MySam

MySam
Sick CEO



Maya menggandeng lengan Sam, menuntun tubuh kekar pria itu. Sangat tidak seimbang dengan tubuh kecil Maya, namun gadis itu tetap berusaha menopang tubuh tegap Samuel yang masih terlihat lemah. "Suruhlah satpam untuk memapahku jika kamu tidak kuat menahan tubuhku, sayang." Sam berbisik dengan nada lemah.


Maya menggeleng kecil, semakin mengeratkan lengan kekar Sam yang menggelantung di lehernya.


"Aku masih kuat membawa kamu ke mobil," jawab Maya.


Sam melirik sebentar, memandang lembut wajah kekasihnya. Sedikit berekspresi tidak enak hati ketika melihat wajah lelah Maya yang memapahnya dari lantai lima menuju ke tempat parkiran, walaupun mereka turun dengan menggunakan lift tetap saja jarak lobi kantor dengan area parkir VIP lumayan jauh.


Sam menekan tombol remote kunci sedan hitamnya dari jarak lima meter mereka berjalan. "Awas hati-hati Sam." Begitu jarak mereka semakin mendekati sedan hitam itu, Maya menempatkan tubuh kekar Samuel di kursi depan bagian penumpang. Memasangkan sabuk pengaman dan memastikan sekali lagi kenyaman pria itu.


"Aku antar ke rumah sakit ya?" tanya Maya begitu dia sudah duduk di balik kemudi, memegang kembali kening Sam untuk memeriksa suhu tubuh.


"Gak usah, sayang. Tolong bawa aku pulang ke rumah, biar bibik yang merawatku," dengan nada lemah Samuel menjawab, mengelus lembut pipi chubby Maya.


Maya mengangguk, membuang napas sebentar. Rupanya sifat keras kepala Samuel mirip dengannya, batin Maya.


"Baiklah, kita pulang sekarang." Akhirnya Maya mulai menekan tombol engine dan sedan mengkilat itu mulai menyala. Maya menekan gas mobil perlahan hingga terlihat mereka mulai melaju meninggalkan area parkir VIP Wijaya Property.


"Kamu yakin gak mau aku antar ke rumah sakit? Aku khawatir lho sama kamu, Sam." Maya kembali memastikan, sesekali melirik ke arah pria di sampingnya yang terlihat lemah. Pria yang biasanya terlihat arogan dan suka memerintah itu, kini terlihat tidak berdaya, kecemasan terlihat jelas di kedua manik mata Maya.


"Sudah aku bilang, yang aku butuhkan cuma kamu." Sam menjawab lemah.


Sekali lagi Maya meraih rahang kotak Samuel yang masih terasa hangat, mengelus lembut wajah tegas itu dan tersenyum kecil. Maya harus berkonsentrasi dengan jalanan hingga mereka sampai ke mansion Samuel dengan selamat. Walaupun perhatian gadis itu tidak bisa mengabaikan keadaan Samuel.


Sesekali Maya melirik ke arah pria itu lalu membuang napas pelan ketika dilihatnya Samuel yang kini tertidur.


....


Maya berbelok memasuki halaman luas mansion bergaya eropa dengan beberapa pepohonan rindang, menghentikan mobil tepat di depan pintu utama mansion.


Dengan terburu-buru ia memanggil dua orang satpam rumah besar itu. "Pak, tolong bawa Samuel ke kamarnya," ucap Maya dengan ekspresi khawatir.


Kedua satpam tersebut langsung mengangguk, salah satunya meraih tubuh kekar Sam, mengeluarkan tubuh majikannya dengan hati-hati. Dengan sigap kedua satpam bertubuh tegap itu langsung memapah Samuel, melingkarkan kedua lengan CEO itu di masing-masing leher pria berseragam security tersebut.


Sementara Maya mengekor dari belakang, dengan wajah cemas ia meminta kepada si bibik untuk menyiapkan air hangat dan handuk kecil buat majikan mereka. "Tolong ya bik, siapkan air hangat dan handuk kecil buat kompres badan Samuel." perintah Maya sopan, si bibik dengan cepat mengangguk dan langsung menuju dapur menyiapkan apa yang dipesan oleh calon nyonya mudanya.


Maya masih menunggu kedua satpam tadi untuk turun ke lantai dasar.


"Tuan muda sudah berada di dalam kamar beliau, nona Maya. Ada lagi yang bisa kami kerjakan?" tanya salah satu satpam.


"Terima kasih, pak. Nanti saja jika saya butuh bantuan kalian, pasti saya panggil kalian kembali," jawab Maya sopan. Kedua satpam itu mengangguk hormat dan kembali berjalan keluar dari dalam mansion untuk melakukan kembali tugas penjagaannya.


"Non, ini air hangat sama handuknya. Bibik taruh di kamar tuan muda ya?" suara si bibik membuat fokus Maya kembali menyatu.


"Biar aku yang bawa bik, tolong bibik ganti dulu baju Samuel ya. Saya tidak enak jika harus membuka dan mengganti baju Sam."


Si bibik kembali mengangguk nurut. Menyerahkan baskom berisi air hangat dan juga handuk kecil ke arah Maya, lalu berjalan tergopoh menaiki anak-anak tangga yang terhubung dengan kamar tuan mudanya. Sementara Maya di belakang mengekori langkah panjang si bibik. Walau wanita itu sudah berusia setengah abad lebih namun jika dilihat dari tubuh dan tenaganya, beliau masih sangat tangguh untuk naik turun tangga panjang melingkar dan juga dengan cekatan mengerjakan apa yang jadi tugasnya di rumah besar itu.


Maya menunggu di luar kamar, masih dengan baskom kecil berisi air hangat di kedua tangannya. Menunggu si bibik selesai mengganti pakaian kerja Sam.


"Non, bibik sudah selesai. Silahkan kalau non mau masuk ke dalam," ucap wanita setengah abad itu sopan.


"Makasih bik."


Tiba-tiba Maya menghentikan langkahnya sebentar.


"Oh ya bik, tolong buatkan bubur gandum hangat buat Sam, ya."


Si bibik kembali mengangguk, "Baik, non."


....


"Hey, sayang...." ucap Sam begitu melihat kekasihnya memasuki kamar luas bernuansa abu tua, memperlihatkan sisi maskulin dari si empunya kamar. Sam berbaring di atas kasur berukuran kingsize dengan bed cover berwarna putih bersih. Di samping kanan kiri ranjang terdapat nakas kecil dan sebuah lampu meja pun menghiasi masing-masing nakas tersebut. Mata Maya mengerjap lembut ketika mendapati sebuah foto besar dirinya menggantung tepat di atas ranjang berukuran kingsize tersebut. Ini pertama kalinya Maya memasuki kamar Samuel, rona merah jambu bersembul manis di kedua pipi chubbynya. Kembali mengamati gambar dirinya yang terpajang di atas kasur milik Sam, jika dilihat dari ekspresinya Maya menebak foto itu diambil dengan cara candid, tampak dari ekspresi foto tersebut ia tidak menyadari jika dirinya telah tertangkap kamera.


Sam tersenyum sekilas melihat ekspresi Maya begitu melihat foto yang berukuran raksasa tergantung manis di atas ranjangnya.


"Itu foto kamu yang aku ambil secara diam-diam," ucap Sam menerangkan. Tangannya terulur, bermaksud menyuruh Maya lebih mendekat ke arahnya.


"Foto itu ketika kita belum bersama. Kita duduk dalam satu ruangan namun kita berjarak." Sam melanjutkan ucapannya, meraih jemari tangan Maya begitu gadis itu mendekat.


Samuel berusaha untuk duduk bersandar pada sandaran kepala ranjang. Tersenyum kecil begitu melihat tunangannya mencoba membantunya memperbaiki posisi tubuhnya.


"Hati-hati Sam," Maya membenarkan posisi bantal yang menopang punggung kekar Samuel.


"Foto itu yang selalu membuatku merasa lebih baik ketika aku jauh dari kamu, sayang." Ucap Sam lagi, masih mengelus lembut jemari lentik Maya.


Mulut Maya seolah tidak dapat bersuara, cairan bening perlahan menetes di kedua pipi chubbynya. Melihat betapa besarnya rasa cinta Samuel terhadapnya membuat Maya ingin mendekap erat tubuh pria itu.


"Terima kasih buat cinta kamu ke aku, Sam." Ucap Maya dengan sedikit terisak.


"Hey, kenapa kamu menangis?" Sam mengusap air mata Maya, meraih kepala gadis itu dan menariknya lembut mendekat ke arahnya. Sebuah kecupan kecil ia daratkan di kening Maya.


"Aku gak mau lihat kekasihku menangis lagi," bisik Samuel.


"Aku menangis karena bahagia, Sam." Maya meraih tubuh kekar itu, mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Sam memeluk erat Samuel yang masih duduk bersandar pada kepala ranjang. Samuel tersenyum, membelai rambut hitam Maya dan sesekali kecupan-kecupan kecil mendarat di puncak kepala Maya.


"Aku lebih bahagia lagi karena ada kamu melengkapi hidup aku, sayang." Sam berbisik lembut di telinga Maya.


Maya tersenyum, masih sedikit terisak lalu mengusap pelan kedua sudut matanya.


"Demam kamu sudah agak turun." Maya kembali menempelkan tangannya di kening Sam lalu mengganti kompres handuk hangat di kening Sam


Tok... tok... tok....


Suara pintu yang terbuka diketuk dari luar, Maya beranjak berdiri dari tepi ranjang.


"Maaf non, ini buburnya." Si bibik mengulurkan baki kecil berisi semangkuk bubur gandum hangat dan juga segelas air putih ke arah Maya. "Terima kasih, bik." Sambut Maya lembut. Si bibik mengangguk kecil lalu berpamitan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu makan dulu ya, habis itu minum obat. Aku tadi minta tolong pak satpam membelikan kamu obat di apotik." Maya mendekat ke arah Sam, kembali duduk di tepi ranjang pria itu.


Maya menyendok bubur gandum dan meniup-niupnya agar lebih dingin. "Bukalah mulutmu," Maya mendekatkan satu sendok bubur ke arah Samuel, pria itu menerima suapan Maya dengan hati menghangat.


"Kamu makan juga, sayang. Mintalah sama bibik untuk membuatkan kamu makanan."


"Hhmm, urusan aku gampang. Yang terpenting kamu, Sam," jawab Maya sambil menyuapi Samuel sedikit demi sedikit.


"Sekali lagi, Sam?"


Samuel menggeleng pelan, "Aku udah kenyang."


Satu lagi, sifat keras kepala Samuel. Siapapun tidak akan pernah bisa membuat pria itu menurut jika ia sudah punya kemauan.


"Ya sudah, sekarang kamu minum obat ya." Maya melepas satu persatu permen pahit itu dari bungkusnya, mengulurkannya ke arah Sam.


Senyum Maya tertarik tipis melihat pria arogan di hadapannya menurut seperti anak kecil.


"Kamu juga makan, May. Aku gak mau kamu juga ikutan sakit," titah Sam begitu ia selesai menelan semua obat dari Maya.


"Iya, nanti aku minta tolong bibik untuk membuatkan aku makanan." Maya menjeda kalimatnya, membereskan mangkuk bubur serta peralatan lainnya.


"Sekarang kamu istirahatlah." Maya menata bantal empuk untuk Sam, ikut membenamkan tubuh kekar Sam agar berbaring lebih nyaman lagi.


Maya menarik selimut tebal hingga batas dada, mengelus rambut setengah ikal milik Samuel.


"Sayang...." Sam meraih tangan Maya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


"Kamu tinggal semalam disini ya, ku mohon...."


Maya mengerjap, bermalam satu rumah bersama Sam? Mereka memang sebentar lagi menikah tapi pernikahan itu belum terjadi, Apa kata Siska sang mama jika ia meminta izin menginap semalam di rumah Sam?


"May...." Suara Sam kembali membangunkan lamunan Maya.


"Jangan takut, aku tidak akan memaksa kamu tidur satu kamar denganku," lanjut Sam.


Maya salah tingkah mendengar ucapan Samuel.


"Aku minta izin dulu sama mama," menjeda sebentar ucapannya.


"Sekarang kamu harus tidur, aku akan menjaga kamu di sofa kecil itu. Tapi sebelumnya aku harus ke dapur membereskan sisa bubur kamu."


"Thanks, honey...." cicit Sam lemah.


Maya tersenyum lalu mengangguk pelan sebelum ia berlalu dari kamar luas milik Sam.


Meninggalkan sementara Samuel, pria itu tersenyum bahagia.


to be continue....