
Sam melangkahkan kaki mengejar sosok yang makin menjauh itu. Menarik pundak Maya untuk berbalik namun ia merasakan rasa sakit menerjang pipi kirinya.
Maya terkejut sendiri dengan reaksinya. Apa yang telah ia lakukan? Menampar atasannya yang juga tunangannya sendiri. Gadis itu menarik tangannya, kemudian menatap Samuel dengan kecemasan yang berusaha ia sembunyikan.
Sam memegangi pipinya yang terasa sakit. Rasa pedih yang menjalar hingga jauh ke dalam hatinya.
Entah kenapa Maya berubah begitu cepat, padahal tadi pagi gadis itu masih menanyakan keadaannya bahkan beberapa kali Maya mencoba membuka percakapan yang sayangnya tidak ia tanggapi. Siang ini Maya tidak hanya mengabaikannya tetapi ia justru menampar dan lebih memilih pergi dengan Elano. Namun Sam bisa menangkap sesuatu dari iris mata hitam gadis itu. Ada kesedihan sekaligus amarah.
"Mengapa kamu menamparku May, aku hanya ingin bicara," erang Samuel.
"Dia tidak ingin berbicara dengan lo, Brengsek! jauhi dia atau gue yang akan menghajar lo!!" ancam El menjawab perkataan Samuel.
"Gue gak ada urusan sama lo, Sialan!" balas Sam tak mengacuhkan ancaman Elano.
"Maya, please jawab aku. Aku tidak peduli kamu akan menamparku seribu kali. Tapi aku tidak rela kalau kamu pergi dengan orang ini. Aku mohon May," lirih Samuel menuntut penjelasan dari Maya tentang sikapnya.
"Lo.....!" Elano mengepalkan tangannya, siap meninju mulut besar Samuel yang terus memojokkan Maya.
"Sudah, El. Ayo kita pergi." Maya akhirnya angkat bicara. Maya menyentuh tangan Elano yang terkepal lalu menggeleng pelan.
"Maya! please, jangan pernah pergi dengan dia. Kita harus bicara." Sam masih berusaha mencegah kepergian Maya, ekspresi kalut kini menyelimuti wajah tampannya.
"Apa peduli kamu Sam? Kenapa aku tidak boleh pergi dengan Elano, sementara kamu bisa bebas dengan gadis lain." Maya akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang membuat jantung Samuel berdetak kencang.
"Damn!" ujar Sam lirih.
Maya melihatnya bersama Freya tadi. Apa saja yang sudah diketahui Maya? Samuel tidak berani memikirkannya lebih jauh lagi.
"Kamu salah paham, sayang. A_ku bisa jelaskan semuanya," jawab CEO tampan itu.
"Jelaskan apa lagi Sam?"
"Oh... kamu mau jelaskan kalau ciuman tadi tidak kamu sengaja? atau... ciuman tadi karena pengaruh alkohol?!" balas Maya ketus.
"Maafkan aku, May." Suara Samuel terdengar sangat lemah. Ciuman tadi bukan seperti yang gadis itu kira. Sam bahkan cepat-cepat melepas pautan bibir Freya. CEO itu tidak pernah menginginkan bibir perempuan lain, hanya bibir peach Maya yang selalu membuatnya bergetar.
"Kamu dengar dulu penjelasanku, sayang." Sam berusaha membujuk gadis itu lagi, untuk kesekian kalinya Samuel harus menelan ludah melihat sikap acuh Maya.
"Cukup, simpan saja penjelasan lo itu untuk gadis lain!" balas Elano ketus.
Segera saja Elano mengajak Maya pergi menjauh, sebelum Sam kembali mencoba meluluhkan hati Maya lagi.
Samuel menelan kekesalannya terhadap Elano. Rupanya pria itu sengaja mengambil keuntungan dari kesalahpahaman ini. Samuel sadar semakin ia mencoba menekan Maya saat ini akan semakin membuat Elano bersikap bak pahlawan kesiangan di hadapan Maya.
Tunggu hingga kemarahan Maya sedikit reda.
.....
"Makan lah, kamu juga butuh sesuatu untuk mengisi perutmu." Elano menawarkan sepiring roti bakar dengan segelas susu hangat. Jam tangan Maya sudah menunjukkan pukul tiga sore, rupanya pertikaian dengan Samuel tadi membuat mereka melewatkan jam makan siangnya.
Tadinya Maya merasa tidak berselera dengan jenis makanan apapun masuk ke dalam perutnya. Elano dengan susah payah hingga sedikit memaksa, mencoba membujuk gadis itu walau untuk sekedar segelas susu hangat.
"Terima kasih, El. Entah apa jadinya aku jika tidak ada kamu tadi."
Elano tersenyum kecil, meraih jemari tangan Maya. Memberikan usapan hangat di sana.
Membuat Maya merasa sedikit tidak enak hati dengan perlakuan Elano.
Ia tidak ingin ada kesalahpahaman pria itu.
"Apapun buat kamu May. Sekarang makanlah."
Maya hanya mengangguk pelan, mencoba memotong roti isi di hadapannya dan memasukkan ke dalam mulutnya. Rasanya sungguh hambar, Maya bahkan tidak merasakan apapun dengan makanan itu. Padahal dulu ia bisa menghabiskan hingga lima potong roti isi ketika ia makan siang bersama Samuel.
Namun kini....
"Kenapa May? tidak enak? kamu mau makanan lainnya? Aku ambilkan yang lain ya?"
Maya dengan cepat menggeleng. "Gak usah, aku akan memakannya kok. Hanya saja saat ini aku sedang tidak berselara," lirih Maya, fokusnya masih menatap makanan di depannya itu.
"El....." lirih Maya, ia menghentikan sejenak ucapannya sehingga membuat Elano memandang wajah gadis itu penasaran.
"Ada apa, May? kamu ingin apa lagi? ngomong sama aku." Pandangan netra Elano kini fokus melihat wajah Maya.
"Sebenarnya.... aku belum bercerita sama kamu jika...."
Maya kembali menghentikan ucapannya.
"Jika apa, May?"
"Jika gadis yang aku liat berciuman dengan Sam tadi a...dalah..."
El semakin mengerutkan kening tatkala Maya kembali menghentikan ucapannya.
"Adalah Freya," lanjut Maya dengan nada lemah.
Membuat netra Elano semakin membola kaget. Pria itu menghentikan suapan ke mulutnya.
Dan untuk sesaat mereka saling terdiam.
Elano mengakui jika ia merasa diuntungkan dengan masalah ini, walau dalam hati bertanya-tanya ada hubungan apa diantara Samuel dengan Freya? Ah... menurut El yang terpenting saat ini adalah Maya. Dia harus bisa memanfaatkan situasi ini.
"Sekarang bagaimana perasaanmu dengan pria arogan itu? Kamu masih mempercayai dia?"
Maya menggeleng pelan, membiarkan lamunannya kini kembali diisi oleh Sam.
"Entahlah."
"May, aku tahu ini bukan saat yang tepat. Tapi jika Samuel dengan Freya ada hubungan di belakang kita...." Elano tidak melanjutkan ucapannya, ia raih jemari Maya. Menggenggamnya erat.
"Aku masih mencintai kamu, May." Elano semakin menggenggam erat jemari lentik Maya.
Membuat rasa canggung menyelimuti ekspresi wajah gadis itu.
Saat ini dia memang ada masalah dengan Sam, tapi bukan berarti dengan begitu saja ia menerima semua ucapan dan perlakuan El saat ini.
Maya perlahan menarik jemarinya dari genggaman tangan El.
"Maaf, El."
Berusaha mengatur napas kembali.
Ucapan Maya seperti hantaman petir di dada El, sangat menyakitkan dan membuat emosi pria itu memuncak. Namun El menyadari jika saat ini emosinya tidak boleh begitu saja ia tunjukkan.
Dia harus bisa menjadi dewa penolong buat Maya, ia tidak ingin terburu-buru. Perlahan dan ia yakin jika nantinya Maya akan luluh juga padanya.
"Kamu gak perlu jawab sekarang, Maya. Kamu tahu aku akan selalu menunggu kamu, sampai kapan pun." lirihnya lagi.
"Kamu terlihat pucat. Aku bisa mengantar kamu pulang saat ini jika kamu mau." Elano kembali membujuk gadis itu, mengelus lembut punggung tangan Maya.
Maya tersenyum meyakinkan jika dia tidak apa-apa. "Aku gak apa-apa kok, terima kasih kamu udah perhatian sama aku."
"Aku hanya butuh sendiri saat ini, itu aja."
Elano tersenyum.
"Baiklah, tapi jika kamu butuh bantuan apapun itu. Jangan ragu untuk menghubungi nomorku. Just call me and I'll come," ujar El meyakinkan.
El tanpa ragu membelai wajah Maya, menarik senyuman manisnya untuk gadis itu.
Membuat Maya menarik sedikit badannya menjauh dari Elano. "Maaf," lirih Maya mencoba menghindar dari perlakuan El yang mencoba bersikap manis terhadapnya.
El hanya tersenyum kecil, namun ia tidak boleh menyerah. Ia harus bisa meluluhkan hati Maya. Gadis itu harus jatuh ke dalam pelukannya sebelum kembali ke pelukan Sam lagi.
....
Maya merebahkan dirinya di atas ranjang. Tubuhnya menjadi lemas karena hati dan pikirannya galau. Seakan seluruh gairah hidupnya hilang.
"Oh Tuhan...."
Maya mengerang, mencengkeram kepalanya yang terasa berdenyut. Bayangan Samuel mencium gadis itu kembali berputar di kepalanya. Cairan bening kembali terasa hangat mengalir di kedua pipi, mungkin sebenarnya ia tak ingin menangis lagi.
"Hei bestie...."
Suara melengking itu membuyarkan lamunan Maya, gadis itu dengan cepat mengusap air mata yang mengalir jatuh membasahi kedua pipinya.
"May, lo kenapa sih? gak suka ya gue datang? Hhmm... mentang-mentang udah mo nikah aja sama pak bos, lo udah lupain gue," cemberut Airin. Gadis manis itu langsung menghempaskan tubuh mungilnya ke atas kasur Maya.
"May, lo kenapa? nangis?"
Maya hanya menggeleng pelan, berusaha tersenyum memandang Airin. Tentu saja Maya tidak dapat membodohi Airin sahabatnya itu.
"Bohong, kenapa sih? cerita sama gue. Udah lama juga kita gak ketemu. Ada apa, Maya?"
Maya mencoba berdiri dan duduk di tepi ranjang yang diikuti juga oleh Airin. Kini mereka sama-sama duduk saling berhadapan di tepi ranjang kamar Maya.
Kini perasaan Maya kembali rapuh, bayangan Sam selalu saja menganggu pikirannya. Tangisnya semakin menjadi, dengan refleks Maya memeluk tubuh Airin di depannya. Menenggelamkan wajah pucatnya pada pundak sahabatnya itu.
"Kenapa sih, May?"
"Samuel, Rin...."
"Iya, Sam kenapa?"
Usapan lembut Airin terarah pada punggung Maya.
Membuat pelukan sahabatnya itu sedikit merenggang.
"Guuu...eee lihat Sam mencium cewe lain, Rin," ucap Maya terisak.
"Lo yakin? gak salah lihat?"
Maya hanya mengangguk.
"Yang sabar ya, May. Terus lo udah minta penjelasan dari Sam?"
Maya menggeleng lemah.
"Dia tadi siang berusaha jelasin tapi aku gak mau dengar apa-apa lagi dari mulut Sam."
"Di depan mata gue, Rin. Mereka ciuman dan lo tau kan gimana sakitnya hati gue?!"
Airin mencoba menenangkan Maya, mengulurkan sebungkus tissue dari dalam tasnya.
"Harusnya lo denger dulu penjelasan dari Sam, May."
"Maksud gue, siapa tau tadi itu hanya kesalahpahaman."
Airin kembali mengusap lembut pundak Maya.
"Sam mencoba menghubungi lo hari ini?"
Maya hanya mengangguk pelan.
"Dan lo jawab?"
Kali ini Maya menggeleng menjawab pertanyaan Airin.
"Hhmmm.... ini nih, kalian itu sama-sama keras kepala. Lo keras kepala dan Sam juga. Gimana kalian bisa menyelesaikan masalah kalian kalau sikap kalian sama-sama keras kek gini?"
Ada nada kekesalan dalam bicara Airin. "Sekarang, lo coba deh bicara sama Sam," lanjut Airin lagi.
Maya terdiam, mencoba menimang semua ucapan Airin barusan.
"May..."
Sapaan Airin barusan membuyarkan lamunan Maya. Haruskah ia menghubungi dulu? Bukankah Sam yang bersalah?
"Ntar aja, gue pikir-pikir dulu." Ucap Maya pelan. Kembali ia sandarkan kepalanya yang terasa sangat berat pada bantalan kasur.
Menyisakan Airin yang geleng-geleng kepala melihat sikap Maya.
"Dari pada lo nangis mulu, lebih baik kita hangout. Udah lama kita gak hangout bareng kan bestie?"
Airin menarik lengan Maya agar berdiri, mendorong tubuh sahabatnya dan memaksanya untuk berganti pakaian.
Dengan malas Maya menurut. Lagi pula tak ada salahnya ia keluar bareng Airin daripada harus berdiam diri dalam kamar dengan pikiran kalut tentang Samuel.
to be continue....