
Daniel memandang hampa tubuh Samuel yang masih terbujur tanpa respon sedikit pun.
Ia lalu duduk pada kursi bundar di samping Samuel sambil melipat kedua tangan sebatas pinggang, sembari terdengar berkali-kali ia menghembuskan kasar napasnya.
"Ini udah dua hari dan Lo belum juga sadar, Sam."
Daniel sekali lagi terdengar menghela napas berat.
"Anak Lo udah lahir, Sammy...."
Tangannya pun kini bergerak, menarik keluar ponsel dari saku celananya.
"Look....."
Daniel menunjukan foto kedua bayi kembar Samuel. Meski ia tau jika Sam tidak bisa melihat foto tersebut, namun ia tetap melakukannya.
"Mereka sangat lucu dan menggemaskan...."
Terlihat Daniel menyeringai kecil.
"Mirip Lo dan Maya..."
Lanjut Daniel dengan suara beratnya.
"Dan Maya---"
Kembali Daniel menjeda kalimatnya.
"Maya merindukan Lo, Sam. Dia butuh Lo saat ini."
Kini terlihat kedua tangan Daniel mengepal erat di atas ranjang rumah sakit.
"God damn....!!"
Daniel terlihat menggebrak tepi ranjang rumah sakit dan berdiri dengan kedua tangan yang masih mengepal erat.
"Lo harus bangun Sammy....!! Lo harus sadar!"
"Apa Lo gak mau melihat kedua anak kembar Lo, hah...?!!" pekik Daniel yang spontan saja mengagetkan beberapa suster jaga.
Netra Daniel kini terasa panas, hampir saja pria bertubuh atletis itu menangis di hadapan Samuel yang masih saja terbaring tanpa gerak.
"Hei--- kamu tenang dulu ya."
Suster Theresia meraih pundak Daniel dan menariknya keluar dari dalam ruang ICU Samuel.
"Kenapa dia masih saja terbujur kaku seperti itu, hah....?!" geram Daniel.
Kepalan tinjunya pun terlihat beberapa kali menghantam tembok beton rumah sakit.
"Pasien koma memang butuh banyak waktu untuk bisa sadar. Bahkan setelah mereka sadar--- masih juga butuh banyak waktu untuk pemulihan kondisinya."
Theresia mencoba membuatnya tenang.
"Kalian harus sabar dan banyak berdoa untuk keajaiban Tuhan."
Daniel kali ini terdiam dan berpaling dari wajah Theresia.
"Aku belum siap kehilangan dia, Tess..." lirih Daniel akhirnya.
"Kami baru saja bertemu lagi setelah dua puluh tahun. Dan aku gak bisa jika harus kehilangan dia lagi."
Suara Daniel kini terdengar bergetar, seolah menahan tangis nya.
"Dan istrinya baru saja melahirkan anak mereka..." ucap Daniel lagi, kali ini tubuhnya dengan tanpa daya merosot jatuh ke lantai rumah sakit.
"Maya....?"
Tanya Theresia.
Daniel spontan mendongak memandang ke arah suster dengan rambut panjang yang ia gelung kecil.
"Dari mana kamu tau?" Tanya Daniel heran, keningnya pun terlihat berkerut dengan alis yang saling bertaut.
Theresia sedikit membungkuk untuk mengimbangi penglihatan Daniel.
"Aku mendengar semua ucapan kamu ketika mencoba berinteraksi dengan saudara kamu."
Theresia menjawab dengan nada penuh kehati-hatian.
"Maaf--- bukan aku bermaksud untuk menguping segala pembicaraan kamu di dalam sana."
Daniel memandang sebentar ke arah Theresia sebelum akhirnya ia membuang napas berat.
"Kamu yang sabar ya. Aku yakin saudara kamu pasti sembuh dan sadar kembali."
Theresia kini kembali berdiri tegak. Suster cantik itu merasa canggung ketika ia dan Daniel menjadi pusat perhatian dari rekan-rekan suster yang lain.
"Maaf aku permisi dulu....."
Theresia hampir saja melangkah menjauh hingga tiba-tiba suara Daniel menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?"
Theresia memandang Daniel dan tersenyum sebentar.
"Aku harus ke kamar pasien."
"Sore nanti kamu ada waktu sebentar?"
Theresia menarik ujung alis nya.
"Temani aku minum latte di cafetaria rumah sakit ini," respon Daniel ketika melihat ekspresi heran Theresia.
"Atau kamu mau ke cafe lain? Aku bisa jemput....."
"Baiklah," angguk Daniel cepat.
Hening sesaat.
"Aku harus pergi, permisi..." pamit Theresia.
Dalam hitungan detik berikutnya, suster bertubuh tinggi itu pun berbalik arah dan berjalan meninggalkan Daniel.
Lagi-lagi Daniel hanya bisa mematung melihat kepergian suster cantik itu.
.....
Keesokan harinya....
"Ini sudah tiga hari Dan....." cicit Maya lemah.
Daniel hanya bisa terdiam di ujung ruangan.
"Ada apa sebenarnya dengan Sam? Kamu udah bilang ke dia kalo kita gak ada hubungan apa-apa kan, Dan?" tanya Maya.
Daniel mengangguk pelan.
"Lantas..... kenapa sampai sekarang Sam belum kesini?" tanya Maya lagi dengan suara bergetar.
"Apa dia gak ingin menemui aku? Atau---"
Kini air mata perempuan itu tiba-tiba tumpah, wajahnya menunduk dalam dengan isak tangis.
"Atau setidaknya--- apa Sam tidak ingin melihat anaknya, hah?"
Tangis Maya semakin pecah.
Daniel yang melihat hal itu perlahan berjalan mendekat. Hampir saja tangannya menyentuh puncak kepala Maya dan ingin sekali membawa perempuan yang sedang rapuh itu ke dalam pelukannya.
Namun niatnya ia urungkan.
"Atau--- Samuel punya perempuan lain?" tanya Maya asal ucap.
"Gak May...."
Daniel langsung menyela ucapan iparnya itu.
"Kamu tau sendiri Sam gak mungkin seperti itu."
"Lantas.....?!" pekik Maya, kali ini ia menatap tajam ke arah Daniel.
"Kenapa dia gak peduli lagi sama aku, hah....?!"
Maya menahan emosinya, hingga netranya kini memerah. Rasanya ia ingin sekali berteriak sekuat-kuatnya.
"Karena---" Daniel menjeda sebentar.
"Apa?! Karena apa?! Kenapa kalian seperti merahasiakan sesuatu ke aku?"
Daniel tidak sanggup lagi memandang wajah perempuan yang saat ini terlihat begitu terpukul.
"Setiap aku tanya soal Sam ke Mama Anita, Papa. Bahkan kamu...." Maya menjeda sejenak.
"Bahkan.... mama aku sendiri seperti merahasiakan sesuatu dariku."
"May...." lirih Daniel.
"Siapa perempuan itu, Dan? Siapa.....?!" pekik Maya lagi.
"Gak ada perempuan lain, May..."
Kali ini Daniel mengusap kasar wajahnya.
"Kamu harus tau jika Sam sangat mencintai kamu dan gak ada perempuan lain!"
"Lalu kenapa dia gak pernah datang, hah?!"
"Itu karena....." Daniel kembali terdiam, lidahnya kembali terasa kelu.
"Karena apa?"
"Karena--- saat ini Samuel koma di rumah sakit."
Nyawa Maya mendadak seperti terbang perlahan dari tubuhnya, begitu mendengar jawaban dari Daniel.
Dia bahkan hanya bisa mematung di atas ranjang rumah sakit.
Ia merasakan saat ini seluruh ruangan luas kamar rawat inap itu seolah berputar kencang.
Dan membuatnya begitu pusing. Antara sadar dan tidak, Maya menyebut lirih nama Samuel.
"Sam....."
Hingga tiba-tiba tubuh Maya yang saat itu duduk di atas ranjang rumah sakit mendadak sedikit limbung.
"May.....!!"
Dengan cepat Daniel menangkap nya dan kembali merebahkan tubuh yang masih lemah itu ke pembaringan.
"Suster....!! Sust.....!!" teriak Daniel panik.
Bahkan Siska yang saat itu kembali dari cafetaria rumah sakit, terlihat ikut panik ketika mengetahui beberapa suster dengan tergesa-gesa berjalan menuju ke kamar anaknya.
Daniel mengusap kasar wajahnya, ia menyesali kebodohannya. Harusnya ia bisa lebih lama lagi menyembunyikan kebenaran itu. Setidaknya tunggu hingga keadaan Maya benar-benar stabil.
to be continue....