MySam

MySam
Cuma Mau Sam




Siang itu lalu lintas di ruas jalan tol menjadi tersendat hingga beberapa kilometer. Mobil Ambulance dan juga beberapa petugas kepolisian pun terlihat berada di tempat kejadian.


Sirine Ambulance pun lalu dibunyikan dengan sangat nyaring begitu petugas dari rumah sakit memasukan korban kecelakaan tunggal itu ke dalam mobil Ambulance.


Pasien laki-laki pengendara sedan mewah yang berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu terlihat tidak sadarkan diri. Banyaknya darah yang keluar dari tubuh pasien membuat petugas Ambulance harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


...****************...


Anita membuka pintu knop kamar Maya perlahan. Wanita itu pun mendapati sosok Maya yang masih saja menangis sembari memeluk boneka beruang besar. Boneka pemberian Samuel dulu.


Biasanya Maya merasakan kenyamanan saat memeluk nya, namun hari itu....


Ia merasakan kehampaan. Sama dengan peristiwa dahulu, ketika dia memutuskan hubungan dengan Samuel saat pria itu harus menikahi Martha.


"Sayang.... udah dong menangisnya. Kasian kan baby kamu, sayang...."


Anita mendekat dan mengelus punggung Maya perlahan. Anita sungguh tidak tega melihat perempuan yang sedang hamil besar itu terlihat meringkuk di atas kasur sembari memeluk boneka beruang raksasa.


"Sam, Ma....." isak Maya pilu.


"Kamu tenang ya, biar Mama yang bicara nanti sama Samuel soal kesalahpahaman ini." Anita mencoba menenangkan menantunya.


"Sekarang kamu makan dulu ya, biar mama yang ambilkan buat kamu."


Anita kemudian berdiri dan bersiap menuju ke dapur di lantai bawah.


Beberapa langkah Anita hendak keluar dari kamar, tiba-tiba....


"Aaarrgghh.....!! Ma....!!" pekik Maya tiba-tiba.


"Maya.... kamu kenapa?" tanya Anita panik.


"Sakit Ma.... Aahh....!!"


Maya masih berteriak kesakitan sembari memegang perut buncitnya.


"Sam......!!!" teriak Maya lagi.


Anita kini terlihat sungguh panik. Dengan sigap Anita lalu keluar kamar dan memanggil Daniel serta mbak Pur dari lantai atas.


"Tunggu sebentar sayang, Mama panggil Daniel dulu."


"Samuel Ma...." Maya masih terlihat meringis menahan rasa sakit yang menderanya saat ini.


"May, hanya pengen Sam....!!" pekik Maya lagi.


"Iya-iya.... kamu tenang dulu ya."


Anita tampak begitu panik melihat menantunya yang terlihat kesakitan.


Bayi yang ada dalam kandungan Maya seolah mendesak ingin segera keluar.


"Daniel.....!! Bibik.....!! Mbak Pur....!!"


Teriak Anita dari batas tangga ke arah bawah. Tidak ada respon dari orang-orang yang ia panggil tadi.


"Daniel.....!!" ulang Anita.


Hingga sosok Daneil menyembulkan kepalanya dari lantai bawah dan mendongak ke atas.


"Ya Ma?"


"Cepat bawa Maya ke rumah sakit, dia mau melahirkan!" Teriak Anita panik.


Tanpa banyak berfikir lagi Daniel mengangguk dan berlari menuju ke kamar Maya.


"Bibik....!! mbak Pur....!! ke sini bik....!!" Anita kembali berteriak memanggil kedua asisten rumah tangga Samuel.


Tak lama kemudian kedua orang yang ia panggil tadi dengan tergopoh-gopong berjalan ke lantai atas dan mempersiapkan segala keperluan Maya.


Mengisi kopor yang sudah mereka siapkan dengan beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya.


Daniel mengangkat tubuh Maya hati-hati. Maya yang merasa kesakitan terus saja mengerang dan memanggil-manggil nama Samuel.


"Sam.....!"


"Sam..... aku mau Sam yang membawa aku ke rumah sakit....." erang Maya yang saat itu berada dalam gendongan Daniel.


"Iya nanti aku bawa Sam ke rumah sakit. Tapi sekarang kamu harus tenang dulu, okey...."


"Aahh.... sakit Dan...." erang Maya menahan rasa sakitnya.


Cairan bening pun mengalir deras di kaki Maya.


Membuat kepanikan Daniel semakin bertambah saat melihat air ketuban Maya yang semakin mengucur deras.


"Kamu bertahan dulu ya May, demi anak kamu," ucap Daniel menenangkan. Pria itu masih dengan hati-hati menggendong Maya hingga menuju ke mobil. Sementara Anita terlihat berjalan mengekor di belakang Daniel diikuti bibik dan mbak Pur yang membawa kopor dan juga perlengkapan lainnya.


Hingga Daniel sampai pada ujung pintu mobil dan dengan hati-hati memasukkan Maya ke dalamnya.


"Samudra...." cicit Maya lemah.


"Kamu gak perlu khawatir ada mbak Pur dan bibik," jawab Daniel sembari mengatur posisi duduk Maya.


"Kita berangkat sekarang Dan..." ucap Anita panik. Ia duduk di samping Maya dan mengelus-elus kening serta perut menantunya.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita ke rumah sakit," ujar Anita menenangkan.


Daniel pun langsung tancap gas dengan tergesa, trafic Jakarta yang hari itu lumayan lengang membuat Daniel dengan leluasa memacu mobil sport miliknya untuk secepatnya sampai ke rumah sakit Harapan.


....


Anita dengan segera memanggil suster jaga ketika mobil berjenis SUV milik Daniel tiba di depan pintu utama rumah sakit.


Dan dengan segera dua orang suster jaga bergegas menghampiri dengan sebuah brankar dorong ke arah pintu mobil.


Dua orang perawat laki-laki dengan sigap dan hati-hati membantu Daniel mengangkat tubuh Maya dan memindahkannya ke atas ranjang dorong rumah sakit.


"Hati-hati pak," perintah Daniel khawatir.


"Dia harus segera ditangani, panggil dokter spesialis kandungan yang terbaik di rumah sakit ini." Daniel kembali memerintah para suster di rumah sakit itu.


Sementara Daniel dan juga Anita segera menuju ke ruang administrasi untuk memesan kamar rawat inap terbaik di sana.


"Pasien akan segera di tangani oleh dokter Linda, karena dalam riwayat medis nyonya Maya di rumah sakit ini, dokter Linda lah dokter pribadi beliau."


Anita hanya mengangguk pasrah.


"Oke sust, tidak ada masalah. Saya hanya berpesan berikan pelayanan terbaik untuk menantu saya," jawab Anita.


Sang suster penjaga meja administrasi pun mengangguk pelan lalu terlihat sibuk dengan layar komputer yang ada di hadapannya.


Ddrrttt......!!! drrrttt....!!


Ponsel Anita tiba-tiba saja bergetar dan berdering.


"Halo bik___ Apa....?!___ Bibik yakin? Siapa yang menghubungi bibik?___ Ya Tuhan....!!___di rumah sakit mana bik?___ baik-baik saya akan segera ke sana."


Klik....


Ekspresi Anita kini kembali panik.


"Kenapa Ma? Ada apa?"


"Samuel....."


Anita menjawab dengan isak tangis yang akhirnya pecah.


"Sam kenapa Ma?"


Tidak ada jawaban dari Anita, wanita itu tiba-tiba saja memeluk Daniel putranya yang hilang dulu.


"Mama tenang dulu, atur nafas...."


Daniel merenggangkan pelukan Anita dan memandang wajah itu lembut.


Perlahan Anita pun mengatur napasnya dan mengatur emosinya.


"Sekarang ceritakan ada apa dengan Samuel?"


"Sam___ Samuel kecelakaan Daniel....."


Tangis Anita kembali pecah dan memeluk pundak putranya lagi.


"Sekarang Sam di mana Ma?"


"Central Medika...."


"Biar Daniel aja yang ke sana. Mama di sini aja nunggu Maya."


Anita mengangguk pelan sembari masih terisak-isak menahan tangisnya yang semakin pecah.


"Tolong jangan bilang apa-apa dulu ke Maya soal Samuel."


Kembali Anita mengangguk pasrah.


"Daniel....." ucap Anita yang mencoba menghentikan sebentar langkah Daniel.


"Ya Ma?"


"Tolong kamu kabari Papah soal Samuel."


"Baik," angguk Daniel cepat.


Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, pria tampan dengan tubuh atletis itu pun berlalu dari hadapan Anita.


Entah cobaan apa lagi yang menimpa anaknya, Anita hanya bisa berdoa dalam hati. Namun isak tangisnya tidak bisa begitu saja menghilang.


Bayangan terburuk soal Sam pun sempat melintas tanpa wanita itu pinta.


"Nyonya.... pasien nyonya Maya saat ini sudah memasuki ruang operasi dan ditangani oleh dokter Linda Hermawan." Ucap suster yang mengagetkan lamunan Anita.


Wanita elegant itu pun mengangguk sembari menghapus air mata yang tak henti-hentinya jatuh ke pipi nya.


to be continue....