MySam

MySam
Dejavu...



Dean terlihat seperti sedang berfikir di sepanjang perjalanan. Perhatiannya sedari tadi tidak pernah lepas dari potret rumah bekas milik keluarga Permana.


Oh ya dan satu lagi, perhatian Dean pun berpusat pada potret diri Samuel yang didapatkan secara diam-diam oleh beberapa detektif bayarannya.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil besar berwarna hitam miliknya, Dean hanya membisu seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Iya.... dejavu itu kembali lagi, kepingan buram ingatannya masa lampau satu persatu berseliweran mengusiknya.


Satu hembusan napas beratnya kini tercipta.


"Pak, kita ke perusahaan Permana Group, saya share loc lokasinya sekarang." Ucap Dean ke arah sopir pribadinya.


Pak Kardi hanya mengangguk patuh tanpa banyak bicara, sedetik kemudian kendaraan bernomor polisi D 34 AN itu pun melaju dengan kecepatan sedang ke arah lokasi yang telah ia bagikan.


....


Mobil berjenis SUV dengan warna hitam mengkilat kini berhenti di basement parkiran gedung perkantoran yang bertingkat tiga puluh itu.


"Tuan yakin tidak ingin saya turunkan di depan pintu utama gedung ini?" tanya pak Kardi sembari menoleh ke belakang, ke arah sang majikan.


Dean menggeleng pelan. "Biar saya lewat lift belakang. Nanti saja jika saya hubungi bapak, bapak jemput saya di depan pintu utama."


"Baik tuan," angguk pak Kardi sopan.


...


Dean berjalan di sepanjang koridor-koridor kantor milik Permana. Seketika saja beberapa pasang mata tertuju padanya. Terutama mata lentik para karyawan perempuan disana.


Mereka pun bergunjing tentang seorang pria tampan namun berwajah dingin. Satu senyuman pun tak nampak dari kedua sudut bibir yang bisa dibilang sedikit tebal dan selalu berwarna merah muda.


Namun sayang, pria tampan tersebut terlihat tak sedikitpun merespon perhatian dan juga tatapan kagum mereka hingga Dean sampai pada gadis penjaga lobi.


"Tolong, saya ingin bertemu dengan tuan Permana."


"Oh-maaf boleh tahu siapa nama anda?"


"Bilang saja jika Dean Sanjaya ingin bertemu."


Sang penjaga lobi mengangguk sebentar lalu meraih gagang telepon dan melakukan panggilan di saluran nomor satu.


"Maaf pak di luar ada tuan Dean Sanjaya yang ingin bertemu dengan bapak___ Oh-iya pak baik___ baik saya laksanakan."


Perempuan cantik dan wangi itu pun menutup telepon lalu dengan sopan menawarkan dirinya untuk mengantar Dean menemui Permana.


"Mari tuan saya antar, bapak Permana telah menunggu anda," ucapnya sopan.


Dean mengangguk dan berjalan mengekor langkah kaki perempuan cantik dengan pakaian kerja yang sangat sopan.


Hingga tibalah keduanya pada satu ruangan. Perempuan cantik itu mengetuk pintu pelan dan membuka knop pintu setelah mendapatkan ijin untuk memasukinya.


"Silahkan tuan."


Dean hanya mengangguk kecil sembari memberikan senyumannya ke arah perempuan itu, dan itu satu hal yang sangat jarang Dean lakukan ke sembarang orang.


Dean memasuki ruangan luas yang berisi meja kerja besar, sofa panjang dengan dua buah sofa kecil yang melengkapi. Mini bar yang lengkap dengan segala merk minuman ber-alkohol dengan kadar rendah menghiasi rak-rak pada mini bar tersebut.


"Silahkan duduk tuan Dean, silahkan...." Permana menyambut hangat kedatangan Dean, tentu saja Permana mengetahui siapa sosok pria yang saat ini berdiri di hadapannya.


Meskipun gaya berpakaian pria itu tidak seformal dirinya, namun tetap memberikan kesan jika dia mempunyai sebuah kuasa besar dalam dunia bisnis.


"Jadi anda adalah putra dari tuan Sanjaya?" tanya Permana yang memulai terlebih dahulu percakapan mereka.


Dean mengangguk. "Iya, saya putra ayah saya, Sanjaya Hadiprawirya."


Dean menjawab tegas.


Permana kembali tersenyum sopan. Lalu tiba-tiba beranjak dari duduknya dan melangkah menuju mini bar nya.


"Anda ingin minum apa? Wine? tequila?" tawar Permana.


"Saya penikmat wine apalagi yang berumur puluhan tahun," jawab Dean.


Permana kembali menarik senyuman kecil.


"Dengan atau tanpa es?" tanya Permana lagi.


"Dengan es, jika tidak merepotkan anda," jawab Dean.


"Tentu saja tidak." Permana meraih dua buah gelas kristal lalu memasukan beberapa buah es balok berbentuk segi empat kecil ke dalam gelas. Lalu ia menuangkan wine ke dalam gelas kristal tersebut.


"Silahkan." Permana mengulurkan satu gelas kristal ke arah Dean. Dan disambut oleh Ceo muda itu.


"Terima kasih."


"Saya mengenal ayah anda, Sanjaya adalah salah satu pebisnis yang jujur dan memiliki kredibilitas tinggi."


Dean kembali menarik senyuman menanggapi lalu perlahan menyesap gelas wine di tangannya.


"Jadi kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa anda datang ke perusahaan saya?" tanya Permana lagi sembari menyilangkan kakinya saat duduk di sofa bersama Dean. Lalu gilirannya kini yang menyesap gelas wine miliknya.


"Saya mendengar jika proyek tol Atlantis yang perusahaan anda tangani membutuhkan investor baru?"


"Anda benar kami membutuhkan kerjasama dengan beberapa perusahaan swasta untuk membangun proyek tersebut," jawab Permana dengan sedikit sikap serius.


"Perusahaan saya bersedia menjadi investor tersebut. Dan saya rasa kerjasama ini akan menguntungkan semua pihak." Dean merespon dengan wajah yang tak kalah serius. Pembawaannya yang tenang dan mempunyai kharisma membuat Dean selalu disegani oleh beberapa klien dan pemilik perusahaan besar. Ditambah lagi perusahaan milik keluarga Sanjaya yang kesemuanya sangat terpercaya dan berpengaruh di kalangan pengusaha dan elit politik.


"Jika anda serius dengan ucapan anda--- maka tidak ada alasan bagi saya untuk menolaknya." Permana kembali menyambut ucapan Dean dengan sebuah senyuman tulus.


Bagi Permana, kerjasama ini pun nantinya akan menjalin hubungan kerja dengan Sanjaya Group akan semakin menuju ke arah yang lebih baik.


"Saya tidak pernah main-main dengan keputusan saya, tuan Permana. Apalagi saya pun sudah terlebih dahulu menjadi klien dari putra anda, Samuel Perdana."


Permana menarik kedua alis tebal yang terlihat sudah sedikit beruban.


"Benarkah?"


Dean mengangguk. "Perusahaan advertising milik Sam, saya percayakan untuk membantu membuat promo iklan produk dari perusahaan saya." Dean kembali menjawab, kali ini dengan ekspresi wajah yang lebih santai.


"Baiklah, kalau begitu mulai besok kontrak kerjasama kita akan saya siapkan." Permana mengulurkan telapak tangan terbuka ke arah Dean Sanjaya dan disambut olehnya.


"Senang berbinis dengan anda tuan Permana,"ucap Dean.


Dan disambut dengan anggukan sopan Permana, keduanya lalu saling mengeratkan jabatan tangan masing-masing.


"Maaf saya masih ada kerjaan, saya mohon pamit tuan Permana." Dean menjeda sebentar kalimatnya.


"Biar besok utusan saya yang kemari untuk mempersiapkan segala sesuatu tentang kerjasama kita."


"Oh baiklah, sekali lagi selamat bergabung dalam tender ini."


Dean kembali mengangguk pelan.


"Kalau begitu saya mohon undur diri. Terima kasih untuk segelas wine di siang hari ini."


"Jangan pernah sungkan-sungkan."


Dean sekali lagi bersalaman dengan Permana, anehnya ia merasakan gelenyar aneh ketika keduanya saling bersalaman. Dean pun akhirnya keluar dari ruang kerja Permana setelah pria berumur kurang lebih lima puluh lima tahun-an itu membukakan pintu untuknya.


Permana masih menatap kepergian Ceo sekaligus pewaris tahta dari kerjaan bisnis Sanjaya Group tersebut dari ambang pintu ruangannya.


Dalam lubuk hati Permana, ia seolah pernah mengenal Ceo muda itu. Tapi entah kapan dan dimana.


Aneh..... batin Permana.


....


Dean berjalan kembali menyusuri lorong-lorong serta koridor perusahaan milik Permana.


Puluhan pasang mata lentik pun kembali memandanginya dengan sangat liar. Wajah-wajah cantik dengan pakaian kerja yang begitu modis terlihat begitu mempesona bagi siapa pun yang memandangnya.


Namun semua perempuan itu tak satu pun yang membuat perhatian Dean berpusat ke arah mereka.


Ceo bertubuh atletis dengan sedikit jambang tipis di dagunya hanya berjalan lurus dan mengabaikan para perempuan yang masih dengan terang-terangan memperhatikannya dari tepi koridor kantor.


Hingga tiba-tiba Dean melihat seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengannya. Wanita anggun yang bisa Dean tebak berusia sekitar lima puluh an tahun.


Hingga jarak keduanya kini hanya beberapa jengkal saja, Dean bisa melihat wajah cantik wanita anggun itu. Dan dia bisa mengenali wajah itu, Dean mengingatnya dari beberapa potret yang detektifnya berikan kemarin.


Iya.... tak salah lagi, wanita itu adalah Anita. Istri dari Permana dan ibu dari Samuel.


Dean memberikan anggukan kepala hormat ke arah wanita tersebut ketika jarak keduanya kini semakin dekat.


Hanya anggukan hormat dari Dean, hingga keduanya saling berjalan membelakangi. Dean bisa melihat jika wanita itu pun sekilas memandang ke arahnya dan membalas anggukan kepalanya.


Lagi-lagi Dean bisa merasakan dejavu itu...


sebenarnya ada apa dengan gue ? batin Dean heran.


----


to be continue....