menggeliat geli, kembali desiran aneh kini memenuhi seluruh aliran darah Martha.


"Malam ini kamu temani aku ya sayang..." bisik Harris lagi, laki-laki itu masih melancarkan aksi liarnya.


Kepala Harris bergerak turun dan bibirnya mendarat di bibir Martha dalam ciuman lembut. Lidah Harris menari dengan lidah Martha. Satu tangannya tenggelam di dalam rambut bergelombang Martha dan tangan yang lain memeluk pinggang Martha.


"Aahhhh... sshhhh... om Harris...." giliran Martha men^desah pelan, kini jemari gadis itu meremas rambut Harris. Ia sedikit mendongak seolah memberi ruang gerak Harris untuk lebih menenggelamkan kepalanya di leher putih nya.


Harris mencium leher Martha membabi buta. Kembali Harris meninggalkan hickye di sana, tanda kepemilikan Harris.


"Siapa wanita tadi?" tanya Martha di sela-sela gerakan liar Harris, Laki-laki itu masih melancarkan aksinya, kembali ia cium bibir Martha lembut.


"Wanita yang mana sayang?" kini gantian Harris bertanya, tanpa menghentikan pergerakan nya di tubuh Martha.


"Om, aku serius." kali ini Martha mencoba tegas, membuat Harris menghentikan sejenak cumbuan nya.


Harris tersenyum sebentar, ia memandang paras cantik Martha walau dengan perona bibir yang kini sudah terlihat agak acak-acakan.


"Oh... yang tadi pagi di cafe itu?" tanya Harris, ia tersenyum sebentar. "Cuma teman sayang..." lanjut Harris. Laki-laki itu kini mengelus lembut pipi Martha.


Gadis itu masih mengerucutkan bibir, kedua lengannya kini ia silangkan di atas pinggang.


"Kamu cemburu ?" Harris meraih kedua pundak kecil Martha dan dihadapkan ke hadapannya.


Kedua mata nya kini menatap dalam paras Martha. "Please, katakan kalo kamu cemburu sayang." desak laki-laki itu lagi, namun kali ini dengan nada yang sangat lembut.


Martha terdiam, masih dengan kerucutan bibir dan lengan yang tetap menyilang diatas pinggang.


"Aku senang kamu cemburu baby... itu tandanya kamu cinta kan sama aku." bisik Harris lagi.


"Aku gak cemburu, ngapain aku cemburu? sebentar lagi aku mo nikah dan om Harris bukan apa-apa buat ku." ketus Martha berbohong.


Wajah Harris mendadak terperangah, mendengar kalimat yang sama sekali tidak ia harapkan meluncur keluar dari mulut Martha.


Kini laki-laki itu keluar dari kamarnya dengan raut wajah kaku. Martha terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu, perkataan itu tidak seharusnya keluar dari mulutnya.


Dalam lubuk hati Martha ia sangat menyesal atas ucapannya tadi. Namun gadis itu terlalu angkuh mengakuinya.


"Om Harris mau kemana?" kini Martha mengikuti langkah Harris keluar dari dalam kamar.


Harris membisu, ia hanya melangkah pergi meninggalkan gadis itu. Dengan cepat Harris memasuki Jeep Wrangler miliknya dan tancap gas menjauh dari halaman mansion pribadinya.


"Om Harris....!!" Seru Martha, percuma.... Harris sama sekali tidak mengindahkan teriakan Martha.


Ekspresi menyesal Martha kini menghiasi paras cantiknya, ia tidak bermaksud melukai Harris.


Ia cemburu, benar-benar cemburu dengan perempuan cantik itu. Sesaat gadis itu masih mematung di ambang pintu, Ia akan menunggu dokter itu pulang.


Kini tiba-tiba Martha menginginkan Harris memutar kembali mobilnya dan memeluknya erat.


to be continue...