
Suara sirine mobil polisi kini mulai meninggalkan kediaman rumah mungil Samuel. Sebelum dibawa oleh petugas, sempat Elano melirik sinis ke arah Maya dan Sam. Dengan kedua tangan yang diborgol ke belakang, Elano seolah memandang penuh dendam untuk keduanya.
"Semoga ini yang terakhir kali dia jahat ke kita," ucap Maya seraya mengeratkan pelukannya di pinggang Samuel.
Sam hanya mengangguk pelan lalu mencium lembut puncak kepala Maya. Suara sirine kini telah benar-benar terdengar samar dan mulai menjauh. Baik Maya maupun Samuel masih menatap kepergian rombongan kepolisian setempat yang membawa Elano pergi. Sam semakin mengeratkan pelukannya di sisi kiri tubuh Maya, mengelus lembut surai hitam Maya yang terlihat sedikit berantakan karena ulah Elano tadi.
"Apa yang akan terjadi sama dia, Sam?"
"Bajingan itu akan dipenjara untuk waktu yang lama, sayang. Dia akan segera dipulangkan ke Indonesia untuk kasus pembunuhan dan kekerasan."
Maya menatap wajah Samuel sesaat, hembusan napas panjang menjadi tanda kelegaannya mendengar penuturan Sam.
"Semoga dia gak nyakitin kita lagi, suami."
"Aku gak akan biarkan itu terjadi, May. Mulai sekarang harus ada bodyguard yang menjaga kamu." Sam memandang wajah Maya, menyibak beberapa helai anak rambut yang menjutai menutup sebagian wajah Maya.
"Astagfirullah.... Samudra...." pekik Maya begitu menyadari bocah lucu itu yang tadi ia suruh masuk ke dalam kamar di lantai dua.
"Dimana Am, sayang?" tanya Samuel khawatir.
"Di lantai dua, tadi aku suruh dia masuk kamar. Dia pasti ketakutan, Sam."
Maya segera saja berlari memasuki rumah minimalis tersebut, menaiki beberapa anak tangga dengan tergesa dan membuat Sam sedikit khawatir dengannya.
"Hati-hati sayang....!" seru Samuel, ia pun mengikuti langkah kaki Maya. Menaiki beberapa anak tangga hingga membawanya ke lantai dua untuk melihat keadaan Samudra.
...----------------...
"Maafkan aku sayang."
"Maaf untuk apa?" tanya Maya sembari memainkan jemari kuat namun lembut milik Sam. Maya semakin menenggelamkan wajahnya kedalam dada bidang milik Samuel.
"Aku gagal lagi menjaga kamu."
Maya tersenyum, mengalihkan posisinya dan menyorot lembut ke arah Samuel. "Kamu gak gagal, sayang." Maya tersenyum lembut, jemari lentiknya dengan lembut mengelus rahang kotak suaminya. Kecupan-kecupan kecil dari bibir Maya mengecup leher dan pipi Samuel.
"Kamu tadi udah nyelametin aku, suami." Maya menjeda sebentar kalimatnya dan semakin mendaratkan kecupan-kecupan lembutnya di leher kokoh Sam.
"Aku tadi sempat takut kamu kenapa-napa. Aku- A-ku gak bisa bayangkan jika hidup tanpa kamu, Sam."
Lirih Maya dengan kepala tertunduk.
"Maafkan aku sudah bikin kamu takut, sayang."
Samuel memeluk erat tubuh Maya yang berada dalam pangkuannya, berkali-kali ia menciumi puncak kepala Maya.
"Sekarang kamu istirahat, Samudra biar aku gendong ke kamar dia."
"Biarlah dia tidur disini, Sam."
Samuel mengangguk pelan, menyusurkan kedua lengannya untuk mengangkat tubuh mungil Samudra yang berada di atas sofa dalam kamar mereka, lalu ia baringkan tubuh anak itu ke tengah ranjang berukuran kingsize tersebut.
...
Maya kini tengah berada di salah satu cafe terkenal di kota Milan. Duduk di sofa panjang dengan warna merah menyala yang menghadap langsung ke jalanan kota Milan.
Manik matanya menyorot layar ponselnya yang sedari tadi ia genggam, memperlihatkan beberapa postingan dari teman-temannya yang ada di Jakarta.
Kemarin malam adalah acara pertunangan Airin dengan Bayu. Setelah sekian lama pasangan yang gemar bertengkar itu berpacaran, Bayu pun akhirnya melamar Airin.
Sayang sekali Maya dan Samuel tidak bisa hadir di acara pertunangan mereka karena Sam tengah disibukkan dengan pekerjaan. Dan kabarnya acara pernikahan keduanya akan dilaksanakan dua bulan lagi, semoga saja dirinya dan Sam bisa menghadiri acaranya sesuai permintaan Airin.
Maya tertegun ketika musik instrumental yang sedari tadi diputar di cafe itu tiba-tiba berganti dengan lagu favoritnya dan Samuel, A Thousand Years-Christina Perri.
Tidak menyangka jika Maya akan mendengar lagu favorit mereka disini.
Suara dentingan pun berbunyi saat pintu cafe terbuka yang menandakan ada seseorang yang memasuki cafe. Maya tersenyum cerah ketika melihat sosok Samuel dan Samudra yang berjalan beriringan menelusuri tempat mencari keberadaannya, ia lalu melambai saat mata tajam favoritnya itu menemukannya.
Sam tersenyum menghampiri Maya, membungkukkan badannya mencium lembut kedua pipi Maya. Sementara Samudra langsung saja duduk dekat Maya dengan tangan melingkar di lengan onty tersayangnya.
"Maaf lama, ada masalah di kantor," ujar Samuel seraya menarik kursi dan duduk di hadapan Maya.
"Gak apa-apa kok suami. Emang ada masalah apa?"
Sam terlihat menghela napas dan menggeleng. "Orang suruhan Elano yang membuat perusahaan papa merugi, datang menemui aku dan mendesak meminta kesempatan kedua." Sam menjeda sejenak, meraih tubuh mungil Samudra dan mendudukan kedalam pangkuannya.
"Lalu ada client yang dirugikan olehnya datang ke kantor lalu meminta pertanggungjawaban perusahaan."
"Ya Allah, lalu permasalahannya udah selesai?"
Sam mengangguk.
Kamu belum pesen makanan?" tanya Samuel sedikit menarik kedua alisnya.
"Belum."
Sam lalu memanggil pelayan dan memesankan makanan mereka. Sedangkan Maya hanya diam memperhatikan Samuel, terlihat jelas sekali pria itu kelelahan. Akhir-akhir ini suaminya itu sering terlihat begadang karena mengurus masalah kantor. Belum lagi permasalahan soal kejahatan Elano yang masih mengharuskannya untuk diminta keterangan lewat teleconference.
Sam kesulitan membagi waktu, entah untuk sekedar beristirahat atau menghabiskan waktu berdua dengannya. Waktu Samuel semakin tersita karena tugas Samuel yang menumpuk.
Maya bangkit untuk menggeser kursinya ke samping Samuel, duduk di sana dengan tangannya menjulur membelai rahang kokoh suaminya.
"Kamu perlu istirahat, sayang. Jangan kerja terlalu keras," ujar Maya khawatir, bibirnya mengerucut melihat wajah lelah Samuel. Tidak tega melihat suaminya itu yang nampak kelelahan.
"Aku baik-baik aja sayang." Sam tersenyum.
"Kamu makan ya sayang, aku suapin."
"Am juga disuapin cama Onty..." rengek Samudra.
"Am juga minta disuapi?"
Samudra mengangguk.
"Hm, sini-sini Onty suapin duo Sam nya Onty yang manja ini," kekeh Maya lucu.
Samuel tersenyum, mata tajamnya menyorot teduh wajah istrinya yang kini terlihat sibuk memasukkan beberapa potong daging panggang ke mulut mungil Samudra.
Maya benar, dirinya dan Samudra adalah dua Sam milik Maya yang sangat mencintai gadis itu, meski Samudra bukan anak kandung Maya namun bocah itu terlihat menyayangi Maya seperti ibu kandungnya.
to be continue...