MySam

MySam
Kebimbangan



Sam mengantarkan Maya ke ruangan gadis itu sebelum kakinya melangkah menuju ruangannya sendiri, meninggalkan Maya yang memandangi punggung Sam dengan tatapan penuh cinta.


Kepalanya terus mencari cara agar hatinya tidak melambung penuh harapan, setidaknya sebelum pria itu benar-benar sudah bercerai dengan Martha serta restu Anita telah berpihak padanya. Tapi Maya tidak bisa menahan harapan yang terus melambung dalam dada, akankah pertemuan dengan Anita nanti akan menyisakan rasa hangat dan penerimaan?


"Sudah datang rupanya."


Maya menoleh dan mendapati Elano sudah berada tepat di hadapannya sambil memegang gelas kopi. Gadis itu mengerjapkan mata, sejak kapan El berada di sana, tersenyum hangat.


"Pagi, El," sapa Maya berusaha mencairkan suasana dan rasa canggung di dadanya. Dia masih ingat kejadian kemarin siang saat di kantor, pertikaian El dengan Sam gara-gara dirinya.


Pria dengan tubuh tegap itu menghela napas lalu tersenyum menyesal. "Maafkan aku." Dia menyerahkan salah satu gelas berlogo WP ke arah Maya. "Aku rasa aku kehilangan kendali kemarin. Maaf aku sudah membuatmu tidak nyaman."


Maya tersenyum, ini adalah El yang ia kenal. "Tidak masalah El, aku juga yang salah kemarin."


"Tapi aku serius dengan ucapan ku beberapa hari yang lalu May, aku masih mencintai kamu." Wajah El kembali serius.


"Kamu tau kan Sam udah menikah dan rumor yang beredar tentangnya." lanjut El lagi, membuat senyum Maya menghilang.


"Tapi Sam akan bercerai dengan istrinya dan anak yang ada di kandungan Martha bukan lah anak Sam," jelas Maya, kini berganti ekspresi terkejut menghiasi wajah El.


"Apa kamu yakin akan hal itu May? bagaimana jika nantinya akan ada gadis lain dari masa lalu Sam yang kembali hadir? dan lagi pria arogan itu selalu tidak bisa mengontrol emosinya."


El benar, tidak ada yang bisa berubah hanya dalam beberapa hari saja, emosi Sam yang selalu meledak-ledak dan lagi status Sam saat ini yang masih menjadi suami dari gadis lain. Apa ia harus menjauhi Sam dulu? tapi Maya tahu jika itu adalah hal tersulit baginya. Baru saja Sam hadir kembali ke dalam hidupnya lantas apa ia rela untuk menjauh lagi dari Sam?


"Makasih El," balas Maya yang berusaha tersenyum walau dadanya terasa sesak.


"Aku bisa menjaga diri," lanjut Maya.


El merasa khawatir dengan perubahan raut wajah Maya. "Maafkan aku harus berkata seperti ini, tapi aku benar-benar tidak ingin kamu...."


"Aku tau." Maya memotong cepat ucapan El. Dia sendiri sudah tahu resiko berhubungan dengan Sam disaat pria itu masih beristri. Hanya saja perlakuan Sam yang manis membuatnya lupa akan daratan, Maya tahu jika Sam benar-benar mencintai dirinya.


"Tenang saja. Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri."


El menghela napas.


"Maya, kamu tahu kamu bisa mengandalkan aku untuk apa pun."


"Ya." Maya kembali tersenyum. tapi dia ingin sendiri saat ini.


"Apa perlu aku menemanimu?" tanya El lirih.


"Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku, maaf."


"Tidak masalah, aku akan kembali saat makan siang. Kamu mau kan makan siang denganku?" lanjut El, menatap sejenak ke arah Maya. Kini berganti ekspresi berharap dari El, menunggu jawaban iya terlontar dari bibir Maya.


Maya mengangguk pelan sambil terus berusaha tersenyum. Senyuman kecil pun tertarik dari sudut bibir El, kini pria itu berniat meninggalkan pintu ruangan Maya.


Menatap punggung El menjauh, Maya segera masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kantor. Menyandarkan punggungnya pada sandaran empuk kursi yang bisa memutar itu, membuang napas panjang dan tak lama kemudian kembali berkutat dengan pekerjaan di layar komputernya.


___


El meninggalkan ruangan Maya dengan perasaan kacau. Gadis itu mengusirnya secara halus, terlihat sekali gadis bersurai hitam sebahu itu terlihat bimbang. Pagi tadi ketika El melihatnya berjalan berdampingan dengan Sam, wajah Maya memancarkan kebahagiaan. Senyuman bahagia tertarik di bibirnya dengan samar, di tengah tatapan iri setiap karyawan perempuan di perusahaan property miliknya. Namun pancaran bahagia itu meredup tatkala El menghempaskan khayalan Maya, dan membuatnya kembali pada kenyataan.


Tapi sungguh El tidak pernah bermaksud jahat, ia hanya mengkhawatirkan keadaan Maya. Gadis polos berhati lembut itu tidak pantas disakiti oleh pria arogan dengan banyak pengalaman bercinta macam Sam.


Maya layak mendapatkan cinta tulus dari seorang pria yang rela melakukan apapun untuknya.


Apa El sanggup menjadi pria itu? El masih gamang, sementara di Melbourne masih ada Freya.


Freya... ah hampir saja El melupakan sosok gadis itu.


Elano sangat sulit untuk tidak memikirkan Maya, ia telah mengenal gadis itu sejak masih Sma. Selalu bersama dengan Maya, bayangan wajah yang terluka dan berkaca-kaca saat bercerita tentang sang ayah yang meninggalkan Maya dan ibunya sejak gadis itu masih kecil terus membayangi setiap hela napas El.


Dari dulu El selalu ingin melindungi Maya, hingga kehadiran Freya yang mampu membuat El lupa arah. Elano kini menyadari perasaan yang tersisa, dan perasaan itu masih ada untuk Maya.


___


Maya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ia mencoba menenangkan diri dan berkonsentrasi pada pekerjaannya yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi.


Menyusun dan merencanakan pemasaran property tidaklah semudah menjual gorengan atau cemilan yang biasa nampang di food court atau di depan sekolah-sekolah tingkat dasar.


Kini otak Maya serasa macet, Maya menyesap kopi dari gelas kertas yang diberikan El tadi pagi, sudah dingin namun Maya tetap saja menyesap kopi itu perlahan. Otak nya butuh banyak asupan kafein agar bisa dipaksa bekerja normal. Laporan pemasaran harus segera siap, baru saja sekretaris Sam menelpon untuk segera berada di ruang meeting dalam waktu lima menit lagi.


Maya bergegas merapikan riasan dan pakaian kerjanya, memulas tipis bibirnya dengan lipstick warna peach. Warna kesukaan Samuel.


Lift yang dinaiki Maya berdenting, menandakan ia telah sampai di lantai yang ia tuju. Maya melangkah keluar begitu pintu lift terbuka dan mendapati Sam yang berdiri di depan lift sebelah.


Kembali dada Maya bergemuruh, jika kemarin ia langsung mendekat ke arah Sam dan mencium pipi Samuel, namun kini Maya harus berfikir dua kali sebelum melakukan kebiasaan itu.


"Sudah siap laporannya?" tanya Samuel, tersenyum sebentar ke arah Maya dan mendekatkan diri dengan gadis itu.


"Sudah, saya sudah mengirimkannya kepada El dan juga kamu melalui email." Jawab Maya senormal mungkin. Namun tetap saja terasa aneh, terbukti ekspresi wajah Sam yang terlihat mengernyit heran.


"Kamu baik-baik aja kan sayang?" tanya Sam, memandang lekat wajah Maya dan mengulurkan telapak tangannya ke kening gadis itu, memakai kata 'saya' saat berbicara dengannya sangat jarang dilakukan oleh Maya, pikir Sam.


"Saya baik-baik aja kok," jawab Maya cepat, mengelak sedikit dari jarak yang ada. Membuat Sam kembali heran.


"Kenapa kata 'saya' selalu terucap May? kenapa gugup? ada yang salah?" tanya Sam menyelidik.


"Ee... sa... eh aku gak apa-apa kok, kita siap-siap ke ruang meeting sekarang?" jawab Maya canggung.


Sam semakin mengerutkan dahi, memandang sebentar ke arah Maya, perubahan apa lagi ini? padahal tadi pagi gadis itu masih baik-baik saja, pikir Sam lagi.


Mengikuti langkah Maya, kini Sam menggenggam tangan Maya erat, genggaman hangat Sam perlahan meruntuhkan dinding yang hendak dibangun oleh Maya untuk menyelamatkan hatinya. Tapi bagaimana bisa Maya mengacuhkan segala perhatian dan sikap manis Sam terhadapnya.


Maya otomatis melepas genggaman tangan Sam ketika tiba di depan pintu ruang meeting, tapi genggaman Sam semakin kuat menariknya. Maya hanya pasrah mengekori langkah Samuel. Entah apa yang nanti akan dipikirkan oleh pegawai yang lainnya tentang mereka.


El memandang penuh kesinisan ke arah Maya dan Sam, mendengus sebentar sebelum ia memulai meeting.


___


"Semua laporan keuangan dan penjualan yang saya terima menunjukkan trend yang positif. Saya prediksi kita akan mencapai target profit, masalah pajak, tidak masalah dan semua sudah dibayarkan sesuai perundangan-undangan yang berlaku, pengacara pajak dan auditor kita juga sudah memastikan." Urai Maya merangkum isi laporannya.


"Bagaimana rencana investasi kita di Surabaya dan Bali? apa sudah ada kemajuan?" tanya Sam.


"Semua proyek di Surabaya dan Bali berjalan baik. Pengajuan izin bangunan sedang disusun sambil menunggu hasil AMDAL selesai." jawab Maya lagi.


"Tapi menurut data yang saya terima, ada sedikit hambatan dari aspek keuangan karena kebijakan yang baru saja diluncurkan tentang tax amnesty di Indonesia," sela Sam, ia tautkan seluruh jemari tangannya dan melirik ke arah Elano.


"Tapi saya yakin hal itu tidak akan membawa dampak buruk bagi investasi kita," El menjawab kekhawatiran Sam. Baik Sam ataupun pegawai lainnya yang hadir, kini hanya manggut-manggut paham.


"Baiklah jika semua sudah fix dan lancar, aku akan memeriksa laporan keuangan dan penjualan. Aku akan butuh bantuan kamu, Maya. Jika ada hal yang tidak aku mengerti." Ucap Elano, melirik sebentar ke arah gadis itu.


Maya hanya mengangguk pelan, "Baik, Pak." Jawab Maya sambil mengangguk sopan.


Dan lagi Sam meradang dengan nada ucapan El, Si brengsek itu mencoba mencari kesempatan rupanya, batin Samuel.


"Oke, meeting kita selesai, terima kasih dan silahkan semua bisa bekerja kembali di ruang masing-masing." Ucap El menutup meeting hari ini.


Semua karyawan mulai meninggalkan kursi mereka, Maya merapikan beberapa note book dan juga laptop miliknya, bersiap hendak berdiri meninggalkan ruangan.


"Maya, jangan lupa dengan janji makan siang kita." ucap El tiba-tiba, membuat kedua netra Sam kembali membola. Mengalihkan pandang ke arah Maya yang kini terlihat sedikit gugup.


"Iya," Maya mengangguk pelan, membereskan semua barang-barang miliknya dan melangkah duluan meninggalkan ruangan. Menyisakan Sam dan El yang masih saling berdiri dan menatap tajam satu sama lainnya.


Wajah Sam kini terlihat kaku, mengeratkan kepalan tangannya menahan emosi. "Damned you El." batin Sam.


to be continue....