MySam

MySam
4 Mata dengan Elano



"Freya.... hamil....?" lirih Maya dengan ekspresi wajah sendu. Sam yang melihat perubahan raut wajah istrinya, dengan cepat menyadari kekeliruannya. Oh... harusnya ia tidak mengatakan soal kehamilan Freya, itu pasti akan membuat Maya merasa terpojok.


"Honey....." Sam meraih jemari Maya, menggenggamnya erat dan membawa jemari itu dalam kecupan hangatnya.


"Are you okay....?" tanya Sam lembut.


Maya hanya mengangguk pelan. "I'm fine, Sam." Maya tersenyum dan menjeda sebentar kalimat yang akan terucap darinya.


"Jadi... kamu akan menemui Elano?"


"Iya."


"Terus soal pekerjaan itu....?"


Sam membuang napas berat, memandang bingung ke arah Maya.


"Di perusahaan ku saat ini hanya membutuhkan posisi seorang sekretaris untukku May."


"Terus....?"


"Ya.... apa aku harus menempatkan dia jadi sekretaris aku? Aku gak mau melukai hati kamu, sayang."


"Sam...." Maya tersenyum sebentar, kali ini ia meraih tangan Samuel.


"Aku gak marah, asal kamu gak menyembunyikan apapun dari aku___" kembali Maya menjeda kalimatnya.


"Kalau memang dia butuh pekerjaan, gak ada salahnya kamu beri dia kerjaan itu Sam."


"Kamu yakin?"


"Hhmm..." angguk Maya. "Asal kamu gak macam-macam sama dia di belakang aku." Maya melanjutkan, sedikit tersenyum menggoda ke arah Samuel.


"Come on, baby.... aku gak mungkin tega nyakitin hati kamu." Sam kini sedikit cemberut.


"Hehehe iya maaf, suamiku.... aku becanda aja tadi. Jangan marah yah...."


"Dimaafin, tapi ada syaratnya." Sam kini berekspresi sedikit terlihat curang.


"Iihh... kan... sama istri sendiri pake syarat-syarat lagi," kerucut Maya sebal.


"Ya udah, apa sya___"


Belum sempat Maya meneruskan kalimatnya, tiba-tiba ciuman lembut mendarat begitu saja di ujung bibirnya. Membuat kedua netra Maya membola kaget. Namun tak lama kemudian dia terlihat membalas ciuman Samuel, tidak mempedulikan pandangan iri dari beberapa pengunjung cafe yang siang itu berada disana.


"Je t’aime chéri."(Aku cinta kamu sayang) bisik Samuel.


"Je t’aime aussi, Sam."(Aku juga cinta kamu, Sam)


Samuel menjeda ciumannya, menjauhkan sejengkal wajahnya dari Maya.


"Kamu bisa bicara bahasa Perancis?" tanya Samuel terkejut.


"Bisa dong.... weeekkk...." ujar Maya sambil menjulurkan lidahnya ke arah suaminya. Dan tentu saja membuat Samuel terkekeh geli melihat kelakuan gadis yang saat ini telah menjadi istrinya.


....


Samuel terlihat duduk tenang di salah satu kursi yang berada dalam sebuah ruangan dengan penjagaan ketat. Pria bertubuh atletis dan dengan penampilan rapi itu terlihat sangat mencolok jika dibandingkan dengan para penjenguk lainnya.


Hingga ekspresi wajah Samuel terlihat berubah seiring dengan datangnya seorang pria berpakaian serba orange bernomor punggung dua puluh yang dikawal oleh salah satu petugas lapas.


"Ngapain Lo kesini, hah....?! mau ketawain gue?!" hardik Elano kesal.


"Gue kesini mau bicara baik-baik sama Lo." Samuel bersikap lebih tenang di hadapan Elano.


Sementara Elano kembali terlihat mendengus kesal, duduk dengan angkuh di hadapan Sam.


"Mau bicara apa Lo, hah?! Lo udah bosan sama Maya? Mo nyerahin Maya ke gue? hah?!" ledek Elano, pria itu berkali-kali berdecih sambil berseringai licik.


"Brengsek Lo !!" Hampir saja Sam melayangkan tinjunya ke wajah Elano. Jika saja tidak ada petugas yang menjaga di sana, sudah pasti Elano habis di tangan Samuel.


"Jangan pernah nyebut nama istri gue dengan mulut bajingan Lo itu!!" Geram Samuel, ia berhenti sejenak.


"Ini soal Freya," lanjut Samuel lagi. Jika saja ia tidak berjanji sama Freya, Sam juga malas bertemu dengan pria songong dan sok keren macam Elano.


"Hahahahaha....!!" Elano tergelak lebar, tawa yang terkesan sangat meremehkan.


"Ada apa dengan perempuan itu, hah?!"


"Freya hamil anak Lo."


"Terus....?"


"Kalo Lo laki-laki, Lo harus tanggung jawab sama anak itu," ucap Sam serius.


"Hahaha....!!" kembali Elano tergelak dengan ekspresi begitu menyebalkan, membuat Sam semakin mengepalkan erat tangannya, menahan emosinya yang memuncak melihat kelakuan Elano.


"Kenapa Lo begitu peduli sama dia?! Lo masih mencintai perempuan itu, hah?!" kali ini Elano mendecih sinis, memandang meremehkan ke arah Sam.


"Gue heran sama Lo, kenapa masih peduli sama Freya?! jangan-jangan anak yang Freya kandung itu anak Lo ?!" Elano tersenyum smirk, membuat Samuel benar-benar kesal.


brakkk....!!


Samuel menggebrak meja dengan sangat kencang, membuat narapidana dan pengunjung yang lain terlihat sedikit kaget dengan suara gebrakan Samuel.


"Lo emang banci, El." Geram Sam, menatap wajah Elano lekat dengan sorot mata tajamnya.


"Gue gak heran kalo Maya memilih ninggalin Lo dan lebih milih gue," kali ini Sam yang giliran tersenyum smirk.


"Denger ya El, jika Lo emang laki. Lo buktikan dengan tanggung jawab terhadap kesalahan Lo. Jangan jadi banci pengecut kek gini!!" ucap Samuel kesal.


Samuel pergi meninggalkan Elano yang kini berwajah masam.


¤¤


Sam menghentakkan kepalan tangannya di kemudi bundar. Merasa begitu kesal dengan tingkah Elano. Sia-sia gue menemui pria itu, batin Sam kesal.


Sam mulai menekan dalam gas mobilnya dan melajukan ke arah kawasan Bintaro, ke arah cafe milik Maya.


...


Sam menghentikan sedan hitamnya, keluar dari mobil dengan ekspresi kesalnya.


"Sayang.....!!" seru Maya terkejut begitu melihat Samuel yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, apalagi disaat sebelum jam makan siang.


"Hey.... kamu gak ada masalah, bukan?" tanya Maya heran, setelah mencium kedua pipi Samuel, Maya menggandeng lengan suaminya untuk sekedar duduk di salah satu sofa motif garis warna-warni.


"Ada apa, sayang? kok keliatan bete gitu?"


Sam menghela napas panjang. Kembali memeluk Maya yang duduk di sampingnya.


"Aku ambilin minuman dingin dulu ya?"


"Gak usah sayang, aku cuma butuh kamu," ujar Samuel, semakin menghamburkan wajah tampannya di ceruk leher Maya.


"Ada apa sih? ada masalah sama kerjaan kamu?"


Sam menggeleng.


"Terus....?"


"Aku baru aja ketemu Elano, si brengsek itu."


Maya menarik sebentar kedua alis tebalnya.


"Ada masalah sama dia?"


"Aku membicarakan masalah kehamilan Freya." Jawab Sam.


"Oh...."


Maya hanya bisa ber-oh-ria.


"Kok oh sih, sayang?"


"Emang ada apa sama El, sih? pembicaraan kalian gak berhasil ya?" tanya Maya yang merasa ingin sedikit meringankan masalah Sam.


"Orang brengsek itu tidak pernah berubah, tidak mengakui kesalahan dia dan yang membuat aku kesal tanpa bisa memukulnya, dia___" menjeda sejenak ucapannya.


"Dia apa?"


"Dia berani menyebut nama kamu dengan mulut lancangnya." Sam melanjutkan, membuat Maya tersenyum tenang.


"Sam.... kalo kamu emosi menghadapi dia, lalu apa bedanya kamu sama dia, hhmm?" Maya mengelus lembut wajah Samuel.


"Aku gak mau suami aku menjadi orang temperamen dan arogan seperti dulu." Maya kini menatap lekat manik mata Samuel.


"Dan jika pembicaraan kalian soal kehamilan Freya tidak berhasil. Aku rasa ini bukan urusan kita Sam. Biarlah mereka yang menyelesaikan. Lagipula kamu sudah berusaha membantu dia, kan?"


"Iya, kamu benar sayang," angguk Sam pelan.


"Aku kangen kamu, dear....." bisik Sam.


"Hhmm.... kan keluar manjanya, hehehehe...." Maya terkekeh, mencubit gemas hidung mancung Samuel.


"Sayang.... mau kemana?"


Maya menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Samuel, "Mau mengambilkan minuman dingin buat kamu," ucap Maya dengan senyuman mengembang penuh di sudut bibir peachnya.


Kemudian ia kembali berjalan menuju pantry cafe, meninggalkan sementara Samuel yang masih terduduk dengan senyuman bahagianya.


to be continue....