
Berkali-kali Maya mencoba mencairkan suasana kaku di sepanjang perjalanan, dan berkali-kali pula Samuel tetap membisu, pria itu begitu berkonsentrasi dengan arus lalu lintas malam itu.
Ataukah Sam hanya pura-pura berkonsentrasi dengan lalu lintas malam itu?
Meski begitu senyuman kecil Samuel tak jarang sedikit ia tarik diam-diam ketika mendengar Maya mengatakan beberapa hal konyol di sepanjang perjalanan. Sam tahu jika istrinya itu mencoba membuatnya tertawa, namun hati Samuel terlanjur kesal dengan apa yang terjadi dalam jamuan makan malam tadi.
Beberapa kali Sam menjumpai jika Dean Sanjaya mencoba mencuri pandang ke arah Maya. Tatapan mata pria tampan itu sama persis seperti cara dirinya memandang Maya. Lembut dan penuh cinta.
Ditambah lagi ketika keduanya saling bersalaman dengan kedua kulit mereka saling bersentuhan. Dean bahkan tidak melepas tangan Maya untuk beberapa detik saat bersalaman. Entah karena begitu terpesonanya terhadap Maya atau karena hal lain, tapi menurut Sam, Ceo tampan itu benar-benar mempunyai perasaan terhadap Maya.
...
"Sam...."
"Hm?"
"Kok cuma hm aja sih?" sungut Maya kesal.
Suaminya itu bahkan tidak membalas pandangannya ketika membukakan pintu mobil untuknya.
"Apa, May?" respon Samuel akhirnya.
"Kamu marah?"
Sam menggeleng pelan, ia bahkan begitu saja berjalan menuju pintu rumah mereka tanpa menggandeng tangan Maya seperti yang biasa Sam lakukan.
"Iya kamu marah sama aku kan?" dengus Maya yang berjalan di belakang Samuel.
"Aku gak marah, May."
"Kalo gak marah, kenapa panggil aku-May?"
Kali ini Maya berhenti mengikuti langkah kaki Samuel, ia pun duduk pada sofa panjang yang berada di ruang tengah, dekat dengan beberapa guci antik berukuran raksasa.
Samuel menoleh ke arah Maya sembari membuang napas panjang. Sam melepas blazer dan merenggangkan dasi yang tadinya rapi melingkar di lehernya.
"Oke deh kamu maunya aku panggil apa?" tanya Samuel yang akhirnya mendekat juga ke arah Maya.
"Kan kamu biasa panggil aku -sayang," sunggut Maya.
Yang tadinya Sam sedikit merasa kesal, namun begitu melihat wajah polos Maya dengan sunggutan lucu yang mirip anak kecil, membuat Samuel kembali tersenyum lembut.
"Nah gitu dong.... ini baru suami aku...." ucap Maya sembari menggelayut manja di pinggang Samuel.
"Hehehe.... iya maafin aku, sayang," peluk Samuel.
"Jangan marah lagi ya sama aku."
Maya kini memandang lekat wajah Samuel, kedua netra nya pun terlihat berkaca-kaca.
"Iya, aku gak bisa jika harus marah sama kamu terlalu lama." Sam mengelus pipi merah muda itu lembut.
"Maafkan aku yang terlalu cemburu melihat tatapan matanya ke kamu." Sam melanjutkan kembali kalimatnya.
Sembari terus memeluk Maya, Samuel menenggelamkan wajahnya pada gerai rambut hitam istrinya.
"Aku lihat gak ada yang aneh dia memandangi aku, dan lagi aku gak pernah menanggapi semua itu kan?" protes Maya begitu Sam mulai sedikit merenggangkan pelukannya.
"Iya maaf sayang, harusnya aku gak marah ke kamu," kecup Samuel di puncak kepala Maya.
"Pandangan mata dia ke kamu--- sama persis ketika aku memandangi kamu, dear."
Sam melanjutkan, kedua tangannya kini menangkup pipi chubby Maya.
"Dan aku gak akan pernah menanggapi apa yang akan dia lakukan. Kamu percaya kan, suami?"
Sam kali ini mengangguk pelan. Tangan kekar namun lembut miliknya kini mengelus-elus perut buncit Maya.
"Maafin daddy ya nak.... daddy sempet marah sama mommy kalian," bisiknya lembut. Kecupan kecilnya pun kini mengecup perut buncit Maya.
"Permintaan maaf diterima asalkan daddy mau menggendong mommy sampai kamar, xixixixi...." kekeh Maya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Samuel kini mengangsurkan kedua lengannya ke punggung dan di kedua bawah lutut Maya. Mengangkat tubuh yang kini terlihat sedikit berisi itu dengan sangat hati-hati.
Sam membopong tubuh Maya, sekali lagi mendaratkan kecupan hangatnya ke bibir peach istrinya.
"Sam....!" pekik Maya sembari tertawa kecil. Meskipun telah lama menikah, Maya selalu saja tidak mampu memperkirakan perlakuan Sam yang seperti ini. Sam selalu dengan tiba-tiba saja membopong tubuhnya dan menciumnya tanpa bilang terlebih dahulu, alhasil membuat jantung Maya serasa terlepas dari peraduannya. Ia pun tak menyangka kalimat yang tadinya hanya gurauan berakhir dengan bopongan ala bridal style milik Sam.
....
Beberapa hari berlalu sejak undangan makan malam itu, Maya kembali dengan rutinitas sehari-hari. Menyiapkan sarapan untuk Samuel dan juga Samudra sebelum keduanya beraktifitas sehari-hari.
Samudra yang saat ini memasuki fase sekolah di taman kanak-kanak membuat Maya pun mempunyai kesibukan mengantar jemput anak itu, tentu saja selain kesibukan di cafe miliknya.
Ia lirik arloji Rolex yang melingkar di tangan kirinya. Masih ada waktu satu jam sebelum ia menjemput Samudra dari sekolah, pikir Maya.
Melihat banyaknya pengunjung ke cafe nya hari itu membuat Maya menarik senyuman di sudut bibirnya. Ia bahkan berfikir untuk menambah menu dan mengadakan event live music di cafe miliknya. Yah... meski tidak setiap hari, mungkin hanya di hari weekend saja.
"Hai apa kabar?"
Sebuah suara sopran yang tiba-tiba saja mendekat ke arahnya. Membuat Maya mengalihkan pandangannya dari arah laptop dan mengangkat sedikit wajahnya ke arah sumber suara.
"A-anda---" gagap Maya. Matanya membola melihat sosok tinggi dengan postur tubuh atletis yang hanya berbalut kaos oblong warna putih berpadu blazer hitam dan juga celana jeans dengan sedikit sobekan di kedua lutut. Sepatu sneaker hitam pun menjadi pelengkap penampilan pria itu.
"Sungguh suatu kebetulan saya berjumpa dengan anda di sini," ucap Dean Sanjaya. Bibir dengan sedikit kumis dan jambang tipis Dean bahkan tak pernah berhenti menarik senyuman kecilnya tatkala melihat sosok perempuan di hadapannya saat ini.
Maya masih tidak merespon, seolah hatinya menyuruhnya untuk secepatnya pergi dari sana.
"Anda baik-baik saja?" tanya Dean cemas, ketika melihat perempuan di hadapannya hanya mematung dan menatapnya kosong.
"Eh-i-ya m-ma-af...." Maya mencoba bersikap normal dan menyembunyikan kegugupan nya.
"Anda sendirian?"
"Em--iya saya sendiri, suami saya masih di kantor."
Maya menjawab dengan kik-kuk.
"Anda sendiri--- tidak bekerja? Oh ya saya lupa bukankah anda hanya tinggal memerintah bawahan anda tanpa harus datang ke kantor?"
Dean hanya tersenyum sekilas ketika mendengar penuturan Maya. Pria itu pun dengan santainya duduk tepat di hadapan Maya tanpa meminta ijin ataupun dipersilahkan terlebih dulu.
Sementara Maya, ia baru tersadar dengan perkataan yang sedikit ketus ataupun menyindir klien suaminya itu.
Oh seharusnya ia tidak berkata seperti itu terhadap klien penting Samuel, batin Maya yang menyesali ucapannya barusan.
"M-maaf---saya tidak bermaksud---"
"Anda tidak perlu meminta maaf," potong Dean cepat.
"Anda benar, saya pemilik perusahaan dan pasti hanya tinggal main perintah ke bawahan. Lagipula buat apa mereka dibayar jika tidak untuk disuruh-suruh, bukankah begitu Maya?"
"Hah? Maya?! Berani sekali dia memanggil gue hanya dengan sebut nama langsung?" batin Maya kesal.
Maya hanya tersenyum sekilas menanggapi pria tampan itu.
"Anda sudah memesan sesuatu?" tanya Maya akhirnya, bagaimana pun juga ia harus bisa bersikap sopan dengan klien sang suami.
Dean menggeleng.
"Oh kalau boleh saya sarankan, steak disini sangat enak, kami juga mempunyai menu baru yang pasti sangat mengenyangkan perut anda di siang hari ini." Ucap Maya.
"Baiklah, saya mengikuti saja apa yang anda pesankan."
Selang beberapa menit setelah kepergian Maya ke arah pantry cafe, Dean melihat dengan kedua netra berbinar, sosok perempuan bersurai hitam legam yang kali ini ia kuncir dengan membentuk sanggul kecil di sana. Beberapa helai anak rambut pun menjuntai dan bergerak bebas tertiup angin. Perempuan dengan perut yang sedikit menonjol namun tetap cantik berjalan berlenggok anggun sembari membawa baki berisi makanan lezat.
"Silahkan nikmati makanan anda tuan," ucap Maya menawarkan.
Dean tersenyum lalu memandang sebentar wajah yang selalu berhias senyum tulus itu.
"Panggil saja Dean tanpa harus ada kata tuan." Dean berucap lembut.
Maya hanya tersenyum merespon.
"Apakah ini cafe milik kamu May?" tanya Dean dengan sedikit menarik ujung alis tebalnya. Mungkin mencoba mencari tahu sesuatu.
Maya mengangguk pelan sembari sedikit tersenyum. Hingga tiba-tiba ia teringat akan Samudra.
"Oh maaf, saya harus undur diri dulu."
"Kamu ada urusan lain, May?"
Deg....!
Ini untuk ketiga kalinya pria itu memanggilnya hanya dengan sebutan nama, pikir Maya.
"Iya, saya harus menjemput Samudra."
"Samudra....??" tanya Dean dengan ekspresi heran.
"Iya Samudra, anak saya."
"Oh--"
Dean membulatkan bibirnya untuk ber-oh-ria.
"Silahkan nikmati makanan anda tuan."
Pamit Maya, ia pun segera melangkah pergi meninggalkan Dean yang masih duduk terkesima melihat kepergian perempuan yang entah kenapa begitu cepat berhasil membuatnya jatuh hati. Dan sialnya-- perempuan itu merupakan istri dari pria lain.
"Sial...!! Kenapa baru sekarang kita bertemu, Maya?" gumam Dean sedikit menggerutu.
to be continue....