MySam

MySam
Twin Baby



"Saya rasa---kerjasama kita akan terus berlanjut untuk dua tahun kedepan. Saya sangat senang dengan konsep dan team work kalian."


Seorang Ceo dari perusahaan Sanjaya Group kini terlihat sangat menyukai presentasi yang beberapa karyawan Samuel pertunjukan dalam meeting hari ini. Bahkan Dean Sanjaya akan memperpanjang kerjasama keduanya untuk beberapa tahun kedepan. Tentu saja ini sebuah keuntungan bagi Sam. Mengingat perusahaan milik Dean Sanjaya yang bergerak dalam bidang makanan ringan kemasan adalah salah satu produk yang sedang banyak digemari oleh masyarakat luas.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda. Kami pun akan menjaga kepercayaan Anda dalam memakai jasa perusahaan kami." Sam menerima jabatan tangan Dean Sanjaya dengan sangat sopan.


"Baiklah jika tidak ada lagi yang penting, saya mohon pamit terlebih dahulu karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak." Samuel melanjutkan, berharap sang klien tidak menanggapi perkataannya barusan dengan salah paham.


Mengingat Dean Sanjaya adalah seorang Ceo dengan ego yang sangat tinggi. Seorang Ceo muda dan tampan yang memiliki beberapa perusahaan di bawah naungan Sanjaya Group. Selain bergerak dalam bidang makanan kemasan, Sanjaya Group juga menguasai beberapa pangsa pasar produk-produk kosmetik, otomotif, tekstil, dan juga beberapa perusahaan pertambangan batu bara yang tersebar di pulau Kalimantan, Sumatra dan Jawa.


"Jangan bilang Anda sudah janji dengan istri Anda untuk pulang lebih awal?" tebak Dean Sanjaya yang langsung mendapat respon anggukan kepala kecil dari Samuel.


"Anda benar Tuan Sanjaya, saya telah berjanji pada istri saya untuk pulang lebih awal, sebenarnya ini pun saya sedikit terlambat dari janji saya."


Dean mengangguk pelan sembari sedikit berseringai kecil.


"Apakah dia begitu istimewa di mata Anda? Seorang pemilik perusahaan advertising dan juga perusahaan property yang terbesar di Jakarta?" tanya Dean dengan memperlihatkan sedikit wajah yang bertanya-tanya.


"Bukankah bagi laki-laki seperti kita ini, perempuan itu hanya sebuah boneka pajangan yang hanya ditunjukkan ketika ada acara-acara besar? Dan mereka akan menjadi sangat penurut jika kebutuhan hidup mereka terpenuhi? Dan tidak akan menuntut banyak perhatian dan waktu kita?" Dean melanjutkan kembali ucapannya.


Kali ini ekspresi wajah Samuel sedikit terlihat kesal dengan apa yang klien nya itu sebutkan.


Tentu saja Sam tidak pernah menganggap Maya seperti itu. Istrinya bukanlah sebuah pajangan semata, bukan sekedar pemuas. Namun Sam menganggap Maya layaknya seorang permaisuri yang akan dia jaga.


"Maaf untuk yang satu ini, saya tidak setuju dengan Anda. Bagi saya istri saya dan anak saya adalah harta yang sesungguhnya. Tidak akan ada yang bisa menggantikan mereka meskipun mereka ditukar dengan seluruh harta di dunia ini." Sam sedikit tersenyum kecil, namun masih tetap santun menghadapi kliennya.


Dean sedikit menautkan kedua ujung alis tebalnya. Merasa penasaran seperti apa sang istri dari kliennya saat ini.


"Baiklah---silahkan jika Anda ada urusan," Ceo itu menjeda sebentar ucapannya.


"Tapi saya penasaran, wanita seperti apa istri Anda itu sehingga Anda begitu memujanya." Dean melanjutkan.


Tak ada jawaban dari Samuel, dia hanya sedikit menarik ujung bibirnya membentuk senyuman yang dipaksakan.


"Bersediakah jika suatu hari nanti Anda dan istri Anda saya undang untuk makan malam?" Kembali Dean Sanjaya melayangkan pertanyaan yang membuat Samuel sedikit terlihat kesal.


Sam melihat ke arah Dean dengan sorot mata tajamnya, untuk sesaat tak ada jawaban dari mulut Samuel.


"Jika kami ada waktu senggang---kenapa tidak?" jawab Samuel akhirnya.


Sam sekali lagi mengulurkan tangannya ke arah Dean dan dengan cepat, Dean meraihnya.


"Baiklah, saya senang dengan kerjasama kita. Dan saya mohon undur diri. Masalah dokumen kerjasama bisa Anda urus dengan saudara Bayu, orang kepercayaan saya."


"Oke!" Jawab Dean singkat, pria itu membenarkan kembali jas Armani mahal yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.


Samuel berjalan meninggalkan tempat meeting dan memberi kode kepada Bayu sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan beberapa orang yang masih ada didalam sana, termasuk Dean Sanjaya.


.....


"Jalan pelan-pelan sayang," ucap Samuel khawatir saat melihat Maya berjalan sedikit kencang ketika menyusuri koridor rumah sakit.


Maya menghentikan sejenak langkahnya, memandang Samuel dan hanya menyeringai lucu. Sementara disamping Sam, Samudra masih mengeratkan pegangannya pada tangan Samuel.


"Maaf Sam, aku udah gak sabar pengen liat vidio USG anak kita." Maya menjawab antusias.


Memasuki hampir bulan ke lima ini, menurut dokter kandungan Maya, janin mereka sudah dapat dilihat oleh mesin USG empat dimensi, meski wujud janin masih belum terlihat sempurna. Namun hal itu tak masalah bagi Maya, yang terpenting ia bisa melihat bayi mereka bergerak di dalam tubuhnya dan berharap keadaan bayinya baik-baik saja.


Samuel pun selalu berusaha menjaga Maya dengan hati-hati selama kehamilan keduanya ini.


Ia tidak menginginkan kejadian yang sama terulang lagi nantinya, dan Samuel selalu meminta pada Tuhan untuk kelancaran persalinan Maya dan juga kesempurnaan fisik dari sang baby.


"Aku tahu, sayang. Tapi kamu gak perlu buru-buru gitu, takutnya malah kamu terpeleset atau gimana jika jalan cepat-cepat seperti tadi."


"Hm, iya... Gak diulang lagi." Maya berseringai lucu.


"Mommy pelan-pelan aja jalannya."Ucap Samudra yang tiba-tiba ikut nimbrung pembicaraan mereka. Dan membuat Maya kembali menyeringai lucu menanggapi.


"Iya Am sayang," jawab Maya sembari mengusap wajah bocah itu.


"Am cuma gak mau Mommy dan dedek jadi atit(sakit) nanti," lanjut Samudra polos.


"Hm, sekarang Moms pelan-pelan jalannya, okey?"


Samudra mengangguk, sedangkan Samuel tersenyum kecil melihat kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Maya lalu bergelayut manja pada lengan suaminya dan ketiganya berjalan kembali menyusuri koridor rumah sakit.


Hingga tibalah mereka di depan sebuah ruangan berjejer dengan ruangan dokter spesialis lainnya. Sam mengetuk perlahan pintu putih tersebut.


"Tuan dan nyonya Perdana, silahkan masuk." Ucap sang dokter cantik mempersilahkan mereka untuk memasuki ruang prakteknya. Tentu saja Samuel memilih dokter spesialis kandungan perempuan yang memeriksa istrinya selama kehamilan, Sam tidak akan rela Maya diperiksa oleh dokter kandungan laki-laki kecuali almarhum dokter Harris dahulu ketika kehamilan pertamanya.


"Anda sudah siap USG nyonya Maya?"


Maya mengangguk semangat, "Iya dok, saya siap."


"Baiklah silahkan," sang dokter mempersilahkan Maya untuk mengikuti langkahnya menuju ruangan periksa khusus pasien.


Bersama Samuel dan juga Samudra yang mengekor di belakang kedua perempuan cantik itu.


Maya beranjak perlahan menaiki kasur periksa pasien, dengan sangat hati-hati Samuel memegang kedua tangan Maya ketika ia hendak menaiki ranjang berukuran kurang dari dua meter itu.


Maya merebahkan dirinya sementara sang dokter masih memeriksa alat-alat kelengkapan pemeriksaan.


"Sam...."


"Hm?"


"Aku takut," cicit Maya hampir tak terdengar.


"Apa yang kamu takutin? Ada aku disini." Sam meraih punggung tangan Maya dan menciuminya berkali-kali.


"Bagaimana jika---"


"Hush.... jangan berpikir yang enggak-enggak. Everything is gonna be ok! Kamu berdoa aja yang baik-baik." Sam selalu bisa membuat Maya merasa lebih baik.


Sementara Samudra berdiri di samping Maya dengan mengelus-elus lembut lengan perempuan itu.


"Mommy tenang aja ya, ada Am dan Daddy yang jagain." Ucapan polos Samudra pun berhasil membuat Maya sedikit lebih rileks.


"Anda siap melihat bayi anda, nyonya?" tanya dokter Linda, dokter cantik bersurai sedikit ikal bergelombang.


Maya mengangguk pelan, sembari menghela napas perlahan.


"Baiklah kita mulai---"


Samuel dan Samudra perlahan memberi sang dokter ruang untuk mendekat ke arah Maya.


Dokter Linda perlahan mengoleskan gel khusus pada permukaan kulit perut di area pemeriksaan. Kemudian Transducer ditempelkan dan digerakkan di area sekitar perut Maya.


Hingga muncullah di layar monitor, sebuah gerakan dan juga detak jantung bayi pun terdeteksi dengan alat canggih itu.


"Gimana, dok?" tanya Maya penasaran, begitupun dengan Samuel.


"Hm--semuanya baik-baik saja, bayi kalian sehat--sempurna dan---" sang dokter tidak langsung melanjutkan ucapannya, ia menjedanya sejenak.


"Dan---apa dok?" tanya Samuel khawatir.


"Astaga....!!" teriak sang dokter tiba-tiba.


"Kenapa, dok? Ada masalah dengan bayi saya?" tanya Maya panik. Wajahnya mendadak memucat. Maya mengencangkan pegangannya pada jemari Samuel hingga sedikit meremas jari jemari suaminya.


"Dokter Linda, apa ada masalah?" tanya Sam kali ini. Sang dokter masih saja berkonsentrasi menggerakkan alat yang ada di tangannya dan mengamati seksama layar monitor kecil yang ada di hadapannya saat itu.


"Maaf-maaf, semuanya baik-baik saja." Dokter Linda tersenyum kecil.


Sementara Maya dan Samuel masih saja memasang wajah penuh pertanyaan.


"Selamat Tuan dan Nyonya Perdana--- Kalian akan memiliki dua bayi sekaligus."


Bagai mendapat kejutan yang luar biasa, kini Maya dan Sam saling memandang haru. Senyum bahagia keduanya kini saling bertumbuk. Sam mencium kening Maya hingga kecupan-kecupan itu turun ke pipi chubby istrinya.


"Serius, dok? Anda tidak sedang mengerjai kami kan?" Sam kini memandang ke arah dokter cantik dihadapannya itu, pertanyaan Samuel langsung ditanggapi tawa oleh dokter Linda.


"Saya serius Tuan, kalian akan memiliki anak kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan."


Samuel semakin terkejut, bahagia, senang dan semua itu bercampur menjadi satu. Maya pun membuncah, tak henti-hentinya cairan bening mengalir deras dari kedua sudut matanya.


Dengan spontan Sam memeluk Maya yang masih dalam posisi berbaring di atas ranjang pemeriksaan.


"congratulated, baby...." bisik Samuel lembut. Berkali-kali ia mendaratkan kecupan-kecupan kecilnya di seluruh wajah Maya.


"Nyonya Maya harus benar-benar menjaga diri, jangan terlalu kerja berat dan banyak makan makanan bergizi. Buah, sayur, ikan atau pun gandum utuh akan sangat baik buat janin." Dokter Linda melanjutkan dan tentu saja dibalas anggukan semangat dari Samuel dan tentu saja Maya. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Sungguh bagi nya ini adalah kebahagiaan yang telah Tuhan berikan kepadanya.


"I love you, honey...." bisik Samuel sembari memberikan kecupan lembutnya di ujung bibir Maya.


to be continue...