MySam

MySam
Kabar Mengejutkan



"Fe, siapkan berkas dan file perusahaan. Mulai pemasukan dan pengeluaran, juga data2 perusahaan produsen yang menjadi patner kerja," titah Samuel pada sekretarisnya itu. Freya mengangguk merespon apa yang Samuel perintahkan. "Oh ya suruh tim kreatif untuk ikut dalam rapat direksi kali ini." Samuel menambahkan dan lagi-lagi anggukan kecil Freya meresponnya.


Ddrrttt...... drrrttt...


Tiba-tiba saja ponsel di saku blazer kerja Freya bergetar dengan bunyi panjang yang tidak begitu nyaring. Membuat gadis itu meluangkan sebentar waktunya untuk menjawab panggilan seluler di ponselnya dengan sedikit berbisik.


Hallo__ iya___ oke__ Saya harap tidak ada kecurigaan kali ini___ Beres, nanti saya hubungi lagi.


Tutt....tuutt....tuuutt...


Freya memasukkan kembali ponselnya kedalam saku blazer yang ia kenakan. Dengan ekspresi sedikit salah tingkah, gadis itu memandang ke arah Samuel yang masih terlihat sibuk dengan layar laptopnya.


Senyuman smirk tak lama kemudian tertarik dari sudut bibir Freya, sebentar memandangi wajah Samuel yang kali itu terlihat sibuk dengan semua laporan kerja dalam laptop tipis berwarna silver itu.


"Sam, aku ke ruang meeting dulu. Aku akan siapkan semuanya disana," ucap Freya sembari bersiap untuk keluar dari ruang kerja Samuel.


Sam hanya mengangguk pelan lalu kembali ia terlihat sibuk dengan pekerjaan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum menuju ke ruang meeting yang berada di lantai enam.


...


Hari ini perhatian Sam sangat berpusat pada tender kerjasama nya dengan perusahaan kosmetik terkenal asal Paris. Sam harus bisa bekerja se-perfect mungkin jika klien nya berasal dari produsen produk ternama yang perusahaannya berpusat di luar negeri. Karena kebanyakan dari mereka menginginkan promosi yang betul-betul sempurna demi penjualan produk mereka.


Hampir saja Samuel meraih ponsel pipihnya yang tergeletak di pojok meja, lalu tiba-tiba saja brraakkk......


Bingkai foto yang selalu terpajang manis di meja kerjanya mendadak terjun bebas ke lantai. Membuat kaca dalam bingkai tersebut begitu saja pecah berserakan.


Samuel spontan terkejut, ia sangat yakin jika tangannya tidak menyentuh foto tersebut, dan tidak mungkin juga ada angin di ruangan tertutup itu yang mampu menjatuhkan foto dirinya bersama Maya. Foto yang diambil ketika keduanya berlibur ke Bali ketika sebelum menikah dulu.


Perlahan Sam memungut foto tersebut, mengusapnya untuk menghilangkan sisa kaca bingkai foto yang berserakan mengotori foto tersebut.


Sam mendadak merasakan sesuatu yang entah dari mana asalnya, sesuatu yang sangat meresahkan. Dan ia rasa ini tidak baik-baik saja.


"Sam, lo udah ditunggu seluruh direksi di ruang meeting." Ucap Bayu begitu ia menyembulkan kepalanya di ambang pintu.


"Sam...." ulang Bayu, kali ini membuat Samuel sedikit terkejut.


"O-ke eh-lo-- duluan aja ntar gue nyusul."


Bayu mengerutkan keningnya melihat sikap Sam, hingga kini ia berjalan memasuki ruangan Samuel.


"Lo ada masalah?" selidik Bayu, hingga gelengan kepala ragu dari Samuel merespon pertanyaan sahabatnya itu.


"Gak- gue cuma.... Ah nothing ... mungkin hanya perasaanku saja," jawab Sam pelan.


"Ayo kita ke ruang meeting, gue pengen rapat direksi ini cepet selesainya." Sam melanjutkan dan dibalas anggukan kepala Bayu. Hingga keduanya berjalan bersama meninggalkan ruang kerja Sam yang begitu nyaman.


Baru saja beberapa langkah keduanya yang keluar dari ruangan Samuel, tiba-tiba suara ponsel Sam berdering.


"Sebentar Bay," ucap Samuel menjeda langkah kakinya. Sam menarik keluar ponsel pipih dari saku celananya. Tersenyum sekilas begitu melihat siapa pe-nelfon itu. Dalam layar pipih ponsel Sam, tertera nomor bisnis Maya. Nomor telfon dari cafe istrinya.


Mungkin pulsa atau kuota Maya habis, pikir Sam.


Hallo sayang.... kamu kenapa....


Sam seketika terdiam begitu suara yang terdengar dari seberang bukan suara Maya.


Wajah Samuel mendadak berubah, sungguh kekhawatiran terlihat jelas dari ekspresi Sam. Hingga membuat Bayu pun ikut berfikir khawatir.


"Ada masalah, Sam?" pertanyaan Bayu bahkan tidak direspon oleh pria yang kini berwajah pucat pasi.


Dengan tiba-tiba dan tergesa, Sam berjalan kembali ke dalam ruangannya. Tanpa mempedulikan wajah bingung dari Bayu saat itu.


"Ada masalah? Apa ada yang bisa gue bantu?" tanya Bayu bingung. Bayu bahkan tidak pernah melihat wajah Samuel sepanik hari itu.


"Sam....!!" seru Bayu lagi, sungguh kepanikan Samuel dan ketergesa-gesa langkah kaki Sam membuat Bayu juga ikut merasa khawatir.


"Tolong lo handel aja rapat direksi kali ini. Atau cancel aja dulu. Terserah lo...." jawab Samuel sembari berjalan cepat menuju pintu lift.


"Oke-oke tapi katakan dulu, kenapa lo sepanik ini? Ada masalah?"


"Maya kecelakaan...." lirih Sam dengan nada panik.


"Terus gimana keadaan istri lo?"


"Gue juga gak tau Bay! Sial! Please, lo urus aja kerjaan hari ini, okey?!" Samuel sedikit membentak Bayu, ia begitu panik dengan kabar yang baru saja ia terima.


"Okey-okey, semoga Maya dan bayi kalian baik-baik saja."


Sam termangu sejenak. Bayi...? iya Maya bahkan sedang mengandung. Tapi dalam benak Samuel saat ini hanyalah istrinya, ia bahkan melupakan keadaan bayi yang ada dalam kandungan Maya.


Sam tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia tanpa Maya.


"Lo juga hati-hati di jalan Sam...!!" teriak Bayu yang mungkin tidak begitu Sam dengar. Tubuh CEO itu kini terlihat menghilang di balik pintu lift.


...


Cafe


Dengan langkah tergesa, Samuel memasuki pintu cafe. Saat di parkiran tadi, ia melihat mobil Maya sesaat. Tidak ada bekas kerusakan akibat dihantam oleh kendaraan lain, batin Sam bingung.


"Dimana istri saya?" tanya Samuel panik. Sementara beberapa karyawan yang masih melayani pembeli langsung berhambur mendekati pria tegap lengkap dengan pakaian kerjanya.


"I-bu Maya... baru saja dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulance, pak."


"Apa yang terjadi hah? Bagaiman keadaan istri saya tadi?" pekik Samuel, wajahnya terlihat begitu khawatir. Bahkan airmata begitu saja mengalir keluar dari kedua netra coklatnya.


"Ibu Maya ditabrak oleh mobil warna hitam sewaktu bu Maya hendak memasuki mobil. T-a-di.... ibu Maya tidak bergerak dan ad-a.... ada...."


"Ada apa, hah?! jawab yang jelas!" Sam bahkan tidak sabar mendengar penjelasan dari pegawai cafe, tak segan ia membentak salah satu pegawai tersebut.


Bahkan beberapa pengunjung saat itu terlihat mengalihkan perhatiannya ke arah Samuel.


"A-da.... pendarahan yang keluar dari tubuh bu Maya," jawab gadis waiters itu dengan wajah ketakutan.


"Istri saya dibawa ke rumah sakit mana?"


"Ru-mah sa-kit Ha-rapan...."


Tanpa berpikir panjang lagi, Sam bergegas menuju rumah sakit yang membawa Maya. Rumah sakit dimana Harris praktek dan semoga saja istrinya langsung ditangani oleh Harris, pikir Sam.


Sam langsung mengemudikan sedannya dengan kecepatan tinggi, ia ingin cepat sampai di rumah sakit Harapan. Sam ingin berada disisi Maya untuk menenangkan istrinya.


Sam mengemudikan sedan hitamnya dengan sangat apik. Sesekali ia menghindari beberapa kendaraan lain yang berada di depannya. Tak jarang beberapa trafic light ia langgar begitu sedan hitamnya hendak terpotong oleh lampu merah yang menyala.


Sam sungguh tidak peduli jika ia nantinya akan terkena tilang ataupun sanksi karenanya.


Karena yang ada dalam benak Samuel kali ini hanya Maya, tak ada yang lain.


to be continue....