
Sam perlahan melepas satu persatu pengait gaun yang Maya kenakan, sembari memberikan sentuhan-sentuhan lembut menyusuri tiap sudut tubuhnya. Maya menggeliat kecil dalam rebahnya, memandang sayu ke arah Samuel. Sementara jemari lentiknya membelai lembut wajah suaminya yang saat ini berada di atas tubuhnya.
Tangan Sam terus bergerilya menyusuri area-area sensitif Maya, Sam tahu betul bagian tubuh mana saja yang menjadi favorit istrinya untuk ia belai.
Sam memberikan foreplay lembut, yang selalu ia lakukan sebelum berc*nta dengan istrinya. Sam mencium bibir Maya, bermula dengan ciuman ringan. Memagut ujung bibir gadis itu perlahan, beralih dengan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah dan kedua pelupuk matanya. Hingga ciuman Samuel turun ke leher putih Maya, sedikit jilatan Sam daratkan di sana, sehingga saliva Samuel dengan tipis menempel di permukaan kulit leher Maya.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu, sayang..." bisik Sam lembut.
Membuat Maya mengangguk perlahan, mempercayai ucapan suaminya. Maya mengerang pelan, mendongakkan kepalanya ketika bibir Samuel secara intens menelusuri leher putihnya. Leguhan demi leguhan tercipta dari mulut Maya, spontan jemarinya meremas rambut ikal Samuel yang masih terlihat melakukan pergerakan di lehernya, hingga tubuh Sam kini sedikit demi sedikit beringsut turun.
Memainkan dua buah bulatan kecil di d*da Maya yang terlihat begitu menantang. Kembali erangan Maya terdengar memenuhi seluruh ruangan. Samuel tersenyum sebentar, memandang teduh wajah istrinya yang kini menciumi kedua punggung tangannya.
Samuel perlahan melakukan pergerakan, perlahan namun mampu memberikan Maya hasrat yang menggebu-gebu.
"Eum.... Sam..... aahh...." leguhan Maya memenuhi seluruh isi kamar khusus mereka.
Sam menyukainya, mendengar Maya menyebut namanya saat berc*nta.
"Ah...sshh.... I love you, honey...." de-sah Samuel.
....
Maya menggeliat kecil di sela-sela tidurnya, rasa empuk dan hangat membuatnya enggan terbangun dari tidurnya. Namun berbeda ketika perasaan hampa itu datang setelah menyadari ketidakberadaan Samuel di sampingnya.
Maya lantas perlahan membuka kelopak matanya menatap sisi tempat tidur yang terlihat kosong. Satu tangannya kembali terjulur meraba sisi kosong yang terasa dingin itu. Dengan mata yang masih sedikit terpejam, Maya tidak melihat Samuel di sana.
Masih dengan tubuh polos yang hanya berbalut selimut tebal, kaki jenjangnya turun menyentuh lantai dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar khusus Samuel, keningnya mengerut ketika tak juga dijumpai Sam di sana.
Maya lalu melangkah ke arah sofa, ia mengenakan kembali gaun selutut berbahan katun motif bunga-bunga. Setelahnya, seluruh jemari lentik Maya menyisir rambut hitamnya asal dan membuat kuncir sanggul kecil yang terlihat simpel namun sangat anggun.
Ia lalu mendudukan diri di atas sofa panjang nan empuk. Bibirnya mengerucut sebal karena Samuel pergi begitu saja tanpa meninggalkan sebuah pesan atau apa pun itu. Bagaimanapun juga Samuel harus memberitahunya meskipun ia tengah tertidur.
Maya lantas berdiri dan mematut diri di depan cermin panjang yang juga berfungsi sebagai sebuah almari pakaian Samuel. Ia oles kembali liquit lipstick dengan warna peach di bibir indahnya.
Hampir saja Maya melangkah keluar, tiba-tiba saja sosok tubuh mungil memasuki ruangan itu dan langsung menubruk Maya.
"Onty Aya.....!!" seru Samudra sembari memeluk kaki jenjangnya.
Maya tersenyum kaget, ia lantas membawa tubuh mungil Samudra ke dalam gendongannya. "Hei.... kamu sama siapa?" tanya Maya, berkali-kali ciumannya mendarat di pipi chubby anak itu. Aroma bedak bayi yang menguar dari tubuh Samudra seakan memberi kedamaian tersendiri dalam hati Maya.
"Am cama om Uel...." celotehnya.
"Om Sam?"
Samudra mengangguk pelan, lalu ia kembali melingkarkan kedua lengan mungilnya ke leher Maya. Sesekali jemari mungil Samudra memainkan ujung anak rambut Maya yang berjuntai di kedua sisi telinganya.
"Kamu kesini gak sama mommy?" tanya Maya, hingga gelengan kecil Samudra menjadi responnya.
Maya kembali tersenyum dan mencium gemas pipi chubby anak itu yang terlihat sungguh menggemaskan, seperti potongan kue bantal.
"Kamu marah?" tanya Samuel sembari meletakkan dua buah paperbag di atas nakas.
"Maaf, sayang.... Aku tadi dapat pesan dari Martha. Kata dia, dia gak bisa nganterin Samudra ke sini. Jadi ya udah aku yang jemput Samudra ke cafe."
"Sekalian aku bawain kamu makan siang."
Terang Samuel berbisik di telinga Maya. Kini ia peluk tubuh istrinya dengan Samudra yang masih berada dalam gendongan Maya.
"Sini jagoan, kamu ikut om aja. Kasian onty Aya gak kuat gendong kamu yang gendut ini," goda Samuel, lengan kekarnya kini mengambil alih tubuh mungil Samudra dalam gendongan Maya.
Sedikit gelitikan Sam daratkan di perut Samudra sehingga membuat tawa anak itu meledak. "Geyi.... Am geyi.... om Uel... hahaha....!" tawa Samudra pecah ketika serbuan ciuman dan gelitikan Samuel menghujam di pipi dan pinggang kecilnya.
Maya terkesikap, ikut tertawa kecil ketika melihat suaminya sedang bercanda bersama Samudra. Dua Sam yang benar-benar manis dan menggemaskan, batin Maya.
💓💓💓
"Lain kali kasih kabar kalo pergi, aku nyariin kamu tau gak...?" kerucut Maya begitu mereka duduk di sofa panjang, sedang Samudra kini asik bermain dengan dua buah mainan legonya dalam pangkuan Sam.
"Maaf, sayang. Aku tadi buru-buru dan takut gangguin tidur kamu," jawab Samuel seraya meletakkan tangan kanannya di pipi Maya yang saat itu duduk di sampingnya.
"Kamu makan gih, tadi Martha nyuruh koki buatin makanan favorit kamu."
"Kamu udah makan?"
Sam menggeleng. "Aku mana bisa makan tanpa kamu."
"Ya udah, kita makan berdua aja. Lagipula Martha bawainnya banyak banget."
"Am lapen...." usul Samudra tiba-tiba.
"Oh iya, Am juga lapar ya? Ya sudah onty suapin ya?" Maya dan Samuel terkekeh mendengar ucapan polos Samudra.
"Am mau disuapin onty Aya atau om Uel? hhmm?"
"Onty Aya...." teriak Samudra nyaring.
"Om Uel aja ya....?" bujuk Samuel menggoda.
"Onty Aya.....! Gak mau om Uel...!"
"Ih... Am gitu, nanti gak om Uel beliin es krim lho...."
"Bialin.... Am mau cama onty Aya..." seru anak itu, lalu menghampiri Maya dan memeluknya posesif.
Gelak tawa keduanya lalu pecah, melihat kelucuan Samudra membuat Sam seolah sedikit banyak terbebas dari beban pekerjaannya.
to be continue.....