MySam

MySam
Rapuh



Samuel berdiri menatap sekitar ruangan yang sebagian sudah tertata rapi. Dinding bercat biru laut mendominasi, serta sedikit warna peach dengan stiker-stiker lucu di beberapa bagian menjadi pelengkap betapa hangatnya ruangan tersebut. Beberapa kardus tertumpuk rapi di sudut ruangan, di sampingnya terdapat box bayi bercat putih bersih dengan di atasnya sudah terpasang kerincingan penghantar tidur dengan lagu yang mengalun merdu.


Samuel memutar kerincingan bergambar bintang dan bulan sabit, sehingga mengalun lembut suara musik yang keluar dari benda itu dan diiringi dengan gerakan berputar dari benda mungil tersebut.


Beberapa bulan yang lalu setelah kabar kehamilan Maya, Samuel diam-diam menyiapkan semuanya. Kamar yang berada di lantai atas dekat dengan kamar pribadi keduanya. Sam bahkan menyembunyikan semua itu dari Maya.


Selama ini kamar khusus itu ia kunci rapat, mewanti-wanti kepada bibik dan beberapa maid yang lain untuk tidak membocorkan rahasia ini pada Maya. Karena Sam berencana untuk memberi kejutan setelah bayi mereka lahir.


Dan usahanya kemarin pun berjalan mulus, kepindahan kamar mereka di lantai bawah membuat Maya jarang sekali naik ke lantai atas, meskipun hanya sekedar memasuki kamar lama dia dan Samuel.


Tapi kini calon bayi mereka sudah diambil kembali oleh penciptanya.


Tak kuasa menahan kesedihan, Sam pun menitikkan air matanya. Tubuh Samuel merosot ke lantai, pertahanannya luluh bersama dengan impiannya yang lenyap begitu saja.


Samuel begitu hancur, meski ia tidak menunjukkan kesedihannya di depan Maya ataupun kedua orang tuanya, tetapi ia juga merasakan kehancuran. Sama seperti apa yang Maya rasakan.


Jika kemarin ia berfikir akan lebih mudah kehilangan calon bayi mereka jika dibandingkan dengan kehilangan Maya, Samuel salah. Ia justru merasa sangat rapuh kini, berduka akan kehilangannya sekaligus sedih melihat keadaan Maya pasca kecelakaan yang merenggut calon jabang bayi mereka.


Bahkan Samuel sudah tidak bisa berfikir lagi apa motif dari pelaku penabrakan tersebut. Untuk urusan yang satu itu, Sam lebih memilih menyerahkan semuanya pada kepolisian dan juga pengacara pribadinya. Karena bagi Sam, keadaan psikologi Maya yang terpenting saat ini.


Kini ruangan luas yang tadinya terasa hangat mendadak lebih dingin dan suram. Suara kerincingan penghantar tidur masih terdengar mengalun, mungkin menyisakan beberapa detik lagi sebelum lagu itu berakhir. Masih terduduk lesu dengan menyandarkan punggungnya pada salah satu sisi box bayi mungil itu, air mata Samuel terlihat semakin terjun bebas pada kedua pipi tirus dengan rahang kotak tegas. "Maafin daddy, nak...." desis Samuel pelan.


....


Sebuah tepukan di pungung Sam menyadarkannya, pria itu lantas mengusap wajahnya kasar dan menoleh, menatap Bayu yang kini sudah jongkok lalu duduk di sampingnya.


"Lo ngapain di sini?"


"Gue datang untuk membawa file dan berkas hasil rapat direksi kemarin. Tadi bibik bilang lo ada di kamar ini, ya langsung aja gue naik kesini."


Sam kembali mengusap wajahnya kasar hingga menyeka anak rambut ikalnya yang sedikit menjuntai menutup netranya.


"Lo nangis? gimana keadaan Maya?"


"Gue gak nangis," elak Samuel berusaha tetap tegar di hadapan Bayu, sahabatnya sejak kecil.


"Sebagai daddy nya, lo gak punya hati," celetuk Bayu seraya mengubah posisi duduknya menjadi duduk bersila, pandangannya menatap sekitar kamar. Ternyata Sam sudah menyiapkan segalanya, batin Bayu.


"Gak ada larangan buat nangis," ujar Bayu, lalu menatap Samuel.


"Lo boleh nangis kalo ngerasa sedih, ketawa kalo ngerasa bahagia. Jangan pernah pura-pura untuk ngerasa sendiri. Karena lo gak sendirian, bro."


Samuel ikut merubah posisinya, menatap hampa box bayi di hadapannya. "Lo tau? sampai sekarang gue belum bisa mengerti kenapa semua ini terjadi sama gue, sama Maya."


"Gue sampai berfikir keras, kenapa Tuhan mengambil bayi kami sebelum kami bisa melihat dia di dunia ini," ucap Samuel hambar. "Apa ini balasan Tuhan atas segala kelakuan bejat gue di masa lalu? Se-brengsek itu gue di mata Dia, hah....?!" Samuel kini menyeringai kecil.


"Sam...."


"Lo tau gimana rasanya liat Maya nangis pas tau kalo dia keguguran? Sakit Bay... sama halnya gue yang ikut ngerasain kehilangan anak pertama gue."


"Semua sudah diatur, Sam. Mau lo marah pun itu tidak akan merubah takdir," ujar Bayu.


"Gue tau, tapi kenapa harus Maya? Kenapa harus anak gue? Apa gue se-brengsek itu sehingga Tuhan gak mempercayai gue untuk menitipkan dia ke gue, hah...?!" teriak Samuel.


"Gak ada yang tau hidup mati seseorang, dan lo tau sendiri kan? harta, jabatan bahkan anak sekalipun itu hanya titipan." Bayu menoleh ke arah Samuel, menepuk pelan pundak pria itu.


"Lo ingat? Dulu saat gue ditinggal sama ortu gue sejak gue umur sepuluh tahun?" Bayu menjeda sebentar ucapannya, lalu mengambil napas panjang sebelum akhirnya menyambung kembali kalimatnya yang ia jeda barusan.


"Gue juga ngerasain hal yang sama seperti lo. Kenapa harus gue yang kehilangan orang tua? Kenapa bukan anak lain? Gue ngerasa Tuhan tidak adil. Sama seperti yang lo rasain saat ini, Sam." Bayu kembali terdiam sesaat.


"Tapi ternyata dibalik kejadian itu, Tuhan memberi gue keluarga yang lain, yaitu lo, tante Anita dan om Permana. Orang tua lo," ujar Bayu melanjutkan, kini ia memandang sebentar ke arah Sam yang masih terduduk dengan kepala menengadah ke atas dan mata terpejam erat.


"Pikirin Maya, dia butuh lo saat ini," ujar Bayu kembali lalu bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Samuel.


"Cuma masalah waktu, dan seperti yang gue bilang tadi-- pasti ada ganti yang lebih baik dari ini," lanjut Bayu lagi.


Sam mengusap air matanya dan menyambut uluran tangan Bayu lalu berdiri. "Thank's Bay...."


"Hhmm, by the way....." Bayu tersenyum miring dan kembali menjeda kalimatnya. "Lucu juga....." lanjut Bayu sembari menunjukkan layar ponsel ke arah Samuel. Menunjukkan foto Samuel saat menangis dengan ekspresi lucu. Tidak, kalau bagi Bayu, Samuel tampak seperti orang bodoh.


"Lo lengah, dasar bodoh!!" kata Bayu sambil melangkah keluar kamar, senyuman puas nya melengkung di kedua sudut bibirnya, kapan lagi ia bisa mengerjai Samuel, The big bos nya? cengir Bayu lucu.


"Sialan ! Anjrit....!! hapus tuh foto atau gue patahin leher lo, Woy....!" teriak Samuel menyusul Bayu.


....


Samuel perlahan membuka pintu kamar rawat, di ambang pintu ia berdiri memandangi Maya yang masih berbaring lemah. Sementara Siska sang mama masih dengan sabar menunggui putrinya yang masih terlihat sangat syok.


"Sayang....." sapa Samuel begitu ia berjalan memasuki ruangan luas bertipe VVIP tersebut.


Sam mendekat ke arah Maya, mengecup lembut kening istrinya. Masih tanpa ada respon apapun dari Maya, gadis itu bahkan tidak menatap manik mata Samuel ketika pria itu mendekat dan memberikan kecupan hangatnya.


Ada aura dingin kini yang menyelimuti keduanya.


"Mama pulang aja, biar Sam yang menunggu."


"Tapi nak, kamu kan dari kemarin sudah lelah menunggu Maya dua puluh empat jam. Kamu kenapa balik lagi ke rumah sakit? Harusnya nak Sam istirahatlah sejenak, tidur di rumah kalian."


Samuel tersenyum kecil dan menggeleng. "Sam baik-baik saja kok, Ma." Samuel mendekat ke arah Siska dan meraih pundak kecil wanita itu.


"Mama Siska pulang saja, biar saya yang menemani Maya. Kasihan juga jika Mama harus semaleman tidur di rumah sakit."


"Kamu yakin?" tanya Siska meyakinkan.


"Iya, biar Sam aja yang jagain Maya."


"Ya sudah, mama pulang dulu ya. Besok mama akan kesini lagi."


Sam mengangguk pelan, ia lalu menghantarkan ibu mertuanya itu keluar dari ruangan hingga sampai di ujung pintu lift.


Setelahnya dengan terburu-buru Samuel kembali melangkah menuju ruangan Maya.


Sam merasa tidak tenang membiarkan kamar Maya tanpa penjagaan, meskipun ia perginya tidak terlalu lama.


"Sayang, kamu makan sedikit ya. Kata mama kamu belum makan seharian. Aku suapin ya?" ucap Samuel sembari menyuapkan sesendok bubur ke mulut Maya.


"Aku gak laper."


"Iya tapi kamu harus makan, sayang."


"Untuk apa Sam? Untuk siapa? toh anakku sudah pergi." Maya menjawab dengan ekspresi datar, malah lebih tepatnya bisa dikatakan istrinya itu kini selalu ber-ekspresi dingin padanya.


Sam menghembuskan napas panjang, menatap lekat istrinya yang dulu selalu ceria dan bersemangat, namun kini...


Gadis itu bahkan tidak mempunyai semangat hidup, tatapan mata jernih itu kini terlihat sayu dan kosong. Membuat Samuel semakin merasa hancur, ia merindukan Maya yang dulu.


"Ya sudah kalo gak mau makan, tapi kamu harus minum jus buah dulu ya," ucap Samuel lembut, ia raih cup gelas dan menancapkan sedotan pada pembungkus cup.


"Ini buatan bibik, pasti aman buat kamu, minumlah..."


"Aku gak mau, Sam."


"Sayang, kamu juga harus mengisi sesuatu ke tubuh kamu. Gimana kamu bisa sehat jika gak ada makanan satu pun yang masuk dalam tubuh kamu?" Ucap Samuel lagi, dan kembali mendekatkan ujung sedotan ke mulut istrinya.


"Ayolah dikit aja, minum jus buah ini. Udah itu kamu kembali tidur, okey....? Please honey...." bujuk Samuel lagi.


Hingga akhirnya Maya menyesap beberapa sesapan jus alpukat buatan bibik, sesudahnya ia kembali tidur membelakangi Samuel, binar mata hitam itu kini mendadak menghilang. Tak ada lagi ribuan gemintang di sana, berganti dengan awan gelap yang mendominasi netra dan wajah Maya.


Samuel benar-benar merasa terpukul, perubahan sikap Maya membuatnya semakin terluka. Sam kembali mengusap lembut puncak kepala Maya, satu kecupan hangatnya pun ia daratkan di sana tanpa ada respon apapun dari Maya.


I miss the old you, honey.....


batin Samuel pilu.


to be continue....