MySam

MySam
Memberikan Kesaksian



"Kamu siap untuk memberikan keterangan di kepolisian hari ini?" tanya Sam melalui sambungan selulernya. "Oke, aku jemput kamu sekarang___ iya, Assalamualaikum..."


klik


Sam mematikan ponselnya, langsung meninggalkan kantor Advertising miliknya. Pria itu memberikan beberapa intruksi ke Bayu sebelum ia benar-benar keluar meninggalkan kantor.


Sam memacu sedan hitamnya dengan kecepatan tinggi, berusaha menguji adrenalin untuk mengusir semua rasa kegelisahan dan grogi menjelang kesaksian Maya hari ini. Yang Sam takutkan hanya gadis itu, ia berharap semoga Maya bisa menjawab semua pertanyaan penyidik dengan tenang.


.....


Sedan hitam itu berhenti tepat di depan rumah minimalis berpagar gelap. Sosok gadis cantik sudah menunggu dari tadi, duduk di kursi teras dengan sebuah ponsel pipihnya di tangan.


Sam turun menghampiri, tersenyum sebentar sebelum ia mendaratkan ciuman kecil di kedua pipinya. "Kamu sudah siap?" tanyanya yang lalu dijawab anggukan kepala dari Maya.


"Berangkat sekarang? Mamah pergi tapi Aku sudah izin mamah tadi." Maya menjelaskan.


"Ya udah kita berangkat sekarang." Sam mengulurkan tangannya, menggenggam erat jemari Maya untuk menguatkan.


Perlahan sedan hitam milik Sam melaju menembus kepadatan arus lalu lintas Jakarta. Sesekali ia memandang Maya, Sam tahu jika gadis yang duduk di dekatnya saat ini begitu tegang dengan apa yang akan terjadi di kantor kepolisian nanti.


.....


"Saudari Maya apakah benar dia yang menyerang Anda pada hari Rabu tanggal 6 Maret pukul 18.00 WIB?" tanya penyidik yang menunjuk sosok Elano. Pria itu berdiri di sebuah ruangan lain, ruangan yang berada tepat di samping ruang penyidikan yang saat ini Maya berada di dalamnya. Hanya terpisah oleh dinding kaca kedap suara. Elano tidak dapat melihat wajah Maya dari dalam ruangan itu, meskipun dinding kaca tersebut terlihat begitu bening dan bersih.


Maya memandang wajah Elano yang berdiri di dalam sana. Entah kenapa pria itu berdiri tanpa seragam seorang pesakitan seperti yang lain. Mungkin kekuasaan keluarga Elano yang bisa membuatnya mendapatkan perlakuan khusus, pikir Maya kesal.


"Iya benar, itu orang yang berusaha memperkosa saya," suara gadis itu menjawab tegas. Sorot kebencian terpancar di kedua iris hitam itu.


"Apa yang dia lakukan saat itu? bisa Anda ceritakan?"


Maya terdiam sebentar, memandang ke arah penyidik yang memberikan pertanyaan tadi. Seolah tidak mengerti kenapa pertanyaan seperti itu ia ajukan. Sebagai seorang polisi apa ia tidak mengetahui perlakuan seorang kriminal terhadap korbannya? Kenapa dia memintanya untuk menceritakan kembali kejadian yang ingin sekali ia lupakan. Maya mematung, berharap saat ini Samuel di izinkan juga memasuki ruang penyidikan. Pastilah gadis itu sedikit merasa lebih tenang jika ada Sam di sampingnya.


"Saudari Maya....! saya menunggu jawaban Anda." Ucap penyidik itu lagi, menunggu jawaban dari Maya.


"Apa perlu saya jawab pertanyaan yang jawabannya ingin sekali saya lupakan, Pak?" tanya Maya dengan wajah memucat.


"Maaf saudari Maya, semua. keterangan dari Anda akan kami catat sebagai bahan BAP nanti. Jadi sangat penting untuk Anda jawab." Jawab penyidik kembali.


Maya membuang napas berat sebelun akhirnya ia menjawab semua kronologis kejadian waktu itu.


"Dia mengatakan akan ada meeting direksi sore itu, yang awalnya berjadwal pukul 16.30 WIB. Ketika hari semakin gelap, yang terlihat dari kaca jendela ruang meeting di lantai lima. Jam tangan saya menunjukkan pukul 18.30 WIB dan tidak ada seorang pun yang memasuki ruang tersebut."


"Lalu?"


"Saya memohon untuk pergi dari sana, meminta untuk menunda meeting hari itu, tapi tiba-tiba saja Elano mencegat saya yang hendak keluar. Menahan pintu supaya saya tidak bisa keluar dari sana. Dan mengunci pintu tersebut." Maya melanjutkan.


"Apakah Anda masih mencoba ingin keluar dari sana?" pertanyaan dari penyidik membuat Maya sedikit geram.


"Tentu saja saya mencoba keluar dari sana. Saya sangat ketakutan, bingung dan berharap ada keajaiban datang."


"Lalu apalagi yang tersangka lakukan terhadap Anda?"


Maya terdiam sejenak, mengingat kembali kejadian itu yang menurut dia adalah saat terburuk dalam hidupnya.


"Terus....?"


"Dia membabi buta menyerang, mendorong tubuh saya ke dinding lalu mendorong dengan keras tubuh saya ke meja yang ada di ruangan itu, mencengkeram leher dan wajah saya erat, menindih tubuh saya hingga sangat sulit bagi saya untuk bernapas."


"Dan sobekan baju Anda ini apakah perbuatan tersangka?" penyidik bertanya dengan menggenggam sebuah baju pemberian Sam waktu itu, sebelum semua kejadian itu bermula.


"Iya." Maya mengangguk tegas, memandang nanar baju yang kini terbungkus plastik transparan.


Sang penyidik hanya manggut-manggut pelan. Kembali membuat catatan di atas secarik kertas putih di hadapannya. Beberapa bukti foto dan luka visum Maya juga memberikan fakta jika memang benar Elano melakukan semua tindak kekerasan dan percobaan pemerkosaan terhadap Maya.


....


Samuel menunggu Maya di luar ruang penyidikan, ia terus saja mondar-mandir tak tentu. Mengkhawatirkan keadaan Maya di dalam sana. Apakah Maya baik-baik saja? Apakah dia bisa menjawab semua pertanyaan yang penyidik ajukan? bagaimana jika kejadian itu kembali membuat luka di hati Maya?


Semua pertanyaan- pertanyaan itu yang memenuhi benak Samuel saat ini.


Beberapa jam berlalu sejak Maya memasuki ruang penyidikan, hingga netra coklat Sam membola begitu melihat Maya keluar dari pintu ruang penyidikan. Gadis itu tertunduk, berjalan lemah menuju ruang tunggu dimana Sam berada. "Maya....!" seru Sam.


Maya merotasikan netranya ke arah sumber suara barito Samuel, tersenyum lega begitu ia melihat sosok pria tegap dengan rambut ikal kecoklatan. "Sam...." Maya meraih lengan pria itu, menggelayut mesra di lengan Samuel.


"Bagaimana, sayang? Tidak ada masalah dengan semua pertanyaan para penyidik, bukan?" tanya Sam khawatir.


"Gak kok...." Maya menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya ia merasa sangat tidak nyaman menceritakan semua kejadian waktu itu, apalagi melihat kembali wajah Elano. Meskipun ia melihatnya dari ruang berkaca yang Elano sendiri tidak bisa melihatnya.


"Kamu yakin?" Sam mengulangi pertanyaannya, melihat ekspresi Maya, Sam tahu ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan.


"I am sure, hunny..." Maya tersenyum kecil menyembunyikan semua perasaannya saat ini.


"Ya sudah, kita pulang sekarang." Sam meraih pinggang Maya dan memeluknya, berjalan berdampingan meninggalkan kantor kepolisian.


Sesekali Maya berjalan di samping Sam sambil menyandarkan kepalanya di lengan pria itu, menggelayut erat di lengan kokoh Sam, seolah tidak ingin berpisah sedetik pun dari Samuel.


....


"Aku gak sabar semua masalah ini selesai dan kita segera melangsungkan pernikahan kita." Sam berucap di tengah perjalanan pulang mereka, sesekali melihat ke arah kaca spion kanan kiri lalu pandangannya beralih ke paras Maya yang duduk di sampingnya.


"Iya, Sam. Aku juga berharap semoga semua masalah kita cepat kelar. Kasian kamunya juga, malah jadi banyak beban pikiran karena semua masalah ini kan," sambung Maya. Memandang lekat paras Samuel yang tengah sibuk melajukan sedan hitamnya.


Sam tersenyum, tangan kiri yang tadinya berada di atas perseneling mobil maticnya kini beralih ke punggung tangan Maya. Menggenggamnya erat dan sesekali mencium lembut jemari lentik gadis itu.


"Luka kamu sudah sembuh kan, Sam? Aku minta maaf ya sudah terlalu sering merepotkan kamu."


Sam menoleh ke arah Maya, tersenyum sebentar lalu kembali pandangannya fokus ke arus arah lalu lintas di depannya. "Kamu tidak pernah merepotkan, May." Sam membelai lembut pipi chuby Maya.


"Kita mampir ke rumah mama dulu ya. Aku kangen sama mama," ucap Sam sambil memandang ke arah Maya sejenak.


"Iya." Maya meng-iyakan. Balas memandang Samuel, tersenyum dan mengangguk cepat.


Keduanya terdiam sebentar, hanya memandang ke arah jalan raya yang sudah mulai padat oleh kendaraan berlalu-lalang. Membiarkan pikiran mereka masing-masing berkelana. Namun kemudian mereka kembali saling menatap lembut. Semua masalah yang selalu datang silih berganti dalam hubungan ini membuat keduanya lebih bisa menguatkan satu sama lain. Kekuatan cinta mereka benar-benar tengah diuji sang semesta.


to be continue....