MySam

MySam
Kamu Yang Membawa Aku Pulang, May



Maya mendekat, meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Menempelkan di salah satu pipi chubbynya lalu menciumi punggung tangan itu lembut. "Syukurlah kamu sudah sadar, Sam," pekik Maya bahagia. Suster yang melihatnya langsung memeriksa denyut nadi Sam dan bergegas berjalan keluar dari ruang ICU.


"Sam... aku takut kamu pergi. Aku takut kamu ninggalin aku, Sam..." Tangis Maya. Masih membawa punggung tangan Sam ke dalam hangat pipinya, menciumi tangan lemah itu.


Samuel yang masih lemah hanya bisa tersenyum kecil, melirik sedikit ke arah Maya dan menarik senyuman manisnya. Ingin rasanya Sam berdiri meraih gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya, namun tubuhnya saat ini yang masih begitu lemah membuatnya mengurungkan niat itu.


"Maaf nona, biarkan saya memeriksa pasien. Tolong Anda keluar sebentar," ucap dokter Anwar yang langsung mendekati Sam dan memeriksa keadaan pria itu. Maya mengangguk pelan, walau dalam hati, ia masih ingin berada di sana, di samping pria yang ia cintai.


Tubuh Sam yang terbaring kaku, tidak bisa menolak titah sang dokter. Merotasikan bola matanya ke arah Maya, hanya bisa terbaring mematung melihat kepergian Maya. Ia ingin mencegahnya namun bibirnya masih kelu, sangat berat walau hanya untuk sekedar mengucapkan satu patah kata pun.


Sang dokter masih terlihat berkonsentrasi memeriksa keadaan Sam, hingga akhirnya laki-laki separuh baya itu memerintahkan suster untuk mengurus kepindahan kamar Samuel.


...


"Berikan dia kamar terbaik di rumah sakit ini, Sust." Anita menjawab pertanyaan suster yang menawarkan jenis kamar rawat untuk Sam.


Suster tersebut hanya mengangguk pelan dan berlalu menyiapkan segala kebutuhan pasien.


Raut wajah lega Anita nampak terlihat jelas, begitupun dengan Maya. "Kamu mau pulang dulu, Maya? istirahatlah."


"May masih mau di sini. Mama Anita aja kalau mau istirahat, May gak apa-apa kok nunggu Sam sendirian." Maya memohon ingin tetap tinggal di rumah sakit, ia tidak ingin sedetik pun meninggalkan Samuel sendiri.


"Ya udah, kamu bilang dulu sama mama kamu kalau ingin menginap di rumah sakit," jawab Anita, membelai lembut rambut hitam Maya. Gadis itu mengangguk, permisi sebentar untuk menghubungi Siska sang mama.


....


Anita kembali menyusuri lorong rumah sakit, menuju lift untuk bisa naik ke lantai lima. Tempat dimana kamar rawat Samuel, masih dengan Maya yang mengekor di sampingnya. Setelah suster mengatakan jika Samuel telah memasuki kamar VVIP di lantai lima Anita dan juga Maya langsung bergegas menemui Sam.


"Ini Ma, kamar 507." Maya menunjuk.


Anita langsung membuka pelan knop pintu kamar. Mereka disambut oleh ruangan luas dengan dominan warna putih yang khas. Nakas kecil dan juga sofa panjang berwarna merah maroon menambah kesan nyaman dalam ruang luas dengan pengharum ruangan aroma pinus.


Anita mendekat ke arah Sam, putranya masih terbaring dengan mata tertutup. Mungkin dokter memberikan obat tidur agar pria itu bisa istirahat lebih nyaman lagi.


Wanita itu membelai rambut anaknya, air mata kini mengalir jatuh membasahi kedua pipi Anita.


"Mama istirahat dulu ya, Sam akan baik-baik aja kok." Maya mendekat ke arah Anita, mengusap pundak wanita itu.


"Iya, Sam anak yang kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini," lirih Anita sesegukan.


"Mama lebih baik pulang dulu, besok pagi-pagi Mama akan kembali ke sini. Kamu gak apa-apa kan sendirian di rumah sakit?" tanya Anita.


"Iya, biar May yang jaga Sam. Mama Anita pulang dan istirahat aja."


"Makasih ya, sayang." Anita meraih tubuh mungil Maya, memeluknya erat dan kembali mengelus puncak kepala Samuel sebelum ia berlalu dari sana.


"Mama hati-hati ya," ucap Maya lagi, kembali memeluk wanita itu sebelum ia berlalu pergi.


"Mama tinggal dulu, sayang," lirih Anita lagi. Beberapa detik kemudian wanita itu berjalan mengetukkan heels nya meninggalkan ruangan VVIP luas tersebut.


....


Setelah ia menusuk Sam dengan pecahan kaca botol, El langsung melarikan diri. Meninggalkan Sam yang terkapar tidak berdaya, sementara pengunjung bar lainnya terlihat sibuk memberikan pertolongan untuk Sam.


"Aaarrggghhh....!! Sialan...!! Bangsat...!!" umpat El berkali-kali.


Meremas kasar rambut hitamnya dan berjalan menuju balkon apartemen. Gelas kristal berisi wiski masih setia dalam genggaman tangan El. Seolah minuman beralkohol itu tidak dapat menenangkan hati dan pikirannya yang masih saja berputar di sekitar kasusnya.


Iya, tentu saja perbuatannya itu bisa dikatakan sebagai kasus pidana yang mengakibatkan celaka pada orang lain. Kini El terlihat menghubungi nomor seseorang dan berbicara dengan ekspresi serius. "Halo pengacara Adrian...."


....


Pagi bergulir perlahan, menyembulkan warna merah jingga melalui kaca jendela besar kamar rawat inap Samuel. Cahaya mentari pagi yang masuk dengan leluasa dari kaca jendela tak bertirai itu membuat Maya memicingkan sedikit kelopak mata lentiknya. "Hoaamm...." Menguap sebentar dan menarik kedua lengannya, melakukan stretching ringan untuk melemaskan otot-otot kakunya yang setelah melakukan ibadah sholat subuh, gadis itu kembali tertidur di kursi kecil samping hospital bed yang Sam tempati.


"Morning, baby...." sapa Maya, tentu saja Sam masih terlelap. Entah kenapa pengaruh obat tidur yang diberikan dokter sangatlah manjur, membuat pria yang ia cintai berlama-lama tertidur pulas. Ingin rasanya Maya membangunkan Sam dan melihat kembali iris coklat pria itu yang selalu memandang wajahnya lembut. Selalu memperlakukan Maya bak ratu. Maya merindukan senyuman Samuel, merindukan sifat posesif dan juga manja Sam terhadapnya.


"I miss you, my Sam..." bisik Maya. Mengamati tiap lekuk wajah tampan itu. Sungguh ciptaan Tuhan terindah yang ia miliki.


Maya tersenyum lirih, mencondongkan wajahnya ke wajah Samuel. Wajah itu begitu damai, begitu teduh.


"Kenapa kamu tidur begitu lama, Sam? Apa kamu tidak tau kalau aku merindukan kamu, sayang?" bisik Maya lembut. Kali ini ia mengecup tipis pipi yang begitu halus itu. Rahang kotak sempurna Sam tetap terlihat menawan meski pria itu terlihat tidak berdaya.


"Aku mohon Sam, bukalah mata kamu. Jangan membuat aku ketakutan setengah mati, Sam..." bisik Maya lembut.


Maya perlahan bangkit dari duduknya, membenarkan sebentar rambut sebahunya. Kini rambut hitam itu ia gelung tinggi, memperlihatkan leher putih Maya. Berjalan menuju kamar mandi dalam dan berdiri di depan kaca wastafel. Gadis itu ingin membasuh muka terlebih dulu, menghilangkan rasa lelahnya.


Mata Maya membola tiba-tiba ketika keluar dari kamar mandi dan melihat Samuel mulai membuka kedua matanya, mengangkat salah satu lengan yang menempel selang infus. Mengamati lengannya perlahan seperti berfikir kenapa dia berada di ruangan dengan segala infus obat dan juga darah yang menancap di nadinya.


"Sam...." pekik Maya girang.


"Kamu udah bangun? Aku seneng kamu bangun, sayang." Maya begitu saja setengah berlari mendekat ke arah Samuel. Tersenyum lebar dan memeluk tubuh kekar Sam yang masih terbaring lemah.


"Alhamdulillah kamu udah bangun, Sam. Kamu tau gak kalo aku takut setengah mati melihat kamu tertidur begitu lama," lirih Maya manja. Masih memeluk tubuh Samuel yang terbaring di atas kasur rumah sakit.


Samuel mengelus pelan puncak kepala Maya yang menempel di dadanya. "Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Maya. Kamu tau itu?" ucap Sam lembut, masih mengelus puncak kepala gadis itu.


Kini Maya mendongak sedikit, menatap manik mata coklat milik Samuel. "Aku tau, Sam. Aku percaya," sedikit tersenyum, Maya kini menghapus jejak air mata yang seolah tidak ingin berhenti.


"Kemarilah, sayang. Aku ingin memeluk kamu erat." Sam menjulurkan kedua lengannya terbuka lebar. Memeluk Maya begitu gadis itu berhambur ke dalam dekapan dada bidang miliknya.


"Kamu yang menyelamatkan aku, May," bisik Sam. "Kamu yang membawa aku pulang, kembali padamu," lanjut Sam lagi.


"Maksud kamu?" tanya Maya, kini ia sedikit menarik tubuhnya, memandang wajah Samuel bingung.


Sam hanya tersenyum kecil lalu menarik kembali tubuh Maya untuk ia peluk. "Aku bertemu kamu dalam mimpi. Kamu yang menuntunku untuk kembali padamu," ucap Sam lagi, masih erat memeluk tubuh mungil itu. Sesaat mereka ingin menikmati kebersamaan itu. Hanya dengan sebuah pelukan hangat, bagi Sam dan Maya itu sudah lebih dari cukup.


"Aku akan selalu mencintai kamu. sayang..." Sam berbisik lembut.


to be continue...