
Maya masih tidak bisa mengerjapkan kedua netranya, melihat sosok dirinya di depan cermin besar lengkap dengan pulasan make up natural namun terkesan sangat elegan dan cantik. Surai hitam sekelam malam itu ia sanggul kecil rapi, berhiaskan beberapa kuntum mawar pink pastel yang tersemat indah di gelungan rambutnya. Sementara tubuh indah Maya terbalut sempurna gaun pengantin berwana broken white yang sangat memukau siapapun yang melihatnya.
Tidak bisa ia percaya akhirnya hubungan itu berakhir di jenjang pernikahan, setelah beberapa macam kejadian yang sempat membuat pernikahan mereka tertunda dan akhirnya hari ini tepat di hari ulang tahunnya, Maya mendapatkan kado terindah selama hidupnya.
"Sayang.... kamu sudah siap dengan pernikahan kamu?" tanya Siska sang mama yang kini telah berada di belakang Maya, entah mulai kapan wanita setengah abad itu berdiri di sana. Maya memandang Siska sedikit gugup, namun tak lama kemudian ia tersenyum. "Iya, May siap Ma..." angguk Maya, kedua netranya kini berkaca-kaca memandang sang mama. Hampir saja cairan bening menerobos keluar dari sudut mata indah itu.
"Setelah May menikah nanti, Mama bagaimana? Mama ikut tinggal bersama Maya dan Sam ya. May gak tega ninggalin Mama sendirian." tanyanya pilu, ia genggam erat seluruh jemari sang mama.
"Sayang.... sudah tugas kamu ikut suami dan patuh sama suami kamu. Mama gak apa-apa kok lagipula masih ada bik Surti yang akan menemani Mama di sini." Siska menghentikan sejenak kalimatnya, membelai lembut pipi anaknya.
"Kelak kamu harus patuh dan menghormati suami kamu ya May, segala masalah dalam rumah tangga pasti selalu ada. Krikil tajam atau pun badai kecil akan selalu menghiasi, namun selama masih ada cinta di antara kalian semua masalah itu akan bisa kalian hadapi berdua," lanjut Siska.
"Kamu dan Sam harus selalu saling menjaga dan menghormati. Apapun masalah kalian nanti, harus kalian selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, setelah pernikahan ini kalian bukan lagi hidup seorang melainkan menjalani hidup dua orang dengan dua kepribadian yang berbeda. Kalian harus bisa menyatukan perbedaan itu menjadi sebuah keindahan untuk kalian." Siska melanjutkan kembali, merengkuh bahu kecil Maya dan membawanya kedalam pelukan wanita itu.
Maya mengeratkan pelukannya, kini air matanya tidak bisa lagi ia tahan, cairan bening itu dengan leluasa menerobos keluar dari semua sudut netra hitamnya. Maya tidak peduli jika nanti pulasan make up itu luntur ataupun gaun indah pengantinnya menjadi kusut.
"Terima kasih Ma, sudah menjadi ibu terbaik untuk May." Gadis itu kembali memandang sayu wajah sang mama ketika mereka saling merenggangkan pelukan.
"Mama bahagia melihat kamu bahagia, dan kamu adalah anugerah terindah buat Mama." Siska mencium ujung kening Maya, memandangnya untuk kesekian kali sebelum anak gadis nya itu melangkah meninggalkan rumah minimalis mereka.
"Maya..... oh my God.... Lo cantik banget..." pekik Airin begitu ia memasuki kamar Maya. Dengan berdecak kagum, Airin tak henti-hentinya memandang takjub ke arah sahabatnya.
"Sumpah.... Lo cantik banget May, gue sampai gak kenalin Lo."
"Thanks ya Rin...." Maya meraih tubuh Airin memeluknya dengan senyuman mengembang di sana.
Sementara Siska meninggalkan mereka berdua untuk saling berbicara sebelum sang pengantin dan rombongan meninggalkan kediamannya menuju ke sebuah hotel dimana akad nikah dan resepsi berlangsung nanti.
"Lo beruntung banget sih May, rasanya baru kemarin kita sama-sama magang di perusahaan bos." Ucap Airin begitu mengingatkan kembali masa-masa dulu pertama kali mereka mendatangi perusahaan Advertising milik Sam.
"Rin, gue makasih banget ya Lo udah jadi sahabat terbestie gue."
"Sama-sama May, semoga kalian bahagia ya... Love you bestie...." Airin memeluk Maya erat. Ia bahagia, sahabat terbaiknya akhirnya menikah juga dengan pria yang sangat tepat.
"Maya, kamu sudah siap? kita berangkat sekarang." Ucap sang mama. Maya mengangguk pelan, memandang ke arah Airin sebentar, "Lo ikut kan Rin?" tanya Maya yang diikuti anggukan kepala Airin. "Tentu dong gue gak akan melewatkan pernikahan sahabat terbaik gue." Keduanya berjalan meninggalkan kamar, Airin membiarkan Maya keluar terlebih dahulu sehingga ia bisa membantu membenarkan gaun pengantin bruklat broken white dengan potongon model mermaid lace long train with sleeve sequin gowns .
Airin membantu membenarkan posisi layer panjang dari kebaya akad Maya yang menyerupai seperti ekor mermaid.
Maya dan Siska memasuki sedan abu sementara Airin beserta beberapa keluarga lainnya memasuki kendaraan mereka masing-masing. Mengikuti kemana arah sedan abu milik Maya melaju.
....
Sam menunggu dengan resah kedatangan Maya. Pria dengan balutan setelan jas Armani serba putih itu tidak bisa menyembunyikan keresahannya, berkali-kali ia melirik jam tangan Rolex miliknya.
"Tenanglah Sam." Martha dan Harris datang menghampiri, mencoba menenangkan CEO itu.
"Maya sudah di jalan kok, tadi dia barusan kirim pesan ke aku," ucap Martha lagi.
"Iya Sam, lebih baik kamu fokus dengan kalimat ijab qobul kamu nanti. Ingat, jangan gugup." Harris menambahkan, menggendong Samudra dalam dekapannya. Bayi berumur hampir satu tahun itu terlihat sangat tenang.
"Iya, thanks ya.... Aku gugup jam segini rombongan Maya belum juga datang." Sam berusaha tersenyum. Keresahan masih tampak jelas terlihat dari kedua iris kecoklatan miliknya.
Martha dan Harris bisa memahami posisi Sam saat ini, mereka kembali mencoba menenangkan CEO tampan itu, meminta Sam untuk kembali duduk tenang di kursi yang telah disediakan, bersama seorang ustad yang telah mendampingi dan mengajarkan banyak hal kepada Samuel selama menjadi seorang mualaf.
Anita dan juga Permana, masih terlihat sibuk memberi perintah tentang kesempurnaan acara yang akan mereka gelar. Anita meraih lengan suaminya dan berjalan ke arah Samuel.
"Sam.... kamu sudah siap dengan kalimat ijab qobul nanti? sudah hafal bukan?" tanya Anita khawatir.
"Sudah Ma, Sam siap. Hanya saja Sam khawatir kenapa jam segini rombongan Maya belum juga sampai."
Anita tersenyum sesaat, mengusap lembut pundak anaknya. "Berfikir lah yang baik-baik saja, Sam. Niat baik pasti akan mendapat restu dari Tuhan." Anita mencoba menenangkan.
"Sam, Papa senang kamu akhirnya menikah dengan Maya. Semoga kalian menjadi keluarga yang selalu bahagia." Permana menambahkan, memeluk pundak anaknya dan menepuk-nepuknya perlahan.
"Makasih Pa.... Sam akan selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk Maya," jawab Samuel, membalas pelukan erat sang ayah.
Kebahagiaan terpancar jelas di wajah ketiganya, Anita merasa bahagia dengan pernikahan kedua Samuel, putranya. Pernikahan yang seharusnya sudah sejak lama terlaksana di keluarganya.
"Sam......" Martha sedikit berteriak ke arah Sam, hingga pria itu mengalihkan perhatian ke arah gadis itu.
"Maya sudah datang....."
Kalimat Martha mampu membuat Sam menarik senyuman hangat, iris kecoklatan itu berbinar begitu mendengar sebuah nama yang selalu memenuhi ruang hatinya.
"Kamu siap, sayang?"
Sam mengangguk, tersenyum ke arah Anita dan Permana.
Seiring dengan perintah dari Sam kepada petugas WO, seketika itu juga lampu ballroom mulai terlihat remang-remang. Membuat ribuan gemintang terpantul indah di seluruh ruangan dan juga langit-langit ballroom untuk menyambut kedatangan pengantin wanita tercantik milik Samuel.
to be continue....