
Senyuman hangat pertama kali menyambut Maya yang baru saja keluar dari toilet setelah berganti dengan penyerap cairan merah datang bulan yang baru. Sedangkan di pinggangnya melilit hoodie milik Sam, menutupi noda merah yang menempel pada rok miliknya.
Untuk soal yang satu ini Sam panik, melepas hoodie miliknya dan membelikan pembalut baru untuk Maya. Bak seorang suami yang selalu siaga kapan pun Maya membutuhkan bantuannya. Sedangkan Maya masih terlihat menahan sedikit malunya.
"Makasih Sam, aku jadi merepotkan kamu."
Tangan kanan Sam mengulur dan meraih jemari Maya, Sam menggeleng.
"Anything for you dear."
Rasanya perut bagian bawah Maya tidak bisa tenang, padahal ini sudah di hari ketiga, tapi rasa sakit itu masih menetap, membuat Maya sampai meringis menahan sakit. Dismenore yang Maya rasakan tidak membiarkan gadis itu dalam mood baik.
Maya meremas perutnya sembari kedua matanya memejam erat. "Uhh..." erang Maya, kali ini sangat begitu nyeri.
"It's hurt?" Sam memandang raut wajah Maya, terlebih lagi bibir yang biasa berwarna peach pun kini mendadak terlihat begitu pucat.
Dapat Sam lihat, Maya mengangguk sekilas. Seharusnya tidak sesakit ini, namun terkadang ada beberapa wanita mengalami sakit yang luar biasa, mungkin Maya adalah salah satunya.
"Aku gendong?" Sam memposisikan dirinya yang hendak menggendong Maya namun dengan cepat Maya menggeleng. "Gak usah Sam, aku masih bisa jalan sendiri kok."
"Lagian yang sakit itu perut bukan kaki," ujar Maya.
Lihat? Keras kepala seorang Maya kembali lagi. Memang seperti kesatuan, apalagi jika gadis itu marah tidak akan ada seorang pun yang mampu menenangkan. Untungnya Sam sudah hafal sifat gadis itu, ia bagaikan air yang melarutkan api.
"Kita ke kantin?" Kini jari-jari Sam menelusup pada milik Maya, saling bertaut di sela-sela nya. Membuat rasa hangat menjalar memenuhi diri Maya.
"Jari-jari kamu gak ada sihirnya Sam." Maya mendongak sebentar menatap Sam.
"But it can make you little better. right?" Maya mengangguk, pasalnya memang benar hanya sentuhan sederhana dari Sam bisa membuat dirinya merasa lebih hangat dan nyaman.
Seperti hal nya obat yang tidak dapat ditemui di seluruh penjuru dunia.
"Ayo..." ajak Sam yang akan mulai melangkahkan kakinya.
Maya menurut, ia mengekori langkah Sam di sampingnya dengan jemari masing-masing yang saling bertaut erat.
Keduanya menapaki dari lantai ke lantai menuju kantin. Banyak sepasang mata yang menatap mereka iri. Bagaimana tidak, Samuel yang notabene sang CEO perusahaan Advertising besar dengan pahatan yang begitu sempurna bersanding dengan Maya yang hanya seorang pegawai magang biasa.
"Mereka lihatin kita Sam." bisik Maya, masih ia tundukan wajahnya dalam-dalam.
"Cuekin aja sayang, mereka gak gigit kok." Sam terkekeh sebentar membuat Maya terlihat sedikit bersungut lucu.
"Masih aja kamu bisa becanda." sunggut Maya.
"Aku pesenin makanan ya." Sam berjalan menuju ke beberapa stand yang menyuguhkan banyak menu.
Sam paham menu kesukaan Maya, ia pun langsung berjalan mendekati stand makanan tersebut.
____
Maya kembali tersenyum kecil melihat kedatangan Sam sambil membawa dua buah piring di tangannya.
"Kamu gak boleh makan pedes dulu sayang." Sam mengulurkan sepiring siomay tanpa sambal. Maya mengerucut, baginya siomay tanpa banyak sambal begitu hambar.
"Dikit aja ya Sam, aku gak bisa kalo gak makan pedes." rengek Maya sedikit memohon. Sam menggeleng. Ia ambil satu suapan makanan miliknya lalu menyuapkan ke mulut Maya.
"Kamu jangan bandel, aku gak mau perut kamu sakit lagi."
Maya menerima suapan Sam walau dengan wajah sedikit mengerucut.
Tangan kanan Sam tergerak guna menyingkirkan beberapa helai rambut yang mengganggu gadis itu untuk bisa makan dengan leluasa. "Habisin makanannya."
***
Anita tiba-tiba saja memasuki ruang kerja Samuel, mengedarkan pandangan sebentar sebelum kembali ia membuang napas pelan.
Tidak ada siapapun disana, bahkan Maya si asisten Sam pun tidak nampak batang hidung nya.
"Kalian tahu kemana pak Sam pergi?" tanya Anita ke beberapa pegawai Sam yang lain.
"Sepertinya pak Sam nya ke kantin, bu." Salah satu pegawai Sam menjawab pertanyaan ibu dari bos mereka.
Anita terdiam, sebelum ia kembali ke ruangan Sam, wanita itu tersenyum sebentar ke arah pegawai tadi.
Wanita itu mendekati meja kerja Samuel, ia raih sebuah bingkai foto diatas sana.
Gambar Samuel anaknya, yang memeluk erat seorang gadis cantik bersurai sebahu. Mereka tersenyum merekah bahagia.
Setidaknya Anita bisa melihat kebahagiaan itu di raut wajah Sam. Maya benar-benar telah memberikan kebahagiaan buat anaknya. Jika saja kehamilan Martha belum terlanjur, mungkin saja Anita akan memberikan restunya untuk Maya.
Wanita itu kembali menghela napas sebentar, namun semua nya sudah terjadi dan pernikahan Sam dengan Martha sudah tinggal menghitung hari saja.
Anita menulis sesuatu diatas secarik kertas memo, ia selipkan memo tersebut di balik beberapa tumpukan buku di meja kerja Maya, berharap gadis itu akan membacanya nanti.
Dengan langkah sedikit terburu, Anita keluar dari ruang kerja Sam. Wanita itu hanya berjalan dengan mengetukkan heels nya ketika melewati beberapa karyawan Samuel, sedikit anggukan kepala ia perlihatkan ke mereka.
Wanita yang sangat elegan.
Anita tiba-tiba saja menghentikan sebentar langkahnya, ia kembali berbalik arah mendekati beberapa pegawai Sam tadi. "Tolong jangan bilang ke CEO kalian kalau saya kemari."
Beberapa karyawan itu mengangguk serempak, sangat kompak. Anita kembali melangkahkan kakinya, heels mahalnya kini kembali menapaki lantai marmer putih hingga membawanya ke ujung pintu lift.
____
"Nanti pulang aku anter ya May."
Maya mengangguk dengan senyuman mengembang penuh.
Kembali Sam mendekat ke arah Maya, menautkan jemarinya pada milik Maya. Mengangkat pada bibir tebalnya hingga mendarat kecupan singkat pada punggung tangan Maya, menimbulkan gelenyar aneh yang menyenangkan di hati Maya.
Maya mendongak guna menatap manik kecoklatan milik Sam, masih selalu meneduhkan.
"Perut kamu udah gak sakit lagi kan sayang?"
Bahkan sakitnya dismenore sudah tak terlalu terasa oleh Maya.
"Udah mendingan kok." Maya tersenyum.
Sam kini gantian mendaratkan kembali ciuman kecil di puncak kepala Maya. Nantinya cowo itu pasti akan selalu merindukan moment seperti ini bersama Maya.
Kembali tatapan mata Samuel membias, bahagia dan sedihnya kini bercampur. Bahagia saat ini bersama Maya, namun mendadak ia merasa sedih jika mengingat sebentar lagi dirinya akan kehilangan Maya.
"Sam...."
Lamunan Sam kini beralih menjadi perhatian ke arah Maya.
"Aku kembali ke meja kerja dulu ya."
Maya kembali duduk di kursi kerjanya, perlahan kedua mata Maya membola melihat secarik kertas memo yang bertuliskan buat Maya.
To. Maya
Saya ingin bicara empat mata dengan anda. Temui saya di cafe Anggrek sore ini sepulang anda bekerja. Ingat jangan bilang apa-apa soal ini ke Samuel.
^^^Anita ^^^
Dahi Maya berkernyit sebentar, seperti tidak percaya, Anita ingin bicara dengannya empat mata? kenapa ia tidak boleh bilang ke Samuel?
"Kenapa May? ada masalah?"
Maya sedikit kaget, buru-buru ia menggeleng sebentar. "Gak kok Sam, aku cuma lupa sesuatu." Maya terpaksa berbohong.
"Oh ya Sam, nanti aku pulang sendiri aja ya. Aku lupa harus beli sesuatu buat tugas kuliah ku." Lagi-lagi Maya beralasan.
"Ya udah aku anter aja sekalian."
"Gak usah Sam, aku bisa sendiri kok lagian aku kan bawa motor." cicit Maya, gadis itu kini benar-benar merasa bersalah terhadap Sam.
"Kamu yakin sayang?" Sam kembali memastikan. Dari mejanya Sam melihat Maya mengangguk.
"Iya Sam." cicit Maya lagi.
"Maaf Sam, aku udah bohong." batin Maya.
***
Di cafe Anggrek sore ini, Maya menghentikan motor maticnya di parkiran luas cafe. Entah Anita sudah datang duluan atau belum, yang pasti kini jantung Maya sedikit berdegup kecang dengan pertemuan dia dan Anita.
Maya melangkah memasuki pintu cafe, disana ia disapa oleh salah satu pegawai cafe.
"Sudah reservasi kak?" tanya si pegawai cafe, Maya menggeleng.
"Pelayan, nona ini tamu saya."
Seorang wanita anggun tiba-tiba mendekat, ia tersenyum sebentar.
"Mari Maya, kita duduk di meja sebelah sana." ajak Anita.
Maya mengangguk nurut, sesekali ia melirik ke arah Anita.
Wajah tegas dan masih terlihat sangat cantik untuk wanita seumuran nya.
"Kamu mau makan apa Maya?"
Anita masih memasang wajah kaku, lekat wanita itu memandangi Maya. Dari ujung rambut hingga beralih ke ujung kaki gadis itu. Membuat Maya terlihat sedikit canggung.
"Gak usah tant, aku masih kenyang. Oh ya kalau boleh tau tante Anita mau bicara soal apa?"
Anita masih lekat memandang wajah Maya.
"Tante mau minta tolong sama kamu." ia jeda sebentar ucapannya.
"Kamu mau kan tolong tante?" lanjut Anita lagi. Maya mengangguk cepat, senyuman kecil kini mengembang sempurna di sudut bibirnya.
"Saya akan bantu, jika saya bisa tant. Memang nya tante Anita mau minta tolong apa?"
"Tinggalkan Samuel anak saya."
Deg...
Bagai disambar petir ribuan volt, senyuman yang tadinya mengembang sempurna kini mendadak menghilang. Maya masih terdiam, Maya merasa entah kenapa wanita itu sangat membencinya. Meninggalkan Samuel? itu adalah hal tersulit buat Maya. Gadis itu sangat mencintai Sam.
"Kamu mencintai Sam kan?"
Maya mengangguk berkali-kali, kini air mata gadis itu sudah berderai jatuh dari kedua sudut matanya.
"Aku sangat mencintai Sam anak tante dan aku tulus mencintai dia."
"Kalau begitu tinggalkan Samuel, biarkan dia tenang dan bahagia dengan pernikahannya bersama Martha."
Kini petir itu kembali menyambar jantung Maya. Pernikahan? apa maksudnya?
"Sam sebentar lagi akan menikah bersama Martha, dan kamu harus merelakan Samuel."
"Saya mohon, Menjauh lah dari Sam. Saya akan mengganti semua nya. Kamu mau pekerjaan baru? uang? atau kamu mau apartement? saya bisa berikan asal kamu menjauh dari anak saya."
Lagi-lagi petir itu menyambar jantung Maya, gadis itu masih membisu. Hanya airmata yang kini semakin deras jatuh bertubi-tubi di pipi Maya.
"Pernikahan ini tidak akan terjadi jika masih ada kamu di sisi Samuel."
"Martha hamil anak Sam, dan mereka harus segera menikah. Kamu ngerti kan Maya? saya tahu kamu gadis baik. Tapi hubungan kalian harus segera kalian akhiri." lanjut Anita.
Netra Maya kini menatap tegas ke arah Anita. Martha hamil? anak Sam?
Ucapan terakhir wanita itu yang sangat menyakitkan buat Maya.
Dengan bodohnya ia dipermainkan oleh Sam. Tiba-tiba Maya marah, benci dengan Samuel. Benar-benar membenci cowo itu.
"Kalau perlu saya akan memberikan semuanya buat kamu sebagai gantinya kamu akhiri hubungan kamu dengan Samuel." tandas Anita lagi.
Bibir Maya bergemeretak hebat, kedua matanya membola tajam. Bahkan kini raut muka Maya terlihat sedikit marah.
"Tante gak perlu jual anak tante. Saya akan pergi dari hidup anak tante tanpa sepersen pun uang dari tante."
"Tolong bilang sama anak tante, dia sungguh pembohong yang hebat."
Maya berdiri, kedua tangannya ia kepalkan erat. Ia melangkah menjauh dari Anita, dengan hati yang hancur. Bagi Maya kenyataan jika Sam telah menghamili Martha sangat sulit ia terima.
Tentu tidak semudah itu Maya memaafkan Samuel. Kenangan di Bali dan sikap manis Sam selama ini, kini bagai racun yang menjalar dan menusuk jantung Maya.
Maya keluar dari pintu cafe, manarik napas panjang sebelum ia menghidupkan mesin motor maticnya.
Bayangan Samuel masih terus berputar di kepala Maya, begitu juga ucapan terakhir Anita tadi.
Kini semuanya seperti komedi putar di kepala Maya, yang terus berputar tanpa henti bercampur dengan air mata yang terus tumpah membasahi pipi gadis itu.
Yang Maya butuhkan saat ini hanyalah berbaring dan menangis sepuasnya.
Berkali-kali ia menyeka air mata yang terus saja mengalir deras. Maya harus bisa konsentrasi untuk sampai ke rumah dengan selamat.
to be continue....