MySam

MySam
The Wedding



Sore itu gedung gereja tua di salah satu kota Praha tampak indah, berhias senja yang semakin memerah membuat langit lembayung di kota itu semakin menyedapkan pandangan



Sam berdiri di ujung altar, melirik sebentar wajah sang pastur yang terlihat begitu kaku, masih menunggu sang pengantin wanita.


Begitupun dengan Samuel yang memasang wajah hampa tak berekspresi, sorot mata kecoklatan itu hanya menatap kosong beberapa pahatan patung dari bahan gypsum berwarna putih yang memenuhi seluruh sudut altar.


Pernikahan ini akhirnya terjadi, pernikahan tanpa Maya gadis yang ia cintai. Seandainya bisa, Sam ingin sekali berhambur keluar dari pintu gereja, melepas blezer putih yang ia kenakan dan menghilang sejauh mungkin dari tempat itu.


Sungguh, pemikiran itu baru saja terbersit di kepalanya, berkali-kali ia menghela napas.


Dentingan lonceng dan wedding music kini terdengar memenuhi seluruh ruangan altar gereja.


Mengiringi rombongan dari beberapa orang yang Samuel kenal.


Martha berjalan dengan anggun, berbalut gaun pengantin broken white yang sangat mewah. Gadis itu dihimpit oleh beberapa malaikat kecil yang juga mengenakan gaun serba putih ber layer menjuntai, lengkap dengan bando bunga krisan berwarna kuning yang tersemat cantik di rambut mereka.


Martha kini mendekat, berdiri disamping Samuel. Melirik sebentar kearah Sam dan tersenyum, meskipun ia tidak menerima tanggapan balik dari Sam. Laki-laki itu masih saja memandang lurus kedepan tanpa ekspresi apapun. Hanya ada bayangan Maya di sana.


"Sebentar lagi, aku akan jadi nyonya Samuel. Kamu seneng kan baby...?" bisik Martha di telinga Sam, senyuman bahagia gadis itu merekah namun tidak dengan Sam. Ia menulikan pendengarannya, mendesis pelan dan memalingkan mukanya ke arah yang lain.


"Martha will you marry Samuel Perdana, accompanying the difficult time and happy?"


Martha tersenyum merekah di balik cadar putih transparan.


"Yes i do..." jawab Martha


"Samuel do you receive Martha as your wife? accept the shortage in difficulty and happy?"


Hening....


Tak ada jawaban dari Sam, membuat keluarga yang hadir saat itu saling berpandangan heran, berbisik satu sama lain.


"Sstt... Sam jawab dong kenapa kamu diem aja ?" bisik Martha, tubuhnya sedikit ia condongkan ke bahu Samuel.


"Ingat ya Sam, aku hamil anak kamu." lanjut Martha lagi bak ultimatum yang selalu mengalahkan nya.


Mendengus sebentar, "I do..." jawab Sam akhirnya.


"now you officially become a husband and wife"


"now you can kiss your bride."


Ucapan sang pastur tidak membuat Sam segera bergeming, ia masih mematung. Berusaha memanipulasi otaknya jika pengantin wanita yang berdiri di hadapannya kini adalah Maya.


Sekali lagi Sam memandangi wajah cantik berbalut gaun indah itu, mendadak senyuman Sam memudar. Bukan Maya yang berdiri di hadapannya kini, bukan gadis bersurai hitam sebahu yang mempunyai senyuman seindah pelangi.


"Sam... i'am waiting..." bisik Martha lagi.


Sam mendekat ke arah Martha, memiringkan kepalanya ragu. Mendekatkan bibirnya dan membiarkannya menempel di atas bibir Martha. Hanya menempel tanpa ada pergerakan.


Martha tidak mungkin menyiakan kesempatan ini, gadis itu memulai terlebih dahulu pergerakan itu. Martha mengeratkan pautan bibirnya di atas bibir Sam, melanjutkan tugas Sam.


Hampir saja Martha semakin memposisikan kedua lengannya melingkar ke leher Samuel namun dengan cepat Sam melepas pautan bibir Martha.


Menjauhi sejengkal dari tubuh gadis itu.


Saat itu Samuel merasa benci terhadap dirinya sendiri, ia merasa bodoh dan mudah dipermainkan keadaan.


Berpisah dari Maya adalah hal tersulit buat Sam saat ini.


____


Sam meninggalkan hingar bingar pesta yang berada di lantai sepuluh gedung hotel The Grand Mark Prague di kota Praha.


"Sam... kamu mau kemana?"


Melihat wajah sedih Sam, Anita menghela napas sebentar.


"Ya udah kamu istirahat dulu ya, besok kalian bisa jalan-jalan keliling Praha."


"Sam besok gak kemana-mana, mama saja yang jalan keliling Praha menemani Martha dan tante Elsi." jawab Sam, ia lalu kembali melangkah menuju lift. Meninggalkan Anita yang masih berdiri mematung.


"Kenapa sayang?" tanya Permana, laki-laki itu mendekati Anita dan memeluk pinggang istrinya. Mendaratkan ciuman kecil di puncak kepala Anita dan mengelus pundaknya.


"Samuel.... dia tidak terlihat bahagia dengan pernikahan ini." desis Anita pelan.


"Biarkan Sam istirahat, beri dia ruang. Kamu gak perlu ikut campur urusan Sam lagi sayang." Jawab Permana, kembali laki-laki itu mendaratkan pelukan erat di pundak Anita.


____


Samuel menghela napas, menjatuhkan tubuh atletis yang masih berbalut pakaian formal. Blazer putih pun masih melekat di tubuh sempurna Sam.


Memandang pada langit-langit kamar hotel, kemudian netranya ber rotasi ke sekeliling.


Ia tarik keluar ponsel dari saku celananya, lagi-lagi kedua netra Sam lekat memandang foto Maya. Hanya foto itu yang mampu mengobati kerinduan Samuel.


"Aku kangen kamu sayang..." gumam Sam, senyuman kecil begitu saja tertarik.


"Kamu sekarang lagi apa dear?" lanjutnya.


Seolah berbicara langsung dengan Maya, Sam tak bosan menatap lekat foto-foto dalam layar ponsel pintarnya. Seperti orang gila? iya memang itu yang Samuel rasakan saat ini, gila tanpa Maya.


Klek....


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dengan mengenakan dress ketat mengikuti lekuk tubuhnya, berwarna hitam dengan panjang di atas lutut serta kerlipan yang juga berwarna hitam senada. Kontras dengan kulit putihnya.


Pada bagian atas terdapat sedikit belahan, menyembunyikan dua bukit kembar miliknya yang mengintip malu-malu.


Langkah kaki Martha kini terhenti pada tepi ranjang, memandangi wajah tampan Samuel yang saat itu terlelap damai.


Tubuh Martha kini beringsut menaiki ranjang, mendekat pada tubuh kekar Sam. "Well you see darling, you are mine now. Just mine baby..." seringai kecil melengkung di bibir merah Martha.


"Sam... baby...." bisik Martha.


Sam tanpa bergeming, masih terlelap dalam alam bawah sadarnya.


Martha semakin mendekatkan tubuhnya, satu gerakan lagi memposisikan bibirnya tepat di dekat bibir Sam. Menghembuskan nafas hangatnya berharap Sam terjaga untuk memberikan malam pertama mereka.


Jemari lentik Martha leluasa bermain di wajah Samuel, menjelajahi rahang kotak itu. Beralih ke bibir tebal Sam yang sangat menggoda untuk gadis itu rasakan sensasinya. Pernikahan ini adalah mimpi Martha sejak ia masih kanak-kanak.


Martha menautkan lembut bibirnya di atas bibir Sam, jemarinya kini mulai turun beralih ke dada bidang Sam. Membuka satu kancing kemeja Samuel.


Merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya, Sam perlahan membuka kedua matanya. "Apa yang lo lakuin hah?!" erang Sam.


Menangkis tangan Martha yang kini berkeliaran di tubuhnya.


Sam memposisikan diri nya menjauhi ranjang, mengusap kasar wajah lelahnya "Kenapa Sam? kita suami istri sekarang."


Tidak merespos ucapan Martha, Sam meraih ponsel yang masih tergeletak di atas ranjang berhias ratusan kelopak mawar.


"Kamu mau kemana Sam?"


"Bukan urusan lo." Tanpa mempedulikan ekspresi kesal Martha, Samuel berjalan menuju pintu. Menggeser terbuka pintu kamar dan keluar dari sana. Martha mengerang kesal, "Samuel... kembali kesini!! Sam...!!" teriak Martha, tak ada respon sama sekali dari Sam. Martha semakin murka, ia lempar semua bantal hingga mengenai pintu, tak terkecuali sebuah vas bunga yang ada diatas nakas dengan kesal ia lempar ke arah pintu yang kini tertutup hingga mengeluarkan suara dentingan yang cukup keras. "Arrgghh....!! brengsek lo Sam!!"


Kedua bola mata gadis itu terlihat berapi-api menyiratkan kekesalan yang teramat sangat. Martha meraih ponsel pipih di atas nakas, terlihat melakukan sebuah panggilan disana.


"Om Haris....."


to be continue....