MySam

MySam
Perempuan Perusak



Martha berdiri di hadapan Harris, membetulkan dasi abu tua yang melingkar rapi di leher kokoh itu. "Perfect...." gumamnya sembari menepuk-nepuk pelan dada yang terbalut dengan cardigan berwana krem, senada dengan kemeja formalnya.


"Thanks, baby.... kamu memang stylish terbaikku." Harris memuji gadis yang tetap terlihat cantik meski ia telah memiliki seorang buah hati.


Martha tersenyum kecil, memeluk pinggang Harris dengan kepala mendongak, senyuman merekahnya masih ia tarik sempurna di semua sudut bibir pink pucatnya.


"Dengan senang hati, suamiku," balas Martha, masih mengeratkan pelukannya. Harris memandangi lekat wajah itu, seolah enggan berpisah dengan gadis yang telah menyempurnakan hidupnya.


"Aku gak bisa bayangkan jika harus hidup tanpa kamu, sayang." Harris membelai lembut rambut ikal panjang kecoklatan istrinya.


"Kamu dan Samudra gak akan pernah kehilangan aku, sayang. Kita akan selalu bersama-sama." Martha kini mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Harris, "Sekarang berangkatlah, aku tidak mau suamiku menjadi dokter yang pemalas," ucap Martha manja. Mengecup singkat ujung bibir Harris kemudian beralih ke pipi bercambang laki-laki itu.


"Baiklah, aku berangkat dulu. Kamu baik-baik di rumah bersama anak kita, okey..."


"Hhmm.... Kami menunggumu saat makan malam nanti." Martha mengusap bekas lipstick yang sedikit menempel pada pipi suaminya.


"Aku usahakan pulang cepat, baby.. See you next...."


Martha menerima kecupan hangat Harris di kening dan ujung bibirnya, tersenyum bahagia menghantarkan kepergian pria kekar yang telah merubah seluruh hidupnya.


Perlahan Jeep Wrangler putih milik Harris terlihat meninggalkan halaman rumah besarnya. Meninggalkan Martha yang sudah merasa merindukan suaminya, padahal baru beberapa menit mereka berpisah sementara.


Dengan Samudra anak mereka yang terlihat sangat tenang berada dalam pelukan hangatnya. Mata bulat jernih menatapnya begitu hangat. Bibir mungil yang terkadang membuat senyuman dan tawa kecil memandang ke arah Martha. Tangan mungil gendut Samudra tak jarang terangkat, seolah ingin menyentuh pipi Martha. Senyuman lucu Samudra membuat Martha seolah melupakan kerinduannya akan sosok Harris suaminya.


"Sayang... Kamu nanti besar jadi pria hebat ya, seperti daddy kamu...." Martha bermonolog pelan, berbicara berdua bersama putra kecilnya. Seakan Samudra memahami apa yang ibunya ucapkan, bayi mungil itu tertawa kecil, tangan mungilnya membelai lembut wajah Martha.


"Iihh.... lucu banget sih anaknya mommy...." Martha menciumi pipi mungil itu. Mencoba berinteraksi dengan bayi yang baru berumur sekitar enam bulan itu.


.....


"Non..... non Martha...." Suara bibik terdengar dari luar kamar, sambil mengetuk pelan pintu kamar berwarna krem itu.


"Maaf non, ada tamu di luar," ucap bibik lagi.


Kali ini berhasil membangunkan Martha, "Iya bik, tunggu sebentar."


Martha kini duduk di tepi ranjang, membenarkan rambut panjang kecoklatan miliknya. Tamu....? Siapa? Seingatnya ia tidak mengadakan janji pertemuan dengan seseorang hari ini, pikirnya.


Martha bangkit mengenakan cardigan panjang berwarna coklat muda, melipat rapat cardigan panjang itu sehingga menutupi mini dress berbahan silky yang lembut. Ia melihat ke arah Samudra sebentar, anak itu masih terlelap damai dalam box bayi samping ranjangnya. Martha tersenyum lega ketika suara bibik barusan tidak membangunkan anaknya yang pulas tertidur.


"Siapa bik?" tanya Martha heran, si bibik yang masih menunggu nona majikannya hanya menggeleng pelan. "Tidak tau non, orang nya cantik tapi kelihatannya sombong." Si bibik menjawab dengan sedikit mendengus kecil.


"Bibik ih, jangan gitu sama orang. Tolong bibik jaga Samudra di kamar ya, dia lagi bobok tadi."


Si bibik mengangguk patuh, "Baik, non."


Martha menuruni anak tangga melingkar, mencoba menebak-nebak tamu yang menurut si bibik cantik tapi sombong.


Alis Martha ia tarik sebagian begitu melihat sosok gadis yang kini berdiri dengan tangan ia lipat sebatas pinggang. Benar saja apa yang diucapkan si bibik, gadis itu sangatlah cantik, mengenakan gaun pendek di atas lutut berwana magenta. Rambut yang juga berwarna kecoklatan ia biarkan tergerai, sungguh berkilau.


"Selamat siang, maaf boleh saya tahu Anda mencari siapa?" Martha bertanya dengan nada lembut, tersenyum sedikit ke arah wanita yang tidak ia kenali. Berkali-kali Martha mencoba mengingat, barangkali saja ia mempunyai teman atau sahabat yang lama tidak ia temui. Namun hasilnya tetap sama, Martha tidak mengenali sosok gadis cantik bersurai lurus sepinggang itu.


"Oh jadi ini, istri dari Harris...." ucapnya dengan nada sinis, memandang Martha dari ujung rambut hingga kaki, tatapan mata yang sedikit meremehkan.


"Iya, saya istri dokter Harris. Maaf Anda siapa dan ada keperluan apa datang ke rumah saya?"


"Cantik sih.... tapi sayang murahan," decih tamu tak diundang itu.


Wajah ramah Martha seketika berubah, membola penuh ketika mendengar orang yang tidak ia kenali mengatai dirinya 'murahan'.


"Anda siapa, datang-datang ke rumah saya dan berbicara seenaknya pada saya? Tolong jika tidak ada kepentingan, silahkan Anda keluar dari rumah saya atau saya suruh satpam mengusir Anda."


Perkataan tegas Martha tampaknya tidak menciutkan nyali perempuan itu. Kembali ia tertawa menyeringai sambil memandang wajah Martha di hadapannya.


"Saya Laura, tunangan Harris."


Deg....


Bagai disambar petir ribuan volt, kini tubuh Martha meremang. Tunangan? Harris suaminya? Gak... gak mungkin suaminya setega ini mengingkari janji mereka di depan altar gereja.


"Kenapa? Kaget? hahahaha....!" kembali perempuan itu tertawa, mencoba memanas-manasi hati Martha.


"Jika saja tidak ada kamu, aku dan mas Harris sudah menikah saat ini," lanjutnya lagi.


"Kamu itu gadis murahan yang hanya sebagai pemuas nafsu mas Harris. Kamu tahu? cinta mas Harris hanya untuk saya." Perempuan itu semakin menjadi, berteriak tidak tahu malu di kediaman Martha dan Harris. Tatapan mata meremehkan gadis itu seolah menelanjangi harga diri Martha.


Martha hanya bisa mematung, mendengar semua ucapan gadis yang mengaku bernama Laura tadi. Mencoba mencerna kembali ucapan perempuan itu. Hanya sebagai pemuas nafsu? Apakah ucapan itu keluar dari mulut Harris, suaminya? Atau hanya karangan gadis asing ini? batin Martha kalut.


"Kamu kaget, hah?! Asal kamu tahu ya, Harris sendiri yang pernah bilang kalau kamu hanya sebagai pemuas nafsu, tidak lebih." Perempuan itu semakin menjadi, tanpa rasa malu berteriak di rumah besar milik Harris dan Martha.


Membuat si bibik yang tadinya berada di kamar atas tiba-tiba turun tergopoh saat mendengar suara ribut-ribut yang selalu menyebut nama nyonya mudanya. Disamping itu suara perempuan yang bak nenek sihir itu telah membuat tidur Samudra terganggu. Bayi itu menangis seolah merasakan kepiluan sang ibu yang saat ini dirasakan.


"Maaf non Martha, den Samudra bangun dan mencari non," ucap si bibik dengan ekspresi khawatir.


"Oh jadi ini anak haram itu, hah...?!" lanjut perempuan itu lagi.


Darah Martha seketika mendidih. Tidak bisa dibiarkan, perempuan itu boleh saja menghina dirinya tapi jika mulut yang tidak pernah belajar sopan santun itu sudah menghina anaknya, Martha tidak akan tinggal diam.


"Jangan pernah menghina anak saya. Harris ayahnya dan anak saya bukan anak yang seperti Anda sebutkan tadi.....!" Martha menjeda kalimatnya. Menatap tajam wajah cantik itu.


"Jika sekali lagi saya mendengar Anda berani menghina anak saya.... tidak segan-segan saya akan merobek mulut busuk itu. Paham ?!" bentak Martha, mengacungkan satu jari telunjuknya tepat ke arah wajah Laura.


Gadis itu mulai sedikit bergidik melihat ekspresi yang Martha tunjukkan.


"Hahahaha.....!" Laura tertawa kecil, mencoba menyembunyikan ketidak nyamanannya, berjalan mendekat ke arah Martha, mengitari tubuh Martha dan menatapnya tajam. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan mas Harris pilih." Laura masih berusaha mengintimidasi.


Berdecih meremehkan dan berlalu dengan angkuhnya dari hadapan Martha, mengetukkan heels sepuluh sentimeter itu di permukaan lantai marmer rumah besar Martha.


Cairan bening kini mulai menetes turun di kedua pipi putihnya. "Non... non yang sabar ya...." ucap bibik yang mendekat bersama Samudra dalam gendongan wanita setengah baya itu.


Martha berusaha tersenyum, melihat wajah tak berdosa Samudra membuatnya sedikit tenang. Martha mengambil alih anaknya dari gendongan si bibik. Mendekap Samudra erat, sesekali ciuman hangatnya ia daratkan di pipi dan kening bayi mungil itu.


Harris.... Laura ....


Ada hubungan apa antara keduanya? Apakah laki-laki itu kini mengkhianati cintanya? Atau perempuan itu hanyalah masa lalu Harris?


Martha kini tidak bisa berfikir lagi, semakin mendekap erat bayi mungilnya yang sesekali tertawa kecil padanya. Seolah anak itu berucap, "It's Ok Mommy..... You have me now. I am... your guardian..."


to be continue....