
Melihat dari kejauhan sosok perempuan cantik yang berjalan dengan sangat elegant, gesture tubuh luwes berlenggok meskipun terlihat perut perempuan itu sedikit membuncit. Tidak bisa dipungkiri oleh Dean jika perempuan bergaun warna peach dengan potongan yang sangat sempurna melekat di tubuh yang terlihat sedikit berisi itu telah menyentuh seluruh bagian dari dirinya yang selama ini Dean tidak pernah merasakannya.
Gaun yang sangat ringan dan mengikuti segala gerak tubuh perempuan itu membuat jantungnya sepersekian detik serasa berhenti.
Dari kejauhan Dean bahkan sedikit menarik senyuman tatkala melihat sosok perempuan cantik yang berjalan di samping laki-laki yang juga terlihat tampan dan memiliki postur tubuh atletis.
Melihat laki-laki itu membuat Dean tiba-tiba saja tersadar.
Damn...!! Dia milik orang lain, batin Dean akhirnya.
....
Dean Sanjaya.... seorang laki-laki berusia kurang lebih dua puluh sembilan tahunan. Masih terbilang sangat muda untuk seseorang yang memiliki banyak perusahaan besar. Jangan salahkan Dean jika dia mewarisi sebagian perusahaan nya dari kedua orangtuanya.
Nama besar Sanjaya bisa dibilang telah lama malang melintang di dunia bisnis Asia. Sejak kakek buyut Dean, keluarga Sanjaya telah lebih dahulu terjun ke dunia bisnis. Perjuangan dari nol yang dibangun oleh klan Sanjaya hingga bisa besar sampai sekarang ini membuat Dean mau tak mau harus meneruskan apa yang telah kakek buyutnya bangun dulu.
Dean sendiri keturunan ke empat dari klan Sanjaya. Meski selain dirinya ada juga beberapa saudara laki-laki yang ia miliki, namun hanya dirinya lah yang memiliki jiwa bisnis kuat, sama seperti kakek dan ayahnya.
Dean dipercaya untuk memegang saham terbesar dari beberapa perusahaan yang dimiliki oleh keluarganya. Salah satunya adalah perusahaan makanan dalam kemasan dan juga bisnis otomotif yang saat ini tengah menjalin kontrak kerjasama dengan perusahaan milik Samuel.
Oh ya tak lupa bisnis perhotelan yang tersebar di Jakarta dan Bali pun tak luput dari kekuasaan seorang Dean Sanjaya.
Diberikan tanggung jawab sebesar itu ketika usianya masih terbilang sangat muda, membuat Dean melupakan urusan asmara.
Untuk yang satu ini, semenjak kuliah di London, Dean memang tidak pernah memiliki hubungan yang benar-benar serius dengan seorang perempuan.
Kalaupun ada hubungan asmara, pria itu tidak pernah menganggap hal itu sesuatu yang serius dalam hidupnya. Sejak hubungannya kandas dengan kekasihnya saat Sma dan itu gara-gara standart tinggi yang keluarga besarnya tetapkan untuknya, menurut keluarga besarnya keturanan mereka haruslah mendapat pendamping gadis dari strata sosial yang sama dengan mereka.
Sejak saat itu Dean bersumpah untuk tidak pernah berhubungan serius dengan seorang perempuan manapun.
Pria itu hanya mau bermain dengan banyak perempuan tanpa ada komitmen yang jelas. Dan bukan sembarang perempuan, Dean tentu saja menghindari perempuan asusila untuk dia ajak berkencan, dia tidak pernah mau mengambil resiko yang nantinya dapat merugikan dirinya sendiri.
Sudah tak terhitung berapa banyak model ataupun artis papan atas yang pernah menjadi teman kencan seorang Dean Sanjaya.
Dan hingga malam ini--- ketika kedua netra kebiruan miliknya menangkap sosok perempuan tinggi dan berkulit putih bersih. Wajah cantiknya masih tetap terpancar aura tersendiri meski tanpa make up yang berlebihan. Make up flawless yang terpoles di wajah bersih perempuan itu cukup mampu membuat hati Dean Sanjaya bergetar.
Meskipun kedua netra pria itu tak pernah terlepas memandang perut perempuan itu yang terlihat sedikit menonjol.
Namun entah kenapa kehamilan perempuan itu malahan semakin memperkuat aura kecantikannya.
Membuat Dean sedikit menelan saliva tanpa sepengetahuan pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria yang paling beruntung menurut Dean.
....
Dean menggenggam erat seluruh jemari tangan kanan perempuan itu. Ada rasa hangat dan nyaman yang menjalar ke seluruh inti tubuhnya.
Entah kenapa, dia sendiri pun tidak memahami perasaan apa yang menyelimuti seluruh ruang dalam tubuhnya dengan begitu kuatnya.
Baru kali pertama ini Dean merasakannya. Hanya melalui sentuhan kulit yang terjadi begitu singkat, mampu membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik.
Dean bahkan tidak pernah merasakan hal yang sama dengan perempuan-perempuan cantik yang selalu menjadi teman kencannya.
Bahkan dalam pikirannya, dia membayangkan seandainya saja benih yang berada dalam perut perempuan itu adalah miliknya.
Gila....!!
Dean samar tersenyum kecut dan berusaha mengusir pikiran gila yang tiba-tiba saja datang ke otaknya.
"Don't be a silly, Dean...!!" gumamnya lagi dalam hati.
Oh-dia bahkan melupakan sosok pria tegap berambut sedikit ikal yang berwarna senada dengan iris kecoklatan yang selalu menatapnya tajam.
Pria dihadapannya itu bahkan tidak pernah membiarkannya memandangi wajah cantik perempuan yang bersanding dengannya.
Pria itu selalu saja membuat Dean merasa tidak nyaman ketika mengobrol dengan perempuan menakjubkan itu.
Bahkan pria atletis itu selalu memakai bahasa tubuh yang membuat Dean merasa cemburu saat melihat mereka berdua.
"Damn, you have no right to be jealous of him," batin Dean sekali lagi.
Dean hanya bisa mencuri pandang ketika ketiganya tengah asik berbincang, bahkan Dean Sanjaya saat itu tidak dapat merasakan rasa makanan yang tengah ia santap. Pikirannya kini hanya berpusat pada perempuan yang ada di hadapannya saat ini.
Dean bersungguh-sungguh ketika mengatakan sesuatu yang Dean yakini membuat pria atletis yang tak lain adalah klien bisnisnya itu meradang.
"Dan jika saya harus menikah nantinya--- saya berharap suatu hari nanti menemukan sosok perempuan seperti istri anda."
to be continue...