MySam

MySam
Kejujuran



Sam menghentikan sedan hitam mengkilat miliknya tepat di depan sebuah rumah minimalis, cowo tinggi itu langsung membuka pintu pagar besi bercat abu yang warnanya sudah sedikit agak pudar.


"Maya nya ada tant?"


Tanya Samuel begitu seorang wanita setengah baya membukakan pintu rumah tersebut.


Siska tersenyum kecil dengan anggukan kepala pelan. "Maya nya masih tidur di sofa depan tv, dari tadi demam nya belum turun juga, oh ya Maya sudah minta izin ke nak Samuel kan?" tanya Siska dan dibalas anggukan kepala Sam.


"Iya tant dia sudah izin kok. Oh ya boleh saya melihat Maya sebentar tant?"


Ekspresi Sam saat itu terlihat benar-benar khawatir. Siska mengangguk pelan dan mempersilahkan Sam untuk masuk ke dalam ruang tengah.


Tepat di depan televisi, Maya berbaring dengan memeluk sebuah boneka kelinci kecil yang terlihat sudah usang. Sam tersenyum sekilas melihat wajah Maya yang saat itu masih terlelap.


"Tante tinggal dulu ya, oh ya nak Sam mau minum apa?" tawar Siska.


"Gak usah repot-repot tant, kalau boleh di izinkan saya mau memindahkan Maya ke dalam kamarnya. Saya kasian liat dia tidur di sofa." izin Sam yang kembali dibalas oleh anggukan kecil Siska.


Sam tersenyum begitu mendapat izin dari wanita anggun tersebut. Sam langsung mengangkat tubuh Maya, dia menggendong gadis itu dengan sangat hati-hati.


Seolah boneka yang terbuat dari porselin, Sam memperlakukan Maya dengan sangat lembut. Dia merebahkan tubuh mungil Maya ke atas tempat tidur yang berukuran minimalis tersebut.


Kembali Sam tersenyum kecil melihat wajah polos Maya saat tidur. "Seperti bayi..." Desis Sam pelan. Dia belai lembut pipi chubby Maya dan benar saja tubuh nya masih terasa sedikit demam, kini ekspresi khawatir Sam mulai terlihat jelas.


"Tante.... boleh minta air hangat sama handuk kecil?" tanya Sam ke Siska saat wanita itu memasuki kamar Maya.


"Buat kompres Maya tant, badan dia sedikit demam." jelas Sam lagi, kali ini Siska mengangguk dan langsung berjalan menuju dapur.


"Ini nak Sam air hangat sama handuk nya. Maaf ya malah jadi merepotkan nak Sam."


"Gak kok tant, Sam gak repot sama sekali."


Siska kembali tersenyum kecil melihat apa yang Ceo itu lakukan, saat itu terlihat jelas perhatian Sam ke anaknya sangat tulus.


Wanita setengah baya itu pun kembali meninggalkan Samuel dan Maya yang saat itu masih terlelap, tentu saja dengan pintu kamar yang terbuka lebar.


****


Kembali Sam mendekatkan wajah nya ke wajah Maya yang masih terlelap, netra Sam lekat memandang Maya saat itu, jemari nya pun mengusap puncak kepala Maya lalu mengecup nya lembut.


"I love you dear." bisik Sam tepat di telinga Maya, berharap gadis itu mendengar apa yang dia ucapkan barusan.


Benar saja Maya menggeliat sebentar dari tidurnya, sebuah senyuman pun begitu saja mengembang dari kedua sudut bibir gadis itu, masih dengan kedua mata yang terpejam rapat. Seolah Maya mendengar apa yang diucapkan oleh Sam tadi.


Sam kembali tersenyum melihat ekspresi gadis di hadapannya saat itu, berkali-kali ciuman kecil nya mendarat di pipi dan kening Maya. Jemari Sam pun masih mengusap lembut puncak kepala gadis itu, hingga akhirnya sang Ceo itu pun ikut terlelap bersama Maya, kepala Sam dia sandar kan di samping tangan kekasihnya.


***


Beberapa Jam Kemudian


Perlahan kedua netra Maya membola ketika melihat ada sosok cowo tegap sedang duduk pada pinggir tempat tidurnya dengan kepala yang dia telungkupkan pada bantalan kedua lengan kekarnya, rambut ikal panjang cowo itu pun terlihat sedikit menjuntai di lengan Maya.


"Sam...?" batin Maya.


Perlahan Maya mengusap lembut rambut Sam yang terlihat masih sangat nyenyak terjaga dengan posisi menelungkupkan kepalanya pada kedua lengan.


"Hei.... kamu udah bangun?" Ucap Sam begitu dia merasakan sentuhan lembut pada puncak kepalanya. cowo itu memandang sebentar ke arah Maya lalu tersenyum kecil.


"Kamu dari tadi di sini Sam?" Maya sedikit tidak enak hati melihat Sam yang tampak sedikit kelelahan.


"Iya, aku khawatir kamu gak masuk kerja hari ini. Kenapa kamu gak beritahu aku kalau kamu sakit?"


Sam kali ini meraih jemari Maya dan dia usap perlahan.


"Maaf Sam, aku gak mau ganggu kamu."


"Kamu gak pernah ganggu aku May, aku khawatir sama kamu kalo sikap kamu seperti ini."


Kini Sam kembali mengelus puncak kepala Maya.


"Iya maaf..." Lirih Maya.


"Lain kali kalau ada apa-apa cepat hubungi aku." Kali ini Sam berkata dengan ekspresi sedikit serius.


"Iya bawel..." Maya mengerucutkan bibirnya lucu menjawab Sam membuat cowo itu pun ikut terkekeh kecil.


"Kamu mau makan apa? aku suapin ya?"


"Gak usah, aku kan bukan anak kecil Sam..."


"Hari ini kamu jadi bayi kecil ku dear.... dan harus nurut sama ucapan ku, okey...." Ucap Sam dengan ekspresi sedikit serius. Maya tersenyum melihat perlakuan Sam.


"Tadi mama kamu bikin bubur ayam, aku suapin ya..." ucap Sam sambil menyuapkan satu sendok suapan ke mulut Maya.


"Sam... gak usah ih, biar aku makan sendiri aja." Elak Maya namun lagi-lagi Sam membulatkan kedua matanya membuat Maya hanya bisa menurut apa titah sang bos.


••••••••


Melbourne


"Hari ini anda ada pertemuan penting dengan klien bapak jam sepuluh siang ini, mau saya atur pertemuan nya di kantor atau di restoran pak?" Tanya sang sekretaris kepada Elano.


"Atur saja pertemuan nya di Farmer's Daughters dan tolong pesan kan private room untuk pertemuan kali ini." Jawab Elano dan diikuti dengan anggukan kepala sopan sang sekretaris, wanita itu pun berlalu dari hadapan El setelah menyampaikan jadwal bos nya hari ini.


Elano perlahan menghembuskan nafas beratnya, permasalahan dia dengan Maya belum juga dia selesaikan.


Perlahan El meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya, dia berusaha menghubungi Maya. Masalah mereka harus selesai hari ini, pikir El.


Ekspresi wajah Elano berubah seketika, dia mendengar suara seorang laki-laki yang menjawab panggilan telefon nya dari ponsel Maya.


☆☆☆☆☆


Jakarta


"Siapa Sam?" Tanya Maya, wajah Sam kini berubah datar.


"Elano." Jawab Sam, dia sodorkan ponsel pipih Maya, gadis itu kini salah tingkah.


"Jawab aja May, aku keluar sebentar." Sam perlahan berdiri namun dengan cepat Maya meraih lengan Sam dan mengenggam nya erat mencoba berusaha mencegah langkah kaki Samuel.


"Kamu disini aja." Lirih Maya.


"Halo El... "


*****


Percakapan Maya-El


Maya


"Mau ngomong apa El?"


^^^Elano^^^


^^^"Tentang hubungan kita, aku rasa tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi May."^^^


Maya


"Gara-gara wanita yang ada di apartemen kamu kemarin?"


^^^Elano^^^


^^^"Sorry May... semua nya terjadi begitu saja dan aku juga gak pernah meminta semua itu. Ini semua salah ku May, aku minta maaf."^^^


Maya


"Bukan salah kamu El, semua salah kita atau mungkin ini takdir kita. El... ada yang harus aku katakan juga. Sebenarnya...."


Maya menghentikan sejenak ucapannya, dia melirik sebentar ke arah Samuel yang saat itu duduk di samping nya.


Maya


"Aku mencintai orang lain El."


^^^Elano^^^


^^^"Siapa May? Oh... laki-laki yang menjawab telfon ku tadi?"^^^


Maya


"Iya, dia Samuel."


Jawab Maya lirih, kali ini dia merasa lega bisa mengungkapkan semua kebenaran ini.


^^^Elano^^^


^^^"Bos kamu itu?^^^


Maya


"Aku minta maaf."


^^^Elano^^^


^^^"Semoga kamu selalu bahagia sama dia May. Kita masih bisa berteman kan?"^^^


Maya mengangguk dengan air mata yang kini mulai basah.


Maya


"Tentu saja El, kita masih berteman. Semoga kamu juga bisa lebih bahagia bersama dia."


Tuuuttt....ttuutt....ttuuttt....


Elano mematikan sambungan seluler nya.


Maya kembali menatap Sam nanar, entah apa yang dia rasakan. Bersalah terhadap Elano itu pasti namun cinta dia kepada Samuel sangatlah lebih besar dan Maya memantapkan pilihannya kini.


"Are you Ok dear?" tanya Sam, Maya tersenyum kecil lalu dengan cepat memeluk tubuh Sam yang masih duduk di atas tempat tidur Maya.


"Aku cinta kamu Sam." cicit Maya yang masih erat memeluk bahu bidang Sam.


"I love you too dear." Balas Sam.


Drrttttt.... drrttttt....


Ponsel Sam tiba-tiba bergetar, sebuah nama tertulis dalam layar ponsel pipih itu.


"Halo Ma___ Sam masih ada urusan sebentar___ iya nanti Samuel mampir___ iya Sam janji___udah dulu Ma bye___"


To be continue