MySam

MySam
I Love You Dear



Biiippp biipp suara ponsel Sam membuat cowo itu menghentikan sebentar kesibukan di depan layar laptop tipisnya.


"Sam, aku masih di kampus. Maaf aku gak pamit sama kamu, aku takut ganggu kamu yang lagi meeting tadi."


Pesan singkat Maya.


Sam tersenyum sekilas lalu kembali melakukan panggilan ke nomor Maya.


Beberapa menit Sam menunggu jawaban dari Maya dan hinga akhirnya...


"Iya Sam?___ aku masih di kampus___ gak usah Sam bentar lagi juga balik kok___ iya ___ bye love you too..."


Klik....


Maya dan Sam sama-sama memutuskan sambungan seluler mereka.


Sam menghembuskan nafas berat untuk beberapa saat. Kembali Sam meneruskan semua pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


¤¤¤¤


Maya kali ini menutup panggilan Sam dengan senyum yang memenuhi semua sudut bibir nya, dia senang Sam perhatian dan khawatir sama dia, bahkan Sam menawarkan akan menjemput Maya tadi namun gadis itu menolak.


Hari ini Maya ke kampus naik motor maticnya, dengan terpaksa gadis itu menolak tawaran Sam ingin yang menjemputnya.


Maya kembali menaruh ponsel ke dalam tasnya dan kembali memasuki ruang dosen pembimbingnya.


☆☆☆


"May...!!" Teriak seseorang dari ujung koridor begitu Maya keluar dari ruang dosen. Maya menoleh sejenak dan melihat Airin yang setengah berlari ke arahnya.


"Lo udah ketemu pak Teguh?"


Tanya Airin dengan nafas sedikit tersenggal.


"Heem udah, nah lo sendiri? Udah ketemu pak Andi belum?"


"Udah, sekarang gue mau balik lagi ke kantor."


"Oh ya udah kita sama aja, lo bawa motor?" Tanya Maya, Airin menggeleng pelan.


"Aku tadi naik taksi, panas May kalo naik motor." Ucap Airin sambil memajukan bibirnya sedikit.


"Ya udah pulang sama gue aja yuk." Tawar Maya dan langsung dibalas anggukan kepala Airin.


Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir sepeda motor.


"May, lo udah bilang sama El?" Tanya Airin di sela-sela langkah mereka, Maya menggeleng pelan.


"Kenapa? Harusnya lo ngomong sekarang daripada dia taunya dari orang lain ntar?" Kali ini ucapan Airin ada benarnya, pikir Maya.


"Gue gak tau harus mulai dari mana Rin." Jawab Maya lirih.


"Ya... susah juga sih emang, tapi lo yakin sama perasaan lo ke bos?"


Tanya Airin kali ini dan membuat Maya mengangguk mantap.


Airin hanya tersenyum kecil sambil meraih pundak sahabat terbaik nya dan merangkul erat.


"Lo udah gede dan tau mana yang terbaik buat lo May." Ucap Airin lagi, Maya mengangguk pelan dan tersenyum kecil.


Tanpa mereka sadari keduanya sampai di tempat parkir, Airin dan Maya pun berjalan menuju ke sepeda motor matic nya dan mulai menghidupkan mesin motor.


☆☆☆☆


Maya dan Airin memasuki pintu utama perusahaan Advertising Perdana Group, keduanya saling menyapa beberapa orang yang mereka kenali. Senyuman dan anggukan kepala berkali-kali Maya dan Airin tujukan ke beberapa karyawan kantor maupun security perusahaan.


"Maya, Airin...!!"


Teriak Bayu sambil sedikit berlari kecil ke arah mereka.


"Kalian dari mana?" Tanya Bayu sambil sedikit mengatur nafasnya sejenak.


"Dari kampus." Jawab keduanya serempak, lalu saling berpandangan dan tersenyum geli.


"Kompak amat jawabannya. Oh ya ntar sore divisi kita ada meeting May. Lo ikut juga kan? Secara lo kan asisten pak Sam." Sedikit informasi dari Bayu membuat Maya membolakan matanya. Dia lupa jika sore ini ada meeting perusahaan.


"Iya gue lupa." ucap Maya


"Ya udah gue duluan ya, eh Airin bareng kak Bayu aja yuk." Goda Bayu dengan senyuman maut miliknya.


Airin sedikit tersipu lalu merotasikan bola matanya ke arah Maya.


"Udah lo bareng aja sama Bayu, gue gak apa-apa kok ke lantai empat sendiri." Elak Maya begitu melihat kode Airin yang ingin sekali bersama Bayu siang itu.


"Gue duluan May."


Airin dan Maya lalu cipika cipiki seperti biasa sebelum mereka berjalan masing-masing.


Maya melirik ke arah jam tangannya, 'Sudah jam dua siang.' Batin gadis itu, jam makan siang udah lewat, dan dari tadi pagi hingga siang ini perut Maya sama sekali belum terisi sesuap nasi sedikit pun.


"Ke kantin sebentar gak apa-apa kali ya?" Gumam Maya pelan.


"Krukkkk...kruukkkk....!!!"


Bunyi perut Maya sudah tidak dapat ditolerir lagi kali ini, gadis itu menghentikan lift ke lantai dua untuk sekedar membeli siomay, atau semangkuk bakso juga gak masalah yang penting perutnya udah keisi.


***


Sebuah suara tiba-tiba terdengar menyapa Maya.


Gadis itu merotasikan bola mata kearah belakang punggungnya dan benar saja sosok tegap Sam sudah berdiri di ujung koridor kantor.


"Kamu mau kemana? Kantin?" Ulang Sam.


Maya mengangguk kecil sambil tersenyum sekilas.


"Iya Sam, aku laper dari tadi pagi belum sempat sarapan trus siang nya juga belum makan siang."


Jawab Maya dengan bibir yang sedikit dia kerucutkan lucu.


"Boleh kan Sam aku ke kantin sebentar?" Tanya Maya pelan.


"Boleh lah sayang, yuk ke kantin bareng, aku temenin kamu makan." Jawab Sam, dia raih tangan Maya dan menggandeng gadis itu.


Maya tersenyum melihat perlakuan Sam sekarang, sungguh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu.


"Sayang, tadi lancar urusan kuliah kamu?"


Tanya Sam disela-sela langkah kaki mereka.


"Hhmm lumayan, tinggal beberapa bab lagi skripsi ku kelar."


"Terus kalo udah selesai kamu udah gak magang lagi disini?"


Kali ini Maya melirik sebentar kearah cowo disampingnya kini.


"Iya."


Kini Maya terlihat sedikit murung. Memang setelah selesai tugas magang nya yang tinggal beberapa bulan lagi Maya harus meninggalkan kantor Samuel.


"Udah gak apa-apa kan kita masih bisa ketemuan." Desis Sam kali ini.


"Iya, lagian aku juga gak enak kalo hubungan kita diketahui pegawai kamu yang lain Sam." Lirih Maya dan disambut senyuman kecil Sam.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan kantin yang siang itu sedikit sepi, hanya ada beberapa orang karyawan lain dari perusahaan Sam.


Seluruh mata karyawan lain sedikit mengernyit heran melihat Maya dan Sam berduaan di kantin kantor, sebagian mereka bahkan terlihat sedikit saling berbisik dengan sorot mata aneh ke arah Maya.


"Sam... kamu liat mereka kan? Pasti gosip in kita deh." Bisik Maya


"Sayang kamu makan aja yang banyak gak usah mikir soal mereka, aku mau kekasih aku gak kurang satu apapun." Jawab Sam manis.


"Ish, kamu itu pandai ya kalo merayu." Cibir Maya lucu, membuat Sam sedikit terkekeh melihat ekspresi kekasih nya itu.


"I love you my dear dan itu bukan rayuan."


Lirih Sam lembut.


¤¤¤


Maya kembali tersenyum melihat sosok Sam yang kali ini kembali usil mengganggu nya, berkali-kali Sam memandangi wajah Maya yang saat itu sedang sibuk dengan semua tugas kuliahnya.


Hari ini gak ada kerjaan yang berarti di kantor Sam, semua sudah Maya selesaikan dari tadi dan kini dia ada sedikit waktu luang untuk sekedar mengerjakan kekurangan tugas semester akhirnya.


Sam kembali mengelus pipi chubby Maya yang saat itu duduk tepat dihadapan Sam.


"Beb..." lirih Sam.


"Hhmm?"


"Kenapa sih kamu begitu menggemaskan?" Goda Sam lagi.


"Ish, kamu ini gak ada kerjaan lain apa? Udah ah jangan liatin terus." Ucap Maya sedikit cemberut.


"Terus aku bolehnya ngapain? Cium kamu?" Kali ini wajah Sam dia buat sedikit memelas.


Maya tersenyum sekilas. "Ish, itu sih maunya kamu." Cibir Maya.


"Hunny... I'am really missing my sweet peach." Rengek Sam lagi, matanya kini melirik sekilas ke arah Maya.


"Gak enak kalo disini Sam." Cibir Maya, kali ini mata Sam membola sedikit kesal.


"Ok ntar malam ya di mansion ku?"


Goda Sam, membuat Maya mengerucutkan bibirnya beberapa centi ke arah CEO itu.


"Hahahaha aku suka kalo kamu masang muka jutek seperti itu dear. I love you so much..."


Sam mencium kening Maya tiba-tiba dan membuat gadis itu setengah kaget lalu tersenyum kecil kearah Sam, sedikit cubitan pun dia daratkan ke perut sixpack Sam.


"Auww... you've hurt me dear..."


Sam ber ekspresi meringis kesakitan, tentu saja ekspresi yang hanya di buat-buat agar mendapatkan usapan sayang dari Maya.


"Udah deh gak usah lebay gitu Sam, aku kan cuma pelan tadi cubit nya." Cibir Maya, senyuman sekilas dia kembangkan di sudut bibir peach nya.


"I love you dear."


Kembali kecupan kecil Sam dia daratkan di kening Maya.


Sam melangkah keluar dari ruangan kerja setelahnya. Maya hanya terkekeh kecil melihat kelakuan Samuel.


To be continue