MySam

MySam
Praha Tanpa Cinta



Martha nampak sangat marah hingga beberapa kali gadis itu terdengar berdecak kesal. Bahkan setelah mereka menikah pun Samuel mengabaikan gadis itu. Martha pikir setelah pernikahan mereka, sikap Sam dapat sedikit berubah padanya.


"Apa sih kurang gue Sam?" Martha bermonolog. Martha kembali mengingat ucapan Harris melalui sambungan seluler barusan.


'Kenapa sayang? Suami kamu mengabaikan kamu?'


'I miss you baby, Aku akan terbang ke Praha besok. Wait for me...'


Ah om Harris.... kenapa kamu yang ngertiin Tha? kenapa bukan Sam? laki-laki yang Tha cintai? batin Martha.


_____


Dengan langkah berat Samuel berjalan menuju rooftop hotel, harus naik lift hingga lantai ke tiga puluh untuk bisa kesana. Malam itu langit terlihat cerah dengan taburan berbagai rasi bintang.


Bisa saja Sam menghabiskan malamnya di bar hotel, menikmati beberapa gelas martini atau wine favoritnya namun bayangan Maya yang selalu membuat ia mengurungkan niat tersebut, Sam tidak ingin lagi mengulangi kebodohan nya yang dulu.


Sam mengeluarkan sebungkus sigaret, mengambil sebatang dan memautkan pada ujung bibirnya. Membakar salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat ia hirup lewat mulut pada ujung yang lain.


Menghembuskan asap yang kini menyeruak keluar dari ujung bibirnya, membiarkan terbang menguap bersama angin. Berulang kali ia melakukan hal yang sama, menghisap rokok yang terletak pada sela jemarinya. Menengadahkan kepalanya ke atas untuk memandangi langit malam.


Ada bayangan Maya disana.


Laki-laki itu mejamkan mata perlahan, merasakan semilir angin yang seolah membelai pipinya pelan, dadanya sedari tadi naik turun untuk menikmati udara malam di kota Praha yang begitu dingin. Mengeratkan blezer putih yang masih setia melekat pada tubuh kekarnya.


Menyendiri di atas rooftop malam ini membuatnya melupakan beberapa masalah yang membuat kepalanya berdenyut karena pusing.


Kembali Sam menghisap sisa rokok yang hampir saja terbakar habis, menghisap dalam-dalam lalu mengeluarkan semburan asap putih dari ujung bibir tebalnya.


Memori Sam selalu saja berpusat kepada Maya, entah apa yang gadis itu lakukan sekarang. Beberapa pekan setelah perpisahan itu, Sam tidak dapat menemui Maya. Gadis itu selalu menghindar, melalui Siska ia selalu beralasan sedang tidur atau keluar dengan Airin hingga alasan ke toko buku membeli beberapa kebutuhan kuliahnya.


Samuel tahu jika semua itu tidak benar, gadis itu hanya berdiri pada ujung jendela kamarnya, memandangi dirinya dari balik tirai. Diam-diam mengamati Samuel, hingga memandang nanar laki-laki itu.


***


Mentari kini menyembulkan warna merah bercampur orange, butiran embun dengan serta merta terbentuk dan menempel ke semua permukaan benda yang berada di bawah langit.


Tak terkecuali pada tubuh Sam, dengan memicingkan matanya sedikit, dan melakukan perenggangan pada seluruh otot yang serasa sangat kaku pagi ini.


Ternyata dia terlelap tanpa sadar di atas rooftop hotel, beralih dengan posisi duduk, seluruh jemarinya menyeka kasar rambut yang sedikit ikal, mengulurkan tangan guna melihat waktu yang saat ini ditunjukan oleh jam tangan Rolex miliknya.


Menguap sebentar, mengeratkan lagi blezer yang ia kenakan seolah mencoba mengusir dingin pagi ini.


Kembali melangkahkan kakinya menuruni beberapa anak tangga hingga sampai di depan pintu lift. Sam menekan tombol lift.


Masih merasa enggan untuk kembali ke kamar, Sam berhenti di restoran hotel. Perut nya kini terasa sangat lapar, secangkir coklat panas serta sepiring omlet dirasa cukuplah untuk sekedar mengisi kekosongan perut sixpack nya.


"Sam... kamu disini? mana istri kamu?"


Anita dan Permana kini berdiri di belakang tubuh Samuel, memandang heran anaknya yang sepagi ini terlihat di restoran hotel. Kembali memandangi lekat sosok Sam, pakaian pernikahan masih lengkap melekat di tubuh Sam.


Tanpa menjawab pertanyaan Anita, Sam perlahan menyesap coklat panas di tangannya kemudian mendekatkan beberapa suapan omlet ke mulut Sam.


"Kamu dari semalam gak ganti pakaian Sam? kamu kesini gak sama Martha?"


"Udah ya mah, aku capek mama tanyai terus." jawab Samuel, tidak terlalu serius menanggapi pertanyaan Anita, Sam masih saja berkutat dengan secangkir coklat panasnya.


"Sayang... biarkan dulu Sam, kamu mau makan apa? aku pesenin." Permana mencoba mengambil alih suasana. Melihat wajah Sam anaknya yang terlihat muram, Permana tahu apa yang saat ini Sam rasakan.


"Aku mau secangkir susu hangat aja."


Permana mengangguk, tersenyum lalu berjalan ke stand makanan yang tersedia disana.


"Ini salah Sam juga mah."


"Aku nyesel dengan apa yang aku lakuin dulu."


Anita meraih pundak Samuel, menepuknya pelan lalu membawa tubuh Sam ke pelukannya. Untuk sesaat Sam terbawa oleh suasana, menitikkan air matanya di dalam pelukan sang mama.


"Maya gadis yang sangat baik Sam, maafin mama." ucap Anita yang kemudian mengeratkan pelukannya ke tubuh Samuel.


_____


Perlahan Martha membuka penuh kedua netranya ketika mendengar suara bel pintu kamar hotel berdering nyaring. Menguap sebentar dan mengusap kedua netra guna mengusir kantuk yang saat ini masih menyerang.


Menuruni ranjang berukuran kingsize, membenarkan ikatan rambut panjangnya lalu berjalan malas menuju pintu. "Akhirnya kamu ke kamar juga Sam." batin Martha.


Lingerie hitam dengan belahan dada yang sangat rendah terlihat sangat menggoda melekat ditubuh indah Martha, harusnya benda itu semalam mampu membuat Sam mabuk kepayang, pikir Martha kesal.


"Akhirnya kamu ke... ka...mar... "


"Om Harris...."


Kedua netra gadis itu membola penuh melihat sosok Harris yang kini bersandar di ambang pintu kamar. Senyuman manis Harris mengembang penuh, begitu saja kedua lengan laki-laki itu meraih pinggang Martha dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


"I miss you baby..." bisik Harris, dengan lembut ia mencium kening dan kedua pipi putih Martha. Kini bibir Harris berpaut di atas bibir merah Martha, menciumnya perlahan hingga lama-lama berubah menjadi semakin panas. Martha kini melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Harris, membalas setiap ciuman laki-laki itu, lidah mereka menari disana, saling bertukar saliva.


"Om Harris ngapain kesini?" bisik Martha disela-sela semua pergerakan Harris. Kini laki-laki itu semakin menekan pinggang Martha, menempel erat pada seluruh bagian tubuhnya.


"Aku kangen kamu sayang, Aaahh....sshhhh..." Harris semakin dalam menyesap bibir Martha, membelainya dengan bibir tipisnya.


"Gimana kalo Sam tau perbuatan kita?" ucap Martha, sesekali ia melepas pautan bibir Harris, saling menempelkan kening dan hidung masing-masing. Mengesekkan kedua hidung mancung mereka lalu kembali bibir mereka saling berpautan lembut.


"Bagus dong dia tau." bisik Harris dengan tubuhnya yang masih bergerak liar meraba seluruh tubuh Martha yang hanya berbalut lingerie tipis.


"Jangan gila kamu om, kami baru aja menikah." bantah Martha dengan ekspresi cemberutnya.


"Pernikahan bohongan kamu sayang, kenapa kamu belum sadar juga jika dia tidak mencintai kamu Tha?"


"Kehamilan kamu juga cuma karangan kamu aja. Apa yang kamu dapatkan dari semua itu hah?"


Kini Harris melepaskan tubuh Martha, merasa kesal ia kemudian meraih kembali tubuh indah itu. Menariknya kedalam dekapan tubuhnya untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu akan selalu jadi milik ku sayang, dan tubuh kamu gak akan pernah bisa menghindar dari ku."


Harris mendekatkan kembali bibirnya, melakukan satu gerakan kecil hingga ciuman itu berubah liar. Mendekap erat tubuh Martha, lingerie tipis itu seolah tidak dapat menjadi pembatas kedua tubuh mereka. "I miss you so much baby girl, Aaahh ssshh...." Harris mengangkat salah satu kaki jenjang Martha, ia lingkarkan ke pinggangnya. Kepala Martha sedikit mendongak, memberi Harris ruang lebih untuk bibir laki-laki itu menyusuri tiap jengkal leher putih Martha. Menciumi perlahan, memberikan kiss mark disana.


Perlahan tangan Harris mulai bergerilya di kedua bulatan gunung kembar Martha yang dengan malu-malu sembunyi dibalik belahan lingerie miliknya.


"Om Harris.... hentikan." Martha mendesis pelan, mencoba menahan gelora hasratnya.


"Nanti malam sayang, aku tunggu di kamarku." bisik Harris.


Harris melepas pautan bibirnya, tubuh kekarnya kini sedikit berjarak dengan Martha. "Aku tunggu nanti malam sayang." bisik Harris lembut, satu kecupan kecil mendarat di kening Martha.


Membuat gadis itu hanya bisa mengangguk pelan dan menerima semua kelembutan yang Harris berikan.


Menutup pintu kamar, Martha meraba kembali bibir merah merekahnya. Masih membekas bibir Harris di semua permukaan bibirnya dan juga di setiap lekuk tubuh indahnya.


"Kenapa bukan kamu Sam?" batin Martha pilu.


to be continue....