
Ini adalah weekend terakhir Maya dan Samuel di Milan. Ketika mendengar jika esok mereka harus terbang kembali ke Indonesia, Maya merasa sangat senang begitupun Samudra. Rasanya dua bulan adalah waktu yang lama untuk Samudra meninggalkan kedua orangtuanya, meski selama di Milan baik Martha maupun Harris selalu melakukan vidio call namun Maya dapat menangkap rasa kangen bocah itu terhadap Martha.
"Am senang kita pulang, ketemu mommy dan daddy nya Am?" tanya Maya waktu itu begitu ia mendengar rencana kepulangan mereka. Samudra langsung saja mengangguk cepat dan merangkulkan kedua lengannya ke leher Maya. "Am anggen cama mommy, cama daddy...." ucap Samudra dengan netra berkaca-kaca.
Maya langsung saja memeluk bocah itu dan mendaratkan kecupan hangat di keningnya.
....
Malam terakhir mereka di Milan tidak Sam sia-siakan, Samuel menebus makan malam mereka waktu itu yang telah gagal karena ulah Elano. Ceo itu bahkan sudah menyiapkan ulang semuanya. Tempat yang romantis, buket mawar merah yang menjadi favorit Maya dan tak lupa menu makan malam yang sangat spesial untuk gadis yang paling berharga dalam hidup Sam. Dan untuk menu makan malam itu, ada satu kejutan yang Samuel siapkan buat istrinya.
"Kamu sudah siap, honey?" tanya Samuel. Netranya tiba-tiba membulat takjub dengan pemandangan yang ia lihat.
Maya terlihat begitu cantik dengan dress panjang tanpa lengan. Gaun berbahan schifon berwarna macha yang menjuntai jatuh dan mengikuti gerakan tubuh Maya nampak begitu memukau. Gaun dengan potongan leher V yang kali ini tidak terlalu rendah, menampilkan dada dan leher putih milik Maya. Dengan rambut yang hanya ia gerai dan sedikit ia buat curly membuat penampilan Maya malam itu sangat sempurna di mata Samuel.
"Suami....." ucap Maya yang telah mengejutkan lamunan Samuel.
"E-eh iya?"
"Hehehe, kamu kenapa sih Sam?"
Samuel tersenyum tipis dan berjalan mengikis jarak mereka. Sam lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Maya. Kedua netra coklat miliknya menyorot Maya lembut.
"You look like a goddess, honey." Bisik Sam lembut, bibir tebalnya kini ia dekatkan ke wajah Maya. Satu kecupan yang tidak bisa Sam tahan akhirnya mendarat penuh kelembutan di salah satu pipi chuby berpoles blass on warna peach.
"Samuel... geli ih," kekeh Maya manja ketika ia merasakan sensasi menggelitik dari pergerakan bibir Samuel di wajah dan lehernya.
"Sam, kalo kamu terus peluk aku kek gini, kita bisa terlambat nanti."
"Tapi aku masih ingin kayak gini, sayang," bisik Samuel tanpa menghiraukan apa yang baru saja Maya ucapkan tadi.
Samuel semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Maya, bibirnya pun masih menyusuri tiap sudut wajah istrinya. Memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah dan bibir peach Maya yang malam itu terlihat sangat menggoda.
"Om Uel-Onty Aya....!" seru Samudra tiba-tiba.
Membuat baik Sam maupun Maya tersentak kaget lalu merotasikan netra nya ke arah Samudra yang telah berdiri di ujung pintu kamar mereka dengan wajah cemberutnya.
"I-Iya Am?" jawab Maya kaget, ia berusaha membenarkan kembali gaunnya lalu memandang ke arah Samudra. Satu lengan Maya kini terlihat melingkar erat di lengan Samuel.
"Kapan kita pelgi nya? Am udah lapen....!"
Samuel tertawa kecil dan berjalan ke arah bocah menggemaskan itu lalu mengangkat tubuh mungilnya ke dalam gendongan Samuel. "Maaf sayang, Am udah laper ya?"
Samudra hanya mengangguk sembari mengerucutkan bibirnya lucu.
"Ya udah kita berangkat sekarang ya."
"Yeeeayy.... ayo Om....!"
Ketiganya lalu berjalan keluar dari kamar luas tersebut, masih dengan Samudra yang dalam gendongan Samuel. Sedangkan Maya berjalan di sisi kiri Sam dan menggelayut lengan suaminya manja.
...----------------...
"Kita naik ini?" tanya Maya ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah lapangan basket yang lumayan luas di lingkungan sekitar perusahaan Samuel.
Sam hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.
Maya membolakan kedua matanya, terkejut dengan kejutan yang Samuel berikan. Seolah tidak percaya dengan jawaban Samuel.
Baru kali ini ia pergi makan malam menaiki sebuah helikopter pribadi. Maya rasa ini terlalu berlebihan.
"Ayo kita naik."
"Tapi Sam.... ini terlalu berlebihan deh."
"Gak sayang, buat kamu gak ada kata berlebihan." Jawab Samuel tegas, sementara Maya masih mematung tidak percaya. Sam lalu meraih lengan Maya sembari membawa Samudra ke dalam gendongannya.
Samudra tak henti-hentinya mengedarkan pandangannya ke atas langit yang penuh dengan gemerlap lampu-lampu kota yang terlihat dari dalam helikopter.
....
Setelah satu jam ketiganya terbang dengan helikopter pribadi milik Samuel, kini sang pilot menurunkan mereka di sebuah rooftop luas yang berhias banyak kerlip lampu-lampu beraneka macam warna.
Maya menuruni tangga helikopter dengan hati-hati, ia tidak ingin high heels yang dipakainya terselip atau ia terpeleset gara-gara sikap bar-bar nya dan membuat malu Samuel.
Sebuah meja bundar pun tertata rapi di tengah-tengah rooftop. Lengkap dengan buket mawar merah di tengah meja, beberapa buket mawar pink pastel juga berhias dengan sangat cantik disekitarnya.
Lagi-lagi netra Maya mengerjap bahagia, ia memandang ke arah Samuel yang berdiri di sampingnya dengan salah satu lengan melingkar di pinggangnya.
"Suami......" cicit Maya takjub, kedua netra hitam itu tak henti-hentinya mengedarkan seluruh pandangan ke sekitar tempat khusus yang Samuel persiapkan.
Yang bertempat di atas rooftop gedung paling tinggi di Milan.
"Kamu suka?"
"Hm, suka banget." Angguk Maya, kembali ia memandang lembut Samuel. Kedua netra hitamnya kini mulai berkaca-kaca menatap sang suami.
"Makasih, suami."
"Sama-sama, sayang." Samuel mencium lembut kening Maya lalu mengusap puncak kepala Samudra yang berdiri di tengah-tengah mereka.
"Sekarang kita makan yuk, tadi katanya Am udah laper kan?" ucap Samuel sembari menarik kedua lengan orang yang Sam cintai.
"Om Uel.... Am mo makan kue coklat yang buanyak...." celotehnya lucu.
"Iya, Om Uel udah siapkan semuanya buat Am."
Ujar Samuel, kini ia menarik kursi buat Maya dan mempersilahkan istrinya itu duduk. Sedangkan Samudra pun telah Sam dudukkan di tengah-tengah mereka.
Bola mata Samudra pun membola penuh, berbinar tatkala melihat semua hidangan kesukaannya tersedia di atas meja bundar tersebut.
"Kue coklat..... Ah permen..... es clim..... pizza.... Am sukak.... Am mau mamam cemua....!!" pekik bocah laki-laki tampan itu.
Maya tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan Samudra. Lalu pandangannya kini beralih ke arah Samuel yang duduk tepat di hadapannya.
Ia bersyukur memiliki suami seperti Sam, laki-laki yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya.
"Nah ini kejutan buat kamu sayang."
Ucap Sam ketika seorang pelayan membawakan satu piring penuh martabak manis dengan coklat lumer dan parutan keju di dalamnya.
"Martabak coklat keju.....!!" pekik Maya yang tak kalah kencang dari Samudra.
Netranya membola penuh dan berbinar ketika melihat piring penuh dengan martabak manis yang menjadi cemilan wajib buatnya.
"Makasih, suami...." ucapnya dengan mata berbinar.
Samuel tersenyum lalu mengangguk, ia lalu suapkan satu potong martabak penuh dengan coklat lumer ke mulut Maya.
"Makan yang banyak ya. Aku suka melihat istriku tidak kurang apapun itu."
Maya mengangguk dan mulai memakan semua makanan yang menjadi kesukaannya.
Selama tinggal di Milan Maya pernah mengatakan ke Samuel kalau dia kangen dengan makanan favoritnya saat di Jakarta. Karena kesibukan Sam membuat pria itu tidak sempat mewujudkan apa keinginan Maya, hingga malam ini Samuel menyiapkan semuanya.
Karena bagi Samuel, melihat Maya tersenyum cukup membuatnya sangat bahagia.
...****************...
to be continue....