
Sam berjalan di sekitar lorong-lorong gelap, hanya ada satu pencahayaan yang entah dari mana sumbernya.
Dia seperti dituntun oleh sesuatu yang mengharuskan dia untuk mengikuti jalan cahaya terang tersebut.
Sam terus berjalan dan samar-samar dia mendengar suara tangis bayi. Hingga semakin ia berjalan, entah saat itu ia telah berada di ujung sebelah mana... suara itu semakin terdengar kencang.
Tangisan bayi yang seketika ingin membuatnya menenangkan bayi tersebut.
Hingga tibalah Samuel di akhir lorong.
Netra Samuel membola tatkala melihat dua box bayi yang terletak begitu saja pada tengah lorong.
Anehnya ada banyak cahaya terang yang berpusat pada dua box bayi itu.
Sam terlihat begitu bingung, berbagai pertanyaan kini memenuhi seluruh isi kepalanya.
Aku ada di mana? Anak siapa itu? Kenapa ada dua box bayi di tempat seperti ini? Apa yang harus aku lakukan? Samuel membatin dalam hati.
Tubuhnya serasa kaku saat ini. Dia hanya berdiri mematung melihat dua box bayi dengan suara tangisan bayi dari dalamnya.
Kurang dari satu meter Sam berdiri mematung. Berfikir apakah dia harus mendekat dan melihat bayi-bayi itu ataukah.... hanya mengabaikan nya saja? batin Sam.
Tangisan itu semakin lama terdengar begitu nyaring. Membuat Samuel akhirnya berjalan mendekat ke arah dua box dengan warna biru dan juga pink.
Kedua alis Samuel sedikit terangkat ketika samar-samar dia mengingat akan sesuatu.
Sepertinya dia pernah melihat box bayi itu di tempat lain, tapi di mana? pikir Samuel.
Netra kecoklatan miliknya pun meredup tatkala melihat dua sosok bayi mungil yang saat ini menatapnya teduh.
Bahkan tangisan keduanya kini terhenti. Bayi mungil itu bahkan kini terlihat tersenyum lucu menatap ke arah nya.
Tubuh mereka menggeliat kecil dalam box bayi dan berselimut hangat. Celoteh-celoteh kecil pun terkadang terdengar di kedua bibir mungil mereka.
Benua--Samantha--
Sam membaca nama yang tertulis pada depan box tersebut.
Senyuman kecil Sam terbentuk ketika melihat dua sosok yang seperti malaikat itu. Hingga tiba-tiba kedua lengan Samuel terjulur meraih salah satu bayi tersebut.
Bayi laki-laki bernama Benua....
Sam seperti mengenal nama itu.
Bayi yang begitu tampan, netra dan juga surai hitam pekatnya mengingatkan Sam akan seseorang.
Hidung mungil dan mancung serta kulit putih bersihnya semakin menambah kesan tampan pada bayi mungil itu.
Sam kini sedikit mengangkat bayi laki-laki itu. Perlahan satu kecupan kecilnya mendarat pada kedua pipi serta kening bayi tampan tersebut.
"Suatu saat nanti, kamu akan menjadi seorang jagoan dan anak yang hebat, Ben..." bisik Samuel pada telinga mungil bayi itu.
Senyuman kecil pun terkembang dari bibir mungil bayi dengan nama Benua.
Sam merasakan sebuah magic ketika melihat senyum bayi dalam gendongannya itu.
Ia pun membalas senyuman sang Benua.
Sam meletakkan kembali bayi laki-laki bernama Benua ke dalam box bayi berwarna biru. Box bayi lengkap dengan sebuah kerincingan penghantar tidur bergambar bulan dan bintang.
Hingga netra Sam kembali berpusat pada box yang satunya lagi.
Kali ini seorang bayi mungil perempuan lengkap memakai bando berwarna peach dengan sekuntum bunga daisy yang menjadi penghias pada bando cantik itu.
Samantha....
Mungkin itu nama bayi perempuan ini, pikir Samuel.
Netra Sam kembali meredup menatap wajah tanpa dosa bayi perempuan mungil itu.
Tangan Sam pun kembali terjulur meraih bayi cantik dengan surai kecoklatan dan sedikit bergelombang.
Netra dengan iris yang juga berwarna coklat jernih, hidung mancung serta bibir yang sedikit tebal dan berwarna merah merona.
Sam seperti melihat dirinya sendiri dalam diri bayi perempuan itu.
Sam tersenyum, memeluk bayi perempuan itu erat. Dan sesekali kecupan-kecupan lembutnya mendarat pada kedua pipi gembul berwarna putih kemerahan.
"Hey Samantha....." ucap Samuel.
"Kamu tau, Sam....? Kita bahkan memiliki nama yang hampir sama." kekeh Samuel pelan.
Dia masih terus mengamati wajah cantik bayi itu. Bayi yang tersenyum ke arahnya saat ini.
Bibir merah yang sedikit tebal itu tak pernah berhenti mengembangkan senyuman lucu ke arah Samuel.
Suara celotehan khas bayi pun terdengar, seolah sedang berkomunikasi dengan Sam.
Hingga beberapa menit kemudian Sam menempatkan bayi Samantha dalam satu box bersama dengan Benua.
"Kalian akan tumbuh bersama menjadi saudara, Nak...." gumam Samuel.
Sam pun tak henti-hentinya tersenyum haru, memandangi sosok bayi laki-laki dan perempuan yang telah menyentuh hatinya.
Hingga kini cahaya itu semakin terang.
Seperti ada sebuah bisikan agar Samuel berjalan ke arah cahaya terang itu.
Sam.....
Sam.....
Sebuah suara perempuan kini pun terdengar memanggil-manggil namanya.
Membuat Sam mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Tidak ada siapapun selain dia dan dua bayi itu, namun suara itu sayup-sayup masih terdengar.
Samuel meraih dua bayi mungil itu dan dalam sedetik, kedua bayi itu pun terlihat nyaman dalam dekapan kedua lengan Samuel.
Benua, ia bawa dalam gendongan lengan kanannya. Sedangkan Samantha, berada dalam dekapan lengan kiri Samuel.
Dua bayi semungil itu terlihat seperti sebuah boneka lucu di kedua lengan kekar Samuel. Mereka bahkan terlihat begitu tenang. Tidak ada tangisan atau rengek-an rewel dari keduanya.
Sam.....
Suara itu kembali terdengar.
Seperti ada sebuah dorongan yang memerintahkan Sam untuk mencari sumber suara itu dan berjalan mengikuti cahaya terang di depannya.
Sam pun kini berjalan dengan kedua bayi mungil di lengannya guna mencari sumber suara lembut tersebut.
Hingga jauh Samuel berjalan.... Cahaya terang itu pun kini semakin menuntunnya ke arah sumber suara yang memanggil-manggil namanya.
....
Suara peralatan rumah sakit di ruang ICU masih terdengar berdetak normal.
Theresia dengan teliti memeriksa cairan infus suplemen makanan serta infus obat dan juga infus darah yang masuk ke tubuh Samuel.
Laki-laki itu masih terlihat terdiam dengan kedua mata memejam.
Hingga tiba-tiba suara detak jantung Samuel yang terdengar dari peralatan canggih rumah sakit berubah semakin cepat.
Ekspresi terkejut kini terlihat di raut wajah cantik Theresia.
Ia melihat ada sebuah gerakan kecil pada jemari Samuel.
Theresia sedikit mengembangkan senyumannya.
"Tuan Samuel.... Anda sudah sadar?" ucap Theresia sembari memandangi wajah Samuel yang kini kedua netranya mulai membuka perlahan.
"Oh syukurlah.... Anda harus bangun Tuan, keluarga Anda begitu mengkhawatirkan Anda..." ucap Theresia.
Suster itu pun kini berjalan keluar dari ruang ICU yang Samuel tempati.
Theresia meraih telepon rumah sakit dan melakukan panggilan ke ruang dokter.
"Halo Dokter... pasien di ruang ICU khusus terlihat telah sadar___ baik akan saya laksanakan___ baik, Dok."
Theresia dan dua orang suster lainnya pun kini berjalan cepat menuju ruangan Samuel.
Dengan beberapa obat dan suntikan serta beberapa dokumen catatan perkembangan Samuel.
to be continue....