
Berkali-kali Maya mencoba menghubungi El pagi ini, Maya berfikir pastilah saat ini El sudah mulai sibuk dengan segala aktivitas nya mengingat selisih waktu Jakarta-Melbourne 4 jam lebih cepat di kota kebun Australia itu.
Lagi-lagi panggilan Maya hanya dijawab oleh mesin penjawab dari ponsel El, Maya mengerucutkan bibirnya.
'Hubungan ini mungkin sebaiknya tidak bisa dilanjutkan', pikir Maya lagi.
Kembali gadis itu membuang nafas kasar ketika kembali panggilan selulernya hanya dijawab dengan mesin penjawab otomatis.
Jam tangan Maya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dia bersiap untuk kerja magang dan setelah itu Maya harus mampir ke kampus untuk meminta tanda tangan dari dosen pembimbingnya.
***
"May, lo ntar jadi kan ke kampus sebentar?" Tanya Airin begitu mereka bertemu di lobi perusahaan Perdana Group.
Maya mengangguk pelan, "Jadi lah Rin kalo gak, bisa berabe skripsi gue."
"Ya udah ntar ketemu disana aja ya, gue mungkin aja siangan ke kampus nya." Ucap Airin, Maya mengangguk walau sebelumnya dia sedikit mengerucutkan bibirnya.
Maya dan Airin pun kembali berjalan menuju lift untuk sampai ke ruangan mereka masing-masing.
Di ruang kerja, Maya mendapati Sam sedang sibuk dengan project kerjasama klien. Sampai-sampai cowo itu tidak menyadari kehadiran Maya.
Maya tersenyum sekilas, gadis itu senang melihat Sam terlihat serius dengan layar laptop, CEO itu terlihat seksi saat serius dengan pekerjaan di hadapannya, pikir Maya.
"Sibuk Sam?" Tanya Maya, gadis itu mendekati meja Sam.
"Hhmm lumayan, kamu udah lama disini?" Sam balik bertanya, oh ya tak lupa senyuman manis cowo itu mengembang sempurna untuk Maya.
"Kamu terlalu sibuk jadi gak nyadar aku masuk." Maya sedikit mencebikkan bibirnya lalu tertawa kecil.
"Maaf dear, aku masih bingung soal promo kerja ponsel dari perusahaan telefon seluler ini, enaknya dibuat kayak gimana ya? Promosi yang simple, singkat tapi pesan kelebihan ponselnya dapet?" Kali ini Sam mengetukkan pelan pulpen yang dia pegang ke keningnya.
"Hhmmm coba liat sini."
Maya mencoba mengambil alih layar laptop Sam dan membaca semua kelebihan dari ponsel tersebut.
Bukan merk produsen ponsel ecek-ecek tapi ini milik produsen ponsel yang sudah memiliki nama besar di pangsa pasar dunia terlebih di Indonesia.
Maya tersenyum sebentar lalu beralih memandangi Sam.
"Sam, ini kan ponsel yang udah punya pangsa pasar sendiri, trus lumayan gede lagi. Gimana kalo gak usah yang neko-neko bikin promosi nya, kita liatin aja kelebihan ponsel nya, kayak kamera yang udah tinggi MP nya trus RAM nya jg udah sangat besar trus kelebihan lainnya dia waterprof juga."
"Jadi maksudnya?" Sam masih mengernyitkan kening sebentar.
"Ya kita bikin promo yang menampilkan itu semua. Dan aku rasa gak usah pake artis terkenal juga gak masalah sih, soalnya ni merk ponsel udah punya market fanatik sendiri." Lanjut Maya.
Sam kali ini manggut-manggut mengerti apa yang asisten itu maksud, oh ralat... lebih tepatnya asisten kesayangan Sam.
"Thanks baby, kamu emang malaikat keberuntungan." Jawab Sam tersenyum manis.
Kali ini tidak ada lagi kejutek-an yang Sam tunjukkan seperti dulu.
"Sam__"
Martha tiba-tiba saja masuk ke ruang kerja Sam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, gadis itu langsung menyipitkan mata kesal melihat Sam dan Maya yang saling tersenyum dan saling beradu pandang mesra.
"Sam, kamu kenapa gak jawab telfon ku semalam? Setelah dinner kita semalam kamu udah janji mo nginep ke mansion ku kan baby."
Martha berjalan menuju meja kerja Sam, dia berhenti sebentar persis di hadapan Maya dan melirik remeh ke arah Maya.
Lalu kembali Martha mengaitkan lengan putihnya ke leher Sam.
Membuat Maya ingin sekali muntah dan mencakar wajah Martha yang sok innocent.
"Lo gak usah mimpi deh Tha, gue gak pernah bilang kayak gitu."
Desis Sam kesal, berkali-kali dia berusaha melepas lengan gadis itu namun Martha lagi-lagi selalu menggelayut manja.
Maya membuang pandangan ke arah lain, melihat Martha dengan gampangnya merayu Sam dan bersikap manis ke Sam sungguh membuat emosi Maya memuncak.
Satu lagi fakta yang dia temukan jika Sam dan Martha malam itu sempat dinner bareng dan fakta itu semakin membuat Maya kesal.
****
Ada satu materi skripsi yang harus mendapat persetujuan dari dosen jadi mau tak mau Maya harus hadir ke kampus siang ini.
Maya tadi menuliskan secarik kertas pesan ke Sam, sebelum pergi gadis itu tidak sempat bertemu Sam yang masih sibuk melakukan meeting dengan beberapa orang di devisi promosi.
Maya tidak ingin menggangu Sam dengan pesan singkat di ponselnya saat rapat jadi dia hanya menuliskan sebuah pesan di kertas memo dan dia letakkan di atas meja kerja Sam.
Dan lagi gadis itu masih sedikit marah dan cemburu dengan kehadiran Martha tadi, terlebih lagi saat dia mengingat ucapan Martha jika Sam sempat dinner bareng sebelum cowo itu menemui Maya di cafe saat bersama Airin.
Maya mulai mengendarai motor matic dan menyusuri jalanan Jakarta yang lumayan macet dan panas siang itu.
***
Kampus
Maya berjalan di lorong kampus, masih ada banyak mahasiswa yang lain siang itu, walaupun sebagian hanya terlihat nongkrong dan bercanda ria di taman kampus atau di kantin.
Bangku di lorong-lorong kelas pun tak jarang menjadi tempat favorit mereka walau hanya sekedar duduk melepas penat seharian dengan mata kuliah.
Biippp.... biipp...
Ponsel Maya berdering sebantar.
'EL...' Batin Maya.
"Halo El kamu apa kabar?___ iya aku lagi di kampus nanti yah aku telfon lagi____ iya aku janji El, sorry ya bye."
Tutttt tuuttt tutttt...
Maya menutup panggilan seluler Elano, walau ada rasa bersalah sedikit.
"Maaf El." Batin Maya.
Gadis itu dengan langkah tegasnya kembali berjalan menuju ruangan dosen.
***
Kantor Sam
"Sam, aku ijin ke kampus sebentar. Ada urusan sama dosen pembimbing tentang skripsi yang aku susun."
Pesan singkat Maya di secarik memo yang tergeletak diatas meja kerja Sam.
Cowo itu terlihat sedikit menampakkan ekspresi khawatir. Harusnya dia bisa mengantar gadis itu tadi, pikir Sam.
Beberapa kali Sam menelfon Maya hanya untuk memastikan apa dia sudah sampai kampusnya atau belum.
Panggilan Sam hanya dijawab mesin penjawab telfon. Kembali ekspresi gelisah Sam terlihat di sorot matanya.
Entah kenapa dia merasa merindukan Maya padahal baru beberapa jam saja dia tidak melihat gadis itu.
Kini bagi Sam, Maya adalah candu yang tidak bisa sedetik pun tidak dia lihat. Perlahan bayangan Freya pun memudar entah kemana.
Dan Sam sungguh bisa bernafas lega kali ini, hanya sosok Maya lah yang bisa membuat dia jatuh hati lebih dalam bahkan melebihi saat masih bersama Freya dulu.
"I miss you my sweet peach." Sam bermonolog pelan.
to be continue
Cast Pemain
Samuel
Maya