
Harris menggenggam erat jemari Martha, memandang lekat wajah istrinya. Sedikit menghembuskan napas pelan sebelum ia mulai bercerita tentang perempuan bernama Laura.
"Laura adalah salah satu perempuan yang pernah dekat denganku, jauh sebelum kita dekat."
"Dulu kami memang saling mencintai, yang awalnya aku menganggap dia hanya sebagai salah satu wanita pengisi kekosonganku." Harris menjeda sebentar ucapannya, masih mengeratkan genggaman tangannya pada jemari lentik Martha.
"Tapi kenapa perempuan itu bilang kalau dia tunangan kamu?" lirih Martha, sangat pelan. Netra berlensa biru gadis itu masih saja mengeluarkan cairan bening.
"Dulu, kami sempat mau menikah." Menjeda kembali ucapannya, Harris kali ini mengusap airmata yang terus saja mengalir deras di pipi istrinya.
"Tapi tiba-tiba saja dia membatalkan rencana pernikahan itu. Sayang.... aku mohon kamu tidak usah memikirkan atau mempercayai semua ucapan perempuan ular itu."
"Berapa kali kalian bertemu di belakang ku?" Martha menatap Harris lekat.
"Aku bertemu dia lagi baru sekali, siang tadi. Dia tiba-tiba saja muncul di rumah sakit tempat aku praktek. Demi Tuhan, sayang. Aku berani bersumpah, demi Samudra, anak kita." Harris menegaskan kalimatnya.
Entah apa yang kini ada di pikiran Martha. Haruskah ia mempercayai laki-laki di hadapannya?
"Aku dekat dengan dia saat kamu masih kuliah di Paris, Tha."
"Saat itu aku sudah mencintai kamu, tapi aku takut terus terang sama kamu. Selain karena hubungan baikku dengan Baskoro ayah kamu...." sesaat Harris kembali memotong ucapannya, membelai lembut anak rambut yang melambai-lambai dimainkan oleh semilir angin yang tiba-tiba saja berhembus masuk hingga ke dalam rumah besarnya.
"Saat kamu berangkat ke Paris, saat itulah aku mulai berhubungan dengan Laura."
"Dan beberapa tahun kemudian, ketika kamu pulang dari Paris dan saat itu hubungan aku dengan Laura hancur. Laura memutuskan pertunangan kami. Aku kembali memikirkan kamu, Tha. Tapi saat itu kamu begitu dekat dengan Samuel dan sibuk mendekati pria itu. Kamu bahkan tidak pernah melihatku setiap aku berkunjung ke rumah kamu." Harris melanjutkan kembali ucapannya. Lalu kembali menarik napas panjang, memandang lekat wajah Martha.
"Sejak itu aku tidak pernah mencoba menghubungi Laura kembali. Tidak pernah, sayang."
"Hingga tiba-tiba kamu datang padaku, dengan semua ide kamu supaya dekat dengan Samuel. Aku akui jika waktu itu.... pikiran licik ku bermaksud memanfaatkan keadaan saat itu." Kata Harris pelan, ada rasa bersalah di mata laki-laki itu.
"Rasa cintaku ke kamu yang membuat aku melakukannya, sayang. Aku akui jika aku salah. Tapi aku benar-benar mencintai kamu, sayang. Untuk saat ini dan seterusnya, aku mencintai kamu." Harris kembali mencoba meyakinkan.
"Apa benar jika dulu aku hanya sebagai pemuas nafsu kamu saja?"
Harris semakin mengeratkan genggaman tangannya, menggeleng cepat. "Aku tidak pernah bilang seperti itu sama dia, sayang. Dia itu wanita ular jangan pernah percaya dengan semua ucapannya." Dokter itu kembali meyakinkan istrinya.
"Hanya ada kamu dan Samudra di hatiku, Tha. Hanya kamu gadis kecilku yang selalu ada di hatiku." Harris menatap lekat manik mata berlensa biru itu. Membelai lembut pipi Martha.
"Aku minta maaf, sayang. Maaf jika aku menyembunyikan soal Laura dan masa laluku," lirihnya lagi, kini kedua kening dan hidung mancung mereka saling menempel.
"I love you, my wife... always loving you," bisik Harris lembut.
Martha meremang, lekat menatap wajah suaminya. Pikirannya saat ini hanya Samudra, anaknya. Martha tidak ingin anaknya tumbuh tanpa sosok ayah jika ia tetap bersikap egois seperti dulu.
"Sayang....." Harris kembali memanggilnya lirih.
"Kamu berani sumpah dengan semua ucapan kamu kan? Bersumpah akan selalu mencintai aku dan anak kita," kata Martha manja. Harris tersenyum kecil, membawa tubuh istrinya kedalam pelukan hangatnya. "I promise you, dear..." bisik Harris begitu lembut di telinga Martha.
Memandang sebentar wajah cantik itu sebelum kecupan kecil mendarat di bibir merona Martha.
.....
Martha tersenyum lembut ke arah Harris ketika mendapat perhatian lebih dari suaminya. Ia bisa menerima semua penjelasan suaminya, karena Martha tidak melihat kebohongan dari sorot mata laki-laki itu.
Ia bisa merasakan kesungguhan dari penjelasan suaminya, menurut Martha semua perlakuan Harris padanya memang semata-mata karena laki-laki itu memang mencintainya, bukan karena nafsu seperti yang dikatakan Laura.
Martha bahagia dengan pernikahannya meski ia menikah di usia yang masih sangat muda, menurut gadis itu amarah dan keegoisan akan membawa rumah tangganya di ambang kehancuran. Ia harus bisa berfikir dan bersikap lebih sabar lagi dengan semua duri tajam dalam pernikahan mereka.
Ia sadar, amarah dan emosi terhadap semua ucapan Laura kemarin akan semakin membuat Harris menjauhinya dan membuka peluang Laura untuk kembali hadir mengisi hati Harris.
Martha tidak mau hal itu terjadi, apapun akan ia lakukan untuk menjaga pernikahan mereka. Demi Samudra....
Netra berlensa biru itu memandangi lembut wajah sang suami yang terlelap di sampingnya dengan sebuah pelukan melingkar ke pinggang. Lekat-lekat Martha mengamati wajah dengan garis-garis tegas yang menambah kesan macho.
Harris begitu terlelap damai dalam pelukannya, lengan kekar Harris bahkan tidak pernah terlepas sedetik pun melingkar di pinggang polosnya. Kedua tubuh polos mereka hanya tertutup selimut tebal berwarna mocca. Berkali-kali Martha memandangi wajah damai suaminya, tersenyum sekilas saat melihat Harris yang tidur seperti seorang bayi mungil. Sangat damai dan tenang.
Martha seolah tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengelus lembut pipi bercambang tipis Harris. "Aku sangat mencintaimu, suamiku..." bisiknya, lembut dan pelan. Ia tidak ingin Harris terbangun karenanya.
"Aku juga mencintai kamu, sayangku..." lirih Harris tiba-tiba. Membuat Martha kaget, rupanya suara pelannya tadi tidak mampu ia sembunyikan.
Harris tersenyum, memandang wajah Martha dengan kedua netra yang masih sedikit terpejam. Mengeratkan lebih pelukannya ke tubuh mungil istrinya.
"Aku bahagia dengan kamu, sayangku dan juga dengan anak kita," bisik Harris lagi. Lampu kamar yang sedikit remang tak membuat pandangan laki-laki itu terhalang. Wajah cantik Martha tetap bisa dengan jelas ia nikmati. Wajah polos tanpa secenti bedak ataupun riasan make up lainnya.
Martha mengangkat sedikit kepalanya, ia sandarkan di dada telanjang Harris. Jemari lentiknya bermain di dada bidang suaminya, memutar-mutar seolah menggambarkan sesuatu di sana.
"Bagaimana jika Laura datang lagi menemui kamu, sayang?" tanya Martha pelan, mendongak sebentar memandang wajah suaminya.
"Aku tidak akan pernah termakan oleh rayuannya, sayang. Aku janji." Harris mengelus puncak kepala Martha lembut dan sesekali mencium puncak kepala gadis itu.
"Dan jika dia kembali mendatangi kamu saat aku tidak ada di rumah, suruh bibik atau satpam untuk mengusirnya, okey....?" lanjut Harris lagi.
Martha mengangguk, kembali mendongak memandang wajah suaminya dan tersenyum sebentar.
"Tenang saja, jika perempuan itu kembali datang kesini dan menghina anak kita.... Aku akan memberi dia pelajaran. Dia belum tau siapa Martha dulu." dengus Martha, ia kerucutkan bibirnya beberapa centi sambil memandang Harris.
Tak ayal membuat laki-laki itu tertawa kecil dengan kelakuan istrinya, "Aku percaya, karena dulu istriku ini mantan preman cantik...." goda Harris, tertawa kecil ke arah Martha.
Namun tak berapa lama kemudian ia mendapatkan balasan serbuan cubitan kecil Martha di pinggangnya. Membuat Harris meringis dengan tertawa kecil.
"Ampun-ampun..... cubitan kamu sakit sayang..." erang Harris masih dengan suara tawa menyeruak ke seluruh ruang kamar tidur mereka.
"Habisnya ngatain aku preman..." kerucut Martha manja.
"Ralat.... aku bilang preman cantik lho, baby...." Harris berusaha membela diri.
"Sama aja, ih...." sahut Martha yang kembali mendaratkan serbuan cubitan kecil di pinggang dan perut sixpack suaminya.
Harris kembali tertawa, dan mereka tertawa bersama hingga suara keduanya membangunkan tidur Samudra.
"Oweekk....owekkkk....owekkk...."
Suara tangis Samudra membuat keduanya saling berpandang sejenak, "Samudra...." pekik mereka bersamaan, tak berapa lama keduanya segera bangkit dari ranjang dan bergegas menengok ke arah box bayi mungil berwana milky white.
"Maafin mommy sama daddy ya sayang..... jadi kebangun ya kamu...?" bisik Martha pelan, ia raih tubuh mungil Samudra dan memeluknya erat.
to be continue.....