
Martha berdiri, mematut dirinya di depan cermin. Gadis itu terlihat sempurna dengan gaun pengantin bruklat broken white, dengan potongan mermaid yang simpel namun tidak menghilangkan kesan elegan dan cantiknya.
Rambut panjangnya ia sanggul kecil ke atas, tiga tangkai mawar putih ia sisipkan di sisi kiri rambutnya. So perfect...
Harris datang dan memeluk tubuh Martha dari belakang, mengeratkan pelukannya dan dengan lembut mencium pipi kanan Martha.
"You look so lovely, sweetheart," bisik Harris, mengeratkan kembali pelukannya.
"Kamu siap menjadi nyonya Harris, sayang?" bisik Harris lembut, Martha mengangguk. Ia membalikkan badan menghadap laki-laki itu, tersenyum merekah bahagia dan memeluk tubuh kekar Harris.
"Aku bahagia sekali, sayang. Ini adalah moment terindah dalam hidup aku." Suara Martha melembut, mencium ringan ujung bibir Harris kemudian kening mereka saling berpautan.
Untuk beberapa saat kedua bibir mereka saling menyatu, kehadiran Samudra diantara mereka sungguh tidak membuat keromantisan dan kasih sayang itu pudar. Justru mereka semakin saling mencintai dan menjaga apa yang mereka bangun akan selalu bersemi abadi.
"Sekarang, kamu siap berjalan menuju altar kita, sayang?" tanya Harris lagi. Mengulurkan tangannya ke arah Martha.
Dengan perasaan berbunga Martha meraih tangan Harris, mengeratkan genggaman tangan mereka dan berjalan keluar dari dalam kamar. Harris masih erat melingkarkan lengannya di pinggang ramping Martha.
Mereka berjalan keluar, dibantu oleh si bibik yang memegang layer panjang yang menyerupai ekor mermaid di baju pengantin Martha. Sebuah sedan panjang berwarna putih sudah menunggu keduanya.
"Bik, Samudra...."
"Den Samudra sudah dibawa sama nona Maya dan tuan muda Samuel, non. Mereka berangkat duluan ke gereja." jawab si bibik.
Membuat Martha kini mengangguk lega.
"Kita berangkat sekarang, sayang. Kamu bisa kan masuk mobil?"
Martha mengangguk, disusul dengan Harris yang membukakan pintu mobil untuk Martha. Melindungi kepala gadis itu agar tidak terkena langit-langit mobil dan membenarkan gaun pengantin panjangnya.
Sedan putih dengan hiasan buket bunga serta pita warna warni di kap depan mobil tersebut, kini melaju pelan menuju gereja tempat mereka diberkati.
Harris menggenggam erat jemari Martha. Laki-laki itu bisa melihat ekspresi Martha yang kini kembali terlihat sedih.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Harris, mengelus lembut punggung tangan gadis itu dengan pandangan tertumbuk pada wajah cantik Martha.
"Aku sedih, mama dan papa tidak hadir di pernikahan kita," lirih Martha, cairan bening tak kuasa ia tahan. Dengan tanpa bisa dibendung lagi cairan hangat itu mengalir keluar dan turun bebas di pipi putih gadis itu.
"Kita bisa melewati bersama-sama, Tha. Ingat, Samudra menunggu di altar kita." Harris berbisik menguatkan, mendaratkan kecupan kecil di kening Martha.
Membuat gadis itu mengangguk pelan.
....
Sedan putih itu berhenti tepat di depan gereja St. Maria de Fatima. Bangunan megah itu terlihat semakin indah berhias ribuan mawar putih dan juga bunga krissan kuning.
Martha keluar dari mobil dengan Harris yang berdiri di sampingnya, menggandeng erat tangan Martha. Sekali lagi memandang wajah cantik itu lembut. "Kamu siap, sayang?" tanya Harris meyakinkan.
Martha mengangguk pelan, membuat senyuman lega Harris tertarik penuh.
"Kalian sedikit terlambat, pastur sudah menunggu kalian dari tadi." Samuel mendekat ke arah kedua pengantin, untuk sesaat pandangan Sam tertuju ke arah Martha dan Harris. Kali ini Martha terlihat cantik, senyuman kecil Sam tertarik, mengulurkan tangannya ke arah Martha. "Kamu terlihat cantik Tha." Ucapan Sam sangat tulus, membuat Martha tersenyum kecil ke arahnya.
Sesaat ada keheningan di ketiganya.
"Selamat buat kalian. Sekarang cepatlah, apa kalian ingin pernikahan kalian tertunda?" Ucap Samuel tiba-tiba, menepuk pelan pundak Harris dan bersiap membawa lelaki itu melewati pintu belakang gereja.
Samuel menghubungi salah seorang staf WO, menyuruhnya untuk menjemput Harris melewati pintu belakang gereja dan mempersiapkan segala keperluan lelaki itu.
"Sam, cincin pernikahannya sudah aman, bukan?" tanya Harris sebelum ia menuju backstage dan menunggu Martha di depan altar.
"Semua sudah siap, kamu tenang saja." Sam mengarahkan jempolnya ke arah Harris, menepuk pelan pundak lelaki itu sebelum akhirnya Harris sedikit berlari mengikuti arahan salah satu staf WO.
Meninggalkan Martha yang berdiri di depan pintu gereja, buket mawar putih masih ia genggam erat, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Pernikahan ini tidak seperti pernikahan pertamanya dengan Samuel. Ini berbeda, Martha bahkan merasa gemuruh yang hebat di dadanya.
"Are you ready for the wedding?" Sam mendekat ke arah Martha.
"Yes, I'am." Senyuman Martha terkembang penuh, menatap ,ke arah Samuel.
"Terima kasih Sam, sudah bersedia menjadi pendamping pernikahan kami," lirih Martha, memandang lekat manik mata Samuel, rasa haru menyeruak di hati Martha. Pria yang pernah dia lukai dan bohongi dulu, kini bersedia memaafkan dan bersikap bijaksana.
"Apapun yang bisa aku bantu untuk kalian, akan aku lakukan," balas Sam dengan tersenyum kecil.
Martha mengangguk mantap, tersenyum sebentar lalu pandangannya lurus ke depan. Mereka melangkahkan kakinya memasuki gereja, berjalan sepanjang lorong menuju altar pernikahan. Alunan musik khas pernikahan berdenting mengiringi langkah mereka. Martha berjalan didampingi oleh Samuel. Lengan gadis itu terkait melingkar di lengan Sam. Harusnya ini adalah tugas Baskoro ayah Martha, lelaki yang akan membawa dan mendampingi Martha berjalan menuju altar gereja. Yang akan mengantarkannya ke arah Harris yang sudah berdiri di hadapan sang pastur.
Gaun pengantin mermaid terlihat sangat indah melekat di tubuh Martha, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Sama sekali tidak memperlihatkan jika gadis itu telah memiliki buah hati.
Para undangan serempak berdiri menyambut kedatangan sang pengantin wanita.
Harris menoleh ke arah Martha begitu musik pernikahan mengalun lembut. Memandang takjub ke arah Martha.
Sam menyerahkan tangan Martha ke arah Harris, tersenyum bahagia kepada keduanya. Harris mengangguk kecil, seolah berkata terima kasih Sam.
Sementara Maya yang berdiri di salah satu kursi undangan yang berderet, menyambut kedatangan Samuel dengan senyuman. Samudra terlihat tenang, terlelap dalam gendongan Maya, bayi mungil itu seakan merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat Maya.
Semua tamu undangan kini mulai duduk di kursi masing-masing, menyaksikan pemberkatan pernikahan Martha dan Harris.
Hening sesaat...
Seolah semua tamu sangat terbawa suasana haru. Kerabat dan rekan kerja Harris mendominasi tamu-tamu itu.
Tidak terlihat sosok Baskoro dan juga Elsi di antara kerumunan para tamu, membuat Martha kembali merasa kesedihan mendalam.
"Apakah kamu, Martha Anindia Baskoro bersedia menerima Harris Pratama sebagai suami kamu, menemani saat susah dan senang? Hingga maut memisahkan?"
"Saya bersedia."
Jawab Martha.
"Apakah kamu, Harris Pratama bersedia menerima Martha Anindia Baskoro, mencintai dan menjaganya hingga maut memisahkan?"
"Saya bersedia." Jawab Harris.
"Sekarang atas nama roh Kudus kalian sah sebagai suami istri."
Harris dan Martha kini berdiri saling berhadapan begitu pastur menyatakan mereka telah resmi menjadi suami istri.
Harris mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Martha, melingkarkan lengannya erat di pinggang gadis itu. Harris kemudian sedikit memiringkan kepalanya untuk mencium bibir merah Martha. Di depan altar gereja keduanya saling membalas ciuman mesra, beberapa detik keduanya terbawa emosi bahagia.
Sam dan Maya saling memandang dan tersenyum melihat mereka, Maya mengalihkan sejenak pandangannya ke arah bayi mungil yang ada dalam pelukan hangatnya. Mencium pipi mungil yang masih terlelap begitu damai.
"Kamu beruntung, sayang. Memiliki mereka yang sangat mencintai kamu," bisik Maya lembut di salah satu telinga Samudra.
Samuel yang mendengar itu, sekilas menarik senyuman manisnya. Merangkul pundak Maya dan mengecup kening gadis itu lembut. "Nanti anak kita juga akan sangat beruntung memiliki mommy seperti kamu, sayang," bisik Sam lembut, membuat kedua pipi Maya seketika bersemu merona.
Sam bahagia, sekali lagi hubungannya dengan Maya kembali membaik.
....
Harris melepas pautan bibirnya, disambut oleh riuh tepuk tangan para tamu. Keduanya berjalan saling bergandeng tangan erat, sesekali pandangan mata mereka sama-sama bertumbuk mesra.
Sambutan bahagia kerabat dan teman mengiringi kedua pengantin itu.
"Selamat atas pernikahan kalian, aku ikut bahagia untuk kalian." Maya mendekat ke arah Martha, memeluk gadis itu erat.
"Makasih, May." Kedua netra Martha berkaca-kaca bahagia. Pandangannya seketika tertuju pada bayi kecil di pelukan Maya.
Tanpa menunggu lama, Martha mencium lembut Samudra.
"Aku dan Sam akan membawa Samudra ke mansion kalian. Kamu tenang aja Tha," ucap Maya begitu Harris mengingatkan Martha untuk segera menuju ke tempat pesta mereka di mansion pribadi milik Harris.
"Thanks, May."
Maya mengangguk dan tersenyum. Ia masih mengamati kepergian Martha dan juga Harris.
"Ayo sayang, kita juga harus segera menuju ke mansion Harris." Maya mengangguk, mengikuti langkah Samuel yang mengarah ke sedan merah menyala milik Sam.
Pernikahan Martha membuat angan Maya sedikit menerawang, membayangkan bagaimana nantinya pernikahan dia dengan Samuel, hingga senyuman kecil terbentuk di sudut bibir Maya dan pipi chubby itu terlihat merona.
Ia berharap tidak ada lagi duri dalam hubungannya dengan Sam. Bukankah mereka juga berhak bahagia selamanya?
to be continue....