MySam

MySam
Tepat Waktu



Bugghh....!!


"Sialan, siapa lo ?! Bagaimana kalian bisa masuk kesini, hah ?!!"


Elano berusaha bangkit, sedikit sempoyongan setelah mendapat beberapa pukulan dari seorang pria berbadan kekar.


"Lo dapat salam dari Sam," hardik Harris geram.


Bugghh....!!


Kembali ia layangkan bogem mentah ke wajah Elano.


"Beruntung lo ketemu gue, kalo lo ketemu Sam, udah habis lo sama dia!!" lanjut Harris lagi.


"Brengsek....!!!" Elano mencoba bangkit dan berganti melayangkan pukulan ke arah Harris. Namun dengan cepat dokter itu menghindar meninggalkan pukulannya sekali lagi, kali ini bogem mentah Harris mendarat mulus di perut sixpack Elano, membuat pria itu jatuh terhuyung.


"Jangan coba-coba deketin Maya lagi, kalau tidak, Sam bersumpah akan membunuhmu. Ngerti lo, hah?!!" ancam Harris.


Harris meninggalkan Elano yang sudah tidak berdaya, pria itu melangkah mendekati istrinya yang berusaha menyadarkan Maya.


"Bagaimana keadaan Maya, sayang?"


Martha terlihat panik, menggeleng ke arah Harris. "Ia tidak sadarkan diri. Kamu tolong bawa dia keluar dari sini," jawab Martha dengan ekspresi khawatir.


Harris mengangguk, terlebih dahulu menyuruh Martha untuk menutupi tubuh bagian atas Maya dengan blazer miliknya. Kemeja kerja Maya terlihat sedikit robek dan terbuka akibat ulah dari Elano tadi. "Hati-hati, sayang...." ucap Martha khawatir begitu Harris meraih tubuh Maya dan membopongnya.


Harris berjalan keluar dari ruangan tersebut diikuti Martha. Ekspresi khawatir Martha terlihat jelas saat tunangan Samuel tidak sadarkan diri.


Harris menempatkan Maya di kursi belakang dan dibantu oleh Martha. "Aku duduk di belakang aja ya, biar Maya tertidur di pangkuanku," usul Martha. Harris mengangguk pelan dan menutup pintu mobil begitu istrinya sudah memasuki mobil.


"Kita langsung ke rumah Sam aja, sayang. Tadi Sam nyuruh langsung balik ke rumah dia," lanjut Martha lagi, mengelus sebentar kening Maya yang masih tidak sadarkan diri di pangkuannya.


Harris menurut, menekan gas dalam-dalam hingga Jeep Wrangler berwarna putih itu menjauh dari halaman perusahaan Wijaya Property.


....


"Arrhghhhh..... Sialan....!! Brengsek...!!" erang Elano.


Brakk.....!!


Ia lempar kasar kursi yang ada di dekatnya. Mengerang kesal, berkali-kali memukulkan kepalan tangannya ke tembok bercat putih itu.


Kenapa semua rencana untuk mendapatkan Maya selalu gagal, batinnya kesal. "Aaarrggghhh....!!". Kini semua serasa sepi dan hampa. Pukulan keras pria yang tidak ia kenali tadi membuat Elano semakin emosi. Pria tegap yang berusia sekitar hampir lima puluhan tahun telah memberikan bogeman mentah atas nama Samuel. "Brengsek...!! Awas aja lo...!!" Erangnya lagi.


.....


Jeep Wrangler putih milik Harris berbelok ke arah perumahan elit di kawasan Lippo Karawaci.


Harris menghentikan mobilnya, membukakan pintu belakang dan dengan cepat membopong tubuh Maya memasuki mansion megah milik Samuel.


Diikuti Martha yang mengekor di belakang.


Mata Sam terbelalak, membola penuh begitu melihat tubuh lemah Maya dalam gendongan Harris.


Cepat-cepat pria itu mendekat, mengambil alih tubuh Maya dari tangan Harris. Iris coklat itu terlihat begitu khawatir.


"Maya kenapa, Tha?" tanya Sam dengan nada getir.


"Lebih baik kamu bawa Maya ke kamar dulu, Sam. Dari tadi dia gak sadarkan diri."


Sam mengangguk cepat, buru-buru menaiki anak tangga melingkar. Bahkan Sam tidak mempedulikan tubuhnya yang masih sedikit lemah. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya ada Maya. Kenapa Maya? Apa yang terjadi? berbagai pertanyaan kini memenuhi benaknya.


Sam membaringkan tubuh Maya di kasur miliknya, memandang nanar tubuh mungil itu. Lagi-lagi kedua mata pria itu membola melihat sedikit sobekan pada kemeja yang Maya kenakan saat itu, dan juga beberapa luka lebam di sudut bibir serta pergelangan tangan Maya.


"Apa yang terjadi di kantor, Tha? siapa yang melakukannya, hah?" tanyanya begitu Martha memasuki kamar Samuel.


"Kita bicara di luar kamar, Sam. Biarkan Maya istirahat. Aku sudah nyuruh bibik untuk membersihkan badan Maya," jawab Martha tenang, atau sebenarnya mencoba menenangkan pria di hadapannya saat ini.


Sam mengangguk, menurut apa kata Martha. Melihat sekali lagi ke arah gadis yang saat ini terbaring tak sadar di kasur berukuran kingsize miliknya.


Mengekori di belakang Martha dengan semua pertanyaan dan kegelisahan mendalam.


"Apa yang sebenarnya terjadi di kantor petang ini?" Sam kembali mengulangi pertanyaannya tadi. Memandang ke arah Harris dan Martha dengan ekspresi khawatir.


"Apa maksud kamu? Apa yang terjadi sama Maya?" Samuel semakin tidak sabar mendengar seluruh penjelasan Martha dan juga Harris.


"Saat kami tiba di perusahaan property kamu... di sana sudah sepi, tidak ada seorang karyawan pun yang tertinggal di sana. Hanya ada dua orang satpam di depan lobi."


"Kami menanyakan ke satpam, apa benar ada meeting direksi di Wijaya Property, tapi satpam malah terlihat bingung dan mereka bilang semua karyawan sudah pulang sejak jam setengah lima sore." Martha menjeda sebentar ucapannya, memandang ke arah Harris dan menarik napas panjang.


"Beruntung saya dan Martha tiba tepat waktu. Kami mencari satu ruangan yang terdapat di lantai lima sesuai petunjuk dari kamu. Ruangan meeting direksi, dan dari luar kami mendengar jeritan Maya." Harris melanjutkan.


"Hampir saja Maya di.... di...." Martha tidak tega meneruskan ucapannya.


"Siapa yang melakukannya?!" Sam bertanya dengan nada tegas, kedua matanya membola penuh. Rahang kotaknya mengeras dan mengepalkan erat semua jemarinya.


"Seorang pria tinggi, seperti kamu Sam. Bermata coklat juga seperti mu," lirih Martha.


"Mungkin dia yang namanya Elano, seperti yang kamu bilang di telepon tadi?" tanya Harris kali ini.


Tidak salah lagi, itu memang Elano, batin Samuel.


"Sialan!! brengsek!!"


Bughh....!!


Samuel melayangkan kepalan tangannya ke dinding mansion. Sorot matanya menajam, seolah ada kilatan api yang hendak menyambar sekelilingnya.


"Brengsek Elano!! gue harus beri dia pelajaran!!" Samuel hampir saja melangkah, meraih kunci mobilnya. Namun dengan cepat Martha menghentikan langkah Samuel, meraih lengan kekar pria itu. "Sam, sebaiknya kamu tetap di sini menjaga Maya," ucapan Martha membuat langkah Sam terhenti.


"Iya Sam, lagi pula pria brengsek itu sudah mendapatkan pelajaran dariku. Lebih baik kamu tetap di samping Maya saat ia tersadar nanti," lanjut Harris lagi.


Mereka benar, batin Sam.


Apa jadinya jika Maya tersadar dan ia tidak ada di sampingnya. Sam merutuki kebodohannya. Harusnya ia yang menguatkan dirinya untuk memastikan keadaan Maya. Seharusnya ia sendiri yang menghajar Elano brengsek itu.


"Tuan muda...."


Suara bibik menyadarkan Sam dan membuat perhatian Martha dan juga Harris beralih ke arah wanita tersebut.


"Non Maya sudah sadar..." teriak si bibik dari lantai dua.


Membuat Samuel segera memburu langkahnya, menaiki tangga melingkar tersebut dengan perasaan bercampur aduk. Khawatir, lega dan juga amarah yang masih meluap di dadanya.


Sam memasuki kamar, mendekat ke arah Maya. Seketika merasakan apa yang gadis itu rasakan ketika Maya dengan cepat berhambur ke pelukannya. Sam duduk mendekap tubuh Maya, mencium lembut surai hitam itu.


Dapat ia rasakan kepiluan saat mendengar deru tangis gadis itu. "Sam.... ddii...aa..." Maya tidak bisa berkata apa pun, lidahnya serasa kelu. Syok yang masih mendera membuatnya hanya bisa menangis sesegukan. Bahkan ketika sekelebat ingatan itu hadir kembali dalam benaknya, ia merasakan ketakutan yang teramat dalam.


"Huusstt.... sudahlah sayang, kamu jangan takut lagi, ada aku yang menjagamu," bisik Sam mencoba menenangkan.


"Mmaa...aaf... kan aku, Sam..." isak Maya yang semakin mengeratkan pelukannya. Gadis itu menangis sejadinya hingga membasahi seluruh permukaan kaos putih Sam oleh air matanya yang terus saja mengalir.


"Kamu gak salah, sayang." Sam menjeda kalimatnya, melembutkan pelukannya. Ia takut jika dirinya malah akan menyakiti tubuh Maya dengan pelukan eratnya.


"Aku yang minta maaf tidak bisa menjaga kamu," lanjut Sam. Isak tangis masih saja terlantun dari Maya, cairan bening tak henti-hentinya keluar mengalir deras dari kedua sudut matanya.


Sam membelai lembut luka memar di sudut bibir Maya, mengompres luka itu dengan air hangat yang sudah disediakan oleh bibik.


"Kamu tenang aja, kamu aman di sini." Sam berbisik lembut.


"Aku keluar sebentar, kamu sama Martha dulu ya," ucap Sam lagi.


"Mau kemana, Sam? aku gak mau kamu pergi. Please..." Sam menghentikan langkahnya ketika jemari Maya meraih lengannya.


"Aku keluar sebentar."


"Jangan mencari dia, Sam. jangan pernah berbuat nekat. Aku takut kehilangan kamu." Maya mencoba menghentikan niat Samuel, ia takut jika malam ini Sam mencari Elano dan berbuat nekat. Maya hanya mengkhawatirkan Sam bukan yang lain.


"Kamu gak akan kehilangan aku, hunny...."


"Sekarang kamu istirahatlah. Jika butuh sesuatu bilang sama bibik. I love you, sweetheart."


Kecupan lembut Sam mendarat di kening Maya, melanjutkan kembali langkahnya. Meninggalkan sementara Maya yang memandang kepergian Samuel dengan perasaan was-was.


to be continue...